Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Kebahagiaanku (The End)


__ADS_3

Aku kembali menghampiri Kevin yang memegang tangan Kaisar, "Kamu bangun karena dering ponselku ya?" tanyaku.


"Humph... Itu semua karena mantanmu! Dia ngomong apa tadi? Kenapa dia bilang kalau ada sesuatu yang sangat penting untuk diberitahukan ke kamu?" selidiknya.


"Ahh itu... Dia kembali ke NewYork untuk melanjutkan pendidikannya!" jawabku santai


"Ohh hanya itu? Baguslah...." Cetusnya menjawab.


Tiba-tiba Kevin mendekatkan bibirnya di wajah Kaisar, "Kamu mau ngapain? Jangan mengganggu Kaisar Vin, nanti dia bangun!"


"Aku hanya ingin menciumnya sayang!"


"Tidak boleh! Nanti dia bangun!" larangku.


"5 detik, aku hanya akan menciumnya selama 5 detik!" Balasnya tanpa basa-basi lagi langsung mengecup pipi kanan Kaisar.


Oek... Oek...


Pada akhirnya Kaisar benar-benar terbangun lagi, dan langsung menangis, aku memukul Kevin dengan kesal, lalu menggendong Kaisar untuk membuatnya terdiam dari tangisan.


Namun percuma, tangisan Kaisar tak kunjung berhenti hingga aku menyusuinya, "Maaf!" lirih Kevin memberiku tatapan sendu.


"Kamu sih! Aku kan sudah bilang jangan mengganggunya!" kesalku.


"Iya-iya... Aku minta maaf sayang!"


Kevin memelukku dari belakang saat aku sedang fokus menyusui Kaisar, ia mencium curuk leherku, "Vin! Jangan nakal Deh... Kamu kan lihat sendiri, Aku lagi apa!" sekaku.


"Hahah Oke aku bakal diam kok!"


Kevin benar-benar tak menggangguku lagi saat ucapannya berakhir, ia hanya berbaring diatas ranjang sambil menatap kosong kearah langit-langit kamar.


"Mikirin apa sih?"


"Hm... Rasanya seperti mimpi ya Sal! Sekarang sudah ada Kaisar diantara kita! Aku masih belum percaya aku sudah menjadi seorang ayah! Rumah kita bakalan rame dengan kehadiran Kaisar apalagi kalau nanti dia punya adik!" Singgungnya.


"Semua butuh proses sayang! Tunggu Kaisar besar dulu, baru proses lagi! Kamu kira melahirkan itu sangat mudah? Ini aja jahitannya masih sangat sakit!" keluhku.


"Sini aku lihat? Siapa tau infeksi!" Katanya terduduk diatas kasur lalu menatapku penuh harap.


"Apa! Tidak usahlah... Aku tau kamu seorang dokter, tapi aku lebih tau saat lukanya infeksi atau tidak, karena aku yang mengalaminya!"


Kevin semakin mendekat, "Tapi aku takut kalau lukamu benar-benar infeksi sayang, jadi biarkan aku melihatnya! Kamu tidak perlu malu! Kan aku sudah sering melihatnya sebelumnya!" godanya tersenyum mesum.


Aku mundur kebelakang, "Aku bilang tidak usah sayang!"


"Baiklah!" ketusnya memutar badan dan langsung tertelungkup.


Saat kulihat wajah Kaisar yang sudah terlelap aku membaringkannya diatas ranjang bayi miliknya lalu ikut berbaring disamping Kevin.


***


Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa sadar 2 minggu Setelah Kaisar lahir aku sudah bisa berjalan dengan normal tanpa merasakan rasa nyeri yang luar biasa itu lagi.


Kevin juga kembali bekerja di rumah sakit, kini hanya ada aku dan Kaisar saja dirumah ini, tak ada kesibukan lain selain hanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang melayani suami dan menjaga anak.


Tok... Tok... Tok...


Ketukan pintu itu, membuatku bergegas berjalan kearah pintu, "Siapa yang bertamu sepagi ini?" gumamku bertanya pada diri sendiri.


"Sal! " panggil seseorang saat aku membuka pintu, mataku terbelalak melihat seorang pria yang memanggil namaku itu sembari menggandeng anak kecil.


"Kak Syam, Juna! Selamat datang kak ayo masuk!" meskipun canggung, aku mencoba bersikap tenang dan mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk kedalam.


Setelah mereka terduduk di sofa ruang tamu, mata Kak Syam berkeliling seperti sedang mencari sesuatu, "Sal... Katanya kamu sudah melahirkan yah? Terus bayi kamu kemana?"

