Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Gombalan Kevin


__ADS_3

Aku menatap Kevin yang berdiri dihadapanku setelah mengunci pintu, menatapnya serius yang tanpa kusadari tubuhku gemetar takut akan ucapan yang barusan Clara ucapkan.


"Sayang! Kamu kenapa?" tanya Kevin yang menyadari wajahku mulai berkeringat dingin.


"A-aku... Aku tidak apa-apa!"


"Sal... Jangan bohong, aku tau kamu pasti ketakutan karena ucapan Clara kan? Aku juga merasa khawatir kalau dia sampai melukai kamu dan calon bayi kita! Bagaimana kalau untuk sementara kita tinggal di rumah orangtua kamu, disana pasti kamu sangat aman!" pungkas Kevin memberi usul.


Aku terdiam memikirkan usulnya, "Tidak apa-apa Vin... Aku bisa jaga diri! Aku tidak akan takut menghadapi Clara, kalau kita kerumah mama, bukankah itu artinya kita kalah karena takut dengan ancaman Clara?" timpalku.


"Sayang... Aku bukannya tidak setuju dengan ucapanmu, tapi coba kamu fikirkan lagi, kalau kamu ada dirumah mama, aku bisa tenang pada saat pergi kerumah sakit dan di rumah mama pastinya kamu tidak akan kesepian menungguki sendirian dirumah ini!" Tutur Kevin membujuk.


"Bagaimana kalau besok kamu menyewa asisten rumah tangga biar aku tidak sendirian lagi!"


Kevin menggeleng pelan, "Tidak Sal... Asisten rumah tangga belum tentu ku percaya bisa menjagamu dari wanita gila itu, jadi aku putuskan kita kerumah mama besok pagi!" tegasnya.


"Baiklah aku setuju!" balasku


Aku tau dia sangat takut sama halnya denganku, meskipun biasanya ia berdiri tegak menghadang Clara tapi melihat tingkah Clara yang semakin tak terkontrol membuat Kevin akhirnya ikut merasakan ketakutan apalagi dengan kondisiku yang tengah berbadan dua.


***


Esok paginya, Kevin bangun sangat pagi sementara aku bangun 3 jam setelahnya melihat kondisi kamar Yang sudah sangat rapi, dan ada 2 koper besar di dekat pintu.


"Kenapa kamu tidak membangunkanku?" Ucapku dengan suara parau.


"Aku tidak ingin membangunkan istriku yang cantik pada saat tertidur lelap heheh!" gombalnya dipagi hari.


"Mm... Gombal lagi, ehh kamu membereskan semuanya?"


"Tidak apa-apa ini hanyalah pekerjaan yang tidak melelahkan, dan ohh iya aku sudah memasukkan semua pakaianmu kedalam koper disana!" Kata Kevin menunjuk ke arah koper.

__ADS_1


Aku turun dari ranjang kemudian berjalan mendekat kearahnya yang sedang terduduk melipat pakaiannya sendiri untuk di masukkan kedalam koper, " Sayangku rajin banget dehh... Makin hari kayaknya aku makin cinta aja hahah!" rayuku memeluknya dari belakang tepat dipunggungnya, tepatnya dadaku merapat ke punggungnya wajahku kini berada di samping wajahnya.


Muach muach muach....


Kecupan dipipi yang sengaja ku beri suara, berkali-kali kudaratkan disana, Dan kevin hanya terdiam bak patung, "Sal... Kenapa ciumannya cuman dipipi, padahal kan bibir sama lidahku yang minta jatah!" keluhnya merengek.


Dengan cepat aku berdiri dan menutup mulutku dengan kedua tangan, "Mm... Tidak, Aku belum sikap gigi Vin...." Cegahku berjalan cepat masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa jam berlalu aku telah selesai bersiap-siap begitupun dengan Kevin yang membawa koper satu persatu keluar menuju bagasi mobil.


Ia bahkan tak membiarkanku melakukan apapun, melainkan hanya menjadi seorang ratu dengan berjalan anggun menuju mobil.


Perlakuan ini malah membuatku terus tersenyum riang, sampai kerumah mama, bahkan di dalam mobil aku terkadang ingin tertawa melihat Kevin yang bernafas terengah-engah dengan sesekali meneguk air mineral dalam botol minuman yang ia sediakan.


