
Aku Syok! melihat kondisi mertuaku, lalu aku membatunya berjalan masuk ke dalam ruang tamu! Tiba disana, aku menyuruhnya untuk menarik nafas secara perlahan dan berusaha untuk tenang terlebih dahulu.
"Tarik nafas mah! Mmm hufhh...." imbuhku mempraktekkannya dan akhirnya di ikuti oleh mama.
Setelah merasa sedikit tenanga aku berlari ke arah ruang dapur untuk mengambil segelas air, "Minum dulu mah!" kataku menyerahkan air tersebut.
Gluk gluk ahhh
"Kevin!!! apa yang telah kamu lakukan pada Salsa? kenapa bisa dia kabur lagi? Kenapa kau membiarkan gadis per*wan sampai kabur hah! Ahh bukan, sepertinya mama salah bicara! Dia kan sudah menikah jadi sepertinya dia sudah melepaskan keperawannya!" pungkas mama membenarkan omelannya.
"Kami belum melakukannya mah!" ucapku seraya menunduk.
"Apa!!! Kalian kan sudah menikah sudah beberapa bulan, Masa kalian belum saling menyentuh sih? Terus apa saja yang kalian berdua lakukan selama ini? Apa jangan-jangan hanya bertengkar Saja? Atau anak mama tidak menggairahkan? Ya ampun kalau begini bagaimana bisa mama cepat menimang cucu!" lenguhnya, memekik padaku.
Aku tersenyum kikuk, seraya menggaruk kepala yang tidak gatal, "Mah...sebaiknya kita tidak perlu membahas itu dulu! Karena yang terpenting adalah mencari Salsa dulu!" terangku.
"Ahh iya... Mama hampir lupa! Kemana sebenarnya Salsa berada, padahal dia pastinya akan memberitahu mama terlebih dahulu atau jangan-jangan dia di culik? Ahh tidak-tidak jangan sampai anak mama di culik! Vin... Aku kita cari Salsa sekarang juga, kalau sampai ayahnya tau! Bisa-bisa kamu yang dapat masalah besar!" tuturnya memperingatiku.
"Emang ayah kemana mah?" tanyaku penasaran.
"Dia ada urusan diluar kota Vin..." jawabnya cepat.
"Ohh iya mah...Salsa pasti punya teman dekat kan? Ahh siapa tau dia menginap di tempat temannya!" kataku.
"Ahh ada Vin...kalau begitu biar mama menghubungi mereka!"
Aku hanya bisa mengangguk, perasaan gelisah kini membuatku seakan ingin menjadi gila.
Merasa bersalah, serta penyesalan terus menghantuiku membayangkan bagaimana aku mengusirnya 2 kali apa bisa diabaikan begitu saja? Sepertinya Salsa yang keras kepala sudah tentu terbawa perasaan.
Ketika mamanya pergi mengambil ponselnya di dalam kamar, aku hanya duduk di sofa, terkadang aku berdiri lalu duduk kembali.
Jujur aku mulai merasa takut jika terjadi sesuatu pada Salsa, tapi apa yang bisa ku lakukan? bahkan nomornya tidak aktif ketika aku menelfon ponselnya pada saat perjalanan kesini.
Tanpa merasa putus asa, aku kembali mengeluarkan ponselku, lalu menelfonnya berulang kali tapi tetap saja jawabannya tetap sama 'tidak aktif'.
"Vin... mama sudah menelfon semua temannya Salsa! tapi mereka semua bilang tidak tau keberadaan Salsa..." Sahut mama yang baru saja datang dengan air mata yang sudah mengalir di wajahnya.
"Nomornya Salsa juga dari tadi tidak aktif terus mah!"
"Apa sebaiknya kita lapor polisi aja Vin..." ujarnya memberi saran.
__ADS_1
"Percuma mah! polisi tidak akan membantu karena ini belum 24 jam setelah hilangnya Salsa!"
"Terus apa Vin... apa kamu mau mama hanya diam? sedangkan Salsa tidak tau entah dimana?" jeritnya.
"Aku mengerti mama Khawatir! tapi mama harus tetap tenang, mama kan tau sendiri kalau mama punya penyakit jantung jadi biarkan Kevin yang mencarinya."
"Ya udah kalau begitu kamu menginap saja dirumah ini, besok hari kita mencari Salsa lagi!
"Lohh kenapa?"
"Aku harus pulang mah! siapa tau Salsa pulang kerumah ya kan?" jawabku.
