Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Di Rumah


__ADS_3

HAPPY READING...


"Salsa nggak nyangka mama bakal lakuin ini sama anak mama sendiri! Mama kan tau Salsa masih remaja dan mama sudah tidak mau tinggal seatap sama aku!" ucapku dengan air mata yang perlahan mengalir.


"Aduh... Anak mama kok nangis sih, mama kan tidak bermaksud mengusir kamu nak! Mama melakukan ini karena mama sebagai orangtua sudah lepas dari tanggung jawab!" tutur mama yang langsung memelukku.


Air mata bercampur emosi kini mulai menguasai diriku, dengan kesal aku mendorong pelan tubuh mama agar menjauh dariku.


"Udahlah mah... Salsa sekarang udah ngerti maksud mama, dan kalau ini memang kemauan mama, oke... Salsa turutin, tapi Salsa tidak mau tinggal satu atap sama dia!" lirihku dengan menunjuk kearah Kevin yang sedang duduk sambil menyaksikan kami bertengkar.


"Salsa... Kamu tidak boleh mengatakan itu, karena kalian sekarang adalah suami istri, yang sudah terikat janji suci, camkan itu!" gertak mama.


"Enggak, pokoknya Salsa nggak mau, lebih baik Salsa tinggal sendiri di rumah kost daripada harus tinggal sama Kevin!"


"Emang kamu punya uang mau tinggal di rumah kost? Sudah tau caranya cari uang sendiri? Aduh Salsa... dari kecil semua kebutuhan kamu ini, itu, bla bla bla... kan mama sama ayah kamu yang biayain, lagian kamu juga tidak tau cari uang kan?" celoteh mama.


Aku hanya bisa menggeleng kepala, semua yang dikatakan oleh mama memang benar, tapi aku memang tidak mau tinggal bersama Kevin! Apa jadinya aku jika harus tinggal berdua dibawah atap yang sama dengan dia.


Mungkin jika itu terjadi, aku hanya bisa lebih bosan karena dia yang tanpa ekspresi dan sangat susah diajak ngobrol, lagian dia lebih sering menggertakku dari pada berbaik hati padaku dan itu alasan sebenarnya aku tak mau bersamanya.


Dengan cepat aku mengusap air mata dan langsung memegang erat tangan mama.


"Kalau gitu mama harus ngasih aku uang yang banyak yah yah..." rengekku kepada mama sambil mengayun-ayunkan tangannya.


"Enggak... Kalau kamu mau uang, minta sama suami kamu!" serkah mama.


"Ehh kayaknya aku amnesia deh mah, aku nggak ingat pernah punya suami!" ucapku berbohong.


Plakk


Tiba-tiba mama memukul kepalaku dengan sangat keras hingga aku mengerang kesakitan.


"Gimana? ingatan kamu udah kembali?"


"Mama... Sakit tau! Mama nggak tau ya memukul anak itu adalah suatu bentuk kekerasan pada anak loh... Udah ada pasalnya mah... Hukumannya juga kayaknya penjara berapa tahun ya? Aku lupa!" tuturku dengan penuh percaya diri.


Plakkk


Mama kembali memukul mulutku mungkin karena kesal dengan ucapanku barusan.


"Diamlah Salsa... Kamu nihh punya mulut tapi nggak tau ngomong mana yang baik, mana yang buruk, nanti kalau ada yang dengar selain kita bisa salah paham!" ungkap mama.


"Ya udah mama udah malas ngomong sama kamu, buruan pergi sana sama Kevin dan nikmati hidup kalian berdua!" lanjutnya.


"Tapi mamah... Anakmu ini tidak bisa jauh darimu, anakmu ini masih kecil yang butuh kasi sayang seorang ibu huhu" balasku dengan kembali meneteskan air mata bersikap manja kepada mama.


"Bukannya kamu senang ya, akhirnya jauh dari mamamu yang cerewetnya minta ampun?"


"Ehkk kok mama tau sih? Ma-maksudnya enggak kok mah heheh" ujarku gugup setelah menyadari kekeliruanku.


