
Kevin dan aku akhirnya sampai dengan selamat, langkahku lesu berjalan masuk ke dalam rumah, Hingga Kevin menyadarinya dan dia menggendongku.
Aku sempat kaget namun dia malah tersenyum, " Aku tau kamu masih kefikiran soal temanmu itu, jadi biarkan aku yang menggendongmu masuk, aku takut kamu pingsan di teras sebelum merebahkan diri di atas kasur" tuturnya.
Aku melongos, menyadari begitu pekanya dia membuatku rasanya mendapat kehangatan setiap kali muncul masalah dia ada sebagai tempat sandaran.
Tiba didalam kamar, Kevin membaringkanku di atas Kasur, "Ahh sepertinya berat badanmu mulai naik sayang!" imbuhnya mengeluh.
"Ya iya... Kan aku sedang mengandung!" jawabku.
"Kalau begitu kamu istirahat saja! Aku akan menemanimu disini!"
"Ehh bukannya kamu mau melakukan operasi?" tanyaku mengingatkan.
"Hm... Tapi kan aku bisa menyuruh dokter lain yang melakukannya!"
"Vin... Itukan sudah menjadi kewajibanmu juga! Lagian aku sudah baik-baik saja, jadi kamu bisa kembali kerumah sakit!" tegasku.
"Aku tau itu kewajibanku, tapi kamu juga jauh lebih penting Sal... Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sedangkan aku tau kamu sedang membutuhkan seseorang disampingmu!" ungkap Kevin.
"Dengarkan aku! Kamu lihat aku sekarang, aku sudah baik-baik saja Vin, nyawa orang lebih penting sementara aku hanya butuh istirahat dan pasti akan baik-baik saja! Jadi pergilah." suruhku membuat ia terpaku mungkin sedang memikirkan ucapanku.
"Apa kamu yakin?" tanyanya serius yang langsung ku anggukkan.
"Baiklah aku akan pergi, tapi ingat kamu harus istirahat, jangan lupa makan, tidak usah membersihkan rumah, ahh apa sebaiknya kita menyewa asisten rumah tangga saja! Sepertinya itu lebih baik apalagi aku sibuk dan aku tidak mau membiarkanmu lelah apalagi kondisi kamu yang hamil" ucap Kevin menjawab pertanyaan sendiri.
"Terserah kamu aja!" jawabku tenang.
"Oke... Kalau begitu biar aku yang urus semuanya, kamu bisa istirahat, dan aku pergi dulu ya Sayang!" pamitnya.
Cup....
Ia mencium keningku sebelum pergi, kutatap punggungnya yang semakin menjauh dan akhirnya melambaikan tangan sebelum menutup pintu kamarku.
Ahh... Aku melenguh, rasanya sama sekali tak bisa untuk tidur, fikiranku semua di penuhi soal Dita, apalagi dengan kondisinya yang tengah berbadan dua, padahal setauku dia belum menikah.
__ADS_1
Aku terduduk diatas kasur, kemudian turun lalu berjalan ke arah laci untuk mengambil ponselku yang tak pernah ku aktifkan.
Begitu layarnya sudah menyala aku mengabaikan semua yang muncul di layar dan hanya fokus untuk mencari tau soal Dita melalui instagram.
Lewat postingan yang ia unggah satu persatu aku melihatnya, menggeser dan memperhatikan setiap caption yang ia buat.
Sungguh aku mulai curiga, seperti yang ku fikirkan tadi, di instagramnya tak ada satupun foto pernikahan, malahan yang kulihat hanya fotonya bersama seorang laki-laki namun bukan laki-laki yang sama seperti yang ku temui 4 tahun lalu bersamanya.
"Sebenarnya siapa ayah yang dikandung Dita? Kenapa aku sama sekali tidak bisa mendapatkan informasi tentang pernikahannya, ahh apa aku harus bertanya sama Lena? Tapi aku takut kalau dia juga masih kesal padaku, kalau David sepertinya tidak mungkin dia, karena aku tau dia tidak mungkin menghamili anak orang sebelum adanya pernikahan terus siapa?" gumamku.
Dert... Dert... Dert...
Sekali lagi, aku termangu memandangi layar ponselku, Yah... Nama kontak Willy kini masuk sebagai panggilan dan aku masih ragu untuk menjawabnya.
