
Aku baru bisa tertidur sekitar jam 4, dan itupun perasaanku masih gelisah.
Tok tok tok
Pagi harinya ada yang terus mengetuk pintu kamarku, aku langsung terbangun karena suara ketukan itu, akan tetapi aku yang masih dirundung sakit hati tak ada niat untuk membuka pintunya.
Ceklek
Pintu terbuka dan ternyata itu Kevin, perlahan dia melangkah kearahku, matanya berkeliling mengamati setiap sudut kamar yang masih belum ku bereskan.
Dia menatapku, lalu mengerutkan dahi seraya berkata,"Kenapa kau tidak membuka pintunya!"
Mataku terasa berat karena kurang tidur, tubuhku juga sangat lemas terasa seperti aliran darahku tak mengalir secara normal.
"Ngapain lo ada di kamar gue!" ucapku malas sembari berbalik badan.
"Sejak kapan kamar ini jadi punyamu! Jawabnya datar
Aku terduduk diatas kasur, menatapnya dengan kesal.
"Lo jangan keterlaluan dong! Kata mama lo ini rumah kita berarti ini juga rumah gue!"
"Ohh kita? Jadi sekarang kamu sudah tau posisi kamu dirumah ini apa?"
"Yah jadi nyonya mungkin!"
"Oke karena kamu sudah tau temui aku dimeja makan! Tapi sebelum kesana sebaiknya kamu cuci muka, ckck ternyata kamu juga sangat jorok!" ejeknya dengan bibir yang terus berdecak.
"Apaan sihh, lo jangan sembarangan ya! Gue tuhh selalu mengutamakan kebersihan diri!" jelasku.
Kevin mengangkat sebelah alisnya seraya terus menatapku.
"Sebaiknya kamu berkaca dulu sebelum mengatakan itu!" serkahnya yang kemudian langsung keluar begitu saja.
Dengan cepat aku melangkah kearah cermin, melihat sosokku yang tampak seperti mak lampir dengan rambut yang acak-acakan.
AKH.... OMG....
Aku berteriak histeris tatkala melihat cairan bening yang sudah mengering dipipiku, semuanya tampak menjijikan, aku mencoba menghapusnya tapi tetap saja baunya masih bisa tercium di hidungku.
Aku berlari ke kamar mandi, mengambil air lalu mencuci muka, namun baunya masih ada aku mengendus kearah baju dipundakku, dan ternyata benar disitu rupanya juga ada air liur yang masih sedikit basah.
"Iiiyuuuu... Kok gue jari jorok gini Sih! Apa jangan-jangan karena terlalu capek kali ya?" tanyaku pada diri sendiri.
Aku mempercepat mencuci muka, dan setelah memastikan sudah tidak ada bau lagi aku beranjak menuju koperku mencari baju ganti.
"Oke... gue udah wangi walaupun belum mandi!, dan gue tetap cantik kok heheh" gumamku didepan cermin.
Saat semuanya sudah selesai, aku bersiap menemui Kevin yang menungguku di ruang dapur.
Aku berjalan dengan sendal memakai baju kaos hitam berlengan pendek dan celana jeans diatas dengkul, suara dari sendalku ternyata langsung membuat Kevin menatapku, dia memandangku dari ujung kaki sampai rambut dan aku heran kenapa dia seperti itu.
"Ngapain lo natap gue terus?"
__ADS_1
"Kenapa kamu memakai celana yang kekurangan kain?" tanyanya dengan mengerutkan hidung.
"Hah? Kekurangan kain? Ya ampun Kevin ini tuhh udah biasa dipakai sama cewek-cewek diluaran sana! Lagian masa gue harus pakai daster sih, enggak mungkin lah yah! kan kita harusnya memakai pakaian yang nyaman buat diri sendiri jadi gue pake aja yang ini heheh" tuturku.
"O terserah... " balasnya singkat seraya memalingkan wajah.
"Mmk katanya lo mau bicarain sesuatu emang ada apa sih?" tanyaku penasaran sembari melangkah lebih dekat disamping dia.
"Duduk!" perintahnya.
Aku terduduk sesuai amanahnya, lalu kami saling menatap tapi bukan tatapan asmara melainkan tatapan serius.
"Ada apaan sih?" tanyaku lagi.
"Kamu tau apa tugas seorang istri?"
"Hn... Istri? Ya mana gue tau, gue kan bukan janda yang udah punya pengalaman jadi seorang istri!" serkahku.
Kevin menengadah, dia menarik nafas lalu mengeluarkannya ke mulut seolah-olah ingin mengatakan sesuatu yang panjang lebar.
"Karena kamu belum tau aku akan memberi tahumu, sebagai seorang istri kamu harus bisa melayani aku! suamimu, kamu harus menyiapkan makan, membersihkan rumah, menyetrika baju, dan harus stand by 24 jam kalau aku memanggil!" ungkapnya.
Aku tertegun, semua ucapannya seakan tak bisa memasuki kepalaku.
"Tunggu sebentar, jadi maksud lo gue mau jadi pembantu lo dirumah ini?"
"Pembantu? Salsa Olivia... Semua yang baru saja ku katakan adalah faktanya menjadi tugas seorang istri, kalau kamu tidak percaya kamu bisa bertanya di om google kamu seperti semalam!" tuturnya seraya berdiri lalu mondar-mandir didepanku layaknya guru fisika yang sedang menjelaskan rumus dan sangat susah dicerna oleh otak.
"Yakk... Lo ngejek gue ya? Lo kira gue nggak tau tugas istri, ta-tadi itu gue cuman bercanda bilang nggak tau! Puas lo...." balasku pura-pura.
"Oke lo tunggu dan saksiin sendiri kehebatan gue dalam memasak heh! "
Aku menghentakkan kaki dengan kesal berjalan menuju dapur.
Didapur aku merasa resah karena tak tau sama sekali soal memasak, dari dulu kalau mama memanggilku untuk membantunya memasak aku selalu beralasan kerja tugas dan pada akhirnya aku yang menyesal sekarang.
"Oke sabar Sal... Lo pasti bisa buktiin sekarang!" gumamku.
Aku menggigit jari sembari menatap semua yang ada didapur dan seketika mataku memandangi ada lombok botol dan nasi.
"Ah ha gue punya ide!" lirihku setelah memikirkan sesuatu.
Sepuluh menit kemudian aku telah selesai dan masakanku siap untuk dihidangkan.
"Nih!" ucapku menyerahkan makanan pada Kevin.
Kevin melotot memandanginya seraya berkata "Apa ini?"
"Ehhem ini adalah masakan pertama gue jadi seharusnya elo bangga karena jadi yang pertama! Namanya 'Nasi gunung meletus' terinspirasi dari elo sendiri yang senantiasa marah-marah kayak cewek lagi PMS... Ups sorry bukan itu maksud gue jadi intinya lo harus makan ya! Dan berilah penghargaan sama gue sebagai chef profesional hahah!" jelasku.
Brakk
__ADS_1
Seketika Kevin memukul keras meja makan membuatku sangat kaget.
"Apa ini maksud kamu masakan profesional?" tanyanya emosi.
"Se-sebenarnya gue nggak tau masak!" ucapku jujur.
"Kamu itu seorang wanita, masa tidak tau sama sekali dengan posisi sendiri, keistimewaan seorang wanita adalah membuat suaminya senang, melayaninya sepenuh hati camkan itu!"
Kevin melangkah pergi keluar, ketika terdengar suara mobilnya baru saja meninggalkan rumah aku menjadi yakin kalau dia perginya karena kesal, sedangkan aku merasa nafasku menjadi sesak mungkin yang dia katakan ada benarnya.
Tanpa kusadari aku menangis, batinku sakit ini pertama kalinya seseorang mengataiku seperti ini.
Aku menghapus air mata lalu berjalan cepat menuju dapur, mengambil wajan meletakkannya diatas kompor.
Niatku sekarang adalah belajar masak, dan untuk melakukannya harus dipraktekin langsung, aku mengambil minyak lalu menuangnya diatas wajan.
Setelah kompornya menyala aku berlari lagi mengambil sebutir telur dari dalam kulkas lalu memecahkannya diatas wajan.
"Oke Vin! Hari ini gue bakal buktiin kalau gue bisa masak!" gumamku
Telur diatas wajan meletuk-letuk membuatku takut dan langsung melangkah mundur sejauh mungkin agar cipratan minyaknya tidak mengenaiku.
Aku mengambil ponsel yang ada disakuku, lalu mengetik sesuatu kekolom pertanyaan google.
"Berapa lama telur digoreng?" isi ketikanku.
Karena terlalu fokus dengan membaca jawaban google aku menjadi lupa dengan telur yang kugoreng apalagi aku tak bisa melihatnya langsung karena terlalu jauh dari wajan.
"Bau apaan nih!" ujarku setelah mencium bau yang tidak enak.
Perlahan aku mengintip kondisi telurku, dan ternyata sudah hitam pekat, termasuk kuning telurnya yang sudah tidak kuning lagi.
"Ahh sial... " keluhku.
"Sepertinya gue harus belajar digoogle dulu deh!"
Aku kembali meraih ponselku, mengetik terus menerus dikolom google hingga akhirnya aku sedikit paham tentang sesuatu.
"Nah... Gue bikin nasi goreng aja kali yah kayaknya gampang!"
Setelah itu aku membuang telur gosongnya ditempat sampah lalu mengambil wajan yang baru.
Satu jam kemudian meskipun aku berhasil kali ini tapi ini merupakan kesepuluh kalinya aku terus mengulang karena tadinya ada yang gosong, aku lupa mengiris bawangnya, dan masih banyak lagi.
"Hufh akhirnya jadi"
Aku mendesah lega dengan keberhasilanku, dan kini aku hanya harus menunggu Kevin untuk pulang dan menghidangkannya.
***
Waktu berjalan dengan cepat kini sudah sore matahari sudah tidak memancarkan cahayanya lagi, namun aku masih duduk dikursi meja makan untuk menunggunya.
__ADS_1
Terkadang aku berdiri berlari kearah jendela dekat pintu untuk sekedar tau jika dia sudah datang akan tetapi Kevin belum menampakkan batang hidungnya.
Aku merasa sedikit kecewa alih alih ingin membuktikan tapi sepertinya percuma, aku berdiri lalu mengangkat piring itu, kemudian berjalan kembali kearah dapur.