
Kedatangan om Bram dan tante Mira masih mengganjal di fikiranku
"Nak, sebenarnya ketika ibumu terkena serangan jantung waktu kau masih kecil, pak Bram yang mengoperasi jantung ibumu dan menyelamatkannya!
"Lalu apa hubungannya dengan dewasanya aku ayah?" ucapku sedikit berteriak.
"Tenanglah Nak, jaga sopan santunmu? " gertak ayah membuatku terdiam menunduk.
"Jadi Waktu itu biaya operasi ibumu sangat mahal dan uang ayah belum cukup, lalu pak Bram membantu kita sekali lagi nak!" lanjut Ayah.
"Terus!! " ketusku
"Pak Bram mempunyai seorang putra, dan dia sekarang yang menggantikan posisi pak Bram di RS HEALTH ME menjadi seorang CEO di rumah sakit itu".
"Terus!!!" ucapku lagi dengan ku tatap ayahku yang sepertinya mulai emosi karenaku namun ditahannya.
"Ayah berniat menjodohkanmu dengan putranya!"
"Ohh jadi Maksud ayah, ayah mau menjual aku ke mereka gitu?"
"Bukan begitu maksud ayah Sal! "
"Terus apa yah!, ayah kan tau Salsa masih berstatus siswi SMA" ucapku berteriak dengan lantang membuat mereka kaget.
__ADS_1
"Salsaaa!!" Gertak ayah.
Aku melangkah pergi menuju kamarku tanpa menghiraukan mereka lagi, teriakan ayah, ku anggap sebagai nyamuk yang menggigitku, seakan akan menghisap darahku hingga membuat aliran darahku mengalir tak karuan.
Disisi lain mereka masih berdiskusi.
Aku masih tak habis fikir bagaiman bisa ayah dan mama melakukannya, seharusnya mereka bisa memberitahukan hal ini padaku, mereka seperti tak mengerti sama sekali dengan perasaanku.
"Jengk maaf ya, mungkin Salsa belum siap menerima kenyataan ini jadi dia kayak gitu tadi, jadi mohon di maklumi ya jengk" ujar mama.
"Tidak apa-apa jengk, saya bisa mengerti mungkin Salsa lagi anu jadi dia marah-marah hahah" ucap Tante Mira.
"Kalau begitu kita pamit dulu ya Jengk besok kami bakalan datang lagi dan saya akan berusaha mengajak anak saya heheh" lanjut tante Mira yang kemudian melangkah keluar untuk segera pulang.
Aku tak bisa lagi menahan diri untuk tetap berada diantara mereka, ku buka dengan kasar pintu kamar, lalu kurebahkan diriku, entah dengan apa aku harus melampiaskan kekesalanku ini.
"Bagaimana ini, aku baru saja jadian beberapa jam lalu dengan cowok yang gue cinta tapi tiba-tiba gue mau dijodohkan? "
apa takdir mau bermain-main denganku?
"Tidak, aku tidak mau putus dengan Willy!"
Kulihat ada sebuah gunting diatas meja belajarku, aku raih gunting itu lalu mengambil bantal yang ada di sampingku.
__ADS_1
Aku merobek-robek bantal itu sampai gabus yang ada didalamnya berhamburan keluar, aku melakukan ini agar bisa melampiaskan emosiku, namun masih saja emosi itu seakan menguasai diriku.
Beberapa menit kemudian ibu datang
Tok tok tok
" Sal... Ini mama, Sayang!, mama masuk ya?" mama membuka pintu kemudian syok melihat isi kamarku yang di penuhi gabus bantal.
"Ahh, apa yang kau lakukan Sal, singkirkan gunting itu dari tanganmu",
Mama panik melihat gunting itu masih ditanganku. Mama mengira aku mau bunuh diri, saking syoknya penyakit jantung mama kambuh.
"Ahhkk ahhkkk Sall tolong mama" teriak mama dengan memegang dada bagian kirinya. Aku melempar gunting itu sembarangan lalu berlari ke arah mama.
"Mama kenapa, jangan buat Salsa panik dong ma?"
"Tolong mama Sal, penyakit jantung mama kambuh, tolong ambilin obat mama di laci kamar mama Sal!" ujar mama tambah membuatku panik.
"Tunggu sebentar ma!, oh iya ayah dimana biar Salsa panggilin"
"Ayahmu tadi keluar dia ngak ada dirumah jadi kamu aja yang ambilin mama Obant ya?"
Aku bergegas berlari kearah kamar mama, kubuka setiap laci hingga akhirnya aku mendapat sebuah table obat milik mama lalu berlari lagi kearah kamarku.
__ADS_1
"Mah, ini obatnya!" aku memberikan obatnya kepada mama, kulihat wajah mama sudah pucat, tangannya gemetaran dan itu membuatku merasa bersalah