Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Aktivitas Di Pagi Hari.


__ADS_3

Warning!!!


Buat readers yang masih di bawah umur! atau dengan kata lain belum memiliki ktp, mohon maaf harap menepih dulu di part ini ya! karena terdapat adegan(21+) bijaklah dalam memilih bacaan.😊


Kevin menatapku sambil tersenyum, "Apa kamu benar-benar siap Sal... Ini sudah pagi loh..." tanyanya.


"Kalau kamu tidak mau ya sudah! Aku juga tid..." balasku namun seketika terhenti dengan ciuman maut yang di berikan olehnya.


Sungguh! Aku seperti mabuk kepayang di pagi hari, ciuman itu semakin membuatku tak bisa lagi berfikir jernih, jantungku berdebar, tubuhku rasanya berada dekat dengan bara api, sangat panas hingga aku merasakan gerah yang luar biasa.


Kevin menggigit lembut bibir bawahku, memberikan sensasi yang luar biasa, awalnya aku tak merespon dan dia menyadarinya, "Sal... Kenapa tak membalas ciumanku? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan sudah siap?"


Sebenarnya aku ingin membalas hanya saja, aku tak bisa melakukannya sebab tak bisa mengatur ritme nafasku, apalagi Kevin yang tak memberiku cela untuk bernafas.


Tapi sekarang aku tak perduli, ku ambil nafas dalam-dalam kemudian melingkarkan tanganku di lehernya, menciumnya beberapa kali, dibalik ciumanku Kevin tersenyum lagi.


Menyambut itu, Kevin yang kini beralih lebih dominan dariku, ia memberi kecupan di keningku turun kehidung dan berakhir di mulut.


Ia melum*at, menggingit kemudian menjulurkan lidahnya untuk menelusupkan masuk ke liang mulutku.


Ketika mendapat celah, lidah Kevin menelusuri rongga mulutku, Lidahnya bermain-main dengan lidahku bak berperang panas di dalam sana, saling menyalurkan saliva, mestinya aku merasa jijik tapi entah kenapa aku malah merasakan kenikmatan.


Perasaan itu bercampur aduk menjadi satu menggelitik tubuhku, membuatku merasa seperti cacing kepanasan.


Bibirnya sibuk dengan bibirku sementara tangannya mengusap lembut perut datar milikku, tangan nakalnya itu menjalar ke belakang, melepas pengait bra yang ku kenakan.


Ctak....


Alhasil pengaitnya terlepas membuat tubuhku yang tadinya terasa sesak kini tak lagi seperti itu.


Kevin melepaskan pa*gutan bibir kami, lalu memandangiku, "Aku akan mulai melakukannya Sal... Aku tidak bisa lagi menahan diri" lirihnya dan langsung ku beri senyuman lalu mengangguk.


Kevin berdiri sedangkan aku terduduk, ia membuka kaos hitam berlengan pendek yang ia kenakan sementara aku juga seperti itu, aku membuka bajuku.


Namun pengait yang tadi ia lepas, membuat braku longgar dan melorot dengan cepat aku menutup dadaku dengan tangan.


"Tidak usah menutupnya Sal... Sebentar lagi aku akan segera melihatnya!" godanya.


Aku menunduk malu, tanpa kusadari Kevin yang sudah setengah telanjang seperti halnya aku, merangkak naik ke atar ranjang membuatku merebahkan diri dan dia kini berada di atasku.


"Sal... Aku merasa bahwa aku adalag orang paling bahagia di dunia ini, pasalnya aku mempunyai seorang istri yang bisa menjaga hatinya walau berpisah selama 4 tahun! Aku salut denganmu Sal... Makasih!" pujinya.


Tanpa basa-basi lagi, Kevin mendaratkan bibirnya tepat di bibirku, adegannya semakin memanas, lidah kami kembali berperang Kevin lagi-lagi membuatku susah mengatur nafas.


Kini tangannya melepaskan bra ku dan melemparnya kesembarang tempat, Kemudian kedua tangannya dengan penuh nafsu meraup dan memilin pay*daraku.


Sesekali ia meremas, membuat tubuhku sontak menggelinjang, hanya bisa meremas sprey menahan gejolak yang membakar dadaku.

__ADS_1


Kevin akhirnya melepaskan ciumannya lagi, memberiku waktu untuk mengatur nafas tanpa sadar dari mulutku terdengar desahan yang membuat Kevin tampaknya tersenyum puas.


"Ini baru pemanasan Sal... Tapi kamu sudah seperti itu! Aku merasa sangat bahagia aku tak sabar menyatu denganmu dan mendengar kamu mendesah sambil menyebut namaku!" lanjutnya menggoda.


"Ahh Aku sudah tidak tahan lagi..." Desahku merem-melek.


Ahh! Aku merasakan ada sesuatu yang ingin keluar di bawah sana, tapi kulihat Kevin dengan lincarnya Kini menyusu di pay*daraku seperti bayi yang sangat haus akan ASI dari sang ibu.


Tak lupa ia menggingit lembut pu*ingku meninggalkan rasa sakit bercampur nikmat dengan bekas memerah.


Tangan yang tadinya meremas sebelah pay*daraku kini turun meraba paha yang masih berbaluk celana yang ku kenakan.


