Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Nafsu


__ADS_3

Halo para readers tercinta, mohon maaf nih! untuk readers yang masih di bawah umur harap menepih dulu yah, karena di part ini ada cerita dewasanya 🙏, dosa bukan author yang tanggung heheh karena dosa author sendiri juga udah menumpuk Wkwk🤣🤣


***❤❤❤


Clara kembali menangis, sambil memohon-mohon di depanku, tapi aku tak merasa iba sedikitpun.


"Apa lagi? Aku sudah memberimu uang! Jadi silahkan kamu pergi, rumah ini tak bisa menyambut orang sepertimu!" cibirku membuang muka.


"Kevin! Kali ini saja aku menginap di tempatmu, aku janji aku bakal pergi kalau hubungan kami sudah lebih baik!" lirihnya.


"Apa kamu tidak tau malu! Aku sudah bilang aku tidak bisa membiarkanmu menginap dirumahku!" ucapku tegas


Karena kesal, aku langsung menutup pintunya, tak perduli dengan Clara yang masih berada diluar


Tok tok tok


"Kevin!!! Aku mohon!!" pintanya berteriak seraya terus mengetuk pintu.


"Pergilah, berapa kalipun kamu mengetuk dan memanggil namaku, aku tidak akan membuka pintunya!"


"Aku tidak akan pergi Vin! Aku akan tetap menunggu di sini" jawabnya dari luar.


"Terserah!" ketusku kemudian langsung kekamar.


Dertt... Dertt... Derttt...


Ponselku seketika berdering ternyata ada panggilan dari rumah sakit lagi, mungkin karena terlalu sering absen kesana, dansekarang aku sendiri yang merasa repot! Aku tau aku pemiliknya tapi tugas tetaplah tugas dan sudah menjadi kewajiban menjadi seorang dokter.


Aku bergerak cepat, setelah memastikan semuanya sudah siap aku turun dan melangkah ke arah pintu.


Ketika aku membuka pintunya, ternyata Clara masih ada diteras rumahku, aku terkejut sekali ku fikir tadinya ia akan pergi karena sudah ku beri uang dan mengusirnya.


"Kevin! Akhirnya kamu membuka pintu untukku!" ujarnya tersenyum kegirangan


Aku mengerutkan dahi, "Kenapa kamu masih disini! Aku sudah mengusirmu jadi silahkan pergi! Ohh iya aku tidak membuka pintunya untukmu, aku hanya ingin ke rumah sakit, jadi jangan terlalu berharap!" balasku datar.


Dia kembali meneteskan air mata, sambil tertunduk, tapi aku mengabaikannya dan langsung pergi menuju mobil.


Ketika aku mulai melajukan mobilku Clara berteriak, "Aku akan menunggumu di sini Vin!"


Namun aku pura-pura tak mendengarnya, malah aku hanya fokus ke arah jalan, meliriknya hanya bisa membuatku kesal apalagi suasana hatiku yang lagi badmood membuatku ingin membanting sesuatu.


***


Ketika dirumah sakit, aku menjadi lebih sial lagi ini memang pertama kalinya aku membatalkan jadwal selama beberapa hari dan sekarang jadwal operasiku sudah sangat menumpuk.


Sebenarnya dirumah sakit ini ada lima orang spesialis jantung tapi pasien sendiri yang terkadang menunjukkan sebagai orang yang akan mengoprasinya.


Aku sama sekali tak bisa menolak karena sudah kewajiban, keselamatan pasien yang sangat di nomor satukan.


Hingga larut malam, sekitar jam 2 pagi dini hari, aku baru bisa pulang, berkendara saat mengantuk sama sekali tak pernah kurasakan, entahlah jika di bilang aneh mungkin ada benarnya, tapi ini memanglah faktanya karena sudah terbiasa jadi rasa mengantuk itu seakan tak bisa menggangguku berkendara.


Saat sampai didepan rumah, Clara ternyata masih terduduk di teras depan rumah, aku tak menyangka dia belum pergi.


