
Hakim yang mendengar pengakuan Clara sontak memukul palunya, "Harap saudari tersangka untuk tenang!" ucap pak hakim dengan sikap bijaksana.
Kulirik sekilas kearah Kevin yang mulai terlihat risih sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada dengan tenang.
Sorot mata Clara kembali kearahku, dia terlihat begitu emosi bak banteng yang sedang mengamuk.
Tadinya aku berfikir hanya rekaman itu yang menjadi bukti tapi sekarang bukti lain muncul yaitu rekaman cctv ketika Clara yang dulu hendak menusukku dengan pisau, rekaman itu kembali di siarkan dan membuat orang-orang yang menyaksikan video tersebut sontak bergidik ngeri.
"Tidak! Itu bukan aku! Itu bukan aku.... Kalian semua sudah ditipu, video itu rekayasa, sudah cukup hentikam semua ini!!!" jerit Clara menggema mengisi ruang persidangan.
Tuk... Tuk... Tuk... Tuk... Tuk...
"Mohon saudari Clara untuk tenang!" teguran kedua dari pak hakim bahkan tak membuat emosi Clara mereda.
Saat semua bukti bermunculan, tak ada lagi alasan yang mampu membuktikan ketidak bersalahan yang di lakukan oleh Clara.
Sementara kak Syam termenung, menatap sayu kearah istrinya, tak ada satu katapun keluar dari mulut kak Syam setelah bukti-bukti kejahatan Clara mencua ditengah persidangan.
Dan kini waktunya pak hakim mengumumkan hasil persidangan, membuatku antusias ingin mendengar apa hukuman yang diberikan untuk Clara.
"Baik, setelah adanya bukti-bukti kuat yang ditujukan kepada saudari Clara sebagai tersangka percobaan pembunuhan kepada saudari Salsa Olivia, maka tersangka di jatuhi hukuman 15 tahun penjara!"
Tuk...tuk... Tuk...
Keputusan pak hakim malah membuat aku mengerutkan dahi sambil berfikir hukumannya terlalu ringan.
Tiba-tiba kak Syam berdiri dan berbalik badan berjalan keluar tanpa pamit kepadaku,aku yang menatap kepergiaannya sekilas melihat kak Syam yang tak menyeka air mata.
"Ahh tidak! Sepertinya aku hanya salah lihat!" gumamku menyela.
"Hanya 15 tahun? Ahh sial... Kenapa bukan hukuman mati? Kenapa!!! Wanita sialan itu seharusnya mati saja karena dia sudah melenyapkan calon bayiku!!!" protes Kevin berbisik dan hendak ingin berdiri menyangga keputusan pak hakim.
Dengan secepat kilat aku mencegah, menarik tangannya, "Jangan lakukan itu Vin!" ucapku menggeleng padanya.
__ADS_1
"Tapi Sayang! Hukumannya cuman 15 tahun! Lah... Sedangkan bayi kita meninggal?" marah Kevin menghentakkan kaki.
"15 tahun sudah cukup sayang!" ucapku.
Ahhk.... Seketika Clara kembali berteriak dengan keras, aku dan Kevin yang tadinya berdebat teralihkan oleh suara teriakan Clara itu.
"Hahaha.... 15 tahun hah! Jadi kalian semua fikir aku adalah pelakunya? Hahah aku ini yang korban! Pacarku di rebut oleh perempuan j*lang itu!" cibir Clara tertawa nyaring seraya menunjukku dengan jari telunjuknya.
Aku berdiri, "Apa! Siapa yang.... "
"Sal... Biar aku yang bicara!" potong Kevin menyuruhku duduk kembali dan menggantikanku untuk berdiri, dia lalu berjalan ke tengah persidangan.
"Mohon maaf sebelumnya pak hakim! Tapi saya kesini yang juga sebagai korban saudari... Ahh maksud saya si pelaku ingin memberitahukan kepada semua orang bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa jadi harap sekiranya untuk tidak mendengarkan omong kosong dari tersangka! " ungkap Kevin memaparkan.
"Tidak! Aku tidak gila Vin! Aku tidak gila!!! Kenapa kamu harus membuatku difitnah? Vin, aku mohon jangan seperti itu, aku mohon!" pinta Clara berbelas kasih namun Kevin hanya mengacuhkan.
