Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Rasa Takut


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10: 39 dan aku baru saja mulai tertidur karena kelelahan, Kevin yang awalnya berkata hanya 1 ronde, namun kenyataannya tak seperti itu, bahkan dia tak segan-segan memberiku waktu untuk sekedar merenggengkan tubuh.


Ia kini terbaring kembali di sampingku tanpa busana, ku usap lembut wajah tampannya yang begitu membuatku terpesona.


Aku tersenyum sambil membelainya, "Makasih Vin... Makasih karena selalu mengalah padaku, makasih tidak pernah lagi memarahiku, maaf aku menyia-nyiakan waktu pernikahan kita, maaf juga karena aku tidak pernah menjadi seorang istri yang terbaik untukmu, Aku mencintaimu Vin! Aku sangat-sangat mencintaimu!" gumamku penuh perasaan menatapnya.


Perlahan aku memejamkan mata, akan tetapi aku tersadar ketika ada pergerakan diatas ranjang, dan ternyata itu Kevin yang mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.


Lalu kemudian aku berusaha untuk bangkit, mencoba untuk berjalan ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri.


Terlebih dahulu aku mengambil handuk yang ada di dalam lemari, lalu melanjutkan langkahku.


Alhasil, aku akhirnya sampai didepan kamar mandi dengan berjalan bak menyeret kaki, aku memegang gagang pintu dengan hati-hati agar Kevin tak bangun.


Didalam kamar mandi tepatnya di bawah shower, aku lebih dulu mengatur suhu airnya menjadi hangat.


Begitu bulir airnya berjatuhan, aku dengan segera menggosok tubuhku yang tanpa kusadari ada banyak bekas cup*ng di area leher serta buah dadaku.


"Ya ampun! Kenapa Dia terlalu ganas padaku? Bisa-bisa bekas ini tidak akan hilang dalam waktu cepat, terus aku harus bagaimana jika bepergian keluar rumah? Ahh..." lenguhku risih.


Setelah selesai, aku melilit tubuhku dengan handuk kemudian berjalan keluar dengan langkah yang aneh seperti halnya bocah laki-laki yang baru saja di sunat.


Rasa sakit yang masih timbul, dengan susah payah ku tahan dan berjalan keluar menuju lemari untuk mengambil pakaian.


Disaat aku sudah berpakaian, lebih dulu aku memungut pakaianku dan Kevin yang bertebaran di area sekitar ranjang.


Begitu panasnya adegan semalam dan tadi pagi membuatku ingin rasanya melayang setiap mengingat saat-saat yang membuatku mencapai puncaknya bersama Kevin.


Aku juga terkadang malu ketika aku mendesahkan namanya, selalu terngiang-ngiang di kepalaku dan mampu membuat nafsuku kembali.


Tapi yah sudahlah.... Aku lelah dan Kevin juga merasakan hal itu, "Aku lapar, Lebih baik aku masak saja!" aku bergumam disaat cacing yang ada di perutku yang kini meminta jatah.


Seperti apa yang ku lakukan tadi, yaitu berjalan dengan menyeret kaki, kali ini aku melakukan yang sama berjalan menuju dapur, terkadang aku meringis, berdesis ketika rasa nyeri itu bermunculan.


"Tidak apa! Tahan aja Sal... Lebih baik masak dulu, baru istirahat!" ucapku menyemangati diri sendiri.


***


1 jam berlalu, makanan sudah siap di atas meja, bisa di bilang aku bisa masak kali ini karena sering belajar dari Willy ketika masih di New York.

__ADS_1


Namun, pada saat makanannya sudah tertata di atas meja, Kevin masih belum menampakkan batang hidungnya, Masih tidur? Hanya itu spekulasi yang bisa kuutarakan saat ini.


Aku kembali berjalan ke kamarku, dan ternyata seperti dugaanku, Kevin masih tertidur pulas, "Bangun Vin... Ayi makan dulu baru tidur lagi!" panggilku membangunkan namun tak ada jawaban.


"Vin... Bangun...." Kali ini aku memukul-mukul pipinya dengan pelan.


Dan sekali lagi, belum ada pergerakan sama sekali, "Bangun!!! ayo bangun Vin...." aku berteriak keras yang menggema di dalam kamar ini.


"Mmm.... Iya sayang aku sudah bangun!" akhirnya Kevin membalas tapi hanya dengan mulut, Sementara matanya masih terpejam.


"Sudah bangun tapi kenapa masih merem?"


"Aduh... istriku ini kok bawel banget sih!" ujarnya.


Tiba-tiba saja, Kevin menarik lenganku, dan mendekatkanku di depan dadanya, "Aku bakalan bangun kalau kamu menciumku lalu memanggilki sayang!" Syarat yang ia berikan membuatku melongo.


"Ayolah Vin... apa susahnya sih langsung bangun! kan aku sudah masak, nanti makanannya keburu dingin!" ucapku.