__ADS_1


"Ehh ada di kamar kak! Kakak mau


melihatnya?" Aku mengajak kak Syam serta Juna masuk ke kamar untuk melihat Kaisar setelah kak Syam mengiyakan omonganku tadi.


"Anak kamu sangat cantik Sal!"


"Ehh maaf kak! Jenis kelaminnya laki-laki heheh!" aku cengingisan menanggapi kesalahan kak Syam.


"Ohh Yah? Hahah maaf aku kira perempuan, soalnya sangat cantik mirip sama kamu!" puji kak Syam membandingkan.


"Tante Salsa! Nama dek bayinya siapa tante!" ucap Juna lembut


"Namanya Kaisar! Kalau besar nanti Juna mau kan jadi temannya Kaisar?" kataku lembut.


"Tentu saja tante!" Jawab cepat Juna.


Saat kulihat kedua orang didepanku ini sedang memperhatikan Kaisar, tiba-tiba aku terfikirkan sesuatu, "Ehh Kak! Maaf aku dan Kevin tidak hadir di pemakaman alm.Clara!" lirihku.


"Tidak apa-apa! Aku bisa mengerti kok! Ohh iya Kalau begitu aku sama Juna mau pamit, Salam sama Kevin kalau nanti dia sudah pulang! Aku juga tidak bisa berlama-lama karena ada urusan! Maaf!" pungkas kak Syam.


Aku hanya menggubrisnya dengan senyum tipis, "Hm... Iya kak makasih sudah datang!" ucapku.


***


Begitu kak Syam dan Juna pergi, aku merebahkan diri diatas Kasur, Awalnya melirik jam di ponselku lalu merasa bosan tanpa tau harus berbuat apa, apalagi Kaisar masih terlelap.


Aku menelfon Kevin bertanya soal kepulangannya! Tapi sayang sekali dia menjawab harus lembur, perasaanku bertambah gelisah apalagi karena hanya ada aku dan Kaisar dirumah ini.


Hingga malam akhirnya tiba, jarum jam berdetak terus menerus membuatku benar-benar muak mendengarnya.


Aku risih, dan hanya menatap datar kearah ranjang Kaisar, dan tiba-tiba saja Lampu padam.


Aahhk... Oek oek oek...


Jeritanku karena panik membuat Kaisar mungkin terkejut dan akhirnya terbangun dalam keadaan menangis.


Aku semakin takut, ada sunyi diantara Aku dan Kaisar, terkadang bulu kudukku berdiri tanpa sebab.


Tak nyaman dengan suasana ini, aku kembali menelfon Kevin dan menyuruhnya pulang, Awalnya ia menolak tapi aku berkata sangat takut dan akhirnya ia mengiyakan permohonanku.


***


Karena kejadian malam itu, Kevin mempekerjakan dua orang security, dua asisten rumah tangga dan satu orang babysitter untuk Kaisar.


Rumah semakin rame dengan kehadiran mereka semua, sikapnya juga sangat ramah, dan satu yang terlewat, perihal lampu padam itu membuatku bertanya-tanya, pasalnya kata Kevin saat pulang ia mengecek ternyata ada yang sengaja mematikan saklar lampu dirumah kami.


Itulah sebabnya Kevin bertambah takut dan tak ingin membayangkan hal-hal aneh jika ia tak kembali.


1 Tahun Kemudian.


Hari ini bertetapan dengan ulang tahun Kaisar yang pertama, Aku sama sekali tak menyangka waktu terus berjalan dan Kaisar sudah menginjak usia 1 tahun.


"Sayang ayo pergi!" ajak Kevin mengambil kunci mobil.


"Tunggu sebentar sayang!" sekaku dengan repot mengambil dompet dan memasukkannya ke dalam tas selempangku.


Aku berniat pergi membeli Kue ulangtahun untuk Kaisar, dan Kevin dengan senang hati menyetujuinya.


Di perjalanan, Kami terjebak macet, membuatku memasang rauk wajah kesal dan hanya memalingkan wajah ke arah jendela menatap ke pinggir jalan seraya menghela nafas panjang.


Tiba-tiba mataku melotot memperhatikan salah satu pejalan kaki, "Sayang!" panggilku.


"Hum... Ada apa?" sahut Kevin


.

__ADS_1


"Itu... Itu... Clara kan?" Sontak Kevin kaget dan ikut memperhatikan orang yang sedang kutatap dengan seksama.


"Mana?"


"Itu....!" aku menunjuk ke orang tersebut akan tetapi karena banyak orang yang berlalu lalang membuat Kevin tidak bisa fokus ke mana arah telunjukku.


