Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Curhat


__ADS_3

Tanpa sadar mulutku menganga begitu saja, dengan mata yang terus menatapnya "Hah! Percaya diri banget lo!" cibirku berkedip beberapa kali agar Kevin tidak curiga.


"Oke-oke aku mengalah saja, lagian cuman kamu yang tidak mengatakan bahwa aku memang tampan! Tapi aku tidak perduli karena suatu saat ucapan itu akan kamu ucapkan dengan sendirinya!" tegas Kevin penuh keyakinan kembali membuatku tertegun.


Dia mendekat semakin dekat hingga berdiri tepat di pinggir ranjang, "Nah... Sekarang aku sudah disini jadi sekarang kamu harus tidur!"


"Ehh dia cuman bilang itu? Nggak langsung naik keranjang terus peluk gue? Ya ampun sejak kapan fikiran gue isinya kotor semua! Gue tadi fikir dia bakal lakuin itu..." aku bergumam dalam hati, malu sendiri dengan fikiran kotor yang sempat terbersit dalam otakku.


"Ehh Vin... Itu anu... Gue mau elo jangan pergi tinggalin gue ya! Awas lo kalau sampai elo ingkar janji!"


"Iya sal... Iya... Kalau begitu tidur sekarang!" balasnya.


Kevin menarik kursi yang ada di depan meja riasku, kemudian duduk lalu mengeluarkan ponselnya, tak lama setelah itu dia sudah sibuk mengetik terus menerus di keyboard ponselnya.


Dia tak pernah lagi melirikku, bahkan berbicara sepatah katapun padaku, hanya bibirnya yang terus bergerak mengiringi ketikan jemarinya di dilayar ponsel.


"Vin.... "panggilku pelan seraya terduduk diatas kasur


"Hm... Apa lagi!"


"Gue nggak bisa tidur!" rengekku manja.


Aku sungguh tak bisa tertidur, beberapa jam yang lalu, aku menutup mata tapi tetap saja tidak bisa, mulai dari terlentang, tengkurap, miring kanan, miring kiri semua sudah ku lakukan namun pandanganku masih segar seperti pernah membasuh muka dengan air.


"Terus aku harus bagaimana? Kamu tidak lihat aku sedang sibuk? " imbuhnya masih fokus ke layar ponsel.


"Lo ngasih selusi dong! Elo kan dokter masa masalah tidur doang nggak tau! Gimana sih!" ucapku meremehkan.


Tiba-tiba Kevin berdiri, memasukkan kembali ponselnya di dalam saku, "Aku tau, aku adalah seorang dokter tetapi Penyakit kamu tidak jelas Sal... menangis tanpa sebab yang ku tau, apa itu semacam penyakit yang harus di konsultasikan ke dokter? tidak mungkin kan!Ohh iya aku bisa memberimu obat tidur, Kalau kamu mau aku bisa mengambilnya sekarang!" jelasnya.


"Ehh nggak usah elo duduk aja lagi, gue nggak butuh obat, lagian elo kan ada disini jadi gue nggak takut lagi, pasti bentar gue bakal tidur sendiri! Hahah" balasku tertawa kikuk.


Pada akhirnya Kevin terduduk kembali, tapi jemarinya tetap saja bergulat dengan keyboard ponselnya.


Aku mulai kesal, dia kesini bukankah untuk menjagaku? Lalu kenapa dia mengabaikanku lagi.


"Kevin!!! Bisa nggak sih, elo fokus aja jagain gue!" jeritku.


"Ada apa lagi? Aku kan sudah bilang, aku sibuk! Seharusnya kamu memberiku sedikit ketenangan! please jangan menggangguku dulu " jelasnya.


Setelah dia mengatakan itu, aku menatapnya datar sedangkan dia melanjutkan kesibukannya.


Huh! Dengan kesal aku menarik selimut kemudian berbaring membelakanginya.


