
Tanpa sadar aku malah menelan saliva hasil ciuman kami, bahkan dia tak terlihat merasa bersalah pada saat melepaskan ciumannya, ketika aku baru saja mendapatkan sesuatu yang membuatku sangat senang.
"Ke-kevin kenapa kau melepaskan...."
"Hn... Ada apa Sal?" tanya datar Kevin menatapku.
"Ahh tidak...." elakku menahan diri.
"Jangan bilang kamu mau melanjutkan yang tadi?"
"Ehh tidak-tidak!" elakku lagi menggeleng beberapa kali dengan cepat.
"Hm... Baiklah lebih baik kita tidur sekarang!" ujarnya mulai memejamkan mata.
"Apa! Langsung tidur? Apa dia tidak mau melakukannya? Apa aku kurang menggoda ketika di lihat? Ahh Kevin... Dia membuatku bingung, disaat aku ingin melakukannya, kenapa malah sekarang dia tak merasa tertarik!!!" lenguhku dalam hati.
"Kevin... Aku belum mengantuk! Aku masih ingin bertanya sesuatu padamu!"
Perlahan ia membuka mata, mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa?"
"Aku ingin bertanya Apa kamu benar-benar mencintaiku?"
"Kenapa kamu harus bertanya pertanyaan konyol seperti itu! Bukannya ini sudah jelas sekarang, aku bahkan terlihat kurus karena terus memikirkan dan mencarimu kemana-mana!" ungkapnya.
"I-iya aku juga tau itu, tapi Vin... Asal kamu tau di balik insiden Clara menusuk dirinya sendiri itu sebenarnya...."
"Sal... Sudahlah... Untuk sekarang tidak usah membahas dia lagi, aku benar-benar muak dengannya, biarlah malam ini akan menjadi malam panjang kita berdua mencurahkan hati masing-masing!" potongnya.
"Tapi aku harus memberitahumu ini, karena ini lebih penting bagiku!" tegasku meyakinkannya.
Awalnya Kevin terlihat ragu, namun kemudian ia mengangguk membuatku dengan cepat menjelaskan detailnya, " Waktu itu Clara bertanya soal, apakah kamu pernah mengatakan mencintaiku? Lalu kujawab tidak karena kamu memang tak pernah mengatakannya didepanku! Terus dia bilang bahwa aku yang terlalu keegeran jadi aku marah, aku terus melawan kata-katanya, tapi kemudian ia mengambil pisau terus menusuk dirinya sendiri, aku heran kenapa dia harus melakukan hal-hal yang bisa saja membuat nyawanya melayang, namun aku baru sadar kalau terkadang cinta bisa membuat orang menjadi gila!" paparku.
Kevin tersenyum mendengarku, ia memelukku lebih erat daripada sebelumnya, "Aku baru tau kalau kalian bertengkar hanya karena masalah aku tidak pernah mengatakan mencintaimu? Baiklah mulai sekarang aku akan lebih banyak mengatakannya, Jadi dengar baik-baik, aku mencintaimu Sal... Aku mencintai kamu yang keras kepala ini, aku mencintai kamu yang bermulut kasar tapi itu dulu sekarang sepertinya sudah di amplas jadi lebih halus!" candanya memberi pengakuan.
Aku terkekeh bahagia, " Heheh Aku seperti itu karena punya suami yang super duper menyebalkan, hanya tau memasang muka datar, aku bahkan pernah merasa apa aku di nikahi oleh zombi?" Aku mencibir membalas godaannya.
"Tapi sepertinya sekarang sudah berubah, suamiku yang bermuka datar kini terlihat lebih tampan dengan senyuman yang membuatku merasakan kehangatan dan aku malah lebih menyukai dia yang sekarang." lanjutku memujinya.
"Mmk... Sayang! Aku berharap kita akan selalu seperti sekarang!" pintanya dengan manja.
__ADS_1
"Sayang? apa dia baru saja memanggilku dengan sayang? ahh dia membuat hatiku serasa langsung meledak mendengarnya... Kevin! kenapa kali ini kamu datang selalu membuatku merasakan mabuk asmara." batinku.
"Aku juga berharap seperti itu Vin... aku janji jika ada masalah aku tidak akan kabur lagi seperti sekarang! aku akan pastikan kamu adalah orang pertama yang akan tahu jika aku mendapatkan masalah!" ungkapku.
"Aku juga akan berusaha seperti itu, Kalau begitu lebih baik kita tidud sekarang! aku sangat lelah hari ini!" ucapnya.
"Tunggu dulu Vin..." sekaku.
"Ada apa lagi Sal... kamu masih belum mengantuk?"
"Ahh tidak, aku masih ada pertanyaan!"
"Pertanyaan apa lagi, kan ini buka sidang Sal... kita tidur saja dulu! besok pagi baru kamu ajukan pertanyaan kamu itu!" imbuh Kevin dengan nada mulai kesal.
"Ini pertanyaan terakhir aku Vin... aku janji kalau kamu sudah menjawabnya aku akan tidur!"
Pada akhirnya Kevin pasrah dan mengiyakan ucapanku, "Aku masih penasaran kenapa kamu bisa muncul disini kan tidak masuk akal jikalau ini disebut kebetulan kamu tau aku tinggal dinegara ini? terus kenapa kamu lama sekali menemukanku?" tanyaku.
