
Dita terus saja menatapku, ia tak segan mumutar bola matanya ketika mata mata kami bertemu, "Kamu apa kabar Dit?" tanyaku pelan.
"Wow bahasa lo udah berubah ya sekarang! Apa Willy yang udah ubah lo kayak gini?" sindirnya masih tak ku pahami.
"Apa maksud kamu?" tanyaku mengerutkan mata, "Ohh masih pura-pura sok polos di depan gue yah? Hahah lo kira gue nggak tau apa yang sebenarnya terjadi hah! Setelah lulus elo kabur sama Willy keluar negeri kan!Cih dasar cewek murahan!" cibirnya mendecih.
"Dita! jaga mulutmu!" sekaku.
"Kenapa? Karena gue udah ngungkapi kebenarannya?" ia masih menyela ucapanku.
"Yah! Aku memang keluar negeri bersama Willy, tapi bukan seperti yang kamu fikirkan, bahkan di sana kami hanya kuliah saja!" jelasku.
"Hahah lo kira gue bakal percaya gitu sama omong kosong lo! Ehh tunggu dulu, Elo kayaknya dari ruangan dokter kandungan yah? Apa jangan-jangan elo udah hamil anaknya Willy lagi! Hahah dasar ya lo cewek gatal, sok munafik, bisa-bisanya yah elo hamil di luar nikah gimana tuh nasib orangtua lo!" Lagi-lagi Dita tak ada habisnya meluapkan fitnah yang membuat telingaku rasanya memanas.
Plak....
Dengan geram penuh emosi aku tak bisa lagi menahan diri dan langsung menampar wajahnya.
"Bagaimana bisa kamu memfitnahku seperti itu Dita, tadinya aku fikir kamu akan memelukku karena rindu, karena kita sudah sekian lama bar ketemu, aku sampai ingin menanti hal itu, tapi ternyata hayalanku bertolak belakang dengan kenyataan, apa kamu memang masih kesal denganku karena masalah 4 tahun lalu? Tapi itu sudah lama berlalu Dita! Bahkan dulu aku sudah menjelaskan semuanya padamu, David yang sebenarnya suka sama kamu dia hanya malu mengungkapkan 4 tahun lalu, tapi kamu datang dan salah paham, cuman itu, itu doang kamu sampai sekarang masih kesal sama aku?" ungkapku menjelaskan lagi kejadian dimana titik permasalahan pada 4 tahun lalu.
"Lo nggak usah ngalihin pembicaraan yah! Lo jujur aja lo udah hamil anaknya Willy kan?" Tukasnya lagi menyeka omonganku.
"Berapa kali aku harus bilang sama kamu, di dalam perutku bukan anak Willy, aku sudah menikah Dita! Apa kamu tidak mengerti? Aku sudah menikah selama lebih 4 tahun dan ini adalah anak dari suami Sah ku!" ungkapku tegas.
Dita malah tertawa keras menanggapi omelanku padahal aku sangat serius, atau jangan-jangan dia hanya menganggapku candaan? Fikirku.
"Ahahah hahahah.... Elo udah nikah lebih dari 4 tahun, terus lo kabur sama Willy keluar negeri! Hahah lo sebenarnya bicara apa hah! Katanya punya suami kok kaburnya sama mantan pacar! Hahah lucu banget sih lo, tapi kayaknya kalau cewek gatal emang gitu sih, nggak tau mal...."
Plak... Aku kembali menampar wajahnya dengan keras tepat di bekas tamparanku yang pertama dan dia hanya memegang wajahnya bekas tamparan tanganku itu.
__ADS_1
"Elo berani-beraninya nampar gue hah! Lo fikir lo siapa! Cuman bekas sahabat udah belagak..."
"Sudah cukup Dita! Aku capek meladenimu! Aku capek memberimu penjelasan panjang lebar tapi kamu juga tak mempercayaiku! Apa kamu fikir aku cewek seperti yang barusan kamu katakan? Kamu salah, tapi Yah aku memang bodoh karena kabur sama Willy, akan tetapi berkat itu aku sadar kalau suamiku lebih baik dari siapapun! Mungkin awalnya aku seringkali mengabaikan suamiku, namun Ia tetap saja percaya padaku bahkan ketika ia tau aku tinggal dengan mantan pacar, padahal kami tidak terlalu kenal satu sama lain sebelum menikah, beda halnya sama kamu, Lena, David dan Willy, kalian sudah ku anggap saudara, kita sudah sangat lama saling mengenal, tapi ternyata itu hanya pendapatku saja, mungkin kamu sendiri yang tidak pernah berfikiran sepertiku, jujur aku kecewa denganmu saat ini Dita, pertemuan pertama kita setelah 4 tahun begitu sangat membuatku kecewa." tuturku mengungkapkan semua rasa kesal karena ulahnya.