"Ahh iya sepertinya kamu benar juga! kalau begitu lebih baik kamu oulang sekarang! nanti Salsa mencarimu di rumah, dan jangan ngebut-ngebut di jalan!" nasehatnya ku anggukan lalu menyalaminya.
Aku pamit, berbalik badan dan hendak melangkah namun tiba-tiba....
Bugk...
Terdengarlah suara yang tedengar seperti sesuatu yang jatuh dan itu tepat di belakangku, sontak aku menoleh karena penasaran.
Dan ternyata firasatku benar, tubuhku Terlonjak kaget mendapati mertuaku tak sadarkan diri tergeletak di lantai.
Tadinya ku fikir mama sudah baik-baik saja, apalagi ketika ia bercanda membuatku tambah yakin.
"A-ayo kita harus pergi kerumah sakit mah!" ujarku panik mulai memopong tubuhnya keluar dari rumah menuju mobilku.
Aku membaringkan tubuh mama di kursi tengah, rasa lelah tak menghambatku melakukan ini, di lain sisi khawatir dan panik masih kurasakan.
Brum...
Ketika aku hendak masuk ke dalam mobil untuk mulai menyetir, tiba-tiba saja sebuah mobil lewat, namun nyatanya aku bukanlah memperhatikan mobilnya tapi pandanganku sekilas malah jatuh kepada orang yang menyetir mobil tersebut.
Wajah yang terlihat sangat serius dari samping, tubuh yang sangat tegap membuatku mengerutkan dahi.
"Sepertinya dia baru pintar bawa mobil!" gumamku menebak.
Saat aku mulai duduk di depan setir, wajah yang mengendarai mobil tadi sekarang muncul lagi dalam fikiranku.
"Sepertinya wajah orang tadi pernah ku lihat! tapi di mana? apa dia kerabat jauhku? atau dia... ahh sudahlah sepertinya mataku saja yang salah lihat!" lanjutku bergumam mencoba menjawab pertanyaanku sendiri.
Aku hanya bisa mengabaikan fikiranku, lagian kondisi mertuaku sangat memprihatinkan, kemudian aku menyalakan mesin lalu melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 23: 34 aku semakin mempercepat laju, untunglah kendaraan di malam hari sudah agak berkurang jadi aku bisa leluasan menyetir tanpa hambatan.
***
Dirumah Sakit
Aku mengangkat tubuh mertuaku masuk ke dalam ,disambut oleh seorang perawat yang membawa kursi roda.
"Cepat bawa keruang ICU!" perintahku.
Nafas yang terengah-engah, keringat dingin yang keluar dari pori-pori wajahku membuat wajah yang tak pernah di basuh sedikitpun dengan air ini terasa sangat kaku.
Bahkan aku yakin sekarang mukaku sudah seperti wajan kusam penuh minyak, kinclong tapi terlihat kotor.
Terlebih dahulu, aku pergi ke toilet rumah sakit sementara mertuaku mungkin sudah di periksa oleh dokter.
Sumpah aku sangat capek, tulang-tulangku terasa retak, aku sangat ingin rebahan walau hanya sekejap.
Tapi aku sangat khawatir dengan kondisi mertuaku, aku bercermin melihat sosokku didalam sana yang tampak sangat berantakan.
Byur...
Aku membasuh wajahku dengan air kran dari westafel, membasuhnya beberapa kali, hingga ada sedikit kecerahan pada mukaku.
Setelah mengelapnya dengan tissue aku keluar dari toilet, berjalan lesu di lorong rumah sakit menuju kamar mama mertuaku.
Pada saat membuka pintu, mataku menatap lurus ke arah selang pernafasan yang terpasang di hidung mama mertua.
"Bagaimana kondisinya?" tanyaku kepada sang dokter.
"Dokter Kevin?" sahut pak Dokter kaget melihat kedatanganku.
"Dia ibu anda ya dok?" tanya dokter itu lagi.
"Dia mertuaku!" jawabki cepat.
"Apa! sejak kapan anda menikah?" ucapnya masih bertanya.
"Kalau kamu bertanya lagi , silahkan ambil gaji terakhirmu dan angkat kaki dari rumah sakit ini!" ancamku geram dengan sekelumit pertanyaannya.
"Ahh ma-maaf pak saya tidak akan bertanya lagi! ohh iya mertua anda terlalu banyak fikiran sehingga tekanan darahnya meningkat, dan satu hal lagi sepertinya mertua anda ada kelainan pada jantungnya!" jelas pak dokter.
__ADS_1
"Kamu boleh keluar sekarang!"