Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Kemana aku harus Pergi


__ADS_3

Willy memandangiku dengan penuh rasa kasihan, tatapannya begitu sayu melihatku menderita.


"Sal... Sebenarnya mantan pacar suami lo lakuin apa sama elo sampai-sampai dia berbuat begini?" tanyanya.


"Will elo kan tau gue, meskipun gue seringkali kasar sama orang tapi gue nggak bakal sampai tega ngebunuh orang! Kan Tadi siang gue kerumah sakit sama dia! Gue keruangannya karena dia ada urusan terus mantannya datang bawa bekal, ehh di bekalnya itu ada pisau, gue nggak paham kenapa dia sampai bawa pisau itu dan disitulah kami bertengkar, tanpa gue duga dia ambil tuh pisau terus tusuk perutnya sendiri yah gue panik dong jadi gue berusaha buat cabut pisaunya tapi kemudian suami gue datang dan salah paham kalau gue yang udah nusuk mantan pacarnya itu!" jelasku secara mendetail.


"Jujur! Gue sakit hati banget sama dia yang udah nggak percaya sama gue meskipun gue udah jelasin ke dia, tapi tetep aja gue yang di usir! gue yang di salahin Will seolah-olah gue ini perempuan yang kejam!" sambungku kembali menangis apalagi mengingat bagaimana Kevin mengusirku dua kali.


"Jangan menangis lagi Sal... Suami lo benar-benar bajin*an bodoh, kalau itu gue mestinya gue denger dulu penjelasan elo terus gue cari bukti kuat baru bisa menuduh tapi sepertinya dia hanya percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri, dia benar-benar bodoh karena buat lo menderita kayak gini... Ya udah kasi tau nama dia sekarang sama gue! Biar gue kasi pelajaran sama dia! Biar dia ngerasain gimana sakit lo saat ini." tegasnya mencibir meminta Nama Kevin.


Aku sungguh terharu, Willy sampai ingin membantuku lagi kali ini, bahkan dia tak menghiraukan bagaimana aku memperlakukannya di masa lalu, apalagi ketika aku menolaknya berulang kali.


"Nggak usah Will percuma bicara baik-baik sama dia, dia orangnya keras kepala nggak mau dengerin kata orang jadi lebih baik gue yang pergi! Daripada gue terus yang merasa tercekik lebih baik gue menghindar dulu, mungkin suatu saat nanti dia sendiri yang akan menyesali perbuatannya ini. " imbuhku mencegah Willy.


"Oke... Terus elo mau kemana sekarang!" Sekanya menatapku serius.


"Gu-gue nggak tau mau kemana Will...untuk sekarang gue udah nggak punya tempat bernaung lagi! Kalau gue pulang kerumah mama takutnya gue malah kena omel... Ahk atau gue cari kamar kost aja kali ya! Yang dekat dari kampus, biar gue bisa gampang ke kampusnya! Ya udah sekarang gue minta tolong sama lo bantuin gue cari kamar kost sekarang!" ujarku berkata dengan penuh semangat berharap Kevin mengiyakan pendapatku secepatnya.


Willy ternyata menggeleng, "Nggak Sal... Gue nggak bakal biarin elo tinggal sendirian di kamar kost! Lo kan tau sendiri gimana bahayanya seorang cewek tinggal sendirian jadi untuk kali ini maaf gue nggak bisa bantuin elo!" Tolaknya dengan pelan.


Aku melongo sembari menghela nafas dengan penolakan itu, "Tapi gue nggak punya tempat tinggal Will! Lo dengar gue nggak punya tempat tinggal lagi! Apa lo fikir gue mau kerumah mama gue! Kalau gitu ogah mending gue bunuh diri aja biar mati sekalian!" ancamku menjerit kesal.


Seketika Willy gelisah di depan setir mobilnya "Ehk jangan berbuat nekad Sal... Hidup itu berharga kadang orang akan bahagia di masa depan jadi anggap aja kejadian ini sebuah pembelajaran yang mendewasakan, Ohh iya gimana kalau elo untuk sementara tinggal di rumah gue! Kita bisa serumah Sal... Kan asik tuhh bisa belajar bareng juga!" nasehat Willy sekaligus memberi usulan yang membuatku terkejut.


"Hah! Lo gila ya? Rumah lo sama rumah mama gue dekatan ****! Lo fikir gue bakal hidup tenang kalau sampai mama gue tau gue nginap di rumah lo! Terus apa kata tetangga kalau mereka tau orang beda jenis kelamin tinggal seatap tanpa hubungan pernikahan Lo mau punya haters sekomplek, apa!" lirihku kembali menolak keras pendapatnya yang gila itu.


