
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK BUAT PART INI YA BERUPA LIKE, KOMENT, DAN VOTE (SEIKHLASNYA SAJA) 😊🤗
Bam....
Dia menutup pintu dengan keras tanpa membalas ucapanku, sedangkan aku yang masih syok dengan cepat memakai baju ganti yang dibawa oleh pegawai hotel tadi.
Tok tok tok
"Aku beri kamu waktu 10 menit untuk ganti baju, kalau kamu lama aku bakalan pergi duluan!" ucapnya dari luar setelah mengetuk pintu.
"Ya udah! Pergi aja sono gue juga nggak sudi pulang bareng lo!" balasku dengan kesal.
"Ehh tunggu dulu, tapi gue pulangnya naik apa? Kan gue nggak punya uang sepeserpun!" keluhku dalam hati ketika menyadari jiwa miskinku ini.
"Oke kalau begitu aku dul...!" jawab Kevin.
"Tu-tunggu gue! Bentar lagi ini udah mau selesai kok!" serkahku memotong ucapannya.
"Aku tunggu dimobil!" jawabnya dengan singkat sedangkan aku masih sibuk memasang kaos yang akan ku pake ini.
***
Perlahan aku berjalan keluar dari pintu hotel, teriknya panas matahari membuatku mengerutkan mata karena silau.
"Mobilnya si muka datar dimana sih? Apa jangan-jangan dia pulang duluan? Ahk tapi nggak mungkin deh!" gumamku seraya celingak-celinguk mencari mobil Kevin.
Biiippp
Akh... Aku menjerit sambil merem karena suara klakson dari mobil yang baru saja datang tepat disampingku itu.
Suara nyaringnya membuat tubuhku seakan melompat, karena kaget.
"Masuk!" ajak seseorang dari dalam mobil yang ternyata adalah Kevin.
"Bukain pintunya!" jawabku dengan memalingkan wajah dengan wajah cemberut
"Kamu jangan buang-buang Waktu! Cepat masuk kalau kamu tidak mau, terserah! Aku bisa langsung pergi," ucapnya terdengar dingin.
Seketika dia kembali menyalakan mesin mobilnya, yang membuatku seketika berlari kearah mobilnya itu, dan dengan cepat aku duduk dikursi tengah tepat dibelakangnya.
"Siapa yang menyuruhmu duduk disitu? kau kira aku seorang supir?" lirihnya kesal.
"Sebenarnya mau lo itu apa sih? Yang pentingkan gue udah masuk!"
"Pindah kedepan!"
"Ogah... Gue nggak mau! Lagian gue udah nyaman kok disini!" ucapku menolak.
"Idihhh... Walaupun lo maksa gue seribu kali pun buat duduk disamping lo, tapi sorry ya cukup di kursi pelaminan kita duduk berdampingan dan setelahnya gue nggak mau lagi bwekkk!" gerutuku dalam hari sambil menyunggingkan bibir.
"Aku bilang pindah!" gertaknya dengan nada tinggi.
"Enggak...." teriakku kembali menolak.
Tiba-tiba dia turun dari mobilnya lalu membuka pintu tengah yang tepat berada disampingku.
Kevin menatapku dengan tajam, tapi aku bahkan tidak merasa takut melainkan membalas tatapannya.
Dia menoleh kearah lenganku dan dengan cepat langsung memegangnya dengan sangat erat hingga aku merasa kesakitan dan hanya bisa meringis.
__ADS_1
Seketika dia menyeretku turun dari mobil lalu menarikku kearah pintu mobil yang berada didepan.
"Masuk sekarang! Jangan membuatku marah kalau kamu tidak mau disakiti" ancamnya.
Aku merasa takut sekarang, dia seperti monster setelah mengatakan itu.
"O-oke gue masuk sekarang!" jawabku gugup.
Beberapa menit berlalu, Diperjalanan suasana canggung menghampiriku, hanya aku yang merasa aneh mengingat tadi Kevin masuk kekamar dan melihat tubuh polos nan mungilku ini.
Pipi dan telingaku terasa panas karena mengingat hal itu dan mungkin saat ini sudah merona, namun sepertinya dia baik-baik saja terlihat dari raut mukanya yang seperti biasa yaitu sangat datar dan hanya berfokus kedepan kearah jalan.
Aku memalingkan wajah, berusaha untuk tidak memperlihatkan wajah merah meronaku ini padanya.
Perlahan aku mulai merasa bosan, dengan sesekali menguap karena rasa ngantuk kembali menghampiriku, Mataku sekarang kini enggan untuk terbuka lagi.
Bug bug bug
"Bangun! Kamu tidak boleh tertidur dimobilku!" ucapnya datar dengan memukul setir mobilnya.
Aku yang hampir menyatu dialam mimpi seketika terbangun karenanya.
"Mmk apasihh lo Vin... Gue kan cuman mau tidur! Terus kenapa kalau gue tidur dimobil lo, emang ada pasal yang mengatakan orang nggak boleh tidur di dalam mobil?, ohh apa jangan-jangan lo cuman sirik sama gue? Hadehh iri bilang boss!" celotehku.
Kulihat dia sudah mulai emosi terlihat dari mukanya yang sudah memerah, seraya menggenggam dengan erat setir mobilnya tersebut.
Seketika dia menghentikan mobilnya dipinggir jalan, aku yang melihatnya hanya bisa kebingungan karena rumahku masih jauh dari tempat pemberhentian kami.
"Lohh kok berhenti sih? " tanyaku heran.
"Turun sekarang!" ucapnya dengan nada rendah
"Aku bilang turun sekarang!!!" teriaknya dengan lantang.
Aku tercengang mendengarnya kembali berteriak padaku.
"Enggak gue nggak bakalan turun kecuali gue udah sampai didepan rumah gue!" balasku santai dengan menyilangkan tangan.
