Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Darah?


__ADS_3

Dalam diam aku tersenyum, "Hm... Otak mesumnya mulai bekerja lagi nih!" ucapku.


Akan tetapi Kevin malah mengusap-usapkan kepalanya di punggungku, "Sekarang aku bisa melihatmu setiap hari, menjadi orang pertama yang kau lihat di setiap pagimu, tapi tetap saja aku kecanduan akan tubuhmu!" lenguhnya.


"Maaf Vin... Apa aku membuatmu susah karena tidak bisa melayanimu layaknya seorang istri? Tapi aku bukannya tidak punya alasan dengan penolakanku, hanya saja aku tidak ingin melakukannya disela kandunganku yang masih muda! Aku mohon mengertilah dan aku minta maaf juga!" tuturku.


"Hm... Aku tau, kalau begitu aku hanya bisa sabar, dan sebaiknya kamu istirahat saja, aku mau kerumah sakit dulu!" Kevin turun dari ranjang dan hendak berjalan menuju pintu.


"Tunggu Vin..." Cegahku langsung bangkit dan berjalan kearahnya menghamburkan diri memeluknya, "Hati-hati dijalan Sayang!" kataku.


"Hm... Iya aku akan hati-hati!" balasnya.


Selang beberapa menit setelah kepergiannya, aku kembali merebahkan diri diatas kasur, hingga ada sesuatu yang keras kutindih di bawah punggungku.


"Ini kan ponselnya Kevin, bagaimana bisa dia tidak mengecek semuanya terlebih dahulu sebelum pergi!" kataku memegang ponselnya dan berniat untuk membawakannya kerumah sakit.


Aku bergegas mengambil tas selempangku dan memasukkan ponsel Kevin kedalam tasku.


Krek...


"Nak... apa kamu baik-baik saja?" Mama datang dan langsung membuka pintu, "Ehh kamu mau kemana?" Lanjut mama yang tadinya bengong menatapku yang sibuk memakai riasan tipis di wajahku tepatnya didepan cermin.


"Mah... Aku harus pergi kerumah sakit, ponselnya Kevin ketinggalan jadi aku mau membawakannya kesana!" jawabku.


"Loh... Bukannya tadi kamu bilang masih capek, pengen istirahat ya kan? Kalau begitu biar mama yang membawakan ponselnya dan kamu bisa istirahat nak!" pungkas mama menjulurkan tangan meminta ponsel milik Kevin.


Sekejap aku menatap uluran tangan mama, "Tidak usah mah! Biar aku saja!" tolakku halus dan langsung pamit dengan menyalami tangan mama.


Diperjalanan beberapa kali ponsel Kevin terus bergetar menandakan panggilan masuk, dan itu adalah nomor tak dikenal, walau rasanya ingin menjawab namun ada saja yang menghalangi yaitu rasa tak enak hati.


Aku menahan diri mencoba untuk mengabaikan setiap panggilan masuk, hingga akhirnya sampai didepan rumah sakit.


Ketika taksi yang kukendarai berhenti, aku mengorek isi dompetku untuk membayar, lalu melangkah turun.


Awalnya aku berdiri di pinggir jalan sambil menatap datar kearah gedung rumah sakit, di sertai cahaya matahari pagi yang mulai menyengat kulit.


Huh! Aku menghela nafas sebelum akhirnya melangkah masuk, akan tetapi ketika hendak melangkah untuk ketiga kalinya, ada seseorang yang menyenggol tas selempang yang ku bawa, membuat isi didalamnya serta ponsel Kevin terlempar ke tengah jalan.

__ADS_1


Tadinya aku tidak menyadari ketika mengeluarkan dompet aku lupa menarik resleting tasku.


"Ahh kenapa aku begitu ceroboh lagi!" gerutuku pada diri sendiri.


"Ehh maaf-maaf mbak saya tidak sengaja!" ucap orang yang menyenggolku seraya meminta maaf.


Srek....


Begitu tak terduga lagi, orang yang tadinya kufikir untuk meminta maaf karena telah menyenggolku tanpa sengaja kini malah merampas tasku dan melarikan diri.


"Ehhh ahhh tolong, ada jambret..." teriakku lantang membuat security yang berjaga didepan rumah sakit berlari menghampiriku, "Ada apa mbak?" tanya pak security.


"Tas saya diambil pak!" jawabku menunjuk kearah jambret yang berlari terbirit-birit.


Sontak saja, security itu berlari menyusul si jambret sementara aku begitu bingung, disisi lain aku tak mau berlari karena sedang mengandung, disisi lain ponsel Kevin masih belum ku ambil ditengah jalan, dan untunglah belum terlindas oleh kendaraan yang berlalu lalang.


