
Kevin yang menyadari hal itu langsung melepaskan tangannya, aku mulai melangkah mundur dengan cepat agar menjauh darinya, namun sempitnya kamar membuatku tak bisa bergerak secara leluasa hingga kini aku hanya berhenti tepat didepan lemari.
"Ngapain lo kesini? " aku membentaknya membuat dia mengerutkan dahi
Kevin tampak berjalan dengan cepat kearahku, wajahnya terlihat dingin dan menahan emosi, urat lehernya saja sangat jelas terlihat, dia seakan ingin menerkamku
"Lo.. Lo mau apa? Jangan mendekat! " Aku mencoba mengambil ancang-ancang dengan memberinya sebuah kepalan tangan bersiap meninju wajahnya, tetapi karena takut kepalanku itu tak jadi melayang, dan malah menutup tubuhku dengan tangan.
Seketika dia mencengkram tanganku dengan sangat keras.
"Asskk Lepasin gue, ini sakit!, akhh mama... " Meski ku putar pergelangan tanganku, mencoba untuk melepaskan diri, namun dia semakin mempererat cengkramannya.
Aku berteriak memanggil mama. kini Aku hanya pasrah! Berharap ayah dan mama mendengarkanku, meskipun ku tau suara kecilku ini tak mampu menembus tembok kamar ini.
"Diam..!!! ,Dengar Salsa Olivia, kamu tidak bisa seenaknya!, pertunangan kita sebentar lagi, jadi jangan pernah menguji kesabaranku, atau kau mau kita langsung menikah saja?"
Geramnya mempererat cekalan tangannya dipergelangan tanganku yang masih berusaha untuk kulepaskan.
Glekk
Aku menelan ludah sendiri, jadi dia mengancamku? Dia bilang apa tadi, langsung menikah? Cihhh aku tidak sudi menyerahkan masa mudaku secepat ini dengan laki-laki dingin seperti dia.
__ADS_1
Aku menatap tajam kepadanya menentang semua ucapan yang baru saja keluar dari bibirnya itu.
"Gue ngak sudi menikah sama lo, gue masih muda, masa depan gue masih panjang! Sedangkan lo, lo itu seharusnya gue panggil Om, lo nyadar dong kita itu beda 10 tahun, lo ngak malu nikah sama bocah kayak gue? " cibirku pedas membuat dia melotot.
"Ohhh jadi kamu menentangku? " Kevin menyipitkan mata memandangku.
"Ckckck please dehh jangan sipitin tuhh mata, udah sipit tambah disipitin kan jadi nggak keliatan tuh mata heh! " batinku
Entah kenapa aku merasa takut sekarang, hawa dingin darinya kini mulai ikut kurasakan.
"Gu-gue nggak suka dibentak-bentak " ucapku kesal.
"Karena kau mengabaikanku Sal.., aku tidak suka diabaikan" dengusnya menahan kemarahan.
Clekkk
Pintu terbuka lebar, ternyata mama datang dia tampak kaget melihat kami berpelukan.
Aku mendorong Kevin, hingga dia menjauh sedikit dariku, entahlah warna apa yang muncul sekarang dipipiku.
"Ehh kayaknya mama datang di waktu yang kurang tepat ya? maaf!" imbuh mama yang tiba-tiba membuka pintu
__ADS_1
"Aku kesini hanya ingin mengembalikan ponsel kamu!" ucapnya datar.
"Apa! jadi dia datang hanya ingin mengembalikan ponsel? terus kenapa dia harus masuk kesini, kan ponsel itu bisa dititip lewat mama!" batinku.
"Atau jangan-jangan dia memang punya maksud lain jadi langsung masuk kesini? lagipula tadi dia mengancam, setelah mama datang sikapnya seolah-olah kejadian tadi tak pernah terjadi!" lanjutku bergumam dalam hati.
Aku terkekeh atas semua perilakunya,
ternyata dia tak lebih dari seorang laki-laki bermuka dua,
Dia mengeluarkan ponselku disakunya dan aku langsung merebutnya sebelum dia menjulurkan tangannya kepadaku.
aku kembali menatapnya secara tajam setajam silet, lalu memutar bola mata
Meskipun mama masih memperhatikan kami, tapi aku tidak perduli, karena mama yang membuatku jadi begini, mama tampak memandangku dengan tatapan tidak suka, kufikir mama tidak terima dengan tingkahku kepada Kevin tapi aku mencoba tetap tenang.
.
.
.
__ADS_1
.
NEXT?????