"Sampai kapan elo jadi orang munafik hah!"
"Hentikan! aku tidak tau dari sisi mananya kemunafikanku, Satu hal lagi tadi kamu bilang aku adalah bekas sahabatmu? kenapa kamu harus mengatakan itu, padahal aku fikir, kita berlima masih bisa berkumpul suatu hari nanti! tapi kenapa Dita? kenapa kamu harus membuatku perlahan untuk membencimu karena fitnahanmu itu!" imbuhku lirih meraung.
"Aku juga belum paham Dita, aku sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya membuatmu sangat marah padaku, seolah-olah aku adalah biang keroknya tapi jujur dulu aku hanya ingin mempersatukan kamu sama David, aku bahkan tak menyangka karena insiden itu persahabatan kita benar-benar hancur!"
Dita memalingkan wajahnya seraya berkata. "Elo nggak usah tau!!!" ketusnya.
"Dan ingat, Aku datang kesini memang karena ingin memeriksa kandunganku, lantas bagaimana denganmu? apakah semua ucapanmu itu malah menyindir dirimu sendiri?" sindirku menatapnya heran.
"Lo nggak usah sok tau! dan nggak usah ngurusin hidup gue!" protesnya dan langsung melangkah pergi meninggalkanku.
Aku sadar diri, aku bukanlah google yang jika diberi pertanyaan maka akan langsung ada jawaban yang tertera.
Ketika Dita tak lagi berada dalam pantauanku, aku melanjutkan langkah menuju lift hingga beberapa saat kemudian aku sampai dan langsung masuk keruangan Kevin.
Didalam sana, aku menatap kosong kesegala arah, pandanganku lalu menatap sofa panjang di dalam ruangannya.
Aku terduduk sambil melamun, hingga suara yang begitu tak asing di telingaku beberapa kali memanggil.
"Sal... Salsa...kamu kenapa, kok melamun?" ucap Kevin yang baru saja datang.
"Ahh tidak apa-apa!" sahutku.
"Apa kamu mual lagi? kalau begitu aku akan mengambil segelas air untukmu, "jawab Kevin hendak berdiri namun ku cegah dengan memegang tangannya.
__ADS_1
"Tidak usah Vin! aku sungguh tidak apa-apa!" sekaku.
Ia terduduk di sampingku, "Lalu kamu kenapa?" katanya menatapku dengan tatapan sayu.
Perlahan aku menyandarkan kepalaku di pundaknya, Sandaran yang mampu menghangatkanku, meredahkan sedikit emosi yang tadi di timbulkan oleh sikap Dita.
"Ada apa Sayang! kamu bisa cerita sama aku!" katanya.
"Hm... Vin kenapa ya ada orang yang bisa-bisanya memfitnah tanpa tau bagaimana sakitnya perasaan kita ketika jadi korban fitnahan itu"
"Apa korban yang kamu maksud itu kamu sendiri? siapa yang memfitnahmu?"
"Tadi di lorong rumah sakit, aku bertemu sama Dita, dia tau kalau aku pergi sama Willy bahkan ia menuduhku hamil anaknya Willy, aku jadi emosi padahal aku sudah menjelaskan semuanya padanya tapi tetap saja ia tak mengerti!"
"Ohh tidak apa-apa Sayang kamu cukup sabar saja menghadapinya, lagian apa yang temanmu ucapkan kan tidak sesuai faktanya jadi untuk apa kamu harus marah, kan sekarang kita sudah bersatu kembali bahkan nantinya kita bakalan kedatangan anggota keluarga baru! jadi berhenti memikirkan semua itu, karena takutnya kamu jadi pusing dan itu tidak baik untuk kandunganmu yang masih sangat muda!" terangnya.
"Sepertinya kamu memang benar sayang! aku harus menjaga kesehatan biar calon bayinya juga sehat!" balasku tersenyum semringah mengelus perutku lalu menatap Kevin.
Cup... muach... muach...
aku mengecup bibirnya berkali-kali dengan terus memancarkan senyuman.
"Kamu nakal yah! heheh!" ujar Kevin.
"Biarin hahaha!"
Cup....
Aku terus menciumnya hingga puas dan itu hanya di bibir saja.
__ADS_1