Plakkk

__ADS_1


Mama mengayunkan tangannya dan langsung mendarat tepat dipantatku yang tak berisi ini.


"Auww mama... Kenapa mama hobi banget mukul Salsa terus sih? Kalau dihitung-hitung hari ini mama udah hampir puluhan kali lo mukul Salsa, nanti aku laporin ke pak polisi loh mah heheh...." ancamku bercanda.


"Ahk udahlah... Bodo amat, kamu nih bicaranya ngawur terus sih? Udah sono pergi! Nggak malu apa diliatin terus sama si Kevin!" jawab mama.


Karena terus bertengkar dengan mama, aku hampir lupa dengan kehadiran Kevin diantara kami, dan tanpa kusadari ternyata dia dengan santainya duduk dengan gaya bos besar, yang mungkin sejak tadi terus menyaksikan kami.


"Kalau kalian sudah selesai mengobrol, apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Kevin dengan tersenyum kearah mama.


"Ahh... Tentu saja, maaf yah mama membuatmu menunggu terlalu lama, lagian Salsa banyak ngomongnya sih! Heheh ya udah kamu boleh bawa Salsa sekarang!" balas mama.


"Kalau begitu kami pamit mah," ucap Kevin seraya meraih tangan mama dan bersalaman dengannya.


Kevin berjalan keluar dengan membawa koperku yang ada dibalik pintu, aku hanya bisa memandangnya dengan datar lalu kembali menoleh kearah mama.


"Ta-tapi mah... " keluhku.


"Udah pergi sana... Kan kita nantinya masih punya banyak waktu sayang! Mama kan bukannya ke surga, dan pintu rumah ini selalu terbuka buat kalian, jadi kalian bisa leluasa buat mampir jenguk mama!" tutur mama dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Aku yang sedikit terharu langsung memeluk mama dengan erat, kami menangis bersama, meluapkan semuanya, rasa kesalku perlahan hilang dalam dekapannya.


"Jangan nangis Sal... Lain kali kamu harus sering jenguk mama ya!" ucap mama dengan mengusap air mataku.


Untuk saat ini aku merasa tak tega dan tak rela meninggalkan mama, namun meskipun begitu mama pula yang berusaha menyingkirkanku darinya.


"Mama.... "


Dengan terpaksa aku melangkah keluar, tiba-tiba aku berhenti ketika berdiri didepan pagar, aku menyadari ada sosok yang sangat aku rindukan kehadirannya dilorong jalan itu, aku merindukan suaranya, rindu akan senyum yang senantiasa menyalurkan kebahagiaannya untukku.


"Willy.... "gumamku dalam hati


"Ngapain berhenti Sal... Buruan masuk!" teriak mama yang berdiri diteras rumah.


Aku kembali tersadar dari lamunanku dan langsung masuk kedalam mobil Kevin, semua koperku sudah dia masukkan sebelumnya jadi tinggal aku saja yang dia tunggu.


Aku kembali menatap kearah rumahku, ternyata mama masih berdiri diteras sambil melambaikan tangan padaku.


Aku yang melihatnya hanya bisa membalas lambaian tangan mama seraya menangis tersedu-sedu.


Bip bip


Kevin membunyikan klakson mobilnya pertanda dia pamit dan langsung melaju dengan pelan.


Aku bersandar dikursi mobil, perasaan tidak percaya akan meninggalkan rumah, jauh dari orang tua, dan tinggal bersama orang yang baru ku kenal, kini berkecamuk dalam fikiranku.


Setelah kami sudah agak jauh dari rumah, ternyata Willy berada dibalik pohon yang ada diseberang jalan depan rumahku, dia bersembunyi dan ternyata melihat semuanya termasuk kevin yang membawa keluar koperku dan menaruhnya didalam mobil lalu aku yang masuk dan melambaikan tangan kepada mama akan tetapi aku tidak menyadari kehadirannya.


Willy Pov


Gue tadinya ingin menemui Salsa, akan tetapi gue nggak punya nyali sama sekali, gue hanya bisa bingung akan apa yang barusan disaksikan oleh sepasang mata gue sendiri.