Namun rasa ragu itu ku kesampingkan, sebab rasa penasaranku semakin bertumpuk "Halo Sal...?" sahut Seseorang dari panggilan itu yang tak lain adalah willy ketika aku mulai mengangkat panggilan masuknya
"Ahh iya ada apa?"
"Ehh gini Sal... gue udah kembali, dan gue mau ketemu sama lo, karena ada sesuatu yang gue mau omongin sama Lo Sal..." jawabnya.
"Sesuatu? soal apa Ya Will" penasaranku.
Tutt....
Seketika Willy mengakhirinya padahal aku belum sempat menyetujui ajakannya, bahkan aku takut memutuskan, karena dilain sisi tak ingin menemuinya di sisi lain aku penasaran akan apa yang ingin ia sampaikan.
Dan sebelum aku benar-benar mengambil keputusan, lebih dulu aku harus meminta persetujuan Kevin sebab aku tak mau sampai dia salah paham denganku.
Dengan cepat aku menghubunginya meskipun ku tau dia mungkin baru sampai di rumah sakit, "Halo Vin!"
"Ada apa sal...? kenapa menghubungiku, apa jangan-jangan sudah rindu yah? tapi kita kan baru berpisah selama beberapa menit masa sudah rindu!" narsisnya.
"Ahh tidak! ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu! begini Willy tiba-tiba menelfon dan dia ingin menemuiku, apa aku boleh pergi atau tidak usah?" tanyaku dengan perasaan super gugup
"Ohh Ya udah, kamu boleh pergi! siapa tau ada hal penting yang ingin dia sampaikan, atau dia mau minta uangnya kembali!" jawab Kevin.
__ADS_1
"Apa! jadi kamu tidak marah atau melarang gitu?" heranku merasa tak percaya, yang biasanya suami akan melarang istrinya pergi menemui mantan kekasihnya tapi entah kenapa Kevin malah membiarkanku.
"Kenapa aku harus marah Sayang! aku selalu percaya sama kamu kalau, kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya bukan?" imbuh Kevin.
"Kamu serius kan? apa kamu tidak takut aku selingkuh atau pergi keluar negeri lagi bersama Willy!" ucapku mengujinya.
"Kalau begitu kamu tidak boleh pergi!" perintahnya malah membuatku tertawa diam-diam.
"Loh kenapa? bukannya tadi kamu sudah setuju?"
"Aku sudah berubah Fikiran, pokoknya kamu tidak boleh pergi! titik!"
"Hahah tadi aku hanya bercanda sayang! kamu kan tau sebodoh-bodohnya aku, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang seperti dulu lagi, lagian aku kan sudah mengandung bayi kita! jadi percaya sama aku!" jelasku meyakinkannya.
"Aku janji tidak akan lama Vin! lagian dia hanya ingin menyampaikan sesuatu dan aku juga ingin bertanya soal Dita sama dia siapa tau dia tau!" sambungku berkata.
"Kalau begitu aku akan pergi denganmu tunggu aku dirumah" katanya.
"Tidak usah! bukankah kamu bilang sudah percaya sama aku! tapi kenapa sekarang aku jadi ragu kalau sikapmu seperti itu!"
"A-aku percaya, sangat-sangat percaya!" jawabnya.
"Kalau begitu biarkan aku pergi!"
Ha... Aku mendengar ia menghela nafas, "Baiklah pergilah Sal... tapi kamu harus hati-hati jangan sampai itu menyakiti bayi kita, dan Ohh kamu kirimkan lokasi pertemuan kalian, agar aku bisa menjemputmu setelah operasinya selesai." pungkasnya.
"Hm... baiklah aku akan mengirimkannya untukmu kalau begitu aku bersiap-siap dulu!"
"Ehh tunggu kamu harus menciumku sebelum mematikan panggilan ini!" perintahnya.
"Hah! bagaimana caranya?"
"Kamu bisa mencium layar ponselmu sayang!"
"Vin! kamu jangan aneh-aneh deh... aku janji setelah pulang aku akan menciummu lagi sampai kamu puas! oke..." janjiku.
__ADS_1
"Hahah oke... oke... aku sungguh menantikannya! kalau begitu kamu hati-hati ya sayang!" ujarnya ku iyakan dan langsung mengakhiri panggilan kami.
Aku meletakkan kembali ponselku diatas meja agar aku bisa bersiap-siap untuk menemui Willy.