
Brakk.....Kevin masuk kekamarnya, menutup pintu dengan keras hingga membuat tubuhku terkinjat.
Aku tak mampu berkata-kata, hanya terus mendesah bingung dengan sikap Kevin.
***
Didalam kamarku, aku terduduk diatas kasur sambil memeluk kaki sendiri meletakkan dagu didengkulku.
"Kenapa Kevin bisa semarah itu sama gue? Padahal gue kan cuman nanya soal masalah mereka!" gumamku.
Bergumam, bergumam dan bergumam, hanya itu yang bisa kulakukan tak ada kesibukan sama sekali, hingga aku merasa tenggorokanku sedikit kering.
Aku keluar dari kamar mencari air didalam kulkas, setelah mendapatkannya aku berbalik badan dengan keadaan bibir botol masih berada dalam mulutku.
Tiba-tiba ada Kevin yang berdiri tepat dihadapanku, seperti hantu langkahnya tak terdengar sebelumnya, saking kagetnya aku menarik botol itu keluar dari mulutku dan menyemburkan genangan air yang gagal ku teguk ke muka Kevin.
Byurr....
Dia memejamkan mata, tetesan air berjatuhan dari wajahnya, Kevin tampak kesal terlihat dari bagaimana ia membasuh mukanya dengan tangannya sendiri.
"Ehh sorry-sorry lo ini mau buat gue jantungan ya? Jalan kok kayak setan sih! Ngendap-ngendap segala! biar gue kaget terus pingsan?" celotehku didepannya.
"Minggir! Aku sedang tidak mood untuk berdebat denganmu, aku ingin minum!" balasnya.
"Oh!" ucapku singkat
Aku melangkah kekiri namun dia juga sama denganku, aku melangkah kekanan dan sialnya kami masih berpapasan.
"Stop! Gue duluan yang pergi!"
"Kenapa harus kamu?"
"Hadeh Kevin! Dimana-mana suami itu harus mengutamakan kebahagiaan istri! Jangan buat gue marah, lagian rumah ini luas tapi setiap papasan sama lo rumah ini kayak sempit banget ya? Seharusnya nih rumah disediain dua dapur 1 buat lo dan satunya lagi buat gue!" tuturku.
"Hn... Tidak boleh kamu kira ini rumah apaan, ini rumah aku, dan hanya aku yang boleh mengatur semuanya! "
"Oh ya udah sekarang lo minggir!"
Dengan cepat aku melangkah disampingnya, lagian aku juga tidak mood bertengkar dengannya lagi.
__ADS_1
Awalnya aku hendak berjalan kekamar tapi ketika berfikir tak ada kesibukan aku menoleh keruang keluarga, melihat televisi besar yang terpajang disana.
Aku berlari dengan membawa botol tadi, dan langsung menyalakan televisinya, menekan remote mencari-cari channel kesukaanku.
Tiba-tiba remote itu melayang dan kini berada ditangan Kevin, dia duduk disampingku, merebut kesenangan yang baru saja kurasakan.
"Kevin! Lo kok ngambil remotenya, gue mau nonton drakor! Siniin nggak remotenya!" pintaku.
"Tv ini punyaku jadi aku berhak untuk menonton juga!"
"Lo tuh keterlaluan banget sih, apa-apa punya lo! Ambil semua terserah yang penting hari ini gue mau nonton drakor titik!" ucapku.
Aku berusaha mengambil remote itu dari tangannya namun seketika dia mengangkat tangannya hingga aku gagal meraih remote tersebut.
Dan sialnya lagi kini tanganku menekan pahanya, wajahku berada didepan perutnya, ini sangat memalukan bagaimana bisa aku bersikap seperti seorang wanita liar yang langsung nyosor dipaha orang? Tapi ini tidak sengaja ya kan? Fikirku.
Ahk Ehhem
Aku berdehem sembari bangkit, kini aku merasa salah tingkah,wajahku seperti berdekatan dengan bara api yang panas begitu pula dengan jantungku yang tidak berdetak normal lutut rasanya menjadi lemas, mulut tak bisa berkata-kata, pikiran seolah berhenti dan rasa percaya diriku seolah lenyap.
Akan tetapi melihat wajah Kevin yang tampak tidak ada perubahan, aku juga mencoba bersikap seperti biasa.