"Gue nggak peduli Sal... Di benci orang sekomplek bahkan semua orang gue sama sekali nggak perduli selama elo nggak menderita lagi seperti sekarang gue rela lakuin apa aja yang penting elo bahagia! " tegasnya.


"Tapi Will tetap aja gue takut ketahuan sama bokap, nyokap gue!" ucapku khawatir.


"Lo tenang aja Sal... Gue nggak bakal biarin itu terjadi, lagian gue udah punya mobil sekarang jadi kalau kita mau kemana-mana pastinya orangtua lo nggak lihat kita kalau melintas di depan rumah lo ya kan?" bujuk Willy penuh senyuman hangat.


"Tapi Will gue.... " lenguhku.


"Nggak usah pake tapi-tapian terus, lagian pasti elo belum mandi kan?" potongnya cepat mengalihkan pembicaraan.


Aku tertunduk malu sembari mengendus-endus di area lipatan ketiakku, "Emangnya bau gue kecium ya?" tanyaku.


"Hahah enggak kok! Gue tanya gitu karena lihat penampilan lo yang nggak kayak biasanya! Maaf ya bukannya gue mencela tapi ini emang fakta jadi lebih baik kita kerumah gue sekarang dan elo bisa mandi sepuasnya.... " ucap Willy mulai menyalakan mesinnya, kemudian perlahan menginjak pedal gas melajukan mobilnya dengan penuh kehati-hatian.


Di sepanjang perjalan terkadang Willy menoleh ke arahku, namun aku yang hanya menyandarkan kepala di kaca jendela mobil tak membalas lirikannya.


Malah tatapanku kosong memperhatikan kendaraan di depan mobil Willy yang sangat padat oleh kemacetan ibu kota.


***


Ketika memasuki lorong komplek perumahan, tepatnya menghampiri gerbang depan rumah mama, aku menunduk menyembunyikan wajahku memakai rambut yang ku biarkan terurai begitu saja.


"Rumah lo kayaknya sepi banget Sal... Kayak nggak ada orang... " ujar Willy melirik masuk kedalam rumah mama.

__ADS_1


"Elo cepetan aja! Nanti nyokap gue lihat...." perintahku membuatnya menambah laju mobil yang awalnya sangat standar.


Pada saat mobilnya berhenti di depan rumah, aku dengan ragu turun dari mobil, mataku berkeliling memandangi area rumahnya yang kurang terawat, bahkan rumput saja ada yang setinggi tiga jengkal tangan.


"Ayo masuk Sal... Maaf ya rumah gue kayak gini soalnya lo kan tau gue cuman tinggal sendirian di rumah ini!" ajaknya berkata jujur mungkin menyadari bola mataku melirik kesana kemari.


Aku tertawa kikuk "Ahhah gue paham kok!"


"Ya udah ayo masuk sekarang!" ajaknya lagi.


Willy memegang tanganku menarikku masuk kedalam rumahnya, Ruang tamu yang agak berantakan khas pria pemalas membuatnya seketika melepaskan genggamannya, terburu-buru merapikan barang yang tercecer di lantai depan televisi.


"Nggakpapa Will... "


"Maaf ya Sal...." keluhnya meminta maaf.


"Seharusnya gue yang minta maaf karena udah ngerepotin elo!" Serkahku.


"Enggak kok elo sama sekali nggak ngerepotin malahan gue bahagia karena elo disini sekarang!" ujarnya tersenyum semringah.


"Ohh yah lo mandi aja sekarang, elo pakai kamar mandi yang ada di kamar gue! nanti gue bisa mandi kalau elo udah selesai!" sambungnya berkata.


"Tapi gue nggak punya baju ganti Will... gimana dong!" ucapku cemberut.


"Ya juga yah! Kalau gitu elo bisa milih kaos gue di lemari yang bisa muat sama lo! lagian kaos gue banyak yang agak sempit jadi pastinya ada yang cocok jadi elo pilih aja!" jawabnya sembari membereskan barang.


"Asiap.... Ehh tapi tunggu dulu!"


Dengan secepat kilat Willy berlari melewatiku masuk kedalam kamarnya, terdengar pintu itu ia kunci tak lama kemudian suara bising seperti membereskan sesuatu terdengar dari dalam sana.


Tok tok tok


"Will lo ngapain di dalam sana! ngunci pintu segala lagi!" selidikku curiga setelah mengetuk pintunya.


"Gue nggakpapa Sal... gue cuman beresin sesuatu lo tunggu sebentar ya!" teriaknya dari dalam kamar.


Beberapa menit berlalu pintu terbuka, keluarlah Willy dengan penuh keringat, serta nafas yang tersenggal dia tampak letih bahkan sampai terduduk di depan pintu kamarnya.


"Hufh lo bisa masuk sekarang Sal...." ucapnya ngos-ngosan.


"Lo habis ngapain di dalam sana?" tanyaku heran.


"Hahah nggak! gue nggak lagi ngapa-ngapain ahh... gue cuman pemanasan doang tadi di dalam kamar heheh!" balasnya cengingisan.


"Ohh kalau gitu gue mau mandi! minggir!!" balasku mulai berjalan masuk kedalam kamarnya.


Mataku melebar memandangi seisi kamar yang tidak seperti ruang tamu tadi, pasalnya kamarnya itu sangat bersih barang-barang tertata dengan sangat rapi.


Aku baru menyadarinya, mungkin dia tadi sengaja membereskan kamarnya ini agar aku merasa nyaman ketika masuk ke sini, atau dia tidak mau malu di depanku.

__ADS_1


Bahkan jika ini sudah bersih sejak awal mungkin aku lebih terkejut lagi sebab Willy memang terkenal sangat malas.


1 jam kemudian aku keluar dari kamarnya, baru beberapa langkah sudah tercium aroma sedap yang membuatku langsung menelan ludah.


Tanpa sadar aku berjalan sampai keruang dapur, mendapati sosok Willy tengah menyiapkan makanan di atas meja.


"Ehh Sal... ternyata elo udah selesai?" Sahutnya menyadari kedatanganku meski ia sibuk memindahkan makanan ke atas meja, bahkan ia tak melirikku karena kesibukannya itu.


"Ayo sini duduk! gue udah masak kita makan bersama!" panggilnya mulai terduduk namun boa matanya seketika melirik kearahku.


Yah... sepertinya penampilanku memang agak aneh, kaosnya yang sedikit kebesaran membuat tubuhku seolah tenggelam, sedangkan celana yang ku pakai adalah celanaku sendiri, aku tidak mau menggantinya karena tak ingin memakai barang Willy lagi, menurutku kaos ini sudah cukup.


"Kenapa Will aneh ya?" tanyaku.


"Iya Sal... maaf ya! kayaknya kaosnya kebesaran, kalau gitu setelah makan gue bakal ngajak lo belanja di mall kita beli kebutuhan lo!" ucapnya dengan santai.


"Nggakpapa kok! sekarang gue udah punya cukup uang lagian kan cuman beli keperluan lo! pastinya cukuplah... " lanjutnya berkata.


"Buruan, sini makan!!! " panggilnya tak sabaran.


***


Dirumah Sakit


Pada saat yang Sama, Kevin kembali ke ruangannya setelah menjenguk Clara yang di dampingi oleh suaminya sendiri.


Langkah kakinya begitu lesu, terkadang mengacak rambutnya, sambil mulai terduduk di kursi tempat ia menyibukkan diri, ia melamun menyandarkan tubuhnya di kursi empuk tersebut.


Mencoba menenangkan fikiran dengan memejamkan mata sekejap, namun tiba-tiba ketika perlahan membuka mata, ia melirik sekilas ke arah sudut ruangan.


Tubuhnya terkinjat memandangi CCTV, ia baru menyadari hal itu, Mungkin karena terlalu sibuk hingga dia melupakan kamera pengintai itu di ruangannya sendiri.


"Ahk Sial...." Ucapnya kesal dengan dirinya sendiri.


Dengan langkah cepat, ia menuju ke ruang Cctv, mengepal kedua tangannya penuh emosi, bahkan ketika ia membuka pintu ruangan ia malah membukanya dengan kasar.


Membuat pengawas Cctv itu terkejut! "Astagfirullah...." istrigfar pegawas tersebut sembari memegang dadanya.


"Cepat! tampilkan rekaman yang terjadi di ruanganku tadi!" perintah Kevin terdengar dingin.


"Ba-baik pak!" jawab pengawas tersebut terbata karena gugup dan takut.


Ketika rekaman mulai di putar, Kevin memasang wajah serius apalagi pada saat Menampilkan perkelahianku di mulai.


"Stop!" pintanya lagi


Kevin memandangi layar monitor yang di layar itu menampakkan diriku sedang dihadang pisau oleh Clara.


Kini ia mulai paham dengan alur yang sebenarnya terjadi, ia sangat-sangat terkejut, hanya melangkah mundur secara pelahan dengan fakta yang mencuak di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2