Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Alasan Kevin!


__ADS_3

Sesampainya dirumah mama, aku menyeret masuk koperku, biaya ongkos taksi sudah ku bayar berkat sisa uang yang dipinjamkan oleh Kevin.


Aku masih menangis sambil mengetuk pintu, hingga pintunya terbuka dan muncullah mama.


Mama tampak heran melihat kedatanganku apalagi dengan kondisi ku yang sedang menangis, "Salsa!!! Kamu datang sayang! Tapi kok kamu nangis sih, terus Kevinnya mana?" tanya mama melirik-lirik kebelakangku


"Mama hiks hiks...." tanpa menjawab pertanyaan mama aku langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Salsa! Kamu kenapa nangis?" ucapnya membelai lembut rambutku.


Aku terus saja meneteskan air mata, lalu kemudian mama mengajakku masuk dan duduk di sofa.


"Kamu kenapa sayang! Ayo, bicara sama mama!" pintanya


Aku tertunduk dengan air mata yang berjatuhan ke pahaku, "Mah Salsa udah capek tinggal sama Kevin! Salsa mau pisah aja sama dia!" jawabku.


"Apa!!! Maksud kamu apa Sal... Pernikahan kalian belum cukup 2 bulan loh... Masa kamu sudah minta cerai sih!" imbuh mama kaget.


"Mah... Mama kan tau dari awal Salsa emang nggak pernah mau melakukan pernikahan ini tapi apa? Mama maksa Salsa, Asal mama tau Salsa menderita mah tinggal sama dia! Mama tau dia nggak pernah nganggap Salsa jadi istrinya, dia sering bentak-bentak, marah-marah terus sama Salsa!" tuturku pada mama.


"Tunggu dulu Sal... Mama belum paham sama cerita kamu! Lebih baik Mama menghubungi mamanya Kevin!"


Mama akhirnya menelfon mamanya Kevin, dan aku hanya merenung sambil sesegukan, aku mendengar mamanya Kevin mau kesini, dan itu membuatku sangat takut serta gugup.


1 jam kemudian mamanya Kevin datang, ia langsung memelukku, "Sayang! Kamu kenapa hmm! cerita aja sama mama!" pinta mama Mira mengelus lembut punggungku.


"Jengk aku ke dapur dulu ya!" serkah mama yang dianggukan mamanya Kevin.


Aku kembali menangis dalam pelukannnya, "Sudah! Sudah sayang! Kamu tidak perlu menangis, mama sudah ada disini, kamu bisa ceritakan semuanya sama mama! Biar mama yang akan menghukum Kevin! Emangnya kamu di apain sama anak nakal itu!" ucap mama Mira berusaha menenangkanku.


Aku melepaskan pelukannya, menarik nafas sambil mencoba menatap mata mama dengan mataku yang mulai bengkak ini.


"Kamu minum dulu Sal... " mama Mira mengambilkan air gelas yang ada di meja dan menuntunnya hingga kemulutku.


Perlahan aku merasa lebih baik dan kembali menatap mama Mira dengan mata sayu, bersiap untuk menceritakan semuanya.


"Mah... Apa Kevin orangnya emang kayak gitu?"


Mama Mira mengerutkan dahi karena heran, "Kayak gitu? Maksudnya apa Sal... "


"Mama tau nggak tadi Salsa cuman mau ngasih tau soal kelulusan ujian aku! Terus dia jutek aja! Jadi kami bertengkar, pas dia pergi kerja aku naik di lantai dua ternyata ada ruangan yang banyak sekali peralatan operasi, Salsa masuk kesana! ehh ketahuan sama Kevin mah! Dia tiba-tiba marah-marah nggak jelas padahal Aku nggak tau kenapa dia seperti itu!" jelasku.


"Jadi gara-gara itu kamu kabur dari rumah?" tanya mama dengan cepat ku anggukkan.


"Ohh... Maksud kamu ruangan yang diujung lorong kecil samping kamarnya Kevin kan?" lanjut mama Mira ku anggukkan lagi.


"Iya mah... Emangnya ruangan itu kenapa? Ada peti harta karunnya sampai Kevin semarah itu?"


"Bukan Sal... Sebenarnya ruangan itu memang sangat dijaga oleh Kevin, dia pasti memarahi siapa pun yang masuk kesana, termasuk mama juga pernah di marahinya! Mama tau jelas bagaimana ketakutan kamu saat itu, dia tiba-tiba berubah jadi orang yang sangat menakutkan, karena dia juga tidak bisa mengontrol dirinya sendiri!" tutur mama Mira.