Dada bidang yang ada roti sobeknya, membuatku menelan ludah sendiri, pasalnya dada itu yang setiap kali kulihat ini sekali ku pegang.


Tanpa ragu, perlahan aku menempelkan tanganku di perutnya, kemudian meraba kulit yang sangat keras itu, "Wah... Kamu mau memegangnya Sal... kenapa tidak bilang dari tadi! baiklah tubuhku adalah milikmu! kamu bebas berbuat apapun padaku!" ujarnya yang tadi masih menyusu dan seketika terhenti pada saat menyadari tanganku menempel di ABS miliknya.


Dengan secepat kilat aku menarik tanganku lalu menutup wajahku dengan kedua tangan, "Jangan katakan itu Vin... aku sangat malu...." kataku.


Ahaahh.


Kevin tertawa nyaring, lalu menepis tanganku, "Berapa kali aku harus mengatakannya padamu Sal... tidak usah malu, aku sekarang adalah suami sah mu dan kamu adalah istriku, ini wajar-wajar saja karena memang adalah kali pertamanya kita saling melihat semua hal di diri kita masing-masing!" paparnya.


"Baiklah Vin... aku akan memberikan segalanya padamu!" ucapku yakin.


Senyum semringah terus ia pancarkan di hadapanku, lalu ia berdiri lagi hendak melepaskan celana yang ia pakai.


Sesuai perintahnya aku juga berdiri untuk membuka celana, namun mata Kevin yang terus memandangiku membuatku seketika tersadar.


"Jangan melihatku seperti itu Vin...."


"Ahh tidak-tidak aku hanya tidak sabar melihat semua milikmu Sal..." elaknya tertegun.


"Balik badan sekarang!" perintahku dengan nada kesal.


"Kenapa?" herannya.


"Aku bilang balik badan!" tegasku.


Kevin melenguh manja, "Ahh tapi cepat ya!"


Ketika Kevin berbalik badan, dengan cepat aku melorotkan celanaku, dan hendak memanggil Kevin.


"Kevin! aku sud...."


Tok tok tok


Suara ketuka pintu hotel berbunyi membuatku tak jadi memanggil, aku panik mendengarnya apalagi tubuhku hanya tersisa celana dalam saja, untunglah ada selimut yang di atas kasur jadi aku bisa bersembunyi di balik selimut tersebut.

__ADS_1


"Sal... apa aku harus membukanya?" tanya Kevin berbalik badan dan melongo melihatku berada di balik selimut.


"Ti-tidak usah membukanya Vin!" jawabku cepat.


"Hm... baiklah sepertinya kamu memang sudah tak tahan lagi, tapi kenapa kamu harus seperti itu? apa kamu masih malu memperlihatkannya padaku?"


"Ti-tidak!!"


"Kalau begitu buka sekarang!"


Tok tok tok...


Ketukan pintu berbunyi lagi, dengan Kesal Kevin pergi membuka pintunya namun tak lama setelah itu Terdengar lagi suara pintu tertutup dengan kasar.


"Itu siapa Vin?"


"Hanya pegawai hotel yang salah mengecek kamar tamu!" ujarnya Kesal.


"Ohh iya Sal... ayo kita lanjutkan adegan panas yang tadi!" sambungnya mulai membuka celana dan kini terpampanglah boxer ketat yang ia pakai di depanku.


Ia kembali merangkak naik ke atas ranjang, namun sebelum itu ia membuka selimut yang menutupi tubuhku.


Kami berdua hampir sepenuhnya bertelanj*ng bulat sebab hanya tertutupi celana dalam masing -masing.


Kevin menciumku sebentar, lalu menatapky lekat, "Aku akan pelan-pelan sayang! aku janji sakitnya hanya akan cepat menghilang!" imbuhnya terdengar penuh nafsu.


Tanpa sadar tangan Kevin mulai meraba selangkanganku, lalu perlahan membuka celana dalamku.


"Ke-kevin aku sangat gugup!" ujarku grogi


"Tidak apa-apa Sal... serahkan semuanya padaku!".


Dert..... dert.....


Ponsel Kevin berbunyi membuat kami berdua seakan membatu bak Video yang tegah di putar namun tiba-tiba pause.


"Ahh Sial... siapa yang menelfon di saat-saat seperti ini?" gumamnya kesal.


Plak...


Aku memukul tangannya pelan yang hampir membuka celana dalamku, "angkat aja dulu Vin... siapa tau itu penting!" ucapku.


"Tapi Sal... bagaimana dengan kita?" ucapnya manja.


"Angkat!!!" raungku menyuruhnya.


Kevin berdiri menghentakkan kaki menuju ponselnya yang tergeletak di sofa, " Arghhh kenapa disaat aku sudah hampir melakukannya ada saja sesuatu yang terus menghalangi!!!, sepertinya aku benar-benar menyia-nyiakan waktuku semalam, bahkan tadi aku terlalu banyak membuang-buang waktu... ahhh!!!" gumamnya.

__ADS_1


Ketika Kevin meraih ponselnya tersebut aku yang masih berada di atas kasur melihatnya melotot memandangi layar ponselnya.


__ADS_2