
HAPPY READING GAES
JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK BUAT PART INI YA 😉
Akh...
Aku menghela nafas dalam-dalam menikmati udara segar dari balik jendela kaca mobil, Sungguh! Aku sangat bahagia karena terlepas dari bau rumah sakit yang hanya membuat kepala berdenyut pening.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah serta rambutku, membuat mata yang sedari tadi malam tak bisa tertutup kini malah menyuruhku untuk segera terlelap.
"Tidur aja Sal... Butiknya masih jauh kok! " ujar tante Mira yang sedang fokus menyetir seraya melirik kebelakang melihatku sesekali menutup mata, namun sadar kembali ketika laju mobil itu melambat karena kufikir kami sudah sampai.
"Iya sayang! Kamu tidur aja nanti mama bangunin kalau udah hampir sampai! " lanjut mama dengan lembut.
Perlahan mataku mulai tertutup hingga pada akhirnya menyatu dengan alam mimpi.
"Salsa... Gue nggak bisa hidup lagi kalau lo menikah sama orang lain? "
Teriak salah satu cowok yang sedang berdiri ditengah jalan dengan mobil yang berlalu lalang.
Yah, cowok itu ternyata Willy yang mencoba bunuh diri, aku melihatnya dari seberang jalan, dan sontak kaget lalu mencoba berlari mendekatinya
"Willy... lo jangan lakuin itu.... " teriakku lantang tetapi sepertinya dia sama sekali tidak mendengarnya, dia hanya diam mematung hingga sebuah truk bermuatan besar membunyikan klaksonnya berkali-kali.
Bib bib bip
Willy hanya menatap datar kearah truk itu, aku yang menyaksikannya berusaha untuk mempercepat lariku, agar bisa untuk menyusul dirinya.
"Willy... Lari.... " jeritku lagi disela pelarianku.
__ADS_1
Brukkkk
Langkahku terhenti, tatkala melihat truk itu menabrak Willy hingga terlempar beberapa meter, mataku melotot dengan air mata kini mulai mengalir.
"Willy..." teriakku lemas dengan tubuh gemetaran, aku seakan ingin ambruk juga, namun melihat banyaknya orang yang mulai berlari mendekatinya, aku mencoba untuk bangkit , meskipun kakiku sudah mati rasa aku tidak perduli.
"Willy.... " aku menutup mulutku dengan kedua tangan, rasa takut mulai kurasakan, air mata kini tak bisa ku bendung lagi.
"Permisi, minggir pak! " lirihku yang mencoba untuk masuk melalui kerumunan orang yang mengelilingi tubuh Willy.
Aku Syok! Melihat pemandangan yang mampu membuat jantungku seketika berhenti berdetak.
Willy terkapar diaspal jalan, kepalanya berlumuran darah, tubuhnya sesekali tersentak-sentak membuatku sangat takut.
"Willy.... " ucapku dengan nada rendah seraya terduduk disamping kepalanya yang penuh darah.
Tanganku mulai kuulurkan dengan gemetar mencoba untuk meraih kepalanya dan mengangkatnya menuju pahaku.
Aku hanya bisa membelai wajahnya, sambil terisak-isak, meskipun paha dan tanganku kini ikut berlumuran darah namun aku sama sekali tidak menghiraukannya.
Aku hanya berharap Willy sadar dan menyadari kehadiranku. Aku menyeka darah yang keluar dari hidung dan mulutnya, seakan darah itu terus saja keluar tanpa jeda waktu.
"Will... Gue sekarang udah sehat, lo bangun sekarang dong! Gue mohon Will.... "
Hanya ucapan itu yang bisa kukatakan padanya
"Sa... Salsa.... "
Aku kaget Willy membalas ucapanku meskipun tersenggal karena darah yang terus keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Willy... Lo tahan ya, ayo kita kerumah sakit sekarang! " ujarku yang masih dalam keadaan menangis.
Willy malah tersenyum, yang sontak membuatku kembali panik.
"Sal... Makasih lo udah ada disini,uhhuk Sepertinya gue emang harus mengingkari janji itu, Maaf gue udah buat lo menderita, Gue emang nggak pantas buat lo Sal, dan gue harap lo bahagia dimasa depan nanti, satu hal yang gue harapkan semoga kita bertemu lagi dikehidupan selanjutnya, dan lo cuman milik gue seorang!" pintanya yang kemudian batuk darah.
Aku menangis tersedu-sedu mendengarnya, lalu menutup mata membiarkan air mataku terus mengalir dan terjatuh diwajahnya.
"Willy sebenarnya gue masih cinta sama lo... " ungkapku yang kemudian perlahan membuka mata dan kulihat Willy juga menutup matanya.
Aku kembali Syok! Kufikir Willy hanya tertidur, namun seketika seseorang memeriksa denyut nadinya, orang itu menatapku lalu menggeleng pelan, dan aku sangat mengerti kode itu.
Aku menarik nafas dalam-dalam, dadaku seakan sangat sesak membuatku sangat sulit untuk sekedar bernafas.
"Pak, Willy kenapa? Willy cuman pingsan kan? Bapak mungkin salah, coba periksa lagi denyutnya pak! "
"Maaf mbak, sepertinya tuhan sudah berkehendak lain." ucap bapak yang memeriksa nadi Willy tadi.
"Nggak Willy nggak mungkin ninggalin gue, enggak... Willy bangun sekarang kalau lo nggak bangun persahabatan kita bubar, kalau lo bangun gue traktir lo Will gue janji" lirihku ditengah kerumunan itu.
Namun nihil, aku tak mendapat respon meskipun terus menampar pelan wajahnya beberapa kali yang penuh darah itu.
"Will...gue mohon Jangan tinggalin gue... Huhuh Willy....." teriakku dengan lantang.
.
.
.
__ADS_1
NEXT....?