Aku berlari kencang kearah kamar, menutupnya rapat-rapat lalu mengambil ponselku yang berada diatas meja.
"Oh tuhan... Sebenarnya apa yang terjadi? Gue tadi kenapa hah? Kayaknya ada masalah jantung sama jantung gue dehh... Apa jangan-jangan karena akhir-akhir ini gue stres terus dehidrasi dan aliran darah gue nggak berjalan normal? Tapi seharusnya di otak bukan jantung! Sepertinya gue harus tanya sama om google lagi" gumamku setelah mendapat ide.
"Kenapa jantung berdetak sangat cepat ketika berdekatan dengan laki-laki? " isi ketikanku.
Tak lama kemudian muncullah jawaban dari salah satu situs, disitu tertera jawaban tentang jatuh cinta.
Mataku berkedip beberapa kali demi memastikan penglihatanku tidaklah salah, Jatuh cinta? Aku sempat berfikir apa mungkin aku jatuh cinta sama Kevin? Tapi itu mustahil aku belum cukup 48 jam seatap dengannya, dan aku berkomitmen harus Kevin duluan yang jatuh cinta sama aku.
Namun komitmen itu seakan goyah sekarang,
"Ini nggak boleh dibiarin pokoknya Kevin duluan yang harus bertekuk lutut dihadapan gue! Enak aja kenapa harus gue duluan coba, gue nggak mau kayak di film-film itu setelah si cewek udah jatuh cinta sama si cowok! Nah si cowoknya malah ninggalin dia, takutnya gue kayak Lena, jadi bucin gara-gara ditinggal pas lagi sayang-sayangnya." gumamku.
Aku merasa risih ketika terus memikirkan itu, perlahan aku berjalan menuju jendela, membukanya menikmati angin segar yang menerpa wajahku.
"Tunggu! Kenapa tadi gue harus lari? Ahk... Pasti si Kevin bilangnya gue malu-malu kucing deh! Wah... Ini nggak boleh dibiarin nihh pokoknya gue harus kelihatan percaya diri terus didepan dia!" fikirku setelah mengingat adegan memalukan tadi.
__ADS_1
Aku mengendap-endap menuju pintu, mengintip situasi diluar sana setelah memastikan tak ada Kevin yang seperti tadi langsung muncul begitu saja, aku keluar dengan melangkah santai, berusaha untuk tidak mengingat kejadian tadi.
"Kenapa kamu kembali lagi?" tanya Kevin memutar sedikit kepalanya ketika menyadari kedatanganku.
"Ya mau nontonlah... Mau ngapain lagi!" jawabku ketus.
Aku terduduk dengan percaya diri disampingnya, menatap layar televisi yang menayangkan film barat.
"Oh... Ternyata nih orang suka film barat toh! Kirain sukanya nonton Tayo-tayo hehe! " cibirku dalam hati.
Seketika mataku melebar ketika melihat adegan pemeran utamanya berciuman, saling melum*t satu sama lain, hingga membawa pemeran ceweknya masuk kedalam kamar tanpa melepaskan ciuman mereka.
Akh...
Aku menjerit kaget, entah kenapa aku bertambah malu melihat adegan itu, dengan cepat aku beranjak dari sofa dan langsung mencabut colokan televisinya.
"Kenapa di matiin? " tegur Kevin.
"Gu-gue nggak suka nonton film barat, sukanya film korea, ja-jadi gue matiin!" balasku gugup karena berbohong tanpa mau menatap matanya.
"Kalau kamu tidak suka! Kenapa harus dimatiin, kan bisa di ganti channelnya, atau jangan-jangan kamu hanya tidak nyaman karena melihat mereka berciuman ya?" tanya Kevin menyeringai.
"A-apaan sih lo! Gue nggak...."
"Terus kenapa wajah kamu merah?"
Kevin memotong ucapanku, ia seakan mengetahui semua isi fikiranku, sebenarnya aku memang tidak nyaman menonton adegan itu apalagi bersama dia.
"Hahah... Jangan-Jangan kamu belum pernah berciuman ya?" tanyanya lagi membuatku tercengang.
Aku mendonggakan wajah, menatapnya dengan berani, bagaimana bisa dia mengeluarkan pertanyaan konyol seperti itu?.
.
.
.
Penasaran dengan kelanjutannya?
__ADS_1
oke kalian kasi vote untuk part ini biar author bisa up untuk besok 😉