Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Bekal Clara


__ADS_3

BONUS Di awal bulan september🤭😉


jangan lupa berikan Sedikit vote ya (seikhlasnya saja) agar authornya tidak down selagi menulis naskah.


HAPPY READING


Clara tersenyum sinis padaku, sorot matanya begitu menakutkan, "Kenapa? Sakit ya? Ups sepertinya kali ini giliran kamu yang kesakitan hahah! " ucapnya terkekeh bahagia karena melukaiku.


Lenganku masih berdenyut sakit mungkin akan meninggalkan luka lebam, aku mengepalkan tangan dengan penuh emosi.


Aku tidak terima di perlakukan seperti seorang perusak hubungan orang apalagi ini tidak sesuai dengan kenyataannya.


Semestinya aku yang marah karena dia masih berusaha merebut Kevin, tapi kenapa sekarang aku yang dituduh merebut? sungguh tidak masuk akal.


Sepertinya Clara membutuhkan pemeriksaan di rumah sakit jiwa, mungkin jiwanya sudah terganggu perihal cinta, fikirku.


"Aku sama sekali tidak merasa sakit! Lagian kenapa aku harus kesakitan di saat melawan wanita yang berusaha merebut suamiku sendiri? Bahkan sekarang aku malah merasa bahagia, karena berkat usaha kak Clara untuk memisahkan kami ehh ujung-ujung tumbuh benih-benih cinta di antara kami! Jadi aku mengucapkan terimakasih!" ucapku lirih.


Clara terlihat mulai di kuasai oleh emosi, kotak bekal yang ia pegang langsung di lempar begitu saja.


Mataku sekilas melirik ke makanan yang berhambur di lantai, ada sandwich serta pisau? Kenapa di kotak makannya ada pisau? Aneh! Jika dia membawa bekal untuk Kevin lalu kenapa dia harus membawa pisau juga? Gumamku.


"Jangan bercanda Sal... Kamu fikir aku melakukan ini hanya karena mengajakmu bermain-main? Cih...ini hanyalah permulaan kamu hanya harus siap-siap di tinggalkan oleh Kevin!" ancam Clara.


Aku mengerutkan mata! Sambil menatapnya lirih, "Hanya permulaan ya? Baiklah kalau begitu aku akan berusaha bertahan sampai akhir! agar aku bisa menyaksikan bagaimana perjuangan seorang pelakor yang sangat tidak tau malu" ujarku dengan sikap tenang.


"Salsa... Kenapa kamu masih saja begitu terlalu tenang apa kamu tidak marah sama sekali? Aku ingin merebut suamimu jadi pukul aku, tampar, kalau bisa bunuh aku!" pinta Clara.


Aku tercengang dengan permintaannya itu, bahkan jika di fikir dengan memakai fikiran yang jernih aku tidak mungkin menjadi seorang pembunuh apalagi hanya karena masalah rumah tangga.


Memang aku sempat marah, tapi aku sama sekali tak punya niat untuk membunuh seseorang, bahkan jika itu Clara aku tetap saja tidak bisa melakukannya.


"Hah! kenapa kak Clara meminta hal aneh seperti itu? Apa Jangan-jangan sudah putus asa ya? Atau sudah tidak punya nyali menghadapiku?"


"Cih! tidak punya nyali? maksudnya aku? hahah jangan bercanda Sal... aku tidak akan menyerah sebelum Kevin kembali sama aku! bahkan nyawaku sendiri tidak penting!" ungkapnya.


"Tapi Kevin sudah menjadi suami Sah ku apa itu masih belum cukup membuatmu menyerah? lagian Kevin sudah tidak mempunyai perasaan sama sekali sama kak Clara jadi berhentilah menggangu rumah tangga kami! lagian kakak sudah mempunyai seorang suami bahkan sudah ada seorang anak! jadi lebih baik kak Clara fokus ke ke keluarga kakak aja!" terangku memberi saran.


"Kamu bocah kecil tidak usah mengajariku! aku lebih tau bagaimana mengurusi kehidupanku, tapi yang jelas aku tidak segampang itu melupakan Kevin dan kamu juga tidak tau kan bagaimana sakitnya perasaanku ketika di tinggalkan? kamu itu di nikahi Kevin hanya sebagai pelampiasan jadi tidak usah banyak mengharap apalagi kasih sayang dari Kevin karena itu hanya akan menjadi angan-anganmu saja!" kata Clara emosi.


"Tapi sepertinya Kak Clara harus menelan pil pahit dari kenyataan lagi kali ini, karena Kevin sudah mencintaiku!" jawabku bangga.


"Heh! ohh apa kamu pernah mendengarnya langsung dari mulut Kevin?" tanyanya mengintimidasi.


