Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Di Perebutkan.


__ADS_3

Pagi harinya aku terbangun karena cahaya yang menyilaukan dari celah pinggir jendela.


Ternyata hari ini masih sama seperti kemarin terbangun dirumah orangtua bahkan tak membuat sedikitpun tekanan batinku berkurang.


Bahkan matahari sudah sangat menyilaukan mata, kufikir hari ini akan menjadi hari yang melelahkan lagi bagiku.


Tapi satu hal yang bisa ku pastikan yaitu mulai hari ini aku tidak akan melihat Kevin, tak ada lagi sosok yang membuatku sangat kesal dan senantiasa mengamuk setiap saat.


Hari ini aku akan pergi kekampus, tapi belum seutuhnya menjadi mahasiswa karena belum dikukuhkan, jadi statusku sekarang masihlah calon mahasiswa.


***


Di kampus, aku berjalan dengan percaya diri, meskipun ku tau aku tak punya kenalan di kampus ini, tapi aku yakin nantinya aku pasti akan mempunyai teman yang banyak.


"Heii tungguin gue!" panggil seseorang dari arah belakangku.


Aku sontak menoleh kearah suara itu, mataku melotot memandangi orang yang memanggil dan kini berlari ke arahku.


"Elo!!! Kenapa lo lagi! Lo lagi!"


"Apasih! Emangnya gue kenapa? Pasti lo udah nggak sabar ya ketemu sama babang tampan kek gue! " candanya.


"What? Kayaknya elo butuh obat sakit jiwa deh!" cibirku.


"Hahah ada-ada aja lo! Ohh iya lo pasti lulus kan? Gue juga lulus loh.. Heheh"


"Hah! Ternyata dia lulus juga? Tapi pas ujian kok dia jawabnya kayak ngasal aja gitu ya?" batinku tak percaya.


"Oh... "jawabku malas.


Aku berjalan mengabaikannya, sedangkan dia hanya terus berceloteh tanpa titik, spasi dan koma.


"Salsa!!!" teriak seseorang lagi memanggil namaku.


Rupanya itu mereka, Lena, Dita, David dan juga Willy kedatangan mereka membuatku sangat terkejut apalagi mereka semua datang bersamaan menghampiriku.


"Salsa... " panggil Willy berbisik.


Aku seakan membeku tak bisa bergerak sedikitpun, tak ada lagi kata-kata yang mampu ku ucapkan untuk saat ini.


"Salsa... Lo pasti juga lulus kan! Skepo aja ya gaes, kita berempat juga lulus loh! Jadi Kita bisa sering-sering reunian dong! Yeah... " ucap Lena melompat bahagia.


Aku tertawa kikuk, "Ahhah oh ya!!! bagus deh kalau kayak gitu! "


"Sal... Dia siapa?" Tanya Dita menyadari kehadiran Reno yang berdiri disampingku


"Ohh.. Hy salam kenal gue Reno teman barunya Salsa!"


Mereka kemudian berkenalan semua, tanpa sadar ekor mataku menangkap Willy yang terus memandangiku, hingga aku merasa salah tingkah, menggaruk kepalaku yang tidak gatal


"Sal... Gimana kabar lo?" tanya Willy membuat kaget.


"Gu-gue baik kok, kalau lo gimana?" tanyaku balik.


"Lah...kok kalian kayak canggung banget sih! Kayak baru kenalan aja!" Kata David bingung melihat tingkah kami.


"Itu karena dia kemar.... Mmbbkk"


Dengan cepat aku menutup mulut Reno yang hampir membocorkan kejadian kemarin pada mereka.


"Sal... Hubungan kalian kayaknya bukan sekedar temanan yah? Apa jangan-jangan ini pacar lo? Wah... Salsa punya pacar baru tapi nggak ngasih tau kekita gaes?" lirih Lena.


Willy seketika melototiku, dia seakan terkejut ketika Lena mengatakan hal itu.


Karena terlalu panik, aku sampai melakukannya, lalu ketika Lena mengatakan itu dengan cepat aku menarik kembali tanganku yang menempel di mulut Reno.


"Hah... Pacar? Maksud elo Dia? Ya nggak mungkin lahh Dita, lagian gue udah punya su.... "


Aku hampir saja kecoplosan mengatakan mempunyai suami, dan jika itu terjadi mungkin mereka semua tidak mau lagi berteman denganku jadi lebih baik aku tak memberitahunya.


