
HAPPY READING YA...
jangan lupa tinggalkan jejak kalian
dan jika berkenan silhkan berikan dukungan dengan vote (seikhlasnya saja) karena dengan begitu maka akan membuat author tambah semangat lagi 😉😁
*Hari ini aku double Up lohh*😊
Tap tap tap
Suara langkah kaki itu membuatku memalingkan wajah mencari tau orang yang melangkah tesebut.
"Kevin? Ngapain dia kesini lagi, oh jadi tadi dia dari toilet kali ya?" gumamku melihatnya melangkah mendekatiku dengan sepatu yang kinclong tanpa noda sedikitpun, kufikir dia tadinya akan marah tapi ternyata dia hanya pergi karena ingin membersihkan sepatunya itu.
Tiba-tiba dia duduk dikursi yang berada tepat disampingku, sebenarnya aku sedikit kaget namun berusaha bersikap biasa saja, aku menoleh kebelakang yang ternyata ada banyak kursi kosong, akan tetapi kenapa dia harus duduk disampingku?
Pertanyaan itu hanya bisa kusimpan rapat-rapat dalam otakku karena tak ingin menanyakan hal tersebut kepada si muka datar ini.
"Khem... Karena lo duduk disitu, biar gue yang pindah!" ucapku seraya langsung berdiri dengan mengangkat piring yang berisi nasiku yang masih tersisa.
"Duduk!" perintahnya datar, singkat, dan padat.
Huh... Aku mengabaikan ucapannya itu, dan bersiap untuk berjalan akan tetapi tiba-tiba ada yang menarik gaunku dengan sangat keras, sehingga piring yang berisi nasi ditanganku terlempar kearah muka dan gaun yang kupake.
Namun untunglah semuanya hanya tinggal nasi karena tadi sayurnya sudah ku buang dibawah kursi yang kutempati secara diam-diam.
Kini wajahku, termasuk bulu mata palsu yang cetar membahana dihinggapi oleh nasi yang sedikit basah karena air sayur.
"Kevin!!!" jeritku dengan lantang memenuhi isi ruang dapur, yang sontak membuat semua orang menoleh kearahku kecuali Kevin yang masih sibuk mengunyah nasinya.
Aku sangat marah sekarang, sangat kesal hingga menggertakkan gigi, dan perlahan membersihkan nasi yang ada dimukaku.
"Lo sengaja ya? Ohh apa ini cara lo balas dendam sama gue? Tapi nggak gini juga caranya Vin!" tanyaku
Dia mendonggakkan wajahnya lalu menelan nasi yang dikunyah didalam mulutnya, kini bola mata kami bertemu, aku yang menatapnya merasa takut sehingga memilih mundur satu langkah darinya.
"Nga-ngapain lo natap gue?"
"Kamu tau, balas dendam itu seperti apa?" tanya Kevin terdengar dingin.
__ADS_1
"Ya tau lahhh, lo kira gue nih anak TK? Balas dendam itu salah satu cara yang dilakukan untuk membalas perbuatan orang jahat." jawabku dengan percaya diri.
"Hm... Terus aku melakukan kejahatan apa?"
"Lah... Lo buta ya? Tadi kan lo tarik gaun gue pas gue mau berdiri!!!" kesalku.
"Lihat kebawah?" balasnya singkat membuatku tercengang.
"Apaan lo nyuruh-nyuruh gue! enggak, gue nggak mau! Intinya sekarang lo harus minta maaf sama gue, karena lo udah banyak utang permintaan maaf sama gue" tuturku.
Meskipun aku sempat merasa sangat penasaran dengan ucapannya, tetapi aku tidak mau langsung melakukan perintahnya.
Tiba-tiba dia berdiri lalu menaruh piringnya tepat dikursi yang dia duduki tadi, perlahan dia melangkah mendekatiku, semakin dekat hingga tubuh kami hanya berjarak beberapa senti.
"Lo mau ngapain dekat-dekat sama gue?"
Tiba-tiba dia mengangkat tangan dan menaruhnya tepat diatas kepalaku, kufikir dia ingin membantu membersihkan sisa nasi yang masih ada di antara helain rambutku.
Aku tertegun menyaksikannya sembari menutup mata dan ada senyum dari sudut bibirku.
Seketika dia menekan kepalaku dengan sangat keras hingga membuatku menunduk, aku kembali emosi, leherku terasa ingin patah karena ulahnya, ingin sekali rasanya menegakkan kembali kepalaku akan tetapi dia terus menekannya.
"Aku bilang lihat kebawah!" balasnya dengan nada yang sedikit tinggi.
