
Aku bergerak cepat menata diri, bersiap-siap untuk keluar berbelanja menggunakan kartu hitam yang di berikan oleh Kevin.
Hatiku rasanya ikut bernyanyi riang dengan apa yang barusan terjadi, di beri uang oleh suami dan bercanda ria dengannya, kebahagian nyatanya muncul dari hal-hal kecil dan itu sangat singkat tapi membuat hati berbunga-bunga.
Aku keluar dari kamar, namun langkahku terhenti tatkala melihat sosok Kevin yang berdiri di samping sofa, "Ohh kamu sudah siap? Aku juga mau pergi!" ucapku
membuatku melongo. "Kamu mau kemana?" tanyaku.
"Ikut sama kamu!" jawabnya santai.
"Untuk?"
"Belanja juga!" balasnya.
"Hah! Kenapa tiba-tiba kamu mau ikut? Apa karena khawatir kalau uang yang ada di dalam kartumu habis? Hahah ya ampun, tenang ajalah aku tau diri kok! Jadi kamu tidak usah ikut!" tolakku pelan.
"Tidak-tidak, aku tidak khawatir soal uang! Kalau kamu mau menghabiskannya aku tidak masalah, karena Aku hanya ingin menemanimu! aku mau merasakan bagaimana rasanya menemani istri berbelanja!" jelasnya.
"Hahah tidak usah Vin! Aku belanjanya cuman sebentar doang kok! Hahah" aku tertawa garing menanggapinya.
"Aku tidak suka di tolak terus olehmu, ayo...." Kevin memegang tanganku dan menarikku keluar dari rumah menuju mobilnya.
***
Didalam mobil seperti halnya tadi, Lagi-lagi Kevin melirikku dengan senyuman yang senantiasa terlukis sepanjang perjalanan ini.
"Kevin! Fokus aja nyetirnya, tidak usah melirikku! Aku tidak akan menghilang ditempat ini kok!" sekaku risih bak sedang di awasi.
"Hahah, rasanya sangat sulit sal.... Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku ketempat lain selain kamu!" gombalnya.
"Kalau begitu aku akan pindah kebelakang! Dari pada nantinya akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan karena aku! Ya kan?" usulku menatapnya serius.
"Eitshh... Tidak usah! Aku lebih tidak fokus kalau kamu ada di belakang!"
"Terus mau kamu apa!"
"Oke oke mataku akan fokus kedepan! Dan kamu tidak usah pindah-pindah!" ucapanya.
__ADS_1
Kevin akhirnya tak berulah, ia tak lagi melirikku, tapi kini giliranku yang meliriknya sambil senyam-senyum.
***
Sampai di depan sebuah mall, aku turun dari mobil dan menunggu Kevin yang juga turun dan melangkah mendekatiku, " Ayo kita masuk!" ajaknya menyuruhku menggandeng tangannya melalui isyarat mata dan tangan yang ia julurkan dihadapanku.
Aku merespon dan menyambut tangannya itu, tanpa kami sadari banyak pasang mata tertuju pada kami, pasalnya kami berjalan masuk kedalam Mall sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang lengket bak permen karet.
"Kita beli pakaian baru dulu untukmu!" ucapnya langsung menarik tanpa menunggu balasanku.
Jujur! Hari ini aku merasa nyaman berada disamping Kevin, tampak seperti pasangan suami istri pada umumnya, ia juga yang menuntunku ke arah toko pakaian yang bermerek.
Ia tak segan-segan memilihkan pakaian untukku, bukan hanya selempar tapi ada banyak lembar pakaian yang ia anjurkan untuk ku coba terlebih dahulu.
"Vin... Ini terlalu banyak bisa-bisa aku kelelahan hanya karena mencobanya!" aku melenguh manja.
"Kalau kamu tidak mau mencobanya! Ya udah kita beli semua saja! Nanti di antar sama kurirnya kerumah dan kamu bisa mencoba semuanya dirumah!" ungkapnya enteng.
"Terus kalau tidak cocok! Dengan ukuranku bagaimana? Kan kita sudah membelinya?"
"Yah tinggal di buang saja!" jawabnya membuatku tercengang.
"Ahahah lebih baik aku sendiri yang memilih pakaian dan mencobanya yah... Kamu tunggu aku disini!" aku berlari meninggalkannya membawa beberapa lembar baju masuk kedalam ruang ganti.
Pakaian yang kubawa tadi sebenarnya tak ku coba semua, aku hanya menatapnya sekilas dan menyesuaikan dengan postur tubuhku.
"Kevin aku sudah memilih pakaian ini!" ucapku memperlihatkan 2 lembar baju.
"Apa! cuman 2 lembar?" pekiknya, "Hm... cuman ini yang kusuka!" jawabku mengangguk.
Sebelum Kevin berkata-kata aku dengan cepat menariknya menuju kasir, aku menyerahkan pakaian itu dan hendak mengeluarkan kartu hitam yang tadi ia berikan.
"Tunggu! pakai kartu ini saja!" pungkas Kevin memberikan black card yang di ambil dari dalam dompetnya, "Dan saya membeli semua pakaian yang baru saja di coba sama istri saya!" lanjutnya.
Aku melotot ke arahnya, " Kevin! aku kan sudah memilih pakaiannya, kenapa kamu harus membelinya lagi?" geramku.
"Tidak apa-apa bukankah kamu baru saja kembali dari New York, pastinya pakaian kamu kurang banyak kan? lagian pakaian kamu yang ada dirumah semua sudah kekecilan jadi aku akan membayarkan ini untukmu, dan kartu itu kamu simpan saja!" tuturnya.
__ADS_1
Aku terdiam keheranan, tak mampu lagi menyangga ucapannya, bahkan pendapatku mungkin tak bisa mencegahnya.
***
Saking banyaknya pakaian yang ia beli untukku, Kevin malah menyuruh kurir toko tersebut untuk mengantar langsung kerumah, dan aku akhirnya bisa pulang tanpa menjinjing apapun.
Kami berjalan keluar dari mall, begitu pula dengan Kevin yang berjalan disamping sejajar denganku.
Dert... dert....
ponselnya bergetar, ada panggilan masuk dan dia langsung mengangkat panggilan tersebut, aku yang berdiri di sampingnya tiba-tiba ada seseorang yang menyenggolku dan Kevin tak menyadarinya.
"Ayo cepat Sal... " Kevin yang terlalu fokus menjawab panggilan, berlari Kecil meninggalkanku yang berdesis menahan sakit di lenganku.
Dan lucunya lagi, Kevin menarik tangan orang yang tadi menyenggolku, mungkin karena dia tak melirik kesampingnya hingga dia kira yang ia tarik adalah tanganku.
Beberapa langkah ia menjauh dariku tiba-tiba ia berhenti dan perlahan aku mendekati kedua orang tersebut.
"Maaf! anda siapa ya? kenapa anda menarik tangan saya tanpa permisi?" ucap orang tersebut.
"Ehh maaf! saya salah orang! maaf ya!" kata Kevin meminta maaf setelah menyadarinya, orang tersebut menatal sinis kearah Kevin dan langsung pergi begitu saja tanpa meminta maaf padaku.
Ahhhaa... aku melangkah cepat menyusulnya, sambil tertawa keras, begitu puas aku melihat tingkah lucu Kevin yang salah menarik tangan orang.
"Ahahah Kevin apa yang kau lakukan hahah siapa orang yang tadi berlari bergandengan tangan bersamamu hahah!" Aku tertawa puas, hingga perutku rasanya sangat sakit.
"
Hihihi... Kevin cengingisan, ia mungkin malu hingga ia berusaha menahan tawanya.
"Hahah maaf! aku ternyata salah orang! pantas saja tangan orang tadi begitu kasar! hahah!" ucapanya menertawakan diri sendiri.
"Hahah lagian kamu terlalu fokus sama ponsel kamu! hahah emangnya ada hal penting apa sampai kamu berlari meninggalkanku?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Hahah tidak! aku hanya ingin cepat-cepat pulang kerumah!" elaknya.
"Ohh oke... kalau begitu kita pulang sekarang! aku juga sudah agak capek!" imbuhku.