Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Alasan Mama


__ADS_3

HAPPY READING GAES JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN UNTUK PART INI 😉


Aku menggertakan gigi, sangat kesal dengan Willy yang sama sekali tidak mempertanyakan keadaanku atau bahkan hanya sekedar menelfon saja tidak pernah.


"Kenapa dia nggak kesini mah?" tanyaku dengan lantang kepada mama sembari mengepalkan kedua tanganku.


"Mama mana tau! Mungkin dia lagi sama pacar barunya kali"


Pandangan mata mama membuatku heran, semenjak aku bertanya soal Willy mama sesekali melirik kearah yang lain seolah menyembunyikan sesuatu dariku, aku menyadarinya lalu menatap tajam kearah mama.


"Mama bohong kan?" ucapku menyerigai.


"Ma-mana mungkin sih mama bohong! Buat apa sayang, kamu nih ada-ada aja deh."


"Terus kenapa mama tidak berani menatap Salsa? "


Mama kemudian diam, ia mendonggakkan wajahnya lalu melotot kearahku, hingga tampak pupil matanya melebar membuatku merasa seakan langsung percaya saja pada mama.


"Nihh..., mama udah melotot, kamu sekarang percaya kan? Willy itu nggak pernah datang buat jenguk kamu Sal, dia itu cuman laki-laki pengecut dan mama tau kamu seperti ini karena dia juga kan?" tanya mama membuatku mengangkat alis, menatap mata dengan heran.


"Loh, loh tunggu sebentar ma, kalau mama beneran bilang Willy nggak datang kesini, terus kenapa mama bisa tau kalau ini semua karena dia? " tanyaku balik.


"Jadi ini beneran karena bocah busuk itu?"


"Kenapa mama balik nanya lagi, cepat jujur sama Salsa mah, Willy datang kesini kan?"


"Mama bilang enggak, ya enggak, kenapa kamu nanya terus sih Sal, kayak lagi interogasi mama aja deh, kamu bikin kepala mama tambah pusing tau, udahlah mama mau keluar aja! "

__ADS_1


Mama dengan kesalnya menghentakkan kaki melangkah keluar meninggalkan aku sendiri yang masih emosi juga.


"Maaf Sal, mama bohong sama kamu, Mama tidak mau membiarkan kamu bersama Willy si bocah busuk itu, mama tidak suka dia sejak awal Sal , karena dia seperti lelaki mata keranjang yang membuat kamu menderita dan sekarang sudah terbukti, kamu masuk rumah sakit gara-gara dia juga! " batin mama disela langkahnya.


Clekk


Pintu terbuka lebar, ternyata ayah datang dan hampir bertubrukan dengan mama yang membuka pintu bersamaan dengannya.


Ayah menatap heran kearah mama yang sedang memanyunkan bibirnya dengan kesal.


"Ada apa ma? " tanya ayah namun mama tidak menggubrisnya melainkan hanya melanjutkan langkah dengan sentakan-sentakan kerasnya.


Ayah juga tidak terlalu perduli, dan kemudian melangkah mendekatiku yang masih dengan seragam lengkapnya.


"Kamu sudah sadar Sayang! Maaf ya, ayah tidak ada disaat kamu baru siuman! "ungkap ayah dengan membelai lembut rambutku.


Kulihat ayah tersenyum, namun senyumnya memudar ketika menoleh kearah pintu.


"Mama kamu kenapa Sal?" tanya ayah membuatku mengangkat kedua bahu, aku masih heran saja dengan sikap mama yang kadang lembut, kadang bercanda yang keterlaluan dan langsung marah-marah melampaui diriku.


"Nggak tau Yah, mungkin mama kedatangan tamunya kali ya? " Ayah mengangguk saja menanggapi ucapanku.


"Sal... ayah mau nanya kata mama kamu, Kevin mau melangsungkan pernikahan tanpa melakukan pertunangan dulu, emang kamu mau sayang? " Tanya ayah.


"Heh pertanyaan ini lagi? Kenapa ayah dan mama hanya mau membahas soal nikah, apa mereka tidak melihat kondisiku sekarang bagaimana?" batinku kesal.


"Nggak tau Yah! " jawabku malas sembari memalingkan wajah

__ADS_1


"Bukannya ayah berpihak sama mamamu Sal, ayah hanya bertanya soal itu, ayah minta maaf kalau pertanyaan ayah mengusik kamu, tapi semua keputusan ada ditangan kamu sayang! Kamu rajanya kamu yang menentukan semuanya." tutur ayah.


Aku tertegun mendengar ayah, semua perkataannya memang benar adanya, ayahku memang hebat tidak hanya seorang jendral TNI dia juga sangat bijaksana, impianku awalnya adalah mendapatkan suami seperti ayah namun sepertinya semua sudah lepas kendali sekarang.


"Ayah benar juga ya, kelangsungan perjodohan ini semua ada ditangan Salsa" ucapku dengan bangga.


"Iya Sayang! "


Ayah kemudian pamit untuk keluar menemani mama yang termenung duduk dikursi dekat pintu.


Kini aku mulai memikirkan ucapan ayah, berfikir bagaimana aku harus menata kehidupanku dimasa yang akan datang.


Hingga aku sempat berfikir aku bisa dengan lantang menantang perjodohan ini.


Namun fikiranku seketika buyar saat melirik ponselku yang layarnya pecah itu, ponsel yang mengingatkanku dengan Willy, yang tak pernah menjengukku, kekesalanku kembali memuncak.


Aku menggenggam kedua tanganku sendiri dengan sangat erat hingga ujung kukuku tampak memutih tak ada darah.


"Mungkin dengan aku menikahi Kevin, aku bisa melupakan Willy" gumamku.


.


.


.


.

__ADS_1


NEXT...???


__ADS_2