"Oke... " jawabnya terdengar ada makna dibalik kata singkatnya tersebut.
Tiba-tiba dia langsung menyalakan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, mobil yang berada di depan kami, semua dilewatinya.
Aku kembali syok sembari perpegangan pada sabuk pengaman yang kupake ini, mobil yang terlewat seakan tampak hanya bayangan karena ulah si kevin yang melaju kencang.
Perasaan ingin muntah kini mulai kurasakan, pandanganku juga sudah mulai buram dengan kepala yang seakan dikelilingi oleh burung-burung terbang.
"Mbbkk mbbkk, Kevin stop!!! Lo mau bunuh gue ya? Berhentiin mobilnya...." pintaku kepadanya namun dia tak menjawab ucapanku melainkan lebih mempercepat laju mobilnya.
"Kevin... Lo tuli ya...." ucapku lagi dengan panik.
Kikkkkk..
Akh... Seketika dia menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, aku yang masih panik hanya bisa menutup mata sambil berteriak karena takut.
Aku turun dari mobil dan pada akhirnya kembali mengeluarkan isi perutku sembari berjongkok didekat selokan.
Kevin ternyata juga turun, lalu berjalan mendekat kearahku, awalnya kufikir dia akan kembali mengabaikan diriku akan tetapi tangannya kini berada dipunggungku seraya mengelusnya pelan.
Aku yang kaget sontak langsung berdiri dan melangkah mundur menjauh darinya.
"Lo nggak usah sok perhatian sama gue! Tadi lo sengaja kan mau bunuh gue? Lo senang kan lihat gue kayak gini hah?" tuturku dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku sudah pernah bilang sama kamu, jangan pernah membuatku marah!" balasnya dengan datar.
"Cih... dasar manusia nyebelin nggak tau cara minta maaf, apa? " gumamku sembari melangkah kembali kedalam mobilnya.
Aku sebenarnya masih ingin mengeluarkan kata-kata kasar padanya tapi aku takut dia tidak akan mengantarku sampai kerumah, lagian ini sudah hampir malam, dan tidak mungkin lagi aku bisa berjalan pulang kerumah dengan hiruk piruk kendaraan ibu kota yang amat ramai.
Pada akhirnya kami kembali pulang, suasana didalam mobil menjadi lebih tenang, tanpa ada suara sedikitpun, aku yang masih kesal hanya bisa memalingkan wajah terus menatap kaca, sambil memandangi pemandangan dipinggir jalan.
Leherku kembali mulai sakit karena tak pernah menatap lurus kedepan, bukan karena tidak mau, akan tetapi aku hanya malas untuk sekedar melihat sosok Kevin walau hanya dari ekor mataku saja.
Sesaat kemudian akhirnya kami sampai dirumahku, dengan lesu aku berjalan masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Kevin.
Namun bukannya pulang, dia malah ikut masuk kerumahku, walau meskipun aku ingin mengusirnya tapi sepertinya ini wajar saja karena kami sekarang adalah sepasang suami istri.
"Mama... " teriakku lesu dengan mencari sosok mama namun belum ku temukan.
Aku kembali menoleh kebelakang menatap datar kearah Kevin.
"Lo duduk aja di sofa sana, kalau udah bosan lo bisa pulang kerumah lo!" ucapku kepadanya.
"Ohh Iya, gue nggak bisa bilang terimakasih ke elo karena seharusnya lo yang minta maaf ke gue!" lanjutku.
"Wah... Pengantin barunya ternyata sudah datang! Maaf ya mama tadi dari kamar mandi jadi nggak nyambut kalian didepan pintu heheh! " ujar mama yang tiba-tiba datang.
"Kami baru saja datang mah!" balas Kevin dengan tersenyum
"Cihh... Berani-beraninya nih orang panggil mama gue dengan sebutan mama juga?" gerutuku dalam hati.
"Ohh iya Sal... Kok mata kamu merah sih... Kayak orang udah nangis aja?" tanya mama
"Anu tadi Kev... "
"Tadi kemasukan debu mah!" serkah Kevin memotong ucapanku.
"Ohh... Gitu tohhh heheh kirain ada apa, akh kita duduk disofa aja ya Vin! Mama mau cerita-cerita tentang masa kecilnya Salsa sama kamu!" ajak mama yang kemudian dianggukkan oleh Kevin.
Sedangkan aku hanya malas meladeni mereka berdua, aku lebih memilih untuk berjalan kearah kamarku.
Ceklek Ceklek
Aku mencoba membuka pintunya akan tetapi sepertinya terkunci, siapa yang menguncinya akupun tidak tau.
"Mah... Kok kamar Salsa kekunci sih?" tanyaku dengan berteriak sembari berjalan keruang tamu untuk menemui mama.
"Owh itu... Mama yang kunci sayang! Kan kamu sekarang sudah menikah jadi seharusnya kamu ikut sama suami kamu kemanapun dia pergi!" ungkap mama membuat mataku melotot.
"Loh... Jadi sekarang mama ngusir Salsa?"
"Bukan ngusir Sal... Tapi ini memang seharusnya terjadi karena sekarang kamu adalah tanggung jawab Kevin!, dan mama juga sudah mengeluarkan semua isi kamar kamu, tuhh dibelakang pintu, termasuk pakaian semuanya sudah ada didalam koper sana!" tutur mama dengan menunjuk kearah koper dibalik pintu.
Aku hanya bisa menggeleng kepala dengan pelan, sungguh tak menyangka mamaku kini tak menyayangiku lagi.
.
.
.
TUNGGU KELANJUTANNNYA BESOK YA
JADI TAMBAHKAN CERITA INI DIDAFTAR FAV❤ KALIAN 😊🤗
__ADS_1