"Tapi aku tidak punya tenaga Sayang! aku tidak bisa berdiri, aku capek dan kalau kamu menciumku pasti staminaku kembali!" rengeknya manja.


"Dasar modus! oke aku akan melakukannya"


"Ihh kenapa kedengarannya kamu tidak ikhlas mengatakan itu? lagipula aku tidak meminta kamu mencium pipiku tapi harus di bibir, terus panggilan sayangmu juga yang agak-agak manja gimaaaa gitu...." selidiknya yang kemudian memberi saran.


Hah... kali ini aku menghela nafas lalu kembali menciumnya sekejap di bibirnya, "Sayang~, bangun dong.... aku kan sudah masak! kamu nggak mau cobain masakan buatan aku?" kataku berlagak manja seperti yang ia anjurkan.


Seketika Kevin terduduk sementara aku yang sangat dekat dengan dadanya, membuat jantungku kembali berdebar tak karuan, dan dengan cepat aku berdiri.


"Aku sudah bangun ayo kita makan!" ajaknya hendak turun dari ranjang padahal tubuhnya tak tertutupi sehelai benangpun.


"Ehh tunggu dulu! kamu mau keluar seperti itu?" cegahku bertanya.


"Memangnya kenapa? bukankah dirumah ini hanya ada kamu dan aku? lagian kamu juga sudah melihatnya bukan!" ucapnya dengan nada menggoda.


Aku terdiam sejenak, lalu mangambil pakaiannya yang tadi ku pungut dan ku berikan padanya, "pakai itu dulu, baru keluar!" tukasku.


"Tidak mau!" tolaknya.


"Vin! berhentilah berlagak seperti bocah" sekaku tegas.

__ADS_1


"Hahah oke-oke aku bangun! kayaknya nanti kedepannya aku bakal dapat predikat suami takut istri deh!" candanya.


Plak... aku memukul lengannya, "jangan bercanda ihh, Ayo cepat nanti keburu dingin makanannya!" serkahku.


"Oke-oke tunggu sebentar!" tukasnya tapi ku abaikan malah aku berjalan keluar dari kamar menuju meja makan.


Aku tinggal menunggu Kevin dan tak lama kemudian dia akhirnya datang, "Wah... istriku kayaknya udah jago masak nih! aku jadi salut!" pujinya mulai terduduk.


Aku tersenyum tipis menanggapinya, "Makan aja! nanti ngobrolnya kalau udah kenyang!" pungkasku.


"Hm... Ohh iya Sal... ngomong-ngomong milikmu sudah tidak sakit lagi kan?" tanyanya yang tiba-tiba hampir membuatku tersedak makanan yang baru saja masuk ke mulutku.


"Berhentilah bertanya pertanyaan konyol seperti itu... kita kan lagi makan!" elakku menatapnya sinis.


Pada akhirnya Kevin makan dengan tenang, sesekali aku menatapnya, "Ada apa Sal? aku tau kamu ada sesuatu yang ingin kamu katakan kan?" Kevin ternyata menyadari gelagakku.


"Ehh itu Vin! aku mau cari kerja! boleh yah..." imbuhku meminta.


"Tidak boleh! aku melarangmu mencari kerja!" Kevin menolakku dengan tegas.


"Lohh kenapa? kalau aku hanya duduk, diam di sini, berarti perjuangan kuliahku jadi sia-sia!"


"Tidak perlu Sal... aku kan sudah menjadi kepala keluarga! jadi biarkan aku saja yang menafkahimu, lagian aku punya banyak uang! kalau kamu mau aku dengan senang hati memberimu!"


"Aku...."


"Aku juga melarangmu karena takutnya para kecebong jadi gagal di tengah jalan!" Kevin memotong ucapanku sekaligus membalasku dengan kalimat yang tak ku mengerti.


Aku mengerutkan mata, "Ke-kecebong? maksudnya apaan?"


"Ahh maksudku nanti benihnya gagal tumbuh hihih" Kevin dengan khas nyengir kuda.


"Ya ampun! kamu nih... jangan aneh-aneh lah aku bisa-bisa pusing kalau kamu berkata seperti itu" kataku yang membuat Kevin kembali tertawa.


***


kurang lebih 2 bulanan sudah berlalu, hubunganku dengan Kevin bisa dianggap semakin harmonis, ia selalu memanjakanku, baik di atas ranjang maupun di tempat lain didalam rumah.


Namun kali ini ada rasa khawatir yang kurasakan, pasalnya aku sudah telat datang bulan selama 3 minggu terakhir.

__ADS_1


Aku takut ada sesuatu yang buruk terjadi padaku, tapi aku tidak pernah memberitahu Kevin sebab akhir-akhir ini ia selalu sibuk di rumah sakit dan selalu pulang larut malam.


__ADS_2