
Aku menarik paksa Clara masuk kedalam rumah, meninggalkan Salsa yang diam kesal mematung di ditempatnya.
Menarik tangannya sampai masuk ke kamar tamu, "Kemasi barang-barangmu sekarang juga!" perintahku.
"Tidak Vin! Aku tidak mau... " serkahnya menolak.
"Apa perlu aku melapor polisi supaya kamu bisa pergi dari rumahku?"
"Hah! Aku sama sekali tidak takut! Karena kamu tidak mungkin melakukan itu padaku!"
Aku memutar bola mata sambil memalingkan wajah, "Asal kau tau Clara, aku tidak pernah main-main dengan apa yang baru saja ku ucapkan " tegasku.
Seketika aku mengambil ponselku dari dalam saku celana yang ku pakai, menekan nomor polisi, namun tiba-tiba Clara tampak Syok dan langsung mengambil ponselku, secepat mungkin ia mematikan panggilannya.
"Kenapa kamu mengambilnya? bukankah tadi kamu bilang sendiri tidak percaya bahwa aku akan melakukannya? dan sekarang kamu lihat sendiri, Apa ini masih belum cukup bukti bahwa aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi sama kamu!" tuturku.
"Cukup Vin! Cukup! Sampai kapan pun aku tidak akan percaya apa yang baru saja kamu katakan, karena aku tidak mau itu terjadi, Vin! Ayolah kembali sama aku! Jika kamu tidak mencintaiku tidak apa-apa yang penting aku masih menyayangimu sudah cukup bagiku!"
"Itu tidak mungki terjadi!" Tanpa basa-basi lagi aku sendiri yang melangkah ke arah lemari, mengeluarkan semua pakaiannya lalu memasukkan semuanya ke dalam koper.
Kemudian melempar koper itu tepat di depannya, "Ini, silahkan kamu pergi sekarang juga!"
Clara kembali mengeluarkan air matanya, "Vin! Ku mohon jangan lakukan ini padaku!"
Saat ini mungkin aku tak bisa berfikir panjang lagi selain berbuat kasar padanya, ku harap tuhan tidak menyalahkanku karena menyakiti seorang wanita.
Tapi jika di fikir dia datang hanya ingin berada disini dan merusak hubunganku dengan Salsa jadi aku tak perduli lagi dengan konsekuensinya.
Aku mengambil kopernya lalu memegang lengan Clara menariknya hingga ke teras rumah.
Meski ia terus berusaha memberontak tapi tenagaku kali ini berbeda dengan yang terakhir kali ia menggodaku.
Ketika sampai di depan rumah, aku melepaskan tangan Clara lalu menyuruhnya untuk pergi.
"Pergi!!! Dan jangan pernah kembali!" perintahku.
"Kevin! Hiks..." ucapnya sekali lagi sambil terisak.
"Aku bilang pergi!!!"
Setelah memastikan Clara menaiki taksi,
aku memalingkan wajah kemudian melirik Salsa yang masih berdiri mematung tak jauh dariku.
Perlahan aku melangkah ke arahnya, rauk wajah yang tadinya terlihat tenang kini di banjiri oleh linangan air mata.
"Sal.... "panggilku pelan sembari berusaha memegang tangannya.
"Kenapa elo ngusir dia?" tanya Salsa dalam keadaan menangis.
"Apa maksud kamu! " dahiku berkerut tak tau makna perkataannya.
"Hah! Kevin apa ini maksud elo manggil gue pulang? Elo cuman mau pamer kalau Clara tinggal serumah sama lo?" tanyanya menyeringai.
__ADS_1
"Salsa... Aku tidak pernah berfikiran seperti itu, aku tau aku memang salah lagi dalam hal ini, tapi Aku tidak pernah satu malam pun bersama Clara di rumah ini!" jelasku.
"Tidak pernah? Wahwah jadi maksud lo gue udah tuli karena nggak denger semua kata-katanya Clara? Terus apa maksud dia dengan 'malam itu' hah!"
"Sal... Aku bisa jelaskan semuanya sama kamu bahkan detail yang terkecil aku akan memberitahukannya!" pintaku.
"Apa lagi yang mau lo jelasin? Lo mau bilang kalau kalian udah kembali berhubungan begitu?"
"Kamu dengar dulu penjelasan aku!!!"
"Sudahlah Vin! Gue capek! gue mau masuk kamar aja" sekanya memotong ucapanku.
"Salsa... Aku mohon! Jangan marah lagi, apa kamu tidak butuh yang namanya penjelasan?" bujukku berusaha mengejar langkah yang perlahan memasuki rumah.
