Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Mual.


__ADS_3

Di balik tawanya yang keras, terkadang ada terlukis rasa kecewa diwajahnya, aku sangat paham akan hal itu, namun bagaimana lagi, aku bahkan tak ingin melakukannya sama sekali.


"Sal...." panggilnya lirih setelah mengakhiri tawanya.


"Hm... Apa lagi?" ketusku memutar bola mata meliriknya sekilas.


"Aku mau melakukannya... Aku ingin... Ingin sekali...." ia merengek manja, bak anak kecil yang meminta uang jajan kepada mamanya.


"Tidak!!!" tegasku menolak.


"Sal... Apa kamu ingin membunuhku karena harus menahan diri selama 8 bulan? Bisa-bisa aku sengsara Sal... Aku janji bakalan hati-hati kok! Lagian hanya 1 ronde heheh!" rayunya cengingisan.


"Bukannya tadi kamu bilang setuju dengan ucapanku, tapi kenapa sekarang kamu malah memintanya lagi?" imbuhku mengangkat sebelah alis.


"Heheh itu mulutku yang bicara sayang, tapi juniorku dari tadi sudah berteriak-teriak minta jatah!" bisiknya menggoda tersenyum mesum.


"Pokoknya tidak Vin! Kamu kan tau usia kandunganku mungkin masih sangat muda! Apalagi aku belum di periksa sama dokter kandungan, ini juga kehamilanku yang pertama, aku takut aja karena belum berpengalaman belum tau apa yang harus di lakuin sama ibu hamil untuk menjaga kandungan!" tuturku kembali mengelus perut.


"Tapi aku juga dokter Sal... Aku tau mana yang boleh di lakukan dan yang tidak jadi ayolah kita lakukan sekarang juga! Aku sudah tidak sabar ini!" ungkapnya.


"Kevin!!! Iya aku tau kamu dokter, tapi bukan dokter kandungan, aku juga tau kamu pasti mengerti banyak hal tapi aku masih agak takut terjadi apa-apa maaf!" tolakku dengan halus.


Kevin menghela nafas panjang seolah-olah beban berat baru saja ia lepaskan, "Baiklah sayang! Aku akan berusaha menahan diri, tapi kamu harus janji ketika usia kandunganmu sudah agak tua, aku akan tetap melakukannya, siapa tau janinnya mau menonton aksi panas kita heheh!" Ia terkekeh nakal, membuatku rasanya ingin tertawa.


"Mm... Aku janji, tapi lebih baik sekarang kita tidur, aku sangat capek menunggumu seharian ini!" ungkapku mulai merebahkan diri.


"Ahh karena kita tidak jadi melakukannya lebih baik aku juga pakai baju!" ia bangkit lalu berjalan menuju lemari.


Beberapa menit berlalu ia telah selesai memakai piyama dan berjalan kesisi sampingku untuk segera tidur.


Ahh... Ia melenguh ketika tubuhnya kini sudah menyatu dengan kasur, ia tidur miring lalu memelukku, mengusap-usap wajah sampingku menggunakan wajahnya.


Aku membalas dengan membelai lembut rambutnya, tiba-tiba ketika Kevin makin lama melakukan hal itu, aku malah mual.

__ADS_1


Hoek... Hoek... Hoek....


"Ada apa Sal?" tanyanya panik.


Aku mengendus setiap kali mencium bau tubuhnya aku malah merasa mual, "Hoek... Vin... Kamu habis pakai parfum ya?" selidikku.


"Hah! Tidak, aku tidak memakai apa-apa, lagian aku kan baru selesai mandi!" jelasnya menyela.


"Tapi aku tidak suka sama bau tubuhmu!"


"Sumpah Sal... Aku tidak memakai wangi-wangian, atau ini karena bau sabun yang ku pakai? Tapi kan itu sabun yang biasa kita pakai sehari-hari, apa mungkin ini karena kamu lagi hamil?" tutur Kevin mencoba menjawab pertanyaannya sendiri.


"Hoek... Hm... Mungkin! Terus bagaimana?" kataku.


"Baiklah, aku akan tidur di lantai!" pungkasnya.


"Ahh... Kenapa begitu?"


"Sayang! Kamu kan mual-mual kalau aku tidur disini! Jadi lebih baik aku menjauh sedikit biar kamu juga tidak tersiksa!" terangnya membuatku terisak.


"Iya Sayang! Aku tau bagaimana perasaanmu tapi ini memang karena kamu sedang hamil!"