Tuk tuk tuk tuk...
"Ini persidangan, jadi harap tenang!" teguran ketiga kalinya dari Hakim.
Tak lama setelah itu, akhirnya persidangan telah usai keputusan akhirnya adalah Clara di vonis 15 tahun penjara.
Entah apa yang terjadi denganku, perasaan aneh mulai muncul, ada rasa bahagia karena Clara akhirnya mendapatkan hukuman dan tak lagi menggangu ruma tanggaku, disisi lain aku merasa kasian dengan kondisinya.
Aku dan Kevin berjalan keluar, wajahnya berseri-seri dengab senyum tipis disudut bibirnya.
"Ada apa? Kenapa kamu harus tersenyum seperti itu?" tanyaku heran.
"Hm... Aku bahagia!" jawabnya.
Dahiku berkerut, "Bahagia, Kenapa?" tanyaku lagi, "Karena akhirnya kita bisa terbebas dari wanita gila itu!" balasnya.
Aku terpaku, ternyata fikiranku dan Kevin hampir sama bahkan semua ini diluar dugaan bahwa ternyata Kevin sudah menyiapkan semuanya dengan matang.
__ADS_1
"Ehhh itu.... " Tiba-tiba saja, dari kejauhan aku melihat kak Syam terduduk dibangku panjang depan sebuah ruangan.
"Vin! Yang duduk disana itu bukannya kak Syam ya?" Kevin mengangguk, "Emm sepertinya itu memang kak Syam!"
"Kalau begitu ayo kita kesana!" ajakku, "Mau ngapain? Tidak usah! Lebih baik kita pulang saja, Lagian aku tau pasti kamu sudah lelah ya kan?" ucap Kevin.
"Tidak, aku sama sekali tidak lelah, kan dari tadi kita cuman duduk, bukannya lomba lari, jadi ayo sekarang kita menemui kak Syam!"
Pada awalnya Kevin terus menolak ajakanku, namun setelah melihat wajahku yang dengan sengaja memasang rauk wajah kasihan akhirnya dia mengiyakan ajakanku.
Kami berjalab mendekati kak Syam, dia tampak terpuruk, dengan kedua tangan merepas rambutnya sambil menunduk.
"Kak Syam!" panggilku menyapa, akan tetapi tak ada respon.
"Kak! Kakak kenapa?" panggilku lagi, "Ehh kalian belum pulang?" Sahut kak Syam mendonggakkan wajah menatap kami berdua.
"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu kak! Aku kira kakak sudah pulang karena tadi kan kakak keluar pada saat persidangannya masih berlangsung!" tuturku.
"Ehh sebenarnya tadi aku sudah mau pulang, tapi aku masih ingin bertemu Clara!" lirih kak Syam.
"Ahh kalau begitu, kakak bisa ikut dengan kami! Kebentulan aku dan Kevin juga mau menemui Clara!"
"Apa! Sayang... Kenapa kita harus menemui wanita gil.... " sebelum Kevin meneruskan ucapannya, aku lebih dulu mendaratkan telapak tanganku untuk membekap mulutnya agar kak Syam tak mendengar omongan yang akan Kevin lantunkan.
"Ehh... Tidak, tidak usah! Sepertinya aku ada urusan lebih baik kalian saja yang bertemu Clara kalau begitu aku pergi dulu!" ujar kak Syam membuatku menganga pasalnya tadi dia berkata ingin menemui Clara tapi sekarang pengakuannya berbeda.
"Kenapa kak Syam seperti itu? Apa dia ingin berbicara dengan Clara 4 mata? Atau apa? Ahh aku bingung!" batinku.
Kini aku memandangi Kevin lagi, "Vin! Jadi kamu tidak mau menemaniku menemui Clara? Baik kalau kamu tidak mau! Aku bisa pergi sendiri!" tukasku dengan nada kesal.
"Ehh... Jangan seperti itu dong Sal... Oke... Oke.. Aku akan menemanimu! Tapi kamu menemui dia untuk apa?"
"kamu bisa menyaksikan sendiri apa yang akan aku sampaikan sama Clara".
__ADS_1
Aku tersenyum miring membuat rauk wajah Kevin seperti orang yang kebingungan