Namun tiba-tiba aku teringat bagaimana perasaanku ketika Salsa mengusirku kemarin, apa seperti itu yang di rasakan Clara saat ini? Fikirku.


Aku memasukkan mobil kedalam garasi, kemudian berjalan ke arah pintu, akan tetapi seketika Clara memelukku sambil terisak.


Aku terkejut, dia membenamkan wajahnya di dadaku, "Kevin! Aku mohon kali ini aja" pintanya.


Untuk sekarang kini timbul perasaan kasihan padanya mungkin karena tau bagiamana rasanya di usir atau apalah tapi aku tak bisa lagi menolaknya.


Perlahan aku melepaskan diri dari pelukannya lalu membuka pintu, "Masuklah!" ajakku.


"I-ini beneran Vin! " sahutnya bahagia.


Aku tak menjawab melainkan langsung masuk begitu saja namun ketika hendak menaiki tangga aku baru menoleh ke arahnya.


"Kamu bisa tidur di kamar tamu!"


"Makasih ya Vin! Ohh iya Salsa kemana? Kok aku tidak pernah melihatnya?" Tanya Clara.


Aku melenguh malas tak ingin sekali rasanya membahas Salsa dengan dia, "Dia tidak ada!" jawabku di sela melanjutkan langkah menaiki tangga.


"Dia kemana?" tanyanya lagi membuatku kesal.


"Kenapa kamu ingin sekali mengetahuinya!!!" gertakku dengan suara tinggi.


"O-oke! Aku tidak akan bertanya lagi! " balas Clara bergidik takut.


Akhirnya di masuk kedalam kamar tamu, sedangkan aku juga begitu.

__ADS_1


Aku merebahkan diri diatas kasur dengan posisi kaki masih menyentuh lantai, rasa mengantuk dan lelah kian mulai menguasai diriku.


Hingga kemudian aku mematikan lampu, lalu menggulung diri di dalam selimut, namun ketika aku ingin menutup mata, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu lalu mengendap-endap masuk ke dalam kamarku.


"Apa jangan-jangan itu Clara? Kan cuman kami berdua di rumah ini! Itu sudah pasti dia, tapi kenapa dia masuk ke kamarku? Apa sebenarnya tujuan dia masuk kesini?"


gumamku dalam hati terus terus di geruguti pertanyaan itu.


Dia semakin dekat, aku masih pura-pura memejamkan mata agar dia tak menyadarinya, hingga aku merasakan hemburan nafas di wajahku, aku terkejut dan langsung membuka mata.


Dan benar saja, ternyata wajahnya sangat dekat dengan wajahku, matanya terpejam dengan bibir yang sedikit di tonjolkan.


Aku kaget, apa dia mau menciumku? Dengan cepat aku mengayunkan tangan menamparnya.


Dia terlonjak, dan langsung berdiri, sedangkan aku dengan penuh emosi menghidupkan lampu dan berdiri juga di hadapannya.


"Kenapa kamu bisa disini!!!"


"Ke-kevin! Ka-kamu belum tidur?" tanyanya terbata kaget.


"Ohh... Emangnya kenapa? Apa kamu mengira kalau aku tidur! Kamu bisa menciumku tanpa izin?" selidikku kesal.


"Kevin! Itu...anu... Bukannya dulu kita sering melakukannya, Waktu kita pacaran kamu tidak pernah menolakku untuk berciuman! Tapi kenapa sekarang kamu tidak mau lagi melakukannya denganku?" Mata Clara mulai berkaca-kaca lagi.


Aku sangat marah, tak bisa lagi mengontrol emosiku padanya, karena itu aku memegang keras dagunya, "Jangan mengungkit masa lalu didepanku! kau tau, kau adalah wanita yang paling menjijikan di dunia ini, bahkan kau tak lebih baik dari seorang wanita pel*cur!" cibirku pedas.


"Kevin! Aku melakukan ini karena merindukanku, biarlah aku menjadi orang yang seperti kamu bayangkan asal aku bisa kembali padamu!" lirihnya.