"Su... Apaan sih Sal.... Lo kayak nyimpan sesuatu ya dari kita" curiga Dita.


Aku tertawa kaku, "Ahhah eng-nggak kok! Itu cuman perasaan lo aja!" elakku.


"Sudahlah lebih baik kita masuk aja lagian hari ini kan cuman di kasih almamater kampusnya terus kita bisa Cepat-cepat pulang!" seka David.


Sesaat kemudian setelah kami mengambil almamater sesuai ukuran masing-masing, akhirnya kami mau pulang, Dita dan Lena


pulang bareng David karena jalan rumah mereka searah.


Kini kami tinggal bertiga, Reno, aku dan Willy, suasana canggung menghampiri kami, Reno yang tadinya ceplas-ceplos entah kenapa menjadi pendiam sekarang.


Sedangkan Willy juga begitu, dia tak seperti Willy yang kukenal ketika masih duduk di bangku SMA, terkadang mataku meliriknya, dia sering kali terpaku seperti sedang memikirkan sesuatu.


Ini membuatku merasa aneh apalagi aku yang berdiri di antara mereka, tak ada yang bisa ku lakukan selain melirik mereka secara bergantian.

__ADS_1


"Ehhem, Kalian nggak pulang?" tanyaku berusaha memecah keheningan.


"Gue mau nganter lo pulang!" ucap Reno dan Willy secara bersamaan.


"Hah? Kenapa mereka bisa sama-sama ngucapin kalimat yang sama persis?" batinku.


"Ehh... " lirihku tercengang.


"Kalian kok kompak banget! Janjian lewat batin ya!" candaku.


"Ahhaha " Tawa mereka berdua.


Dalam hati aku merasa senang karena bisa mencairkan suasana yang tampak aneh ini.


"Elo nggak berubah sama sekali ya Sal... " imbuh Willy.


Perasaanku perlahan tak merasa gelisah lagi dengan pertemuanku dengan Willy kali ini, dia juga tak membahas soal pernikahanku jadi kufikir dia masih belum tau tentang statusku sekarang yang sudah menikah.


Jadi persahabatanku mungkin bisa saja kembali seperti yang dulu, itulah harapanku.


"Elo kira gue gue apaan, power rangger? Hahah ada-ada aja lo!" balasku.


"Kayaknya kalian ini dulunya akrab ya?" selidik Reno ditengah-tengah perbincanganku dengan Willy.


"Iya dong! Kan dulu kami sahabat iya kan Will... " dengan merasa percaya diri aku mengatakannya sambil merangkul Willy namun aku tak menyangka ketika aku mengatakan kata 'Sahabat' sekilas aku melihat ekspresi Willy tampak kecewa.


Dengan cepat aku menarik kembali tanganku, "Ehh sorry-sorry Will.... " Dia hanya diam menunduk seraya mengangguk menanggapi maafku.


"Ohh gitu! Ya udah Sal... Pulang bareng gue yuk!" ajak Reno.


"Nggak, Kali ini Salsa pulang bareng gue!" serkah Willy.


"Ya nggak mungkin lah...gue duluan yang ngajak Salsa...." ujar Reno.


Mereka berdua memperebutkanku terus hingga aku merasa risih dengan keributannya, "Diam!!!" tegurku keras membuat mereka berdua tak berisik lagi.


"Kalian nggak usah nganterin gue! Gue bisa pulang sendiri!"


"Sal... Please, kali ini aja lo mau pulang bareng gue!" pinta Willy memelas memohon.


"Tapi Will... " keluhku.


"Sal... Please... " pintanya lagi.


Reno cemberut mendapatkan jawabanku, tapi sudahlah! Aku juga mau bagaimana lagi karena aku tak mau lebih mengutamakan teman baru dari pada teman lama, sebab teman lama tentunya sudah sangat akrab dengan hidupku.


***


Diperjalanan ini aku menaiki mobil Willy, tak ada pembahasan yang bisa kami paparkan, hanya keheningan dan suara klakson mobil melaju lalang yang berusaha mengisi keheningan dan kecanggungan dalam mobilnya ini.