"Mendengarnya secara langsung? astaga agaknya aku belum pernah mendengar Kevin mengatakan itu, tapi otakku sudah buntu untuk memikirkan sebuah ide melawan Clara, apalagi dia belum terlihat ingin menyerah, lalu aku harus apa?" batinku gelisah,


Aku melamun memikirkannya, sambil


melenguh malas menatap Clara, " Melihat dari sikapmu! sepertinya aku tau jawabannya, Kamu belum pernah mendengarnya kan? cihcih lalu kenapa kamu sangat percaya diri bahwa Kevin sudah ada perasaan sama kamu!" sindir Clara, berusaha menjatuhkanku.


"Apa jangan-jangan kamu hanya di tatap beberapa detik saja oleh Kevin jadi sudah yakin bahwa dia mencintaimu? hahah Salsa! Salsa! aku fikir kamu sudah dewasa seperti yang kamu katakan terakhir kali padaku, tapi nyatanya seperti ini toh... aku mulai merasa masih ada harapan untuk berusaha mengambil kembali kasih sayangnya Kevin!" tuturnya percaya diri, sembari tertawa penuh kemenangan.


"Hentikan! Hentikan!!! aku sudah muak dengan semua ini, Aku memang belum pernah mendengarnya secara langsung tapi Kevin sendiri yang mengatakan dia tidak mencintaimu, dia bahkan merasa jijik untuk sekedar menyentuhmu, lalu siapa sekarang yang dia cintai selain aku? bukankah sepertinya omonganku ini benar sekali kak Clara?" paparku merasa yakin.


Jujur! aku sudah hampir menyerah melawannya, tapi kemudian aku teringat salah satu perkataan Kevin yang mencibir Clara jadi itu mungkin bisa ku gunakan sebagai serangan terakhir.


Kali ini aku harap Kevin segera datang sebelum Clara makin menjadi-jadi aku takut nantinya akan terjadi sesuatu di antara kami.


"Di-dia bilang tidak mencintaiku? heh! aku tidak percaya bahkan jika Kevin sendiri yang mengatakannya aku masih tidak percaya, kalau dia merasa jijik memegangku, tidak apa! karena kami sudah melakukan sesuatu dikamarmu tepat ketika kamu meninggalkan rumah." ucap Clara mencoba membuatku marah.


"Tidak usah membahas itu lagi! Kevin sudah memberitahuku semuanya termasuk bagaimana kamu yang murahan ini merangkak naik ke kasurnya dasar perempuan luckn*t"


"Kamu!!! bisa-bisanya kamu mengataiku seperti itu! Baik kalau Kevin tidak mencintaiku lagi, berarti kamu juga tidak ku perbolehkan untuk merebut kasih sayangnya!" imbuhnya geram sambil menjerit.

__ADS_1


Tiba-tiba bola matanya memutar melirik ke kotak bekal yang tadi ia lemparkan kesembarang tempat! ahh sepertinya dia tidak menatap makanannya tapi dia menatap pisau yang ada di antara hemburan makanan di bawah lantai.


Dengan cepat Clara mengambil pisau itu dan menodongkannya tepat di hadapanku, ujung pisau yang lancip tampak berkilau membuatku melangkah mundur karena ngeri melihatnya.


Tubuhku sontak kaget dan bergetar, "Clara apa yang kamu lakukan, buang pisau itu! aku bilang buang!!! atau kamu ingin membunuhku?" lirihku menahan getaran ketakutan.


"Ya! kamu menebaknya dengan sangat tepat! aku ingin menyingkirkanmu, agar tidak ada lagi yang menghalagiku mengambil hati Kevin!" ungkapnya tersenyum jahat.


"Kenapa? kenapa kak Clara begitu kejam sampai ingin membunuhku! aku tau kak Clara mencintai Kevin tapi kenapa harus melakukan perbuatan kejam ini padaku !" kataku lirih.


"Tidak perlu banyak omong Sal... sebaiknya kamu khawatirkan dirimu yang sebentar lagi akan menemui ajalmu!" ancamnya.


Aku terus melangkah mundur dan dia malah berjalan terus mendekatiku dengan pisau yang di todongkan padaku.


"Kak Clara jangan lakukan itu! kakak bisa masuk penjara karena kasus pembunuhan! " bujukku berharap Clara segera sadar dan menjatuhkan pisau itu.


Tapi sayangnya! Clara hanya terus menodongkan pisau itu dengan sesekali mengibas-ibaskan seolah dia ingin menebasku


"Jika aku masuk penjara! aku rela yang penting aku sudah melenyapkanmu dari dunia ini, apa artinya masuk penjara kan aku nantinya akan keluar lagi dan akhirnya merebut Kevin! terus terang saja aku sudah lama menantikan momen ini, awalnya aku kesini untuk mencoba bunuh diri di depan Kevin tapi ternyata kamu sepertinya lebih menarik untuk disingkirkan terlebih dahulu. " paparnya membuatku bergidik ngeri.