Aku menghela nafas tak percaya bahwa wanita seperti dia ternyata semurahan ini.


"Clara! Jujur aku sangat menyesal mengenalmu! andai saja aku tau sikap kamu yang seperti ini mungkin aku tidak akan terpikat oleh godaan kamu dan akhirnya kita menjalin hubungan, aku menyesal sangat-sangat menyesal." balasku lagi.


"Kau boleh menyesal sekarang! tapi itu sudah terjadi di masa lalu Vin! Kita tidak bisa mengubahnya, tapi perasaanku di masa lalu tetaplah sama sampai detik ini!" imbuhnya.


Aku terdiam, tiba-tiba Clara langsung mendorongku diatas ranjang, aku sempat kaget apalagi saat ini dengan beraninya ia menindihku, tangannya tak bisa diam, dia terus meraba tubuhku yang masih terbungkus kaos.


Aku adalah lelaki normal, jadi wajar kalau aku akan langsung tergoda dan bernafsu, hingga tangannya turun menyusuri celana pendekku.


Meraba, mengelus lembut kejant*nanku, aku mendesah dalam hati, walau ingin menolak akan tetapi nafsu sudah menguasaiku.


Tak ada yang bisa ku lakukan selain hanya diam dan mendesah kecil dengan kelakuan Clara yang mampu mengubahku menjadi laki-laki brengs*k .


"Bagaimana? Kamu tergoda kan Vin!, kalau kamu mau aku bisa memuaskanmu sekarang!" lirihnya dengan sesekali menjilat bibirnya sendiri.


"Hentikan!!!" ucapku setelah mendapatkan kewarasanku.


"Kenapa Vin! Ayolah aku tau kamu sudah tidak tahan! Aku janji biar aku yang lebih agresif malam ini! "godanya.


Untuk kali ini aku berusaha menahan nafsuku, jangan sampai aku tergoda lagi dengan perempuan jal*ng yang ada diatas tubuhku ini, fikirku.


"Clara! Aku bilang hentikan!!" gertakku lagi.


"Vin! Percaya padaku, aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya kenikamatan yang sesungguhnya"


Sebelum aku menjawab Clara tiba-tiba berdiri, ku fikir dia sudah sadar akan kelakuannya ini, tapi ternyata tidak, dia berdiri lalu membuka pakaiannya.


Dan kini tersisa hanya ada celana dalam, dan BH yang membungkus payud*ranya, aku tercengang kaget.


Sumpah! ini sebenarnya pertama kalinya aku mengalami dan melihat semua ini, sungguh tak terduga dengan yang namanya cinta dimasa lalu dia rela melakukan ini hanya untukku?


Aku bukannya terharu atau merasa bangga bahkan aku yang tadinya terbawa nafsu kini benar-benar sudah hilang.


Aku merasa jijik dengannya, mungkin ini memang sikap aslinya, namun aku tidak menyadari itu semua di masa lalu.


"Vin! Tolong bukain dong!" pintanya merayu sambil pay*daranya padaku.


"Clara, hentikan aku mohon jangan seperti ini, aku tau aku menyesal mengenalmu, tapi kamu juga tidak perlu melakukan ini semua! Karena status kita sekarang sama! Sama-sama sudah mempunyai pasangan." jelasku menahan emosi.


"Aku tidak perduli! Yang penting malam ini kita akan bersenang-senang bersama!"


"Tapi aku tidak mau, bahkan menyentuh sejengkal tubuhmu saja sudah membuatku jijik! Clara kenapa kau harus melakukan ini!"


Akhirnya dia kembali menegakkan badannya.


"Kevin! Berapa kali aku harus bilang aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu! " jawabnya serius.


"Ohh apa ini yang kamu maksud mencintai? Aku tak habis fikir sama kamu Clara! Apa kamu tidak cukup mengkhianatiku di masa lalu?, dan sekarang kamu mau menghianati orang sebaik kak Syam lagi!"


Clara menangis tersedu-sedu didepanku, dia menjambak rambutnya sendiri, berteriak-teriak seperti orang gila.


"Akh... Aku tidak perduli! Aku sama sekali tidak perduli!!! Aku sudah bilang sama kamu Vin! Aku tidak pernah mencintai kakak sepupumu itu, aku hanya mencintai kamu!"

__ADS_1


"Terus kenapa juna bisa ada kalau kalian tidak saling mencintai? Ku fikir kalian adalah keluarga harmonis, tapi ternyata aku salah menilai kalian bahkan dulu aku hampir ingin membunuh kak Syam karena kamu menghianatiku! Tapi sepertinya aku salah lagi, karena mungkin kamu yang menggodanya duluan kan?" cibirku.


"Kevin! Hentikan kamu tidak tau apa yang terjadi sebelumnya jadi ku mohon Jangan menganggapku seperti itu."


Aku berdecak tak percaya dengan kalimat yang baru saja ia katakan.


"Sudahlah Clara, ini sudah terbukti jika di lihat bagaimana kelakuan kamu sama aku tadi!"


Dia terdiam, bibirnya bergetar menahan tangis, tapi aku masih menganggap itu hanyalah sandiwaranya dia.


Kemudian aku melirik sekilas tubuhnya yang setengah tel*njang, lalu aku menarik selimut dan melemparkan selimut itu padanya.


"Pakai! Dan keluar dari kamar aku sekarang juga!" perintahku.


"Kevin!" panggilnya lirih.


Aku berbalik badan, "Sekalian bawa semua pakaianmu! Aku sudah muak melihat muka mu itu." ucapku lagi.


Clara tiba-tiba memelukku dari belakang melingkarkan tangannya di perutku, dengan tubuh setengah polosnya itu, aku sungguh tak menduga ini terjadi lagi padaku.


Tanpa merasa tak bersalah Clara malah menggesek-gesekkan tubuhnya dengan penuh nafsu, sambil mengeluarkan suara desahan dari mulutnya sendiri.


"Kevin! Ku mohon aku sudah tidak tahan!" ucapnya mendesah.


Aku menghela nafas panjang, kegilaan ini membuatku ingin segera membunuh orang, pasalnya dia tidak seperti ini sebelumnya, dia adalah orang yang ramah dan penuh kelembutan serta sangat perhatian dan itu yang membuatku luluh.


Tapi ternyata penilaianku salah besar, dia sekarang seperti wanita jal*ang tanpa harga diri.


"Clara lepaskan! Apa maumu? Apa kamu hanya ingin uang?" kataku menahan emosi.


Clara akhirnya menghentikan gerakan tubuhnya itu, namun pelukannya masih tak dia lepaskan.


Malah dia membenamkan wajahnya di punggungku, "Kevin! Hidupku sekarang sudah berkecukupan, aku sudah memiliki semuanya hanya saja aku kurang satu hal, yaitu kamu! Perasaan aku tidak pernah hilang Vin! Tidak pernah hilang sampai sekarang, "jawabnya Lirih.


"Apa kau fikir aku akan berubah fikiran meski kau melakukan ini?"


"Yah... Tentu saja, aku yakin 100% kalau kamu akan kembali padaku jika aku melakukan ini!" jawabnya penuh percaya diri.


"Ohh kenapa kamu sangat yakin?"


"Karena dulu kamu juga mencintaiku Vin! Kita saling mencintai, dan aku tau kamu pasti masih memiliki perasaan sama aku! Hanya saja kamu menyembunyikannya iya kan?"


"Cihh... Menyembunyikan? Sejak kapan aku seperti orang yang menyembunyikan perasaan Clara hah? Apa kau fikir orang yang di hianati itu akan selamanya bodoh sampai-sampai masih memiliki perasaan dengan wanita jal*ng yang tega menduakannya? Begitu maksud kamu? Hahah sayangnya aku bukanlah orang yang seperti itu!" jelasku mencibir.