"Ee... Will sejak kapan lo punya mobil?" tanyaku.


Awalnya aku tak berharap dia membalas ucapanku karena ku fikir dia hanya fokus kedepan dengan sesekali melirik ke arahku.


"Ohh... Mobil ini sebenarnya udah cukup lama sih! Sekitar 1 bulan yang lalu, biasalah dari nyokap katanya biar gampang aja kekampus gitu!" jawabnya.


"Ohh... " jawabku singkat tak tau lagi mau bertanya apa.


Sebenarnya ada banyak yang ingin kupertanyakan padanya termasuk Bagaimana hari-harinya ketika kami tidak bertemu dan masih banyak lagi, namun mengingat hubungan persahabatan kami yang tidak seperti dulu membuatku mengurungkan niat untuk melakukannya.


Keheningan kembali muncul, akan tetapi tiba-tiba Willy menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Lohh... Will kok lo berhenti disini?" tanyaku bingung.


Tiba-tiba Willy meraih dan menggenggam kedua tanganku, "Sal... Lo tau nggak gue kangen banget sama lo! Kenapa lo menghindar terus dari gue? Gue salah apa sama lo Sal...?" Lirihnya membuatku ingin menangis dan segera memeluknya.


Tapi apa daya, aku tak mungkin melakukan, "Will gue jug.... "


"Sal... Ini cincin apa?" Tanya Willy memotong ucapanku ketika menjatuhkan pandangannya mengenai cincin dijari manisku.


"Hah! Cincin itu...."


Aku sama sekali tak menyadari cincin ini masih melekat erat dalam jemariku dan tak pernah ku lepaskan, tapi entahlah kenapa aku bisa tak menyadarinya.


Awalnya aku masih risih dengan keberadaan cincin ini tapi seiring berjalannya waktu aku sampai lupa akan hal itu.


Malahan sekarang aku sudah merasa nyaman memakainya.


"Ehh... Will itu ada cafe...kita mampir di situ yuk kebetulan gue lapar banget dari tadi perut gue udah nagih makan loh!" ucapku menunjuk kesebuah cafe yang terletak di seberang jalan, guna mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ehh lo lapar? Ya udah kita kesana aja, hari ini biar gue yang traktir!"


Aku merasa lega, Untunglah trikku berhasil mengalihkannya, "Cie udah jadi nack sultan nih yehhh" candaku.


"Hhah lo ngejek gue ya? Mentang-mentang dulu gue minta ditraktir terus! "

__ADS_1


"Hahah enggak kok gue cuman bercanda doang Lo udah baper aja! Ya udah kita mending kesana aja deh! Daripada entar gue keburu pingsan!" ajakku.


Willy hanya mengangguk, lalu kami keluar dari mobilnya, karena banyaknya mobil yang lewat didepan kami, tiba-tiba Willy memegang tanganku mengajakku berjalan bergandengan tangan menyebrangi jalan.


"Nah... Kita sampai!" ucap Willy ketika kami kini sudah berdiri didepan Cafe.


Tanpa basa-basi lagi kami masuk, kemudian memesan.



Tanpa sadar, ternyata Willy yang duduk disampingku sejak tadi terus memandangiku sambil tersenyum.


Aku tau itu ketika tak sengaja meliriknya dari ekor mata, sontak aku merasa gugup dan salah tingkah apalagi melihat senyumnya itu mampu membuat pendirianku mulai goyah.


"L-lo ngapain liatin gue?" tanyaku terbata.


"Hm... Lo masih kayak dulu Sal... Tetep cantik!" jawabnya.


"Ya iyalah, dari lahir gue emang udah cantik, tapi lo kok nanya gitu sih! Apa jangan-jangan lo ngaharapinnya gue sekarang jelek ya?" jawabku dengan kesan bercanda, agar aku tak baper lagi seperti dulu.


"Gue serius loh!"


"Oh... Ya udah makasih!" ketusku.


Sesaat kemudian makanan datang dan dihidangkan tepat didepan kami.


"Sal.... "


"Ehh makanannya udah datang, lebih baik kita makan aja dulu! Nanti makanannya keburu dingin!" potongku cepat sebelum Willy mengatakan sesuatu.


Jujur! Aku merasa sangat tidak nyaman ketika dia banyak bertanya, apalagi setiap dia menyebut namaku seolah aku ingin menangis mendengarnya.


