
"Kalau memang iya, emangnya Kenapa? Masalah gitu buat lo? Sorry ya gue jaga ciuman pertama gue buat orang yang benar-benar gue sayang dengan tulus!" ucapku.
Kevin mengangkat sebelah alis kirinya, sambil berkata, "Kalau begitu berikan saja padaku!" lirihnya menggoda.
"Enak aja! emangnya lo fikir lo pantas buat ngambil ciuman berharga gue!" ucapku ketus.
Tiba-tiba Kevin berdiri, melangkah perlahan padaku dengan kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya.
"Lo mau apa?" tanyaku gugup ketika dia semakin mendekat.
"Mau mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku."
Kevin tersenyum mengoda saat mengatakan itu, bibirnya sedikit merekah mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku.
Spontan aku langsung mundur wajahku juga demikian hingga tak nampak leherku karena menyatu bersama dagu.
"A-apaan maksud lo?" tanyaku berpura-pura bodoh dan polos.
"Salsa... Kita sekarang sudah sah... Apa kamu masih belum mau melakukan itu?"
Kevin semakin mendekat, sangat dekat membuat jantungku kembali berdetak sangat cepat, tubuhku seolah lemas hingga bibirnya hampir mendarat dibibirku.
Ting tong
Bel berbunyi membuatku dengan cepat mendorongnya lalu berlari kearah pintu, aku membukanya tak perduli dengan kondisi jantungku yang masih berdebar.
"Kak Clara?" sapaku kaget ketika menyadari orang yang kini berdiri di ambang pintu adalah Clara.
"Salsa... Maaf aku kembali lagi, tapi sepertinya ponselku ketinggalan dirumah ini!"
"Ohh gitu ya kak, kalau begitu kakak masuk aja cari ponsel kakak!" balasku.
Clara akhirnya masuk dia melewati ruang keluarga, berhenti dan melirik Kevin yang sedang sibuk memasang colokan TV.
"Ehhem kak Clara, Salsa bantu cariin ponsel kakak ya! Kakak cari aja dalam kamar, biar aku yang nyari disofa atau ruangan yang pernah kakak duduki!" kataku setelah berdehem untuk menyadarkannya agar berhenti melirik Kevin.
Clara mengangguk pelan, ia kemudian masuk kedalam kamar sedangkan aku berjalan menuju dapur mencari-cari disetiap sudut meja makan.
Tanpa kusadari Clara lebih dulu keluar dari kamar, dia berjalan menuju Kevin sambil mengendap-endap dengan sesekali celingak-celinguk.
"Kevin! Aku mohon jangan marah sama aku!" lirih Clara memeluknya dari belakang sofa dan melingkarkan tangannya dileher Kevin.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu yang menjijikan itu!" marah Kevin melirik Clara dari ekor matanya.
"Kevin! Please berapa kali aku harus minta maaf sama kamu! Ini semua hanya salah paham! " jelas Clara.
"Aku bilang lepaskan!"
Kevin berdiri dan menepis keras tangan Clara.
"Kamu bilang salah paham? Lalu apa yang kulihat sekarang menikah dengan sepupuku sendiri dan sekarang sudah punya anak? Apa itu maksud kamu salah paham?" murka Kevin dengan wajah emosi
"Kevin! Aku tidak mencintainya, aku hanya selalu mencintai kamu! Kalau kamu mau aku menceraikannya! Baik, aku akan melakukannya sekarang!" ujar Clara mulai menangis.
"Kamu ini wanita macam apa? Bisa-bisanya kamu mengatakan cerai begitu saja! Apa kau fikir setelah kamu bercerai aku akan kembali? Heh itu tidak mungkin!" balas Kevin.
"Kenapa tidak mungkin?" seru Clara disela isak tangisnya.
"Karena aku sudah menikah!" serkah Kevin memalingkan wajah.
"Menikah? Kevin aku tau kamu masih mencintaiku, jadi aku tau pasti kamu menikah karena hanya ingin membuatku cemburu bukan? Kamu hanya ingin membuatku sakit hati kan?" ucap Clara.
Kevin menengadah, dia agaknya semakin emosi mendengar semua omongan Clara.
"Cukup! Apa hanya itu yang selalu ada difikiranmu? Kamu memang selalu egois! Kamu ingat dulu ketika kita masih pacaran? Kamu tidak pernah meluangkan waktu untuk kita berdua, sok sibuk lah apalah dan tiba-tiba minta putus apa itu masih bisa dimaafkan?" gerutu Kevin.