"Kamu capek ya Vin?" tanyaku.


"Ahh tidak, aku hanya haus sepertinya cuaca hari ini akan panas sekali, hufh..." balasnya berbohong tapi aku menyadarinya ketika melihat ia membuka kancing atas baju kemejanya.


"Kamu mau apa?" Kevin melirik sekilas kearahku, "Pinggirin aja!" tegasku menyuruh.


Ia akhirnya setuju lalu meminggirkan mobilnya, "Ada apa?" tanyanya lagi, "Menghadap kesini dulu!" perintahku membuatnya langsung mengubah posisi duduk menghadapku.


Aku tersenyum mengeluarkan sapu tangan yang ada didalam tasku lalu mengelap keringat didahi Kevin yang mulai bercucuran turun mengaliri pipinya.


"Terimakasih Sayang!" Kevib membalas dengan senyuman lebar menampakkan gigi rapinya.


"Sepertinya tubuh bagian bawahku juga mulai basah hufh...." keluhnya membuatku diam membeku, "Vin... kamu nih dimana-mana selalu aja mau mesum!" ketusku.


"Ehh maksudnya dadaku sayang!" elaknya, "Hufh... lebih baik kita cepat kerumah mama aja deh Vin... bukannya setelah ini kamu mau langsung kerumah sakit?"


"Kamu benar juga!" tukasnya dengan nada malas.

__ADS_1


Lalu kemudian ia kembali menginjak pedal gas melaju pelan menuju rumah mama, saking pelannya, kali ini mobil tadinya berada dibelakang kini beralih kedepan.


"Vin... kalau kamu menyetirnya kayak siput, kita sampainya kapan?" lenguhku ," Sayang... kata orang, pelan-pelan saja yang penting selamat!" terangnya.


"Aku mau menjaga keselamatan kita, kamu dan juga calon bayi kita, jangan sampai karena aku yang menyetir abal-abal nanti calon bayi kita marah sama aku!" ucapnya.


"Tapi nggak gini juga Sayang! udah ahh jangan aneh-aneh ngomongnya, mana bisa janin marah" imbuhku mengeluh, " hahah Oke aku akan menyetir sedikit lebih cepat!" katanya.


***


Didepan rumah mama, aku turun dari mobil dan menunggu Kevin yang mengeluarkan satu persatu koper yang ada dibagasi.


"Ehh anak mama datang!!" teriak mama yang baru saja keluar dari dalam rumah dan melihatku berdiri didekat mobil Kevin.


"Mama!" sahutku memandangi mama yang berlari kearahku merentangkan tangannya bersiap untuk langsung memelukku.


"Ya ampun nak! mama sangat merindukanmu! ohh iya bagaimana kandunganmu?" tanya mama berkata dengan cepat memandangiku sekejap lalu beralih kearah perutku.


"Mah... maaf ya! kami datang tidak memberitahu mama terlebih dahulu!" ucap Kevin.


"Ehh tidak apa-apa kalian datang pastinya mama bahagia kok! ayo masuk!" ajak mama mengandeng tanganku sementara Kevin yang membawa koperku masuk kedalan kamar.


"Sal... Kamu tadi tidak menjawab pertanyaan mama, bagaimana kondisi kandunganmu? ohh iya terus kamu mau apa? ehh maksud mama kamu ngidam apa? mau rujak? ehh atau apa ya, mama akan belikan!" kata mama menawarkan.


Aku yang sejak tadi berwajah lesu tak ada sedikitpun nafsu makan, dan kini mendengar mama membahas makanan rasanya aku malah merasa mual "Mah... aku mau istirahat aja yah aku lelah!"


"Kalau begitu kamu masuk ke kamar aja kalau kamu perlu sesuatu kamu langsung panggil mama aja!" ujar mama yang langsung ku iyakan.


Aku berbalik badan dan berjalan pelan menuju kamar, pada saat didalam kamar ketika melihat kasur yang telah lama tak ku ajak bertempur aku menatapnya dan langsung tengkurap diatasnya.


Tanpa kusadari Kevin datang dan ikut berbaring di sampingku, "Bukankah tempat ini belum menjadi saksi bisu pertempuran panas kita sayang!" godanya memelukku dari samping.

__ADS_1


__ADS_2