Tak cukup 5 menit, aku merasakan ranjang ini bergerak, dengan cepat aku membuka mata, kurasakan tangan membelai wajahku dari belakang.


Menyeka rambut yang terurai menutup wajahku ,aku sontak kaget mengubah posisi menjadi terlentang.


Mendapati Kevin yang kini berada di sampingku menekuk sikunya menyandarkan kepala ditelapak tangannya.


Ia tersenyum dengan ciri khasnya menampakkan gigi putih nan rapi serta bersih seperti yang senantiasa ia pamerkan ke semua orang.


"Kalau aku sudah disini apa kamu bisa tertidur sekarang!" imbuhnya.


Aku mengernyitkan alis, "Tergantung! Kalau gue udah ngantuk pasti gue bakal langsung tidur!" jawabku.


"Kenapa kamu sangat manja kali ini? Ohh iya aku lupa, kamu punya masalah apa sampai menangis tadi?"

__ADS_1


Aku menjadi bingung, Di lain sisi aku mau curhat dengannya tetapi aku takut dia hanya akan mendengarkanku tanpa mau memberi solusi. Namun jika ini ku pendam sendiri malah aku yang tersiksa, apa tidak sebaiknya aku jujur saja? Fikirku


Hah... aku Menghela nafas panjang lalu kembali menatapnya, "Sebenarnya gue tadi bertengkar sama sahabat gue! Mereka salah paham, tapi pas gue mau jelasin, mereka nggak mau denger penjelasan gue! Ya udah akhirnya kita bertengkar, dan lebih parahnya lagi salah satu sahabat gue bilang nyesel karena berteman sama gue! Jadi kalau gue ingat ucapannya gue malah nangis gitu aja!" isi curhatku.


Kevin mengangguk-ngangguk pelan, "Owh... Tunggu! Kamu tadi bilang salah paham? Salah paham tentang apa?" tanyanya menyeringai.


"Ehh... Ta-tapi elo jangan marah dulu ya!" ucapku lagi, Kevin agaknya sempat berfikir namun kemudian ia mengiyakannya.


"Jadi ceritanya gini, Salah satu sahabat cowok gue namanya David, suka sama sahabat gue namanya Dita, Nah kemarin kan gue keluar jalan-jalan tuh sebenarnya mereka yang ajak gue! Ehh ternyata David punya perasaan sama Dita, kemarin dia bermaksud ngajak Dita buat kencan tapi Dita malah ngajak gue! Tapi nih yah, ternyata David masih nggak mau jujur sama perasaannya, waktu Dita ke toilet gue bilang ke dia kalau gue bakal bantuin dia sampai jadian sama Dita, terus gue suruh si David buat peragain ke gue gimana caranya dia pas nembak Dita, Nah dari situlah sumber masalahnya pas David contohin si Dita malah datang dan akhirnya salah paham Dita kira gue jadian sama David!!!" tuturku menjelaskan panjang lebar dengan geram.


"Kenapa mereka harus salah paham, kan kamu bisa bilang kalau kamu sudah punya suami! "Seka Kevin.


"What? Nggak! Nggak mau, nanti mereka pasti bakal nggak mau lagi berteman sama gue! Lagian sampai detik ini mereka belum tau soal status baru gue!" cerocosku menolak.


"Sal... Aku tau kamu belum siap menerima kenyataan tapi sebaiknya kamu memberitahu mereka sebelum kesalahpahaman kamu ini semakin berkelanjutan, jika kamu terus mengulur waktu, maka persahabatan kamu kedepannya akan semakin hilang, bukankah kamu tidak mau itu terjadi?" terang Kevin memberikan solusi padaku.


Sepertinya ucapan dia sedikit benar, tapi jika aku jujur, aku malah takut mereka akan menjauhiku, sedangkan aku tidak suka dengan kesendirian.