Dia sudah kehilangan akal sehatnya karena cinta! bahkan penjara sekalipun tidak membuatnya menyerah, lantas aku harus bagaimana lagi untuk membujuknya?.


Lirikannya semakin menusuk, langkahnya makin dekat denganku, walau ingin lari sepertinya tidak mungkin sebab Clara bisa saja langsung melangkah lebih cepat dariku dan menusukku dengan pisau yang ada ditangannya.


Apa aku hanya bisa pasrah? akh sial aku sungguh berharap ada yang datang menolongku.


Tap tap tap.


seketika ada suara langkah kaki menuju ruangan ini, aku bertukar pandang dengan Clara dia tampak Syok sementara aku bisa sedikit bernafas lega karena ada yang datang.


"Kak Clara hentikan semua ini!" pintaku membujuknya lagi.


"Jangan bergerak atau aku akan menusukmu sekarang juga!" bentaknya mengancam.


"Salsa.... " panggil seseorang dari luar yang terdengar seperti suara Kevin.


"Ahk Kevin tolong aku!" sahutku berteriak.


"Diam!!!" bentaknya.


"Kak Clara hentikan! sudah cukup! Kevin sudah datang, jadi jatuhkan pisau itu sekarang juga! aku janji tidak akan memberi tahu Kevin tentang masalah ini jika kakak menjatuhkan pisau itu!"


"Kamu fikir aku bodoh? aku tau kamu tidak akan semudah itu menjaga rahasia ini, tapi aku tidak masalah meskipun kamu memberitahukannya sama Kevin aku tidak perduli!" balasnya


"Sal.... " panggil Kevin lagi hendak membuka pintu.


Terkadang aku melirik ke arah pintu, menantikan masuknya Kevin dan menghentikan aksi Clara


Jleb....


Tiba-tiba saja Clara membalik arah pisau yang di todongkan padaku, yah dia menusuk perutnya sendiri dengan pisau yang sejak tadi ia pegang.


Mataku melotot melihatnya, apalagi pisau tersebut tertancap di perutnya yang mulai mengeluarkan banyak darah.


Tanganku bergetar hebat menutupi mulutku yang mengnganga karena terkejut, Aku tidak menyangka Clara bisa melakukan hal nekad ini tapi untuk apa? bukankah dia ingin membunuhku tapi kenapa malah berbalik sekarang?.


Clara mulai terkulai jatuh ke lantai, ia meringis kesakitan bersimbah darah, aku mendekat padanya, memegang pisau yang ada di perutnya.


Aku melakukan itu agar bisa menutup lukanya supaya dia tidak kehilangan banyak darah, tapi nyaliku menciut pada saat memegang pisaunya, apalagi melihat banyaknya darah di tanganku.


Clekk...


Pintu terbuka Lebar, "Salsa! apa yang terjadi?" ujar Kevin berlari menghampiri kami.

__ADS_1


"Vin... tolong selamatkan aku! Salsa, Salsa... ingin membunuhku Vin..." lirih Clara dengan suara tersenggal lalu kemudian pingsan.


"Apa!!! dia memfitnahku? aku kan tidak melakukan apa-apa! " batinku.


Kevin menatapku lalu ku balas dengan Geleng-geleng kepala, "Tidak Vin... tidak! aku tidak melakukannya dia sendiri yang menusuk dirinya memakai pisau yang ia bawa!" elakku menjelaskan.


Dia tak meresponku tapi malah mengalihkan pandangannya ke arah Clara, tanpa berkata apa-apa lagi Kevin mengangkat tubuh sang mantan.


Berjalan keluar membawa Clara meninggalkan diriku sendirian di ruangannya, aku tadinya berfikir Kevin akan bertanya lebih banyak padaku! tapi kemudian ku lihat wajahnya tadi, dia tampak tidak percaya sedikitpun dengan penjelasanku.


Ahh... mungkin dia seperti itu karena ingin menolong Clara sebelum kondisinya lebih gawat, dan aku bisa menjelaskannya nanti jika Kevin kembali lagi.


Tapi aku takut Kevin tetap tidak mau mempercayaiku, aku hanya berjalan mondar-mandir menggigit jari memikirkannya.


Seakan adegan tadi masih terbayang-banyang di fikiranku, gelisah dan takut menguasai diriku, kepalaku juga terasa sakit apalagi melihat ada banyak tetesan darah Clara di lantai.


Sumpah! aku sangat gugup menanti kedatangan Kevin.


Clek...


