
Aku merasa iba padanya, air matanya terus mengalir sambil sesegukan, Perlahan aku mendekatinya lagi, memeluknya, mengelus lembut punggungnya berusaha untuk membuatnya sedikit merasa tenang.
"Dit... Meskipun kamu menderita, tapi bayimu tidak bersalah jadi aku harap kamu jangan menggugurkannya, siapa tau pacarmu akan kembali kepelukanmu jika bayimu sudah lahir!" imbuhku.
"Huhuh... Elo nggak ngerti Sal... Pacar gue itu kejam, dia sering banget bawa cewek kerumah seolah-olah gue tuh nggak dipeduliin!" curhatnya.
"Kenapa kamu tidak meninggalkannya saja Dita..."
"Gue nggak bisa Sal... Sumpah gue nggak bisa lepasin dia, orangtua gue ngelarang minta putus sama dia, karena jujur hutang orangtua gue ada banyak sama pacar gue" jawabnya.
Aku melepaskan diri, kemudian menepuk kedua pundaknya, dengan tatapn serius aku berkata, "Dita... Apa kamu ini bodoh? Ini soal perasaan, kalau kamu benar-benar sudah tidak menyayanginya kenapa kamu harus mempertahannya Dita, kamu tidak akan bisa bahagia kalau seperti itu!" tuturku.
"Lo nggak usah sok tau soal kebahagiaan gue!" ucapnya kembali menjauhkanku darinya.
"Maaf! Gue harus pergi sekarang! Lo nggak pernah tau gimana susahnya gue! Lo juga nggak pernah ngertiin gue, dan lo nggak pernah berubah Sal, Asal lo tau dulu dan sekarang sikap lo sama sekali nggak berubah!" ucapnya turun dari ranjang dan hendak melangkah pergi.
"Tunggu Dita!" cegahku namun diabaikan, padahal aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya yang membuat dia berfikiran bahwa sikapku tidak pernah berubah meskipun aku selalu berusaha untuk mengubah semuanya.
Ia terus berjalan, hingga ada yang membuka pintu dari luar yang ternyata adalah Kevin dengan membawa 2 kantong plastik di kedua tangannya.
"Kamu!!" Kevin menatap tajam ke arah Dita setelah berpapasan, namun Dita hanya menatap sekilas kearah Kevin bahkan ia memutar bolanya.
Dita bahkan tak menyapa, melainkan terus berjalan tanpa menoleh lagi kebelakang, hingga dia benar-benar menghilang dibalik pintu, "Kenapa dia bisa datang lagi kesini? apa untuk memfitnahmu? atau dia ingin menyakitimu lagi, dan membuatmu terus menangis," Dahi Kevin berkerut sambil menatapku.
"Ahh tidak! dia datang kesini hanya untuk memeriksakan kandungannya!" jawabku tak mau membahas soal keinginan Dita tadi.
"Ohh tapi kenapa dia terlihat baru saja menangis? bahkan di matanya begitu jelas masih ada air mata!" pungkasnya lagi.
__ADS_1
"Se-sebenarnya dia datang kesini, karena ingin menggugurkan kandungannya!" jawabku terbata.
"Apa! kenapa dia mau melakukan sesuatu yang sangat bodoh seperti itu, apa dia fikir semuanya akan baik-baik saja kalau sampai dia menghilangkan janin yang ada didalam perutnya?" Kesal Kevin dengan nada yang agak tinggi.
"Yah, aku juga berfikiran seperti itu, tadinya aku sudah memberitahu dia untuk tidak melakukan itu, tapi dia malah merasa aku tidak mengerti perasaannya padahal aku mencoba untuk menjadi teman atau bahkan sahabatan seperti dulu lagi! tapi kenapa? kenapa harus aku yang selalu dibuat menjadi serba salag terus!" lenguhku meraung.
Kevin menghela nafas, "Sudahlah Sayang! kamu tidak perlu memikirkannya, lebih baik kita pulang sekarang sebelum malam!" Ia berjalan lebih dekat ke arahku, melingkarkan tangan tangan kanannya di pinggulku, "Ayo pulang!" ajaknya dengan kantong plastik yang masih ada ditangannya.
***
Sesampainya di rumah, hari benar-benar sudah berganti malam, kini aku dan Kevin berada didalam kamar, Aku yang lebih dulu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, dan dia hanya mengangguk membuat malah heran dengan sikapnya yang tak lagi mesum.