__ADS_1


Gue keluar dari balik pohon dan berlari ketengah jalan, gue hanya bisa menatap datar kearah mobil yang dinaiki Salsa, mau mengejarnya? Sepertinya mustahil, karena gue nggak punya kekuatan super untuk melakukan hal itu.


Seketika gue menoleh kearah rumah Salsa, dan gue melihat mamanya yang melangkah masuk kedalam rumah dan dengan cepat gue berlari menuju mamanya itu.


"Hufh hufh hufh tante.... "lirih gue memanggil mamanya dengan nafas terengah-engah karena berlari.


Mamanya menoleh ketika mendengar suara gue, "Ngapain kamu datang kesini, mau menyakiti anak saya lagi hah?" jawab mamanya yang langsung emosi.


"Maaf tante, Willy cuman mau nanya Salsa tadi naik mobil siapa? Terus Dia mau kemana? Kenapa dia membawa koper banyak sekali?" pertanyaan itu gue ajuin sekaligus kepada mamanya akan tetapi mamanya tampak makin kesal, terlihat dari wajahnya yang terlihat suram.


Mamanya mengerutkan dahi seraya berkata, "Salsa pergi sama suaminya, dan dia akan pergi keluar negeri, jadi kamu jangan sampai ada hubungan sama anak saya lagi!"


Setelah mamanya mengatakan hal tersebut, mamanya kembali melangkah masuk kedalam rumah meninggalkan gue yang masih berdiri diteras rumahnya.


Gue masih nggak percaya dengan omongan mamanya, dan gue sekarang seperti orang yang linglung.


"Enggak, Salsa nggak mungkin udah nikah... Mamanya pasti bohong sama gue, mungkin dia mengatakannya agar gue menjauh dari anaknya!" gumam gue.


"Tapi... Tunggu dulu, apa jangan-jangan yang mau di omongin Salsa ditelfon itu apa soal dia mau menikah? Tapi nggak mungkin, gue nggak bakal percaya kecuali Salsa sendiri yang ngomong sama gue!"


Gue kembali bergumam ketika mengingat ucapan Salsa pada saat kami telfonan, akan tetapi terputus karena ponsel gue yang tiba-tiba mati karena mungkin faktor rusak.


Gue kemudian melangkah keluar dari teras rumahnya, dan gue berhenti sejenak ditempat Salsa tadi ketika melamun lalu kembali menatap lurus kearah jalan yang dilewatinya dengan mobil tadi, perlahan gue melangkah dengan lesu, gue melangkah dengan menyeret kaki sendiri, seperti layaknya orang yang putus asa.


Ternyata memang benar Ucapan mamanya masih terus memenuhi fikirkan gue, walau tadinya gue berusaha untuk tidak perduli akan tetapi sel otak gue ini semua di penuhi oleh nama Salsa... Salsa dan Salsa....


Langkah kaki gue terasa berat walau hanya untuk melangkah, setelah sampai dirumah gue langsung duduk di sofa dengan Televisi dalam keadaan menyala.


Namun bukannya menonton, gue hanya terhanyut dalam lamunan, menatap datar kearah televisi didepan gue.


"Enggak... Salsa nggak mungkin menikah sama orang lain!!!" gue berteriak sambil mengambil dan menggenggam asbak itu dengan sangat erat.


"Enggak...."


Prangk


Seketika gue melempar televisi itu dengan asbak yang tadi ditangan gue, televisi tersebut hancur dengan pecahan kaca yang kini bertebaran dilantai.


Gue kembali terduduk disofa sambil menutup telinga, dan gue saat ini seperti orang yang kehilangan kewarasan karena memikirkan hal tersebut.


"Salsa... Lo nggak mungkin udah nikah kan? Lo nggak mungkin ninggalin gue sendirian kan?"


.


.


.


Untuk part selanjutnya silhkan tunggu besok,


dan jangan lupa jejaknya ya (Like, koment dan vote seikhlasnya) 🤗

__ADS_1


__ADS_2