Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Di antar Willy


__ADS_3

Clik...


Seketika Willy mengunci pintu mobilnya, membuatku merasa sangat marah padanya, "Willy... Berhenti!!!" jeritku lagi membuatnya langsung memberhentikan mobilnya.


"Sal... Lo dengerin penjelasan gue dulu!" pintanya.


"Nggak! Gue nggak perlu dengerin kegilaan lo! Gue udah nggak bisa mahamin elo Will... " imbuhku mulai terisak.


"Sal... Elo nangis? Oke-oke gue minta maaf, tapi elo dengerin dulu penjelasan gue!"


Aku hanya diam memalingkan wajah menghindarinya, "Beri gue waktu buat nerima status baru lo! Tapi gue nggak janji bakal bisa lakuin itu, dan juga beri gue kesempatan kedua buat jadi sahabat lo lagi Sal... Jangan sampai karena elo udah punya suami bukan berarti kita udah nggak bisa jadi sahabat kan? Jujur gue rindu masa-masa terindah gue sama lo! " tuturnya.


Aku merasa terharu mendengarnya, air mata juga mulai mengalir membanjiri pipiku, "Jangan nangis Sal... " pintanya seraya menjulurkan tangan mau mengusap air mataku.


Namun sebelum tangannya menyentuh pipiku, dengan cepat aku menepisnya, bukan karena tak ada alasan, tapi karena aku tak mau merasa tersentuh lagi dengan sikapnya.


"Maaf! Sal... Please gue mau jadi sahabat lo lagi... " lirihnya.


Aku tak meresponnya, bahkan posisi ku masihlah sama seperti tadi tak menoleh sedikitpun dan tak mau menatapnya.


"Gue ngerti elo kaget sama sikap gue tadi! Tapi gue serius dengan kata-kata gue barusan Sal... " ucapnya lagi kembali tak ku jawab.


Hingga Willy mungkin sudah mulai merasa kesal sampai dia langsung menginjak pedal gas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Aku sama sekali tak menghiraukannya, hanya duduk diam di sepanjang jalan ini, tak ada lagi kata-kata yang kami lanturkan, sebab kami sama-sama kesal apalagi aku yang sangat ingin menghajarnya.


Menatap keluar walaupun ada kaca jendela mobil yang menghalangi membuatku merasa lebih baik begini dari pada harus menoleh menatapnya walau hanya dari ekor mata.


Ketika memasuki jalan komplek perumahan mama, mataku seketika melotot tatkala melihat sebuah mobil mau melintas di samping mobil Willy, mobil itu tampak tak asing bagiku.


"Ahh itu... Mobilnya Kevin?" gumamku berbisik.


Saat bayangannya samar-samar terlihat dari balik kaca mobilnya, aku segera menundukkan kepalaku, bersembunyi agar dia tak melihatku berada di mobil Willy.


"Ngapain dia ada disini?" gumamku lagi.


"Sal... Lo kenapa sembunyi?" Tanya Willy.


"Lo nggak perlu tau, jalan aja! " ketusku.


Setelah mobilnya sudah ku anggap cukup jauh, aku kembali ke posisi semula, tapi masih tak mau bercengkrama dengan Willy.


"Sal... kita udah sampai!" kata Willy setelah berhenti tepat didepan rumahku.


"Oh... " jawabku singkat.


Willy kembali meraih tanganku, memegangnya dengan kedua tangannya, "Lo masih marah sama gue? Sal... Please Jangan marah dong! Gue kan udah minta maaf sama lo!" ucapnya memohon.


Aku menepisnya dan langsung keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Sal...." panggilnya disela langkahku.


Namun aku terus berjalan mempercepat langkah masuk kedalam rumah, menutup pintu dengan sangat kencang menimbulkan suara yang sangat keras.


"Salsa!!! Apa yang kamu lakukan? Kamu mau merusak pintunya!!!" tegur mama yang datang kaget ketika mendengar suara keras dari pintu tadi.


"Eng...ini mah Salsa nggak sengaja kok!"


"Allllaahh nggk sengaja! Nggak sengaja apaan mama tadi sangat jelas liat kamu membanting pintu dengan sangat keras, emang ada apa sih! Kalau kamu punya masalah diluar sana nggak usah bawa kerumah, terus melampiaskan ke barang-barang yang ada dirumah ini!" seru mama lagi.


"Iya mah!" balasku malas.


"Emangnya ada apa sih! Ohh iya siapa yang nganterin kamu pulang!" tanya mama hendak mengintip dari balik gorden jendela yang ada di dekat pintu.

__ADS_1


Dengan cepat aku menghalanginya karena jangan sampai mama melihat dan tau bahwa Willy yang mengantarku pulang, sebab mama sangat membenci Willy tanpa ku tau apa penyebabnya dan jika mama tau mungkin aku akan mendapat pidato yang bisa merusak gendang telingaku.


"Ah... Sa... Salsa naik ojek mah! Emangnya kenapa? Mama mau nitip salam sama tukang ojeknya? Wahh nanti ayah marah lohh!" ucapku bercanda


Plakk


Mama memukul lenganku, "Kamu nih Sal....ngomongnya kok sembarangan banget sih! Lagian ayah kamu nggak pernah tuh yang namanya cemburuan!"


"Wah... Bahaya tuh mah mungkin ayah udah nggak sayang lagi sama mama!" ucapku lagi.


"Nggak ahh... Ohh iya hampir lupa! Tadi Kevin kesini! Katanya mau ketemu sama minta maaf sama kamu! Emangnya kenapa dia mau minta maaf?" tanya mama menatapku serius.


Aku tertunduk diam, "Sal...kok diam sih! Mama belum paham lohh kemarin mama nggak dengerin pembicaraan kamu sama jengk Mira karena perut mama sakit jadi balik kekamar minum obat terus ketiduran, jadi sekarang giliran mama yang interogasi kamu soal Kevin! " tutur mama sambil menarik tanganku menuju sofa.


Di sofa aku kembali terdiam, "Sal... Ngomong sama mama! Ayo... Kamu ini masih anggap mama sebagai ibu kandung kamu kan? Ya udah kamu bisa bicara sayang! Nggak usah di pendam, nanti bisa jadi penyakit lo!"


Aku menarik nafas panjang, karena aku berfikir ucapan mama ada benarnya lagi pula walaupun mama cerewetnya minta ampun tapi aku sudah terbiasa dan sebelumnya mama selalu mendengar curhatanku.


Beberapa menit berlalu, aku menceritakan semuanya kepada mama, sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukannya, mendapatkan kehangatan dari belