
Ting tong
Ketika mendengar suara itu aku langsung berlari keluar setelah mengganti baju, derap langkahku terdengar hingga membuat Kevin yang ternyata ingin mencuci piring seketika menatapku.
Aku berhenti dan meliriknya sejenak, menyambut tatapannya dengan senyum lebar, namun dia mengabaikanku, ia hanya menggulung lengan bajunya sampai siku hingga aku terpana karena dia terlihat memancarkan sinar dari belakangnya.
"Wah... Ternyata suami gue rajin banget yahh... Suami idaman banget!" pujiku kepadanya.
Dia kembali tak meresponku, melainkan meletakkan kedua tangannya kepinggir westafel, mungkin dia masih kesal atau apa aku sama sekali tidak tau karena tidak melihat secara langsung wajahnya.
"Ehh... Kayaknya gue ganggu yah? Sorry kalau gitu biar gue yang buka pintu!"
Dengan cepat aku berbalik badan dan berlari kencang menuju pintu.
"Ini pasti mama yang datang! Pasti mama menyesal dan sangat rindu berat jadi dia datang buat manggil gue pulang!" batinku disela langkah menuju pintu.
Ceklek
"Mam...." aku membuka pintu dan sangat kaget ketika menyadari orang yang kini berdiri dihadapanku bukanlah mama melainkan orang lain yang tampaknya tidak kukenal sama sekali.
Mereka ada tiga orang, dua orang laki-laki dan satu perempuan yang agaknya seumuran Kevin.
"Hy... Kamu istrinya Kevin ya?" tanya seorang laki-laki yang berumur sekitar 30 tahunan itu.
Aku masih bingung dengan kedatangan Mereka, dan anehnya lagi mereka tersenyum ramah padaku sehingga aku menjadi sedikit gugup apalagi perempuan disampingnya yang hanya fokus melirik kebelakangku,
perempuan itu seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"Yuhhu kok melamun sih?" tanya laki-laki itu lagi seraya mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku.
"Ehh... Maaf Om.. Pak... Ahh manggilnya apa ya?" ucapku salah tingkah.
"Hahah... Kakak aja, aku ini sepupunya Kevin! Kamu bisa memanggilku kak Syam, Ini istri aku namanya Clara, dan si kecil ini anak kami namanya Juna!" ujar kak Syam
memperkenalkan keluarga kecilnya padaku.
"Ahh hahah iya kak!" jawabku ramah sembari berjabat tangan dengan mereka.
"Wah... Anak kakak lucu banget! Pipinya gemmezzz!" lirihku
Melihat anaknya, entah kenapa aku merasa dia sangat imut, pipinya yang menggembung sangat ingin kucubit, akan tetapi ketika aku mulai menjulurkan tanganku menuju pipinya, bocah itu malah mundur, dan anehnya ekspresinya sama seperti Kevin! Sangat datar tak ada sedikitpun senyuman yang terukir diwajahnya.
"Ohh Iya, Kevinnya mana?"
Kak Syam bertanya lagi ketika menyadari tak ada Kevin yang menyambutnya padahal mereka sudah lama berdiri dipintu.
"Dia ada didalam kak! Ehh masuk dulu, aku panggilin Kevin!" balasku.
__ADS_1
Mereka hanya mengangguk dan langsung masuk duduk dikursi ruang tamu.
Tak lama kemudian Kevin datang sebelum aku memanggilnya, dia berjalan seolah-olah masih marah, aku berfikir apakah dia kalau sedang marah itu berkepanjangan ya? Kayak banjir aja lamanya minta ampun!.
"Kevin!!!" sapa Clara istri kak Syam.
"Kak Syam... Kenapa kakak datang bertamu di malam hari?" tanya Kevin datar tanpa membalas sapaan Clara.
"Shuuuttt Vin! Lo nih apa-apaan sih, mereka kan sepupu lo, seharusnya lo senang karena ada keluarga yang jenguk lo!" bisikku ketika langsung melompat kesamping Kevin.
"Ahh hahah aku kira Kevin sudah berubah karena sudah menikah, ternyata masih sama seperti sebelumya!" ungkap kak Syam
"Hah? Gue kira kak Syam bakalan marah, tapi malah ketawa? Aneh, dan tadi itu maksudnya apa?" batinku.
"Om Kevin!" ujar bocah kecih tadi tersebut sambil berlari memeluk kaki Kevin.
"Wah... Juna ternyata sudah besar yah!" balas Kevin seraya mengangkat dan menggendong juna.
"Weewww drama family macam apa ini, marah sama bapaknya ehh ponakannya disayang?" gerutu dalam hati.
Aku tak menyangka bocah kecil itu bisa ceria di depan Kevin sedangkan tadi ketika aku mendekatinya dia malah menjauh? Fikirku.
"Vin!" panggil Clara lagi.
Aku memandangnya namun ketika Clara mau melanjutkan omongannya tiba-tiba kak Syam menggenggam tangan Clara dan itu sangat aneh.
"Kevin! Kami datang kesini karena tidak bisa menghadari pernikahan kalian sebelumnya jadi sekarang baru sempat untuk mengunjungimu" tutur kak Syam.
"Kevin! Aku tidak tau kenapa kau bisa semarah ini denganku! tapi ingat, jika kau sudah siap untuk memberitahuku, kakak siap mendengarnya tanpa melakukan perlawanan!" jawab kak Syam
Aku tertegun melihat sikap kak Syam yang masih dengan tenangnya mendengar ucapan Kevin yang mampu membuat sakit hati.
"Kalau begitu kami pamit! Ayo juna, kita pulang sekarang." ajak kak Syam.
Juna malam Lebih memeluk erat Kevin dan menggeleng kuat menolak ajakan papanya.
"Papa, juna mau menginap sama om Kevin!" pinta juna.
"Juna malam ini bisa menginap disini, sedangkan kalian boleh pergi!" jelas Kevin.
Aku menatap bingung ke mereka semua, otakku dipenuhi tanda tanya besar dengan sikap mereka.
Selain itu Clara masih saja diam menunduk namun terkadang menatap Kevin seperti ingin menyampaikan sesuatu.
Ada apa sebenarnya? Kalimat itu selalu muncul dalam fikiranku akan tetapi tak bisa kujawab sendiri.
"Baik kalau begitu kami pulang! Dan besok baru datang menjemput Juna disini!" ujar kak Syam.
__ADS_1
"Ehh kak, apa nggak sebaiknya kalian menginap disini? Ini kan sudah malam! Tidak usah memikirkan ucapan Kevin, dia suka begitu kak" serkahku sebelum mereka pergi.
"Salsa!!!" tegur Kevin.
"Diam! Siapa yang menyuruhmu mengusir mereka? Ini rumah gue juga jadi gue berhak mau ngajak siapapun dirumah ini!" jelasku.
Kevin terdiam dan langsung menurunkan Juna dari gendongannya.
"Terserah kamu saja!" ucapnya terdengar dingin lalu kemudian melangkah naik kelantai dua.
"Bodo amat!" balasku kesal.
Aku mengabaikan kepergian Kevin, Meskipun sangat kesal, aku juga harus jaga imej didepan sepupunya.
"Ohh iya maaf tadi lupa tanya nama kamu Salsa ya? Kamu dari tadi belum sebut nama, tapi tadi Kevin udah sebutin!" sahut kak Syam lagi.
"Ahh haha iya kak tadi lupa sebutin nama."
Kedua bola Mataku memang berfokus ke Kak Syam, akan tetapi pandangan dan fikiranku sebenarnya berada pada tingkah Clara yang sejak tadi menatap terus-menerus Kevin yang menaiki tangga.
"Kak Clara ada apa?" tanyaku bingung.
Clara sepertinya memang memikirkan sesuatu hingga dia tak mendengarkan dan membalas ucapanku.
"Sayang! Kamu tidak enak badan?" tanya Kak Syam menepuk pundak istrinya.
"Ahh... Maaf tadi aku melamun! Salsa...sepertinya aku sangat capek, apa boleh aku istirahat duluan?" pinta Clara dengan wajah memelasnya.
"Ahh... Iya kak silahkan, kakak bisa tidur dikamar tamu sana, dekat sama kamar aku!"
"Loh... Kamar kamu? Bukannya tadi Kevin kelantai dua, terus kenapa kamu tidur dikamar lantai satu? Apa jangan-jangan kalian pisah ranjang?" lirih kak Syam terlihat bingung.
Aku menunduk seraya berkata, "Iya kak!"
Kak Syam menggeleng pelan kepalanya, namun berbeda dengan istrinya Clara tampak bahagia dan tersenyum dari sudut bibirnya ketika mendengar jawabanku.
"Nihh orang kayaknya ada sesuatu, tapi apa? Ah hah kayaknya gue harus nyamar jadi detektif malam ini, jangan sampai naluri kepo gue merambat sampai membuat gue gila!" batinku menyeringai.
"Kalau begitu kita istirahat dulu ya Sal... Besok perbincangan ini dilanjut!" pungkas kak Syam lalu kuanggukan dengan cepat.
"Ehh.. Juna mau tidur sama kakak nggak?" ajakku kepada juna.
"Maaf tante... Kata papa cowok sama cewek tidak dibiarkan tidur seranjang kalau belum halal! " balas juna dengan muka datarnya.
"Apaa? Dia manggil gue apa tadi, Tante? Kuping gue masih normal kan? Gue yang masih muda baget ini dipanggil tante? Oh My god! Kayaknya nih bocah harus diberi pelajaran deh! " gerutuku dalam hati.
"Ahh... Hahah kamu ini masih kecil tapi pemikirannya dewasa sekali ya!" ucapku lagi berjongkok didepannya agar sejajar dengan tubuh kecilnya itu yang masih berkisaran 3 tahun.
__ADS_1
"Maaf ya Sal... Sepertinya juna tidak mau, jadi kami mau istirahat sekarang ya!" kata kak Syam lagi.
Karena aku sudah Crazy up jadi sekarang bayar aku pake *VOTE* agar author semngt terus menulisnya 😊