"Bener banget mah! Emangnya ada apa sama ruangan itu?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Sal... Mama akan memberitahukan kamu semuanya tapi ingat jangan sampai Kevin tau!, sebenarnya dulu Neneknya meninggal karena penyakit stroke, saat itu Kevin masih kuliah di los angelas, karena hal itu dia tiba-tiba pulang! Kevin tampak depresi mendengar neneknya meninggal, dan pada akhirnya dia masih merasa tak percaya atas kepergiannya, lalu Kevin membawa jenazah neneknya kerumah itu, dia mengoperasi neneknya di ruangan yang tidak sengaja kamu masuki, dulu mama hampir menganggapnya sudah gila karena perbuatannya, hingga dia baru percaya ketika melihat jantung neneknya tak bisa berdetak lagi walaupun ia memaksanya terus, namun tuhan sudah berkehendak lain!" jelas mama Mira.


"Terus hubungannya sama ruangan itu nggak boleh di masuki apa mah?"


"Nah... Justru itu mama sendiri nggak bisa mengerti dia! Kevin itu dulu orangnya ceria, ramah sama orang lain! Tapi semenjak neneknya meninggal dia menjadi seperti sekarang! Mungkin ini juga salah kami sebagai orangtuanya yang kurang memberi kasih sayang sama dia, karena kesibukan masing-masing Kevin sering kami titipkan sama neneknya, jadi dia mungkin lebih menyayangi neneknya dari pada kami orangtuanya sendiri!" lirih mama Mira mulai meneteskan air mata.


"Kevin merasa ia terus dihantui rasa bersalah, dia selalu merasa dirinya yang membunuh neneknya! Jadi setiap ada yang memasuki ruangan itu dia langsung tercekam, dan tercekik padahal neneknya memang sudah sangat tua tapi sampai sekarang kejadian itu tak bisa hilang dari ingatannya!" Sambung Mama Mira.


"Ohh jadi Kevin kayak gitu karena neneknya! Gue kira karena diputusin sama Clara!" batinku.


"Jadi Sal... Mama mohon maafin sikap Kevin! Dia orang yang sangat baik jika kamu berusaha mengenalnya lebih dalam!" pintanya.


"Woww... Baik? Kapan Kevin bersikap baik sama gue? Kayak nggak pernah deh... " cibirku dalam hati.


"Maaf mah, bukannya Salsa egois! Tapi aku masih merasa syok sama sikapnya dia! Jadi Salsa mau tenangin diri dulu di rumah ini! Jadi Salsa mohon sama mama kasih Salsa waktu buat sendiri!" imbuhku.


"Iya Sal... Mama ngerti perasaan kamu, mama juga nggak bakal maksa kamu kok! Kamu bisa pikir-pikir dulu bagaimana bagusnya! Tapi ingat ya Sal dalam sebuah hubungan rumah tangga memang akan selalu di uji sama bau-bau pertengkaran tapi mama yakin suatu saat nanti kalian pasti bahagia!" balas mama Mira.


Aku mengangguk pelan, merasa sedikit tenang ketika mendengar semua perkataan mama, hatiku langsung luluh begitu saja, perasaan kesal bercampur emosi kini kian berlarut.


Mama kembali memelukku, "Mama harap kamu bisa memutuskan semuanya dengan baik ya Sal... Karena semua keputusan ada sama kamu! Tidak perlu takut Sayang! Mama selalu mendukung kamu! Biar mama yang akan memberi Kevin pelajaran.


"Iya mah!"


"Kalau begitu mama akan menelfon Kevin dan menyuruhnya datang kesini buat minta maaf sama kamu!" seka mama Mira.


"Ng.. Nggak usah mah, dia nggak perlu datang kesini!"


"Kamu tidak usah takut Sal... Kan ada mama! Kalau dia datang kamu bisa sembunyi dan melihat mama memberinya pelajaran!" lanjutnya.


Aku tak bisa lagi berbuat apa-apa, apalagi mama Mira sudah terlanjur menghubungi Kevin dan dia akan segera kesini.


Beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar nyaring lalu mama Mira memberiku kode agar bersembunyi, dan aku hanya mengangguk saja menanggapinya.


Ternyata benar orang yang mengetuk pintu tak lain dan tak bukan adalah Kevin sendiri dengan muka datarnya berjalan menghampiri mamanya yang terlihat sudah emosi di dekat sofa.


"Mama ngapain ada disini?" tanya Kevin.


"Emangnya kenapa kalau mama ada disini! Hah? Apa maksud kamu mama harus melapor dulu sama kamu sebelum kesini?" seru mama Mira.


"Bukan itu maksud aku mah! Ohh iya Salsa ada disini? Aku cari-cari dirumah dia nggak ada!" ucap Kevin tampak biasa saja.


Aku terperangah melihatnya kufikir dia akan tampak merasa bersalah ketika menyadari aku tidak ada dirumha namun ternyata semua yang ku bayangkan tak sesuai kenyataan.


"Iya dia ada disini, dan itu semua karena kamu! Kamu apain Salsa sampai nangis dan pergi dari rumah?"


"Ohh... Jadi Salsa cerita semuanya sama mama! Dasar tukang ngadu! Dia ceritain apa mah?" balasnya dengan kesal juga.