"Sepertinya Kevin benar-benar sudah berubah, aku senang! heheh!" aku bergumam dalam hati tersenyum membelakanginya melangkah menuju kamar mandi.
"Sayang! Jangan mengunci pintunya yah! nanti aku tiba-tib Kebelet mau masuk!" ucapnya tiba-tiba membuat langkahku terhenti dan berbalik arah menatapnya sinis, "Ahh ucapanku tadi salah besar, jiwa mesumnya ternyata tidak bisa hilang!" batinku lagi.
"Ya masuk kedalam kamar mandi lah! kenapa pertanyaanmu malah aneh? apa jangan-jangan kamu berfikir aku mau masuk kedalam sana ya? hahah Kamu tenang saja sayang! aku selalu siap untuk memanjakanmu jika kamu sangat ingin melakukannya lagi!" godanya sedikit menjulurkan keluar ujung lidahnya.
"Ehh ti-tidak, aku tidak berfikiran seperti itu, aku hanyaa.... ahh sudahlah, aku mau mandi, dan tidak ingin berdebat soal seperti itu denganmu!" Ucapku menahan malu dengan gesit berbalik badan dan berlari kecil kekamar mandi.
Didalam kamar mandi, aku menatap sosokku yang merona didalam cermin, tak lupa sebelum itu, lebih dulu aku mengunci pintu agar Kevin tak melakukan aksi gilanya yang tak terduga.
Kurang dari 30 menit kemudian, aku selesai membersihkan diri termasuk keramas, keluar dengan rambut basah, dengan tubuh yang kulilit hanya memakai handuk.
Selama aku mandi, Kevin tak berulah seperti ucapannya yang menggoda tadi, itu kembali membuatku bingung, akan tetapi setibanya aku didepan kamar mandi, aku melihatnya sedang sibuk bercengkarama dengan ponselnya.
"Vin... Kevin! Aku sudah selesai mandi, kamu bisa masuk sekarang!" ucapku mungkin tak didengar olehnya saking sibuk berkutak dengan Keyboard ponselnya.
__ADS_1
"Sayang! Kamu sibuk apaan sampai tidak mendengarku memanggilmu tadi!" kataku lagi memanggil tapi masih tak di respon.
"Kevin!!!" Aku menjerit dengan suara lantang, hingga dia tersadar sepenuhnya dan langsung bangkit dari rebahannya diatas kasur.
"Ehh kamu sudah selesai?" tanyanya.
"Dari Tadi!" ketusku memutar manik mata.
"Ahh Maaf-maaf tadi aku melihat-lihat sesuatu sampai tidak fokus dengan suara panggilanmu!" jawabnya terlihat tenang dengan sedikit tersenyum.
Aku malah penasaran, "Kamu melihat apaan sampai tidak mendengarku? jangan-jangan kamu chatingan sama mantan kamu ya?" selidikku
"Ehh itu tidak mungkin terjadi sayang! kamu kan tau bagaimana sikapku sekarang, aku paling benci dengan wanita yang mendekatiku seperti Clara yang begitu murahan!" serkahnya.
"Ohh ya udah! kalau begitu kamu mandi aja sekarang!"
"Tunggu dulu sayang! aku belum selesai melihat semuanya!" imbuhnya kembali menatap layar ponselnya hingga dia sepenuhnya mengabaikanku.
"Kevin! kamu mau mandi sekarang, atau kamu tidur dikamar kamu sendiri!" omelku protes.
"Ahh Sayang! kenapa tiba-tiba kamu mulai cerewet lagi? baiklah-baiklah aku akan mandi sekarang oke!" akhirnya ia setuju, menaruh ponselnya diatas ranjang dan melangkah kearah lemari untuk mengambil handuk.
***
Ketika mendengar suara air sudah berjatuhan kelantai didalam kamar mandi, aku terus menatap kearah ponsel Kevin dengan jiwa penasaranku yang begitu meronta-ronta.
Aku begitu penasaran, tapi tak enak hati untuk sekedar mengintip layar ponselya tanpa izin, namun sekali lagi, aku tak bisa menahan diri dan terpaksa mengambil ponsel itu untuk mencari jawaban atas rasa penasaranku ini.
__ADS_1