Tiba-tiba dia berhenti tepat di depan tangga menuju lantai dua, "Sal... " panggilku lagi.
Dia tak meresponku malah menaiki tangga, apa yang mau dia lakukan? Fikirku. Tapi ternyata dia berhenti lagi di depan pintu kamarku.
Memegang gagang pintu dan berusaha terus untuk membukanya, "Apa yang kamu lakukan Sal..." tanyaku keheranan.
"Bukain pintunya sekarang!" suruhnya.
"Lalu? Ohh apa kamu mau melakukan itu yah? Hahah kamu nih kenapa terburu-buru sekali, kita kan tidak harus di kamarku, kita juga bisa di kamar kamu atau bahkan di manapun yang jelas tempat yang sangat nyaman!" ucapku mencoba memecah pertanyaanku sendiri.
"Kevin gue nggak main-main yah, gue mau elo buka pintunya sekarang!!" perintahnya lantang.
Seketika hayalanku menjadi buyar, tak ada lagi yang bisa kukatakan selain menurut saja dan membukanya.
Aku membukanya, dan mempersilahkan dia masuk, ia mempercepat langkah melewatiku celingak-celiguk memandangi setiap sudut kamarku.
Hingga dia berjongkok, dan menemukan sesuatu yang berada di bawah ranjang.
Mataku terbelalak sempurna melihatnya, "I-itu bukannya pakaian Clara yang dia pakai waktu itu? Kenapa pakaian itu masih di sini? Bukankan dia sudah membawanya? Tidak! sepertinya dia tidak membawa pakaiannya karena aku langsung menariknya keluar, dan aku lupa dengan pakaiannya itu! Ahk... Sial... Bagaimana ini apa yang akan di fikirkan Salsa lagi?" gumamku syok dalam hati.
Dia berbalik badan sambil membawa pakai itu ke arahku, "Apa ini hah! Apa ini masih kurang bukti kalau elo udah selingkuh di belakang gue? Elo mau beralasan apa lagi sekarang, gue udah lihat semuanya dan elo sudah membuat gue kecewa banget! Gue fikir yang tadi elo bilang itu bener tapi ternyata gue yang udah salah menebak! Gue udah nggak bisa percaya lagi sama lo Vin! Lo laki-laki terb*ngsat yang pernah gue kenal selama ini!" cibirnya penuh emosi di iringi dengan air mata.
"Sal... Kejadiannya tidak seperti itu! Kamu salah paham! Aku bisa jelaskan semuanya sama kamu!"
"Salah paham apa lagi Vin! Lo kira gue masih bocah yang belum ngerti soal ini? Gu-gue udah Salah besar pulang kesini! Gue mau kita pisah aja! Titik"
Ketika mendengar kata cerai, aku menjadi frustasi walau hanya membayangkannya, ini semua di luar dugaanku, tapi aku tidak semudah itu bilang setuju begitu saja.
Aku melangkah mendekatinya, namun semakin aku berjalan kedepan dia justru mundur mungkin untuk menghindar.
"Cerai? segampang itu kamu bilang cerai, Sal... Apa kamu tidak pernah berfikir dengan apa maksud dari kata cerai itu?" kataku serius.
"Gue serius bilang itu Vin! Gue udah capek hidup seperti ini sama lo, dan hari ini gue udah ngerti semuanya tentang lo! Jadi gue mau kita pisah aja! "
"Kalau aku tidak mau!"
"Kenapa elo bilang nggak mau! Bukannya kalau kita cerai elo bisa kembali sama Clara hah!"
"Aku tidak mau kembali bersamanya dan aku tidak mau menceraikanmu!" tuturku.
__ADS_1
"Vin! Elo... " aku memotong ucapannya dengan menarik tubuhnya lalu mencium bibir ranumnya itu. Mel*matnya perlahan hingga aku mencoba menikmatinya.
Tapi ternyata Salsa berbeda dia terus merontah, kemudian dia mendorongku keras hingga tautan bibir kami ikut terlepas.
Plak....
Seketika dia kembali menamparku dengan sangat keras meninggalkan bekas memerah di pipiku yang sangat perih.
"Elo nganggap gue itu apa Vin! Elo kira kalau elo cium gue, gue bakal langsung luluh gitu aja? Lo salah gue bukan mainan! Gue punya hati Vin! Nggak kayak lo yang nggak bisa ngehargain posisi gue sebagai wanita, kalau lo fikir gue masih bocah kenapa nggak dari awal lo batalin pernikahan kita hah?" tuturnya.