"Ya udah kamu makan aja!" lirih Willy


"Lo nggak mau makan?" tanyaku heran ketika melihat Willy hanya mendorong piring makanan yang ada dihadapannya.


"Gue masih kenyang kok! Jadi lo makan aja!"


"Will lo nggak usah bohong deh! Lo makan aja, itu muka lo udah tirus banget kayak tinggal tengkorak doang!"


"Ahk gue diet!" alasannya.


"Hah? Lo diet! Wahh kentara banget bohong lo tau! Gue kenal lo tuhh udah lama, jadi nggak mungkin lo bisa nahan makan dalam sehari! Udah pokoknya lo makan, kalau lo nggak mau, gue juga nggak bakalan makan!" tegasku.


Willy melongo, menghela nafas panjang kemudian menarik kembali piringnya, "Ya udah gue makan! Elo makan juga" balasnya.


Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju rumahku, suasana didalam mobil sama persis dengan yang tadi.


"Salsa...gue mau ngomong sesuatu!" ujar Willy ditengah keheningan.


"Hm... Lo mau ngomong apa?"


"Gue mau minta maaf sama lo!"


Aku masih tidak paham dengan permintaan maafnya yang tiba-tiba itu, aku mengerutkan sebelah mata menatapnya heran, begitu pula dia yang membagi dua titik fokusnya antara jalan dan aku.


"Maaf? Lo minta maaf soal apaan?"


"Itu... Itu soal dulu waktu gue ngutarain perasaan gue sama lo didepan umum, Nayla marah dan keroyokin elo sampai masuk rumah sakit dan nggak sadarin diri beberapa hari, sumpah! Sal... Sampai sekarang gue merasa bersalah banget sama lo!" jelasnya.


"Ohh itu, lo nggak usah minta maaf karena merasa bersalah Will, lagian kan gue masih bisa bernafas sampai detik ini heheh!"


"Seharusnya gue yang harus minta maaf sama lo Will, karena gue! lo banyak ngerasain penderitaan dan lebih parahnya gue udah sering buat lo kecewa!" batinku lirih.


"Makasih ya Sal... Ohh iya waktu itu elo nelfon gue tiba-tiba terus elo mau bilang sesuatu tapi hape gue langsung mati! Jadi maaf ya, tapi gue juga pernah kerumah elo loh... Gue lihat elo naik ke mobil orang tapi gue nggak tau itu siapa, jadi gue temuin nyokap lo, katanya elo mau keluar negeri? Tapi kok sekarang elo ada disini sih!" tanya Kevin sekaligus menjelaskan alasan waktu itu kenapa dia langsung memutuskan panggilan kami.


Aku gelisah sekarang tidak tau harus menjawab apa, Bisu mulai menguasai diriku, tapi apa sebaiknya aku memberitahukan statusku padanya? Agar tak terjadi lagi kesalahpahaman antara kami.


"Will... Sebenarnya gue udah menikah... "


"Hah? Nggak, nggak mungkin elo pasti bercanda lagi!" ucapnya tak percaya.


"Will sumpah gue udah nik... "


"Stop!!! Sal... Please jangan ngucapin kalimat itu lagi sama gue! Sampai kapan pun gue nggak bakalan nganggap elo udah punya suami, karena gue nggak mau itu terjadi, gue nggak rela elo nikah sama orang lain Sal... " serkahnya.


Mataku sudah mulai berkaca-kaca, "Will gue emang udah nikah, gue udah sah jadi istri orang! Dan sampai kapanpun status gue udah nggak bisa kembali kayak dulu!" tegasku lagi


"Nggak sal.... Pokoknya enggak! Gue nggak bakalan percaya!!!, dan kalau pun elo udah nikah gue bakal rebut elo dari dia!!! " teriak Willy lantang sambil memukul-mukul setir mobilnya.


"Will lo udah gila ya? Lo bukan Willy yang gue kenal dulu, lo udah beda Will, berhenti sekarang! Gue mau turun, Elo nggak usah nganterin gue pulang!" balasku kesal.


"Nggak gue nggak bakal biarin elo turun!"


"Gue bilang berhenti!!! " teriakku.

__ADS_1


__ADS_2