Clara malah tertawa di belakangku, "Hahah Kevin! Sekarang kamu sangat berkarisma dan itu yang membuatku tambah jatuh cinta padamu! Bahkan aku rela melakukan ini loh... Karena aku ingin kembali dan memilikimu seutuhnya!"


Amarahku kini mulai semakin membara, tapi pelukan Clara tetap saja erat meski aku merontah-rontah namun ketika aku sudah kesal dan marah tangannya ku cekal dengan sangat kuat hingga dia melonggarkan pelukannya dan akhirnya aku terlepas dan berbalik kembali menatapnya tajam.


"Clara kau maniak! Kau wanita gila, apa kau sudah kehilangan akal hanya karena cinta?"


"Iya Vin! Aku memang sudah gila, aku gila karena tidak bisa hidup tanpa kamu, setiap kali aku bersama kak Syam pasti aku terus memikirkan kamu." balasnya


"Tapi maaf saja aku tidak pernah sekalipun merindukanmu!" jawabku datar.


"Kamu bohong Vin! Aku tau kamu sangat merindukanku kita berpisah sudah 4 tahun jadi aku bisa tau itu hanya dengan melihat wajahmu saja! Ohh iya bukankah kamu sangat menyukai anak kecil? Kalau begitu aku bisa memberikannya Vin! Aku bisa mengandung, melahirkan dan memberimu keturunan yang sangat lucu dan menggemaskan di banding Juna!" pintanya.


"Aku memang menyukai anak kecil, tapi bukan kamu yang akan memberikannya padaku!"


"Apa maksudmu Vin! Kenapa bukan aku? Apa yang kamu maksud itu Salsa?" curiganya


"Hahah Salsa itu masih kecil Vin! Dia pasti lebih mengutamakan masa remajanya daripada harus punya anak di usia muda! Lagi pula dia tidak mencintaimu! Lantas kenapa kamu sangat mengharapkan dia padahal aku sudah ada di depan kamu!" sambungnya.


"Apa yang kau tau tentang Salsa Clara hah! Dia tidak murahan seperti kamu, dia mungkin belum mencintai aku tapi sebentar lagi aku akan membuatnya jatuh cinta padaku!" jawabku percaya diri.


Clara tersenyum meremehkan, "Heh kau sangat percaya diri ya Vin! Tapi semakin kamu seperti itu, aku malah tambah menyukaimu loh... "


Tiba-tiba Clara menarik kerah bajuku, mendekatkan wajahku dengan wajahnya hingga sangat dekat.


"Dan juga harapan kamu itu tidak akan terjadi selama aku masih ada dan bernafas di dunia ini, kamu tenang saja aku akan selalu berada di antara hubungan kalian sampai kalian berdua bercerai!" Ancam Clara.


"Beraninya kamu! Ohh jadi sekarang kamu berani mengancamku?"


"Aku bukannya mengancammu Vin! Bagaimana jika begini, Anggap saja kita lagi bernegoisasi kamu tetap berhubungan denganku dan aku janji tidak akan mengganggu Salsa bagaimana menurut kamu?" jelasnya.


"Hah! Apa kau fikir aku setuju? Ingat Clara yang berdiri di depanmu saat ini bukan lagi Kevin yang bodoh di masa lalu."


"Tidak kamu masih sama seperti Kevin yang dulu ku kenal Hanya saja kamu semakin berfikiran dewasa sekarang!" elaknya.


"Sudah cukup! Aku sudah tidak mau berbasa basi lagi denganmu! Dan ingat lupakan aku, anggap saja kita tidak pernah bertemu bahkan saling mengenal di masa lalu!"


Karena geram aku berbalik badan lagi, "Enyahlah dari pandanganku sekarang juga! Keluar!!!"

__ADS_1


Clara ternyata belum menyerah dia kembali memelukku, "Tidak Vin! Aku tidak bisa melupakan masa lalu begitu saja!" serkahnya.


Tangannya semakin nakal hingga menjalar naik ke dadaku, menjelajahi setiap jengkal dan itu sangat membuatku murka.


__ADS_2