Kevin bangkit, berjalan menuju lemari mengambil kasur serta selimut, ia menaruh kasur tersebut di lantai tepat disamping ranjang.


Lalu mengambil 1 bantal yang ada disamping kepalaku, "Tidurlah sayang!" ucapnya mengelus rambutku dengan penuh cinta.


Aku mengangguk! "maaf!!!" kataku memelas.


Kevin mulai merebahkan diri diatas kasur tersebut, ia memejamkan mata, sementara aku terus menatapnya kasihan kearahnya, "Vin apa kamu bakal baik-baik saja tidur dikasur seperti itu! ini pertama kalinya kamu tidur seperti itu kan?"


"Tidak apa-apa Sal... anggap saja aku berkorban demi kamu, anggap aku juga melakukan ini buat calon bayi kita!" sekanya memelan.


"Ahh lebih baik kita tidur sekarang! besok kita lanjutkan mengobrolnya.

__ADS_1


Setelah mendengar itu, perlahan aku juga mulai memejamkan mata, namun sekalipun aku melakukannya, mata ini tak bisa terpejam beberapa jam hingga pagi.


"Vin... apa kamu sudah tidur?" tanyaku memanggil, yang tadinya ku fikir Kevin sudah tidur tapi ternyata ia masih tersadar, sambil berkata, "Belum! ada apa?"


"Aku tidak bisa tidur melihatmu seperti itu! atau kamu sebaiknya kembali kekamarmu saja!" usulku menatapnya.


"Kenapa aku harus kembali ke atas, kamar ini kan sudah menjadi saksi bisu pertempuran panas kita beberapa kali, lagian aku hanya akan merasa kesepian di dalam kamar sendirian, beda kalau disini, setiap saat aku bisa menatapmu memel... ehhh salah kali ini kayaknya aku tidak bisa memelukmu sambil tertidur!" keluhnya.


"Ohh iya aku sampai lupa! kita harus ke rumah sakit untuk periksa kandunganmu, jadi lebih baik kamu tidur sekarang! bukannya kamu sendiri yang tidak mau sampai terjadi apa-apa sama janinmu? jadi tidurlah sayang! jangan terlalu sering begadang, apalagi saat aku pulang larut malam, kamu bisa langsung tidur duluan tidak menungguku seperti ini!" paparnya.


"Mm... baiklah aku akan tidur! selamat malam sayang!" ucapku.


"Terimakasih Vin! terimakasih, kamu adalah laki-laki terbaik yang dulunya ku sia-siakan dan ternyata kamu berhasil membuatku jatuh cinta, memberiku arti kebahagiaan yang sesungguhnya!" ujarku dalam hati yang tanpa ku sadari air mataku mengalir dengan sendirinya.


Ada rasa bahagia dan terharu mendengar ucapannya, aku merasakan kedamaian dihatiku, rasanya seperti aku memulai kehidupan baru yang nyata, bertabur kebahagiaan yang selalu berdatangan semenjak aku bersama dengannya tanpa ada kesalahpahaman ataupun pertengkaran.


Aku sampai bertanya pada diri sendiri, apa ini yang di maksud kebahagiaan berumah tangga? Mungkin benar, setiap hari hatiku rasanya berbunga-bunga, dan Kevin adalah alasan bunga itu tumbuh.


***


Pagi harinya, matahari belum sepenuhnya memancarkan sinarnya, aku lebih dulu terbangun berjalan menuju kamar mandi, namun sebelum itu aku melewati lemari, langkahku terhenti ketika mendapati sosokku didalam cermin.


Aku menatap diriku yang bermata sembab, mataku lalu turun ke area perut, kuangkat sedikit piyama bagian atasku diarea perut.


Aku menatap dalam-dalam pantulan perutku yang masih datar mengelusnya terus-menerus seraya tersenyum.


Dert.... dert... dert...


ponselku bergetar, ada panggilan masuk, aku menoleh menatap layar ponselku, mataku seketika melotot, pasalnya nama kontak yang muncul dilayar ponselku itu adalah Willy.


"Mmm.... siapa yang menelfon sepagi ini Sal?" tanya Kevin yang terbangun karena suara getarannya.


Aku kaget dan langsung menolak panggilannya, "Ahahh tidak! itu dari nomor yang tak dikenal, mungkin salah sambung! kamu tidur lagi, nanti aku bangunin!" jawabku cengingisan.

__ADS_1


Akhirnya Kevin kembali tertidur, di lain sisi aku bertanya-tanya kenapa Willy menelfonku sepagi ini.


__ADS_2