
"Tunggu deh... Aku masih belum mengerti sama jawaban kamu!" ucapku gagal paham.
Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terkadang dia berdesis seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa Vin... Jangan-Jangan ada yang kamu sembunyikan ya? Ahk atau kamu dalang di balik kecelakaan Nayla?" selidikku.
"hentikan omong kosongmu itu!" elaknya.
"Terus kenapa kamu seperti memikirkan sesuatu?" tanyaku tak sabaran.
"Diamlah!!! Aku pusing karena kamu!" bentaknya membuatku terkejut.
"Maksud kamu apaan? Kenapa aku membuatmu pusing? Kamu kalau bicara yang jelas dong!" aku mulai kesal.
Kevin menghela nafas panjang, melepaskan silangan tangannya lalu bertumpu ke sofa, tatapannya seketika menjadi tajam.
Aku yang tidak tau apa-apa malah takut ditatap seperti itu, bahkan tubuhku bergetar sambil berkedip beberapa kali mencoba untuk menghilangkan perasaan aneh ini.
"A-aku kenapa Vin.... " imbuhku terbata.
Kevin berdiri, menaruh tangannya di kedua pinggul, seraya terus menatapku.
"Sal... Asal kamu tau aku pusing karena ulah mu tadi! Aku fikir ada sesuatu yang terjadi denganmu di kantor polisi jadi aku meninggalkan ruang operasi dengan tiba-tiba dan pada akhirnya sekarang aku yang merasa bersalah karena tadi itu aku hendak melakukan operasi tapi kamu menelfonku jadi aku pergi tanpa di ketahui oleh orang lain dan saat ini aku tidak tau bagaimana kondisi pasien yang kutinggalkan tadi." jelas Kevin mondar-mandir meremas rambutnya.
"Ja-jadi kamu mengabaikan nyawa orang demi aku Vin?" lirihku tak menyangka.
Ia hanya bisa mengangguk sebagai respon untukku, bukannya terharu aku malah ikut merasa bersalah.
Demi masalah kecil yang ku perbuat, Kevin sampai rela meninggalkan pekerjaannya untuk menyelamatkan nyawa orang.
"Vin... Kalau begitu kita kerumah sakitmu sekarang! Sepertinya masih sempat! Aku tidak mau menghilangkan nyawa orang karena masalahku ini!" tegasku.
Kevin kembali menatapku, "Apa kamu yakin?kamu mau ikut ke rumah sakit sekarang?"
Aku mengangguk yakin, tanpa fikir panjang kami akhirnya berangkat, aku yang sejak tadi tidak mandi merasa sedikit gelisah dengan kulitku yang seakan sangat lengket.
__ADS_1
Tapi itu tidak penting sekarang, apalagi ketika melirik Kevin yang dengan serius menyetir dengan kecepatan tinggi membuatku merasa baik-baik saja.
Saking cepatnya Kevin melaju, mobil yang di lewati seakan menjadi bayangan yang terlintas.
Aku sampai merem melek menahan ketakutan, hingga rasa mual terkadang mulai muncul.
Awalnya aku ingin menyuruhnya untuk pelan-pelan tapi agaknya aku harus mengurungkan niatku itu.
Ketika sampai di depan rumah sakit, Kevin turun dengan tergesa-gesa lalu berlari masuk tanpa mengucapkan sesuatu padaku.
Melihat kepergiannya aku merasa kecewa padahal aku seharusnya mengerti kenapa dia tidak pamit, tapi kenapa aku tetap saja kecewa ,seakan berulang kali di tinggalkan dalam kesendirian, apalagi aku tidak tau betul dengan rumah sakit ini.
Aku juga ikut turun dari mobil dengan malas, ku tutup kencang pintu mobilnya meluapkan rasa kesal.
"Sal... Kamu bisa menungguku diruangan atas ya!" teriak seseorang di belakangku dia ternyata Kevin yang kembali berlari hanya untuk memberitahuku hal itu.
Ada perasaan lega yang ku dapatkan,sambil membalasnya dengan senyuman serta sedikit anggukan kepala, Kevin membalasku dengan tersenyum juga, yah kami saling melempar senyum selama beberapa detik.
"Pergilah!!!" teriakku menyuruhnya.
Pada saat pintu liftnya terbuka di lantai paling atas ternyata hanya ada satu ruangan jadi aku yakin itu pasti adalah tempat Kevin menyibukkan diri.
Perlahan aku berjalan menghampiri pintunya, memegang gagang pintu dengan gugup tapi ketika pintu sudah sepenuhnya terbuka lebar, mataku melebar mendapati ruangannya yang sangat bersih dan mengkilap, bahkan lantainya sangat-sangat kinclong hingga kita bisa melihat wajah sendiri di dalam sana.
