
Aku menunduk sembari menarik nafas dalam-dalam, emosi yang sedari tadi kutahan kini harus ku keluarkan dan ini semua karena si gunung es yang ada dibelakangku ini.
Aku mulai mengepalkan tangan, dengan wajah dan telinga yang sudah memerah karena amarah.
"Kevin... Jangan salahin gue, kalau lo masih ada dibelakang, gue bakal pukul lo sampai gue puas!"
Tiba-tiba tangannya menekan kedua bahuku sambil berkata:
"Diamlah..." ucapnya dengan lembut.
Aku kaget bukan kepayang, ini pertama kalinya aku mendengar ucapannya yang terdengar sedikit lembut darinya, tangan yang tadinya kukepal kini kulepaskan, amarah yang tadinya tak bisa kutahan lagi berangsur-angsur menghilang.
"Lo-lo mau ngapain?" tanyaku gugup ketika tangannya mulai menepis rambutku.
"Berisik, apa kau tidak bisa diam, walau sedetik pun?" serunya kembali membuatku kesal.
Aku hendak berbalik badan namun tangannya masih berada dipundakku, dan itu membuatku sangat merasa tidak nyaman.
Aku mencoba menepis tangannya akan tetapi dia kembali menggertakku.
"Jangan banyak bergerak!"
"Lo mau apa sih?" tanyaku lagi
"Aku cuma mau membantumu!"
"Apa maksudnya? Apa dia datang karena melihat gue kesusahan masang resleting gitu? Uwuuu ternyata si muka datar ada sweet-sweetnya juga ya? Kayak difilm-film gitu, cowoknya pasangin resleting si pengantin Wanita, terus dipeluk dari belakang uwwuuuu, ya ampun! Haluku...." batinku seraya terus tersenyum menantikan adegan romantis hasil dari halusinasiku karena terlalu banyak menonton drakor.
Seeerkkkkk
__ADS_1
Suara itu? Suara resleting yang sejak tadi susah payah untuk ku jangkau. Akan tetapi setelah suara itu berakhir, aku mulai merasakan sakit dari kulit kepalaku.
Aku heran dengan apa yang terjadi, perlahan aku memalingkan wajah namun kulit kepalaku semakin sakit seperti ada yang menarik terus rambutku.
Ask... Aku terus mendesis sambil mencoba meraih ujung pangkal rambut yang berkontaminasi dengan kulit kepalaku itu.
Akh... Aku berteriak dengan keras, pantas saja sangat sakit! Ternyata rambutku ikut tertarik dalam resleting yang dipasangkan oleh Kevin.
"Kevin... Berani-beraninya lo ngerjain gue?" teriakku dengan lantang memenuhi isi ruang ganti ini, tetapi untunglah hari ini tidak ada pengunjung lain yang datang karena tante Mira sudah menyewanya untuk kami pake dalam sehari.
Aku berbalik badan akan tetapi sosoknya sudah menghilang, sejak kapan dia pergi? Aku pun tidak tau.
Karena teriakanku itu, akhirnya salah satu pegawai butiknya datang.
"Ada apa mbak?" tanya sopan pegawai tersebut.
"Dimana laki-laki yang bersama saya tadi?"
"Ehh, maaf saya tidak mengerti apa maksud mbak!"
"Nggak jadi, anu itu lepasin rambut yang ikut diresleting ini!" lirihku sambil menunjuk kearah gumpalan rambut yang tersangkut diresleting itu, dan pegawai tersebut hanya bisa mengangguk.
Setelah rambutku terlepas, dan pegawai itu memasangnya dengan sangat baik, aku kembali mengepalkan tangan.
"Kevin..." jeritku dengan sangat keras seraya melangkah keluar dari ruang ganti.
"Kali ini lo bakal mati di tangan gue Vin! Berani-beraninya lo ngerjain gue , gue nggak terima ini pertama kalinya gue diperlakuin kayak gini sama cowok, dulu-dulu biasanya gue disanjung, diberi bunga sama coklat tapi elo... Lo harus mati hari ini" gumam disela langkahku keluar dari ruang ganti.
"Kevin, keluar lo...." teriakku lagi ditengah ruangan tersebut, mama dan tante Mira yang mendengarnya dengan panik berlari mendekat.
__ADS_1
"Salsa... Ada apa sihh, kok teriak-teriak segala? Dan kenapa rambut kamu berantakan, apa seperti ini gaya rambut yang diberikan oleh pegawai butiknya?" semua pertanyaan mama yang diajukan bersamaan malah membuatku malas.
"Mama dimana Kevin?, ini tuh gara-gara Kevin! Kevin ngerjain Salsa mah, tante...." rengekku.
"Lo kok Kevin lagi sih Sal?" Tanya tante Mira yang tampak kebingungan.
"Tante, Salsa bakal jelasin semuanya kalau Kevin udah ada, kalian tunggu aja disini"
Aku melangkahkan kaki, menelusuri setiap ruangan yang terdapat ruang ganti pria.
Tok tok tok.
"Kevin keluar sekarang, atau gue dobrak pintunya! " tegasku dengan nada tinggi.
"Kevin... Gue bilang keluar sekar..."
"Dobrak aja pintunya sampai tubuh yang tak berisi dan hanya tinggal tulang itu pa-tah pa-tah!" ujar Kevin memotong ucapanku yang seketika keluar dari ruangan ganti tepat bersampingan dengan pintu yang kuketuk tadi.
Akh... Sial perasaan malu kini mulai kurasakan, aku hanya bisa memejamkan mata, sembari menggertakkan gigi.
Dia melangkah dibelakangku, berjalan terus tanpa menghiraukan diriku yang masih berdiri didepan pintu.
"Kevin... berhenti...." jeritku membuatnya menghentikan langkah , aku berjalan mendekatinya, dengan gaun yang sangat panjang yang ku pake ini, kini ku gulung begitu saja, meskipun sangat merepotkan, aku tidak mau merusaknya, karena kuanggap barang mahal, sayang kalau sampai robek.
Dengan geram, aku meraih kerah jasnya, menggenggamnya sangat erat, Aku terpaksa berjinjit agar bisa sejajar dengan wajahnya, dan untunglah tinggiku sekarang dibantu dengan high hills yang tadi diberikan oleh pegawai tersebut.
.
.
__ADS_1
.