"Tapi Vin... Gue takut! Gue takut mereka bakalan ninggalin gue! Tadi aja mereka salah paham terus ninggalin gue disaat terpuruk, gimana kalau mereka tau soal pernikahan kita bisa-bisa gue udah nggak punya teman lagi!" lirihku dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah...sudah Sal... Tidak perlu menangis lagi, nanti kamu sakit, air matamu sudah hampir sepuluh liter mengalir sejak tadi loh.... "gurau Kevin membuatku langsung tertawa ketika mendengarnya, air mata yang berlinang di pelupuk mataku tak jadi keluar karena candaannya itu.


Plak...


Aku melayangkan tangan memukul lengannya, "Nggak usah bercanda! candaan lo nggak lucu udah basi"


"Humph tidak lucu? Bukannya tadi kamu sudah tertawa? Berarti aku berhasil menghiburmu!" ungkapnya tersenyum penuh kemenangan.


"Ish... Siapa yang ketawa? Elo aja yang salah lihat mungkin, udah ahh gue mau tidur!" ketusku sembari memiringkan badan.


"Iya gue tau!"


"Sal... Apa aku boleh tidur disini?" lanjutnya masih bertanya.


"Ya ampun! Kenapa dia masih bertanya, bukankah orang memang di haruskan tidur di atas ranjang? Tapi... Kok gue gugup sih denger pertanyaannya itu!" batinku.


"Terserah!" balasku singkat.


"Baiklah aku anggap kau setuju! Tapi kamu tidak marah kan? Jika aku memelukmu lagi seperti malam itu!" godanya.


"Jangan macam-macam! Gue nyuruh elo tidur disini karena gue takut sendirian! bukannya mau lo manfaatin jadi guling! "


"Hahah aku kira kamu tidak akan marah, tapi aneh juga jika kamu langsung bilang bersedia"


"Bodoamat! Yang jelas elo harus jaga jarak aman sama gue!"


"Baiklah... Aku tidak akan memelukmu!" ujarnya.


Ketika mendengar ucapannya aku merasa sedikit tenang meski jantung sudah mulai tak bersahabat.


"Sal... Aku masih mau bertanya! Kenapa cara bicara kamu sampai sekarang tidak berubah sama aku, 'elo', 'gue' bukannya itu tidak sopan! Aku tau kamu masih belum siap dengan status hubungan kita ini, tapi aku sudah resmi menjadi suamimu, jadi apakah kamu tidak bisa mengubahnya demi aku? Ahh tidak maksudnya bukan demi aku tapi demi menghargai pernikahan kita, karena ini sudah terjadi dan nama kita sudah tercantum dalam surat nikah!" tutur Kevin berceloteh sambil menyangkal jawabannya sendiri.


Aku hanya menyimak omongannya, berpura-pura tertidur sambil memikirkan apa yang baru saja ia ucapkan.


"Sal.... Kamu sudah tidur?" tanyanya lagi ketika tak mendapat respon dariku.


"Tidak apa-apa jika kamu sudah tidur! Anggap saja perkataanku tadi sebagai angin lalu, lagian aku tidak bisa mengarapkan lebih karena aku tau bagaimana sikapmu, mengubah kebiasaan pastinya akan sulit jadi aku akan mencoba untuk mengerti!" gumamnya lagi.

__ADS_1


"Ahh sial... Aku jadi ngomong sendiri!" ucapnya mencibir diri sendiri.


Tanpa Kevin sadari sejak tadi aku tertawa tanpa suara, dan karena itu perutku menjadi sakit menahan tawa, setiap kalimat yang ia ucapkan termasuk menggerutu dirinya sendiri seakan menggelitik pinggulku.


Setelah itu Kevin tak lagi bersuara, suasana juga ikut hening, mataku berkeliling mencari tau ada apa dengannya.


Tapi aku takut menoleh kebelakang, hingga kemudian aku memilih menutup mata mencoba untuk tertidur.


Tiba-tiba saat hendak menutup mata, Kevin langsung memelukku dari belakang, ini tak seperti yang ia katakan padaku tadi.


Akan tetapi tangannya hanya diam tak bergerak sedikitpun di perutku, sepertinya dia sudah tertidur, jangan-jangan dia tidak sadar memelukku, atau mungkin dia menganggapku sebagai bantal guling lagi.


Tapi sudahlah, aku tidak mau mempermasalahkannya lagian pelukannya itu bahkan membuatku lebih hangat dan nyaman, terasa seperti tekanan batinku merasakan sedikit kedamaian.


Aku tersenyum sambil mengabaikannya perlahan kembali menutup mata, namun seketika aku terbangun lagi menyadari Wajah Kevin berada di leher belakangku, kemudian turun dan menenggelamkan wajahnya di punggungku, nafasnya yang hangat menembus masuk ke kulitku, mungkin karena piyama yang ku pakai sekarang terlalu tipis atau dia memang sengaja melakukannya?


Ahh entahlah, dan karena hemburan nafasnya itu tubuhku sontak menegang dengan sendirinya, aku mulai merasa tak nyaman, kemudian perlahan menjauhkan diri darinya.


Namun semakin aku bergerak pelukan Kevin malah tambah erat, hingga tubuh kami sepenuhnya sangat dekat, bahkan suhu tubuhnya kini mulai kurasakan.


Bahkan selimut yang tadinya menutupi tubuhku tanpa ku sadari menyingkap dan menutupi tubuh Kevin juga.


Sejak kapan Kevin berada di bawah selimut yang sama denganku? Aku jadi linglung ketika memikirkannya.


Nafasku tersenggal karena rasa gugup yang semakin menjadi-jadi, ditambah kaki Kevin yang kini berada di atas kakiku menjadikan posisi kami bisa dianggap intim.


Aku tak tau lagi bagaimana mendeskripsikan perasaanku saat ini, yang pasti jantungku terasa ingin menerobos keluar dari tempatnya.


"Vin... kevin... Lo geser dikit, elo terlalu deket sama gue! "panggilku sebab risih.


Tak ada jawaban, malah aku mendengar suara orang mendengkur dengan sangat keras, suara itu berasal dari belakangku, apa itu Kevin? Tapi dia yang selalu menjaga penampilan, sikap dingin, mungkinkah juga bisa mendengkur?


Dan untuk memastikannya, aku memutar leher 90 derajat kemudian meliriknya, ternyata benar dia yang mendengkur.


Ahhah aku kembali tertawa, sumpah ini sangat lucu, baru kali ini aku melihat seseorang mendengkur.


Kemudian aku berusaha menyingkirkan kaki serta tangannya yang melekat pada anggota tubuhku, akan tetapi sekali lagi usaha itu gagal.


Kevin bukannya menjauh malah menarik tubuhku hingga kini kami sangat lengket dengan hanya terhalang oleh pakain kami.


Wajah Kevin mengelus-elus punggungku, membuat tubuhku menggelinjang.


"Ohh tuhan apa ini! Kenapa kejadian ini terjadi lagi sama gue! Kenapa harus gue yang terus jadi korbannya, kalau gini terus bisa-bisa gue yang tergoda sama Kevin!" gumamku dalam hati.


Aku mencoba menahan diri, hanya terus diam tak bergerak sedikitpun dalam posisi yang tidak nyaman ini.


Sedangkan Kevin kembali mendengkur setelah tadi berhenti sejenak ketika aku mencoba menjauhkan diri darinya.


Ahh sudahlah, sepertinya aku menyerah kali ini, dia mendengkur apa mungkin karena terlalu capek! Jadi untuk kali ini aku akan menjadi guling baginya.


Meskipun tak rela tapi aku sudah terperangkap sekarang dan tak bisa pergi karena aku yang memintanya untuk disini menemaniku.


"Sal.... " panggil Kevin.


"Hm... "jawabku.


Ketika tak ada lagi respon aku kembali menoleh, kevin ternyata masih tidur lalu kenapa dia memanggilku tadi? Apa dia memimpikanku?

__ADS_1


__ADS_2