"Salsa... Elo kenapa?" panggil seseorang dengan suara ngos-ngosan yang tak lain adalah Willy.


"Ehh Willy? Kamu kenapa bisa disini juga? Aahh tolong tas aku di jambret sama orang yang dikejar security itu!" lirihku menunjuk lagi.


Lalu pada saat kendaraan mulai sepi meskipun masih ada mobil yang jaraknya masih agak jauh, aku berjalan cepat ke arah ponsel yang tergeletak itu.


"Ya ampun, untung nih ponsel nggak kenapa-napa!" gumamku mengelus-elus layarnya kemudian bangkit dan berbalik badan bersiap untuk menyebrang kembali ketempat semula.


Brum... Brum....


Tiba-tiba suara mesin mobil yang terdengar melaju dengan cepat, aku mundur selangkah dengan upaya untuk menghindar.


Akan tetapi nasib sial sepertinya tak ada hentinya menghampiriku, mobil itu malah melaju cepat kearahku sepertu di sengaja, semakin mobil itu mendekat sekilas aku bisa melihat orang yang mengendarainya.


"Itu... Clara...." pada saat aku menyipitkan mata, rauk wajah dengan senyuman sinis itu tergambar jelas di wajah Clara.


Tubuhku seketika menegang, batinku menyuruhku untuk berlari sekuat mungkin, namun kaki ini tak berdaya bak ada lem perekat ditelapak kakiku.


Aku mencengkam kuat baju yang kukenakan, "Tidak! Jangan.... " imbuhku menggeleng kearahnya.


Ahhhh....

__ADS_1


Brak....


Aku berteriak kencang, ketika mobil itu sudah sangat-sangat dekat dan akhirnya menabrakku, membuat tubuhku terhempas beberapa meter.


Tubuhku rasanya kaku, tulang-tulangku terasa patah, sangat sakit membuat nafasku tersenggal-senggal.


"Ahk... Pe-perutku.... Sakit..... Tidak... Ini... Perutku sakit tolong...." pintaku meminta tolong.


Sumpah! Kali ini perutku benar-benar sangat sakit bahkan lebih sakit pada saat Clara dulu mendorongku.


Kendaraan lain terhenti, dan ada beberapa orang berdiri mengelilingiku, " Salsa... Sal... Elo elo kenapa bisa kayak gini, siapa? Siapa yang nabrak lo?" Willy yang tiba-tiba datang dengan wajah panik, menyaksikan kondisiku.


"Will... Tolong... Perutku sangat sakit!" imbuhku.


"Apa! Tunggu... Sal... Ada... Ada.. Darah!" ucap Willy terbata-bata memberitahuku.


"Ahh ssh.... Darah?" aku kaget dan mencoba untuk terduduk, Dan untunglah Willy membantuku, "Tidak... Ini tidak mungkin, calon bayiku!!! Tidak, Will please cepat tolong bawa aku ahh masuk kerumah sakit sekarang juga ahh!"


Willy mengangguk dan mengangkat tubuhku, aku melihat sekilas kearah mobil Clara yang di kelilingi banyak orang yang terus mengetuk kaca mobilnya karena Clara tak mau turun dari mobilnya itu.


Didalam dirumah sakit, Willy membawaku ke dokter kandungan, "Dok! Tolong!" ucapnya kepada sang dokter kandungan.


"Ehh ayo cepat bawa ke atas ranjang!" suruh dokter kandungan yang di iyakan oleh Willy yang terus menggendongku hingga berbaring di atas ranjang pasien.


"Salsa... Kandunganmu kenapa lagi?" sahut dokter tersebut.


"Dok! Tolong selamatkan bayiku! Aku ahh tidak mau sampai keguguran huhuh!" pintaku mulai menangis menahan sakit yang amat luar biasa.


"Kenapa bisa seperti ini Sal... Aku kan sudah bilang kamu harus berhati-hati karena usia kandunganmu masih sangat muda!" tegur sang dokter.


"Ohh iya apa dokter Kevin sudah tau akan hal ini?" Sambung dokter tersebut malah membuatku seketika bertambah takut.


"Ssh...Belum dok! Ahh dok! Tolong jangan memberitahu Kevin aku... Aku takut dia kecewa denganku!" Aku meraih tangan dokternya untuk memohon.


"Sal... Dokter Kevin harus tau, dia kan suami dan ayah dari calon bayimu!" terang dokternya.


"Biar saya yang pergi memanggil Suaminya Salsa dok! Dokter bisa fokus ke Salsa sekarang!" Seka Willy yang sejak tadi hanya berdiri disamping dokter.

__ADS_1


__ADS_2