Pada saat Pintu terbuka, Kevin terlihat marah menghampiriku, aku yang melihatnya dengan cepat melangkah mendekatinya.


"Kevin bagaimana keadaan Clara? apa dia sudah baik-baik saja?" tanyaku cepat.


"Dia sudah ditangani sama dokter sekarang! tapi aku mau bertanya sama kamu kenapa kamu melakukan sesuatu yang kejam seperti ini?" ucap balik tanya.


Aku terkejut! seperti dugaanku tadi dia tidak mempercayaiku sama sekali, bahkan dia menuduhku sekarang.


"Kevin! aku tidak melakukannya! dia sendiri yang melukai dirinya, aku bahkan tidak tau kenapa dia membawa pisau kesini!" jelasku.


Kevin menghela nafas panjang, ia meruh tangannya di pinggang, terkadang memalingkan wajah sambil melenguh.


"Sal... aku tanya sekali lagi, kenapa kamu melakukannya?" tegasnya lagi-lagi bertanya.


"Aku sudah bilang aku tidak melakukannya! kenapa kamu tidak mau sekali percaya sama aku? aku mohon Vin... tolong percaya! aku tidak perduli kalau orang lain tidak mempercayaiku, tapi kamu! kamu jangan sampai melakukan itu sama aku!" pintaku lirih memohon sembari menangis tersedu-sedu.


"Bagaimana bisa aku percaya sama kamu Sal... aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu memegang pisaunya di perut Clara! aku tidak habis fikir kamu akan melakukan ini! aku tau Clara orangnya jahat tapi kamu seharusnya tidak boleh menghilangkan nyawa seseorang!" seru Kevin emosi.


"Ja-jadi maksudnya kamu juga menuduhku? kamu tidak percaya dengan penjelasanku? Kevin aku adalah istrimu kenapa kamu tidak percaya sama aku! bahkan kita sudah agak lama tinggal serumah mestinya kamu sudah tau bagaimana sifatku yang sebenarnya, aku tau terkadang aku sangat kasar tapi aku juga tidak akan punya nyali untuk membunuh seseorang!" ucapku membela diri.


Kevin berbalik badan, dia menghindariku, "Sudahlah Sal... lebih baik kamu pulang sendiri kerumah sekarang! aku butuh waktu sendiri, dan malam ini aku akan menginap disini jadi jangan menungguku!" ketusnyam


"Aku kecewa sama kamu Vin... aku fikir kamu akan percaya! aku fikir kamu beda dari orang lain, tapi sepertinya kamu sama saja, hanya menilai dari apa yang terlintas di pandangan kamu! jujur aku sangat-sangat merasa menyesal sudah datang kesini bersamamu!" keluhku menyerah.


Kemudian aku berlari keluar dari ruanganya, menangis menelusuri jalan untuk keluar dari gedung rumah sakit ini.


langkahku terkadang melambat karena lemas setiap kali mengingat semua yang terjadi, bahkan air mataku tak bisa ku bendung lagi.


"Kenapa? kenapa tuhan! kenapa Kevin tak mau mempercayaiku walau sedikit saja? aku tidak berharap lebih hanya saja, setidaknya dia mencari detailnya dulu baru menuduhku, bahkan tadi dia mengusirku! apa itu tidak keterlaluan?" gumam di sela langkahku.


Sebelum aku benar-benar meninggalkan rumah sakitnya, aku menghentikan langkah tepat di depan pintu keluar.


"Tidak! aku tidak boleh pergi seperti ini, aku tidak bersalah kenapa aku yang dituduh? lebih baik aku kembali ke Kevin dan menjelaskan semuanya kepada dia! aku yakin dia akan luluh jika aku terus berusaha menjelaskan semua yang terjadi tadi, apalagi Clara yang di rawat aku juga ingin tau bagaimana kondisinya sekarang! bahkan jika aku di usir lagi oleh Kevin aku akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja. " gumamku.


Dengan membulatkan tekad, aku berlari masuk ke dalam sambil menyeka air mata yang mmembajiri pipiku.


Tapi kemudian ketika aku masuk ke dalam ruangannya Kevin sudah tidak ada disana, bahkan aku mencari-cari di setiap ruangan yang berada tepat di samping ruang kerjanya, namun Kevin masih saja tidak kelihatan batang hidungnya.


Aku mulai risih sendiri, sampai seorang perawat masuk kedalam ruangannya, dengan cepat aku menghampiri lalu bertanya tentang keberadaan Kevin.


Perawat tersebut hanya mengatakan Kevin berada di kamar 109, perawat itu juga menyebut nama Clara sebagai pasien yang berada di kamar tersebut.


Jadi aku berfikir mungkin Kevin sedang menjaga Clara

__ADS_1


__ADS_2