Aku termangu, tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, namun aku harus memberinya penjelasan agar dia tak salah paham.
"Sal... Asal kamu tau mungkin dulu aku memang tidak setuju dengan perjodohan kita, tapi sekarang sudah beda Sal... Kita sudah menikah dan aku menghargai posisi kamu! Jadi aku mohon dengarkan penjelasanku dulu!" pintaku berusaha membujuknya.
"Penjelasan apa lagi!!! Gue nggak bakal bisa percaya kata-kata lo karena gue udah lihat buktinya dengan mata kepala gue sendiri!"
Aku menggeleng kuat, "Tidak Sal... Tidak... Semua yang kamu lihat sekarang berbeda dengan faktanya!"
Salsa tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, "Hahhah jadi maksud lo gue yang salah lihat hah!"
Sungguh! Aku sangat ingin menghentikan semua ucapannya, tapi apa! Dia tak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan detailnya.
Yang dia percaya hanyalah fikirannya, tapi apa boleh buat dia sangat keras kepala hingga aku kewelahan membujuknya.
"Sudahlah Sal... Sepertinya percuma kita berdebat, sedangkan kamu juga tidak mau mendengarku, padahal aku ini suamimu! Apa kamu tidak mau sedetikpun memberiku kesempatan?"
"Nggak! Gue nggak butuh penjelasan lo! Semua yang elo katakan pasti hanya bohong! Karena apa! Karena elo nggak pernah serius sama gue, Semua hanya sandiwara lo aja!" serkahnya memalingkan muka.
"Kali ini aku sangat serius Sal... Aku serius ingin menjelaskan dan memperbaiki hubungan kita, apa kau tidak mengharapkan hal yang sama seperti aku?"
"Ini yang elo sebut memperbaiki? Hahah Kevin! Kevin! Elo tuh sebenarnya terlalu pintar atau bodohnya udah terlalu parah? Asal lo tau ya elo udah buat gue nggak bisa lagi percaya sama lo! Karena apa, itu semua karena sikap lo yang udah keterlaluan banget sama gue!" ujarnya mengejek.
"Justru itu dangarkan dulu penjelasan aku!!! " ucapku dengan nada tinggi membuat tubuhnya terlonjak kaget.
"Nah... Gini nih... Kelebihan yang elo miliki lagi! Nggak bisa bicara pake hati,"
"Oke-oke, maafkan aku! Aku sudah kehilangan kesabaran dengan keras kepalamu itu Sal... " keluhku
"Ohh... Jadi sekarang elo udah jujur rupanya yah... Ya udah kalau elo nggak suka sama sikap gue, kita bisa langsung cerai di pengadilan!"
"Aku tidak habis fikir sama kamu Sal... Awalnya aku sudah mati-matian setiap hari pergi kerumah kamu untuk minta maaf, tapi kamu selalu saja menolakku, kau tau saat Clara menginap di rumah ini, jujur dia memang masuk ke kamar aku! Tapi tidak ada yang terjadi! Bahkan kami tidak melakukan apa yang ada dalam fikiran kamu Sal...." lirihku mencoba menjelaskan lagi.
"Enggak gue nggak percaya, terus kenapa baju dia tergeletak di lantai kamar elo?" selidiknya lagi dan lagi.
Aku mulai gugup, apa aku harus bilang kalau dia berusaha menggoda ku dengan membuka bajunya? Tapi itu tidak mungkin karena pastinya dia akan lebih salah paham lagi! Lalu aku harus bagaimana?
"I-itu karena.... "
"Nah... Lo nggak bisa jawab kan? Berarti tebakan gue bener kalian udah berbuat hal yang tidak senonoh di belakang gue!" ucapnya penuh emosi sambil melemparkan baju Clara tepat di wajahku.
"Sal... Aku mohon percaya sama aku! Kita tidak mungkin melakukan itu, hubungan kami sudah berakhir, lagi pula dia sudah memiliki keluarga! Jadi aku harap kamu menghilangkan fikiran negatif kamu tentang aku."
"Lo fikir gue bodoh Vin! Gue tau hubungan Kalian udah berakhir! Tapi perasaan dia masih ada sama lo! Dan mungkin elo juga masih punya perasaan yang sama bukan?, gue tau itu ketika melihat Clara sering meluk elo, dia tuh kayak nggak mau lepasin elo Vin! Jadi mungkin sebaiknya kita pisah aja!" imbuhnya lagi sontak membuatku terkejut tak karuan.
__ADS_1