
Butik Louis, merupakan toko Butik yang baru saja dibuka namun sudah terkenal sejagad raya.
Tante Mira sengaja mengajak kami kesini untuk mengfitting gaun pengantin, karena menurutnya gaun disini sangat cantik, dengan perpaduan kain Expor dari luar Negara yang sangat bagus.
"Ayo masuk! " ajak tante Mira seraya meraih dan menarik tanganku.
Aku menurut saja kepada tante, Mataku terkadang melirik kearah Kevin disela langkahku, yang ternyata dia juga sejak tadi memperhatikan diriku ditarik oleh mamanya. Sesekali mata kami bertemu, namun jika itu terjadi dia langsung memalingkan wajahnya, seakan dia menghindari kontak mata kami.
Ting....
Pintu tokonya otomatis terbuka, mataku terbelalak memandangi interior yang terdapat disetiap sudut ruangannya.
Warna tembok yang dominan berwarna putih membuatnya tampak mewah, gaun-gaun tertata rapi dengan indahnya, mataku kini enggan untuk sekedar berkedip, dengan mulut yang tanpa kusadari menganga begitu saja.
Hap...
Seketika mataku berhenti melotot tatkala sebuah tangan kekar kini menutup mulutku.
Tangan itu ternyata tangan si muka datar.
Aku menepis tangannya, dengan sangat kesal.
"Apasih lohh, ngapain lo tempelin tangan kotor lo dimulut gue? " gerutuku.
"Nanti ada lalat masuk!" balasnya datar.
Kevin mempercepat langkahnya, membuatku kini berada dibelakangnya, aku geram seraya mengepalkan tangan.
Hal tersebut ternyata dilihat oleh mama, beliau menatapku dengan tatapan tajam, aku sangat tau apa maksudnya mama, namun aku tidak mau menghiraukannya.
"Salsa Sayang! Sini... Kamu lihat-lihat dulu siapa tau ada yang kamu suka gitu.... " ujar tante Mira melambaikan tangannya padaku yang langsung ku iyakan.
"Nggak perlu mah, biar Kevin yang pilihkan untuk dia?" potong Kevin membuatku kembali tercengang.
"Hah, apa maksudnya? Emang dia tau gitu ukuran badan gue? Nggak masuk akal banget!" gerutuku dalam hati sembari menyunggingkan bibir.
__ADS_1
"Lohh, biar Salsa sendiri yang milih Vin! Kamu ini yah walaupun dia calon istri kamu, tapi siapa tau ada yang kamu pilih malah Salsanya yang tidak suka!" tutur Tante Mira.
"Ho'oh tan! Kan Salsa suka warna Pink jadi pilih aja yang mana yang jelas warna Pink heheh" jawabku cengingisan.
"Salsa.... " lirih mama yang masih terus menatapku dengan menggigit bibir bawahnya.
Mama mendekat lalu membisikkan sesuatu ditelingaku yang berkata:
"Kamu diam saja, kamu jangan membuat malu mama dong!, apapun yang nanti dipilih Kevin kamu harus menerimanya."
Aku memanyunkan bibir, dengan kesal menghentakkan sepatu yang kupake dengan sangat keras lalu melangkah kekursi yang ada didekat tante Mira.
Kini aku duduk dengan manis, seraya memperhatikan mama, tante Mira dan Kevin yang celingak-celinguk memilih gaunku.
Aku sempat berfikir bagaimana bisa Kevin duluan yang menawarkan diri untuk memilihkan gaun untukku. Karena terus memikirkan itu aku jadi melamun.
"Salsa... Coba itu? "
Panggilnya membuat lamunanku berakhir, yang ternyata menunjuk ke sebuah gaun.
Mataku awalnya terpukau dengan gaun pilihannya itu, namun aku tidak terlalu suka dengan warna putih, karena menurutku sangat mudah kotor lain halnya dengan warna pink yang mampu mengaktifkan naluri masa remaja para gadis terutama aku.
"Salsa... Udah dehh turutin aja apa kata Kevin! Lagian gaunnya cantik kok!" ujar mama dengan terus mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi mah...." keluhku.
"Coba dulu Sal..." lanjut tante Mira.
Akhirnya aku menurut, gaun itu dibawa oleh pegawai butiknya menuju ruang ganti.
Beberapa saat kemudian akhirnya aku hampir selesai, hanya tinggal memasang resleting belakangnya, namun aku tidak bisa memasangnya dipunggungku. Aku terus melenguh hingga keringat bercucuran.
Akh.. .sial ini sangat merepotkan, kalau tau gaun pernikahan itu bikin repot lebih baik aku pake kaos aja nikahnya, kan lebih simpel! Fikirku.
Tadi sebelum masuk ada salah satu pegawai yang ingin membantuku, namun aku menolaknya karena tak mau mereka melihat tubuhku yang mungil ini.
Aku sesekali terduduk dan meronta-ronta karena putus asa tak bisa memasang gaun ini lebih cepat.
__ADS_1
Difikir saja mungkin melelahkan bagaimana tidak ini sudah hampir sejam aku mencoba menariknya, namun tetap saja tidak bisa.
Dan karena hal itu mataku sudah berkaca-kaca.
"Berdiri!"
Aku mengerutkan dahi mendengar suara itu, lalu kemudian memutar wajah kebelakang.
"Kevin, ngapain lo ada disini? Ini kan ruang ganti cewek? Lo mau mesum ya?" teriakku setelah tau suara itu adalah suara Kevin.
yang sejak kapan masuk tapi aku tidak menyadari kehadirannya.
"Aku bilang berdiri, ya berdiri!" ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kalau gue nggak mau, lo mau apa?" tanyaku lagi dengan memutar pola dudukku kearahnya.
Tiba-tiba Kevin menggenggam tangan lalu menarikku hingga berdiri, dan ketika aku mulai berdiri pertahananku mulai goyah yang membuat kepalaku hampir bertubrukan dengan dadanya namun dia cepat menahan kepalaku.
Jtakkkkk
Akh.. kevin menjitak dahiku dan meninggalkan rasa sakit yang berdenyut membuat ku emosi.
"Yak... Kenapa lo jitak dahi cantik gue?" gerutuku kesal dengan terus mengelus rasa sakitnya.
"Ini hukumannya karena kamu tidak mau menuruti permintaanku!" jawabnya datar.
"Emang lo siapanya gue? Kenapa gue yang harus lakuin semua mau lo?"
"Diam! Balik badan sekarang!" ucapnya lagi
Aku tercengang atas semua yang diucapkannya, dan aku juga heran apa maksudnya dia datang kesini?
"Apasih lo, datang-datang nyuruh gue ini, itu, emang lo fikir gue mau nurutin mau lo terus?" celotehku.
Seketika kevin kembali mencekal kedua tanganku dengan tangannya, dan pada akhirnya dia memutar badanku dengan tiba-tiba yang sontak membuatku sangat kaget dan hampir terhempas kearah dinding.
Kepalaku terasa pusing tujuh keliling, rambut yang awalnya disanggul kini terbuka, dan akhirnya terurai bergelombang.
.
__ADS_1
.
.