Akhirnya aku menurut saja lagian rasa penasaranku sudah tidak bisa kutahan lagi, mataku melebar melihat ujung gaunku ternyata tersangkut di kaki kursi, dan itu membuatku salah paham padanya.
"Oh My God, jadi yang tadi narik gaun gue bukan dia tapi ternyata kursi Sialan ini? Ya ampun ini udah berapa kali gue bikin malu diri sendiri?" gumamku dalam hati.
"Sudah melihatnya? Bagaimana, apa aku yang melakukan kejahatan?" tanyanya lagi dengan melepaskan tangannya dari kepalaku.
"Gu-gue... Anu, itu... Pokoknya ini salah elo titik!" jawabku gugup menahan malu, dan tidak mau merasa bersalah.
"Bodoh!" ejeknya sembari berbisik yang kemudian melangkah pergi.
"Lo bilang gue apa tadi? woeee lo kira gue bodoh? Elo yang bodoh dasar muka datar!" balasku dengan menunjuknya dari belakang.
Kevin kembali mengabaikan ocehanku, dan dengan kesal aku menyusul langkahnya namun sayang sekali kakinya yang panjang dengan langkah kaki yang dua kali dariku, sama sekali tak bisa menyusulnya .
Dan tanpa ku duga ternyata dia kembali duduk dikursi pelaminan, sedangkan aku dengan wajah yang masih belepotan juga kembali duduk di kursi sampingnya.
__ADS_1
Semua mata menatapku, termasuk Kevin yang tampak cengar-cengir, awalnya aku heran dengan pandangan mereka akan tetapi aku mengelus wajahku hingga aku merasa tau alasan yang sebenarnya dari tatapan mereka.
"Akh... Ya ampun gue lupa rapiin Make Up gue?" gumamku.
Seketika mama datang dari kerumunan orang-orang yang melihatku, ia tampak sangat marah dengan mata yang seakan menusuk batinku.
"Salsa... Ada apa ini? Kenapa kamu membuat mama sangat malu hari ini? Ini acara pernikahan kamu loh, terus kenapa ada banyak nasi dimuka kamu?" seru mama.
"Maaf mah, tadi ada anjing gila yang tarik gaun Salsa terus nasinya tumpah!" jawabku seraya memalingkan wajah menghindari tatapan mama.
"Sini kamu! Cepetan kita kekamar mandi bersihin wajah kamu! Kamu nih jorok banget sih Sal, Kayak anak kecil aja! " ajak mama yang kembali menarik tanganku dengan kesal.
***
Setelah kembali dari kamar mandi, aku kembali duduk dikursi dekat Kevin, Saat ini aku merasa sangat malu berada didepan orang-orang dan ini semua karena ulah si muka datar yang ada disampingku.
"Baiknya sekarang saatnya kita mempersilahkan kedua mempelai untuk berdansa bersama" ucap MC yang tiba-tiba membuatku sangat kaget.
Aku menatap mama sambil berbisik, "Mah... Kok ada Acara dansa segala sih, mama kan tau Salsa nggak pernah dansa sama sekali sebelumnya... Jadi batalin aja dong mah, kalau nggak mama pasti malu deh" keluhku dengan berbisik kepada mama.
"Mama nggak bisa batalin Sal, karena semua sudah diatur sama mamanya Kevin jadi kamu harus lakuin apapun itu!" ungkap mama.
Seketika Kevin berdiri lalu berjongkok tepat dihadapanku sambil menjulurkan tangan layaknya mengajakku untuk berdansa.
Melihatnya seperti itu aku tercengang, lalu menatap mama, akan tetapi mama hanya mengedipkan mata, sambil kembali berbisik.
"Lakuin aja Sal... Cuman sebentar doang kok!"
Dengan pasrah dan gugup aku menerima ajakan Kevin, kini kami perlahan berjalan ketengah ruangan dimana musik sudah mulai diputar.
Tiba-tiba kevin memegang pinggulku, sehingga aku merasa geli dan tubuhku menggelinjang, entah perasaan apa ini namun aku yakin tubuhku seperti itu karena ini pertama kalinya seorang laki-laki memegang area pinggulku ini.
"Shutt jangan pegang sembarangan ya, awas tangan lo bisa gue cincang kalau lo macem-macem! " ancamku dengan berbisik kepada Kevin.
"Ohh Iya sebenarnya gue nggak tau caranya dansa jadi tolong dong batalin aja acara dansanya ya?" lanjutku dengan penuh harap.
"Kamu ikutin aja semua gerakan aku!" jawabnya dengan menggengam erat tanganku.
__ADS_1