Bip... Bip... Bip...


Lampu hijau menyala, dengan tidak sabaran Mobil yang ada dibelakang mobil kami terus membunyikan klaksonnya.


Membuat Kevin bergerak cepat menginjak pedal gas, "Sayang! Sepertinya kamu salah lihat, mana mungkin itu Clara! Diakan sudah meninggal setahun yang lalu, masa iya! Orang mati hidup lagi, kan tidak mungkin!" Ucap Kevin.


"Tapi aku sangat yakin! Yang kulihat tadi itu benar-benar mirip Clara! Tapi kamu benar juga ahh sepertinya hanya mirip!" Aku tak ingin memikirkannya lagi, dan hanya fokus untuk hari ini.


Sebab meskipun ada orang yang berlagak seperti Clara, aku juga tidak akan menjadi orang lemah lagi, apapun yang terjadi.


***


Sepulangnya dari toko kue, Aku mampir ke Mall terlebih dahulu untuk membelikan, beberapa set pakaian untuk Kaisar.


Tanpa sadar langit tak lagi cerah, matahari sudah terbenam, cahayanya tak lagi menampakkan diri, aku mulai gelisah takutnya Kaisar menangis mencariku.


Aku menyuruh Kevin menambah kecepatan lajunya, Hingga beberapa saat kemudian aku akhirnya sampai, tak ingin membuang banyak waktu, aku dan Kevin masuk ke kamar meletakkan kue ulang tahunnya diatas meja.


"Ahh nyonya! Kenapa nyonya sangat lama, tadi Kaisar menangis mencari nyonya tapi setelah saya memberinya susu dia malah tertidur!" ujar Babysitter yang sejak duduk disamping ranjang Kaisar.


"Ahh maaf! Tadi habis belanja terus lupa waktu! " kataku membalas.


"Ohh iya sayang! Apa tidak sebaiknya kita membangunkan Kaisar? Ini sudah malam, takutnya waktu ulangtahunnya lewat!" Seka Kevin.


"Ahh tapi aku tidak tega membangunkannya!" lenguhku.


"Mmm.... Mama.... " suara parau khas orang baru bangun terdengar yang ternyata itu adalah suara Kaisar.


baby kecilku itu sudah bisa menyebutku mama, meskipun kosa katanya hanya itu, namun sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku.


"Uhh... Sayangnya mama sudah bangun~!" lirihku lembut berjalan ke arah Kaisar dan menggendongnya.


"Kalau begitu saya keluar dulu ya tuan, Nyonya!" pamit Babysitter tersebut.


"Sayang ayo sini!" panggil Kevin mengajakku untuk duduk disampingnya dihadapan kue ulangtahun Kaisar.



Cup.


Kevin mengambil alih menggendong kaisar, memberikan kecupan pada kening si buah hati kami.


"Selamat ulang tahun yang pertama nak!" ucapnya.


Pemandangan itu begitu membuatku terharu, kebahagiaan yang tidak bisa terbayarkan oleh apapun.


"Sal... Sini!" ia mengangguk sekali memberi isyarat agar aku mendekat.


Cup....


Kali ini ia juga memberiku kecupan manis dikening sama halnya dengan Kaisar, "Makasih sayang sudah menjadi istri dan ibu yang luar biasa bagiku dan Kaisar!" ungkapnya membuat mataku berbinar menatapnya penuh cinta.


"Makasih juga! Karena sudah melengkapi kekuranganku, selalu mengerti Tentang sikapku, aku benar-benar mencintaimu Vin! Aku harap tak ada lagi masalah yang membuat kesalahpahaman antara kita! Aku sangat-sangat mencintaimu!" ungkapku berpelukan diantara Kaisar.


Kata itu adalah salah satu ungkapan dari hatiku yang paling dalam, semua yang terjadi diawal, perjodohan tanpa cinta namun akhirnya cinta itu tumbuh begitu saja, bukan tanpa sebab tapi rasa nyaman berada disampingnya, perhatiannya yang terkadang membuatku luluh.


Sosok yang begitu tegas, ayah yang luar biasa, selalu memberiku kebahagian, ini benar-benar kehidupan yang kuharapkan.


"Aku juga berharap kamu tidak akan pernah berubah sayang! Karena kamu dan Kaisar adalah sumber kebahagiaanku, biar ajal yang menjadi pemisah antara kita! I love you so much!" Kata Kevin membelai lembut rambut panjangku.

__ADS_1


TAMAT**🙏**


__ADS_2