"Aku... datang Kesini karena memang ada urusan dan tadi itu aku baru saja dari rumah salah satu kenalanku, terus lihat kamu! awalnya aku tidak terlalu mengenalimu tapi kemudian lampu mobil membuat wajahmu terlihat lebih jalas jadi tadinya itu aku memanggil-manggil namamu tapi kamu sama sekali tak menyahut, bahkan kamu tidak menghindari mobil itu! dasar ceroboh!" katanya.
"Dan kalau soal pertanyaanmu yang kedua! sebenarnya 4 tahun yang lalu, aku bertemu ayahmu, terus dia menghalangiku mencarimu katanya kamu akan pulang setelah sukses, ayahmu juga mengatakan kepadaku, kalau kamu tidak mau di ganggu, bahkan ayahmu mengancamku kalau sampai mencarimu dia akan membuat kita benar-benar berpisah, yah di saat itulah aku benar-benar merasa tak bisa berbuat apa-apa! tapi ini sungguh takdir kita Sal... yang pada akhirnya di pertemukan kembali!" sambungnya memberi penjelasan.
"Sal... bukankah tadi kamu bilang sendiri, kalau aku sudah menjawabnya kita akan langsung tidur?" elaknya membuatku merasa bingung terdengar ada sesuatu yang di sembunyikan, tapi apa? aku sama sekali tak mau menebak hal-hal yang bisa membuatku tertekan.
"Sekali ini aja Vin... kalau selesai! aku akan benar-benar tidur!"
Sayang sekali aku malah mendapatkan suara orang ngorok sebagai jawaban, "Kevin... bangun!!! aku tau kamu belum tidur! kalau kamu tidak menjawabnya aku akan... ahh... aku akan melompat dari jendela sekarang juga!" kataku mengancam sesaat setelah mendapatkan ide.
"Hufh Iya Sal... orangtuamu baik-baik saja! ayo kita tidur sekarang! aku sudah sangat mengantuk hoah!" jawab Kevin dengan mata yang masih tertutup sambil menguap.
Ahh... aku sudah lega mendegarnya, kalimatnya sesuai dengan harapanku, pertanyaan yang sekian lama membuatku khawatir akhirnya terpecahkan.
Tapi entah kenapa aku masih merasa sedikit takut, aku takut ada yang mereka sembunyikan di belakangku, apalagi aku tidak pernah sekalipun melihat mama secara langsung.
"Sudah Sal... ayo tidur!" ucapnya lagi mengelus punggungku.
Aku menghela nafas, kemudian perlahan memejamkan mata dalam pelukannya, Tak lupa aku tersenyum menyambut kehangatan yang Kevin berikan.
Dan kini aku juga berniat membalas pelupakannya, kami tidur berpelukan disepanjang malam, saling memberi kehangatan menghalangi hawa dingin yang seakan menusuk.
__ADS_1
***
Esok paginya, aku terbangun meraba kesamping mendapati Kevin yang sudah tidak ada disampingku.
"Kevin..." panggilku mencarinya, celingak-celinguk menatap setiap sudut ruangan.
"Kemana dia? apa sudah pergi? tapi kenapa dia tidak pamit dulu padaku?" gumamku bertanya pada diri sendiri.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu hotel berbunyi, dengan cepat aku membuka pintunya, " Siapa?" tanyaku tak menyadari bahwa pintu yang tadu malam di kunci oleh Kevin sekarang malah bisa langsung dibuka.
"Surprise.... selamat ulang tahun sayang!" ucap seseorang yang kini berada di ambang pintu yang tak lain dan tak bukan adalag Kevin yang membawa sebuket bunga.
"Ahh Kevin... bagaimana bisa kau..." Aku sangat kaget! saking terkejutnya mataku melotot, mulutku yang menganga kututup dengan telapak tanganku.
"Maaf aku telat mengucapkannya, seharusnya aku berbuat seperti ini kemarin tapi kita bertemunya di malam hari, tapi tidak apa-apa kan?" lirihnya.
Aku dengan bahagianya menerima bunga tersebut, "Tidak apa-apa Vin... justru aku senang karena kamu mengingatnya! terimakasih!" ucapku.
Setelah itu aku menatapnya, kemudian menarik lengannya agar masuk dan tidak hanya berdiri didepan pintu.
"Makasih Vin..." ucapku lagi menatapnya, lalu turun kebibir miliknya, aku merasa ingin menciumnya sekarang! biarlah aku di anggap agresif sebagai tanda terima kasihku.
"Kevin..."
Aku melingkarkan tanganku di perutnya, medekatkan bibirku didepan bibirnya memberi ciuman sekilas dengan memejamkan mataku.
"Salsa... kapan kamu belajar jadi gadis nakal?"
ujarnya menyindir.
Aku tak merespon! Malah ciumanku menjadi ganas dan dia dengan gesitnya mengambil alih lebih agresif dariku.
Tiba-tiba Kevin mendorongku di atas ranjang tanpa melepaskan ciuman kami, "Sepertinya kamu sudah sangat siap ya Sal? dari tadi malam aku bukannya tidak peka dengan gelagatmu tapi aku hanya menahan diri dan ingin melihat secara langsung perubahanmu ini!" tuturnya menggoda.
Kini aku yakin wajahku sudah memerah, tapi aku tak perduli, "Tidak usah berbasa-basi lagi Vin!" ujarku.
__ADS_1