Clara meraih tangan Kevin menggenggamnya erat namun percuma saja sebab langsung ditepis kembali oleh Kevin.
"Kevin! Aku menyesal, maafkan aku kumohon jangan marah lagi padaku! " pintanya.
"Aku muak melihat semua sandiwaramu, jadi silahkan pergi sekarang dari rumahku! Pergi! " usir Kevin menunjuk kearah pintu.
"Kevin aku mohon! Jangan seperti ini." ucapnya lirih.
Kevin tak merasa iba sama sekali melainkan menyeret paksa Clara keluar hingga ke teras.
Pada saat yang sama tanpa mereka sadari aku mendengar semua ucapan mereka termasuk bagaimana Clara memohon-mohon kepada Kevin.
"Jadi alasan sebenarnya dia menikahi gue hanya karena ingin membuat mantan kekasihnya sakit hati?" gumamku dalam hati.
Tubuhku seketika tak bertenaga, seakan lumpuh tak berdaya jantungku terasa berhenti berdetak untuk saat ini, sungguh miris nasibku kufikir hanya aku yang menjadikan dia pelampiasan akan tetapi keyataannya dia juga seperti itu.
Awalnya aku menduga dia memang hanya terlalu lama menjomblo hingga dia menyetujui perjodohan ini begitu saja.
__ADS_1
Aku menekan dadaku yang terasa sesak, oksigen disekitarku seakan berkurang, aku tidak bisa mengatur nafas, tak mampu berfikir dengan apa yang akan kulakukan.
Aku berusaha berjalan kekamar, meskipun kaki lemas namun aku melangkah seakan menyeret kaki.
Air mata kini berlinang di pelupuk mataku, sakit hati? Mungkin ini alasan sebenarnya, kenapa aku harus sakit hati padahal sama-sama memanfaatkan? Aku sungguh tidak bisa menjawab pertanyaan itu, fikiranku menjadi dangkal ketika memikirkannya.
Betapa malangnya kisah percintaan remajaku ini, sungguh tak ada yang berjalan sesuai keinginan dan hanya siksaan batin yang ku peroleh.
Aku menutup pintu terduduk dilantai pinggir ranjang, air mata terus mengalir tanpa seizinku.
Seharusnya aku merasa bahagia sekarang karena sudah tau alasannya, tapi kenapa aku tidak merasakan itu? Melainkan hatiku yang sakit.
Aku semakin tak bisa membendung air mataku, ingin sekali rasanya mengeluarkan suara namun apa yang harus aku lakukan?.
Aku mengubah posisi, kini wajahku berhadapan dengan sisi ranjang, menarik selimut dan membekap mulutku dengan selimut tersebut, melampiaskan tangisanku dengan keras agar tidak didengar oleh Kevin.
Selang beberapa saat tangisan ku mulai reda akan tetapi tenggorokanku menjadi kering seakan tak ada air liur lagi yang membasahi rongga mulutku.
Aku ingin keluar tapi keadaanku sekarang tidak memungkinkan, apalagi mataku yang sembab.
Kemudian aku berfikir untuk menutupi wajahku dengan topi, aku mencari topi disetiap isi koperku, hingga akhirnya aku menemukan topi berwarna hitam.
Dengan cepat aku memakainya, melangkah keluar diam-diam berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Setelah mendapatkan sebotol air minum aku melangkah kembali kekamar namun tiba-tiba Kevin muncul dan menarik tangan kananku
"Kenapa kamu mengendap-endah seperti pencuri?" tanyanya heran.
"Bukan urusan lo!" ucapku ketus.
"Terus pakai topi hitam segala! Ada apa?" tanyanya lagi.
"Gue bilang bukan urusan lo!!! Bukan! Bukan! bukan! Huhuh" teriakku kesal memukul tubuhnya menggunakan botol yang ada ditangan kiriku.
"Salsa...ada apa? Kenapa kamu menangis!"
"Lo masih nanya ada apa? Asal lo tau gue udah dengar semua omongan lo sama Clara dan dia mantan pacar lo kan? Iya kan!"
"Gue mohon Vin! Lo harus bilang 'bukan' bilang aja dia cuman teman lo yang ngejar-ngejar cinta lo please!" gumamku memohon.
"Iya dia memang mantan aku!" jawab Kevin cepat.
__ADS_1
"Jadi lo mau nikah sama gue cuman karena ingin buat dia sakit hati? Jadi semua omongan kalian tadi itu benar?"
"Tunggu dulu! Jadi kamu menangis hanya karena masalah ini? Apa jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta sama aku?" curiga Kevin mengalihkan pembicaraan.