Aku sungguh terkagum-kagum tak bisa berkata apa-apa lagi, aroma pengharum ruangannya juga membuatku merasa rileks seakan memberikan sensasi ketenangan.
Mengendus dan hanya terus mengendus menikmati aromanya yang membuat fikiran seketika tenang.
Dengan gesitnya aku bergerak memeriksa setiap sudut di ruangan ini, ternyata tersedia kamar mandi super mewah layaknya di hotel berbintang 5, serta 1 kamar dengan luas yang melebihi kamarku sendiri.
Aku merasa iri sekarang! apa begini gaya hidul bos besar pemilik rumah sakit? sepertinya hanya dia yang mampu melakukannya, apalagi ini kerja keras serta usahanya sendiri.
Tiba-tiba aku terkinjat menyadari masih ada ruangan kecil di samping kamar ini, karena penasaran aku mengendap-endap berjalan keruangan tersebut.
Ternyata ini hanyalah perpustakaan kecil tapi ada banyak buku yang tersusus rapi di setiap raknya.
__ADS_1
Mungkin ini adalah rahasianya menjadi pintar, gemar membaca buku, sedangkan aku gemar membaca komentar Netizen karena terkadang aku sudah merasa bosan lebih dulu, apalagi ketika melihat ketebalan buku yang justru menambah rasa bosanku.
Padahal semua tujuan kita itu sama yaitu sama-sama ingin sukses, ingin membahagiakan orangtua, tapi ujung-ujungnya hanya menjadi hanyalan semata karena tidak adanya kesadaran diri akan pentingnya literasi.
Tok tok tok...
Sebuah ketukan pintu terdengar, aku yang masih di dalam perpustakaan dengan cepat keluar untuk membuka pintunya karena berhubung di ruangan ini hanya ada aku.
"Siapa?" tanyaku sambil mulai membuka pintu.
Seketika aku melotot memandangi orang yang kini berdiri di hadapanku, "Clara?" pekikku kaget.
"Salsa!!! kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Clara heran.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu sama kamu! lagian Emangnya kenapa kalau aku ada diruangan suamiku sendiri?" tegasku menantang.
"Ohh tidak apa-apa, Terus Kevinnya mana? kenapa dia tidak datang menyambutku, Padahal aku membawakannya bekal biar kami bisa makan bersama disini! " ucap Clara dengan penuh percaya diri, sambil memperlihatkan kotak bekalnya padaku.
"Maaf ya kak Clara, bukannya adik sepupu iparmu ini ingin menggurui hanya saja sepertinya kak Clara ini tidak tau malu sama sekali ya? udah tau Kevin punya istri tapi tetap aja cari perhatiannya!" sindirku dengan memanggilnya kakak sembari mengejek.
"Hm... ternyata kamu masih mau melawanku ya! tapi tak apa! anggap saja aku memang tidak tau malu lalu bagaimana denganmu wahai Salsa yang merebut kasih sayang mantan pacarku?" balasnya mencibir.
"Merebut? wah-wah kak Clara ini sepertinya punya otak yang sedikit bermasalah ya! Aku tidak pernah yang namanya merebut tapi Kevin sendiri yang tampaknya tergila-gila padaku, dan dia akhirnya move on dari cintanya di masa lalu yang penuh dengan sandiwara murahan dari seorang wanita yang murahan pula! " sindirku lagi.
"Salsa jaga omongan kamu! aku bukan wanita murahan!" gertaknya.
"Loh... kok jadinya kakak yang merasa ya? padahal aku tidak menyebutkan sebuah nama kan?" serkahku.
"Tutup mulut mu Sal... aku tau kamu menyindirku, tapi asal kamu tau Kevin lebih dulu mencintaiku dari pada kamu, jadi jangan berbangga diri, dan aku akan merebut kembali Kevin bagaimanapun caranya, aku yakin! aku bisa membuat Kevin mencintaiku lagi dan meninggalkan bocah bau kencur sepertimu!" ejek Clara dengan penuh keyakinan.
Aku tersenyum meremehkan, "Ohh sayangnya aku tidak yakin kalau Kevin akan kembali sama cinta di masa lalunya, kecuali dia benar-benar buta dan tuli sampai memlihmu lagi! " ketusku mengejek.
Brak....
Seketika kotak bekal itu ia layangkan tepat di lenganku, " Ahk... Clara apa yang kamu lakukan!!! kamu wanita gila.... " jeritku kesakitan terasa tulang lenganku sangat sakit karena ulahnya.
__ADS_1