Aku geram menyaksikan dia yang juga emosi, rasanya jiwa membunuhku langsung ada ketika dia bersikap seolah tak bersalah.


"Jawab mama! Kenapa kamu buat Salsa seperti itu!!!"

__ADS_1


"Itu karena Salsa.... Mas...."


Plak


Seketika sebuah tamparan memotong ucapannya, aku terkejut dengan dengan mulut menganga melihat itu.


"Mama kenapa nampar aku?" tanya Kevin heran.


Plak....


Mama Mira kembali menampar Kevin dengan sangat Keras.


"Mah... "Keluh


Plak.....


Tamparan Ketiga, ini membuatku tercengang tante Mira memberikan tamparan bertubi-tubi kepada anaknya sendiri demi aku?


Menantunya, aku masih tak menyangka dia lebih mempercayai semua ucapanku dibanding putra tunggalnya sendiri.


"Bagaimana, Masih mau lagi? Tangan mama emang udah gatal sejak tadi, Vin! Mama nggak menyangka sama sikap kamu! Kenapa kamu melakukan itu sama Salsa, dia istri kamu loh... Apa ini sikap yang kamu tunjukkan sebagai sisi seorang suami? Kamu tega yah, mama malu pernah melahirkan kamu, kamu tau! Kamu menyakiti perasaan Salsa otomatis mama juga merasa seperti itu karena kami itu sama, sama-sama seorang wanita, Vin! Perasaan seorang wanita itu tidak bisa dikasari, tapi apa? Kamu dengan seenaknya melukai dia, apa kamu memang seorang suami yang bertanggung jawab?" tutur mama Mira.


Kevin menunduk, "Maaf mah, sepertinya aku memang bukan seorang suami yang baik buat dia! Maaf juga karena melukai perasaan mama, Kalau begitu Kevin akan minta maaf sama Salsa, Kevin bakal memperbaiki semuanya, Aku akan memulai kembali sama dia!" pinta Kevin.


Aku syok! Ketika Kevin mengucapkan kalimat terakhir, dia seperti bersungguh-sungguh mengatakan itu semua, perasaanku mulai gaduh, tak tau lagi akan seperti apa hidupku ini kedepannya.


Mama Mira melirikku, dengan cepat aku menggeleng kepala karena untuk sekarang aku lebih memilih menghindar darinya.


"Kamu terlambat, dia butuh waktu sendiri memikirkan semuanya, kalau mama yang jadi Salsa! Mungkin mama bukannya kabur kerumah ini tapi langsung kepengadilan buat laporin kamu kepolisi karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), terus kepengadilan agama buat gugat cerai suami yang tidak bertanggung jawab seperti kamu!" cibir mama Mira.


"Mah... Aku sudah menyesal sekarang! Ini semua terjadi karena ruangan itu lagi! Mama kan tau aku tidak bisa mengontrol emosi kalau ada yang memasukinya!" ujar Kevin berusaha membujuk mamanya.


"Sudah! Tidak perlu memberitahukan itu sama mama! Salsa udah cerita semuanya sama mama!" serkah mama Mira.


"Pokoknya, Kevin mau minta maaf sekarang sama Salsa!... Sal... Kamu keluar dong! Aku datang mau minta maaf sama kamu.... " teriak Kevin.


"Sal... Mbbkkk"


Tiba-tiba Mamanya membekap mulut Kevin hingga dia tak bisa lagi untuk bicara, "Percuma kamu teriak-teriak, Salsa nggak bakalan keluar dengan mudah buat maafin suami bren*sek kayak kamu!" cibiran Mama Mira membuat Kevin terdiam.


"Udah... Biarin Salsa sendiri dulu! Kita pulang aja!" pinta mama Mira.


"Jengk kami pulang dulu yah... " teriaknya namun tak direpon mama, entahlah sejak tadi mama belum muncul ketika berpamitan kepada kami waktu mama Mira datang.


Akhirnya mereka pergi, sedangkan aku mulai keluar dari persembunyianku, aku berjalan lesu menuju kamar.


Apa kevin benar-benar mengatakan itu dari dalam lubuk hatinya?


Apa Kevin hanya mengatakan itu sebagai alasan lagi? Pertanyaan itu kini terus mencuak dalam otakku, hingga aku merasa pusing dan hampir gila.


Bibirku terus saja bergetar beriringan dengan air mata yang tak bisa ku tahan lagi, masalah ini sampai-sampai membuatku tak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkannya.

__ADS_1


Meskipun aku menutupi mataku dengan bantal namun ternyata masih tidak bisa terlelap.


Kemudian aku keluar kamar mencari sesuatu untuk dimakan, aku bukannya lapar melainkan hanya mencarinya untuk mengemil mungkin dengan cara itu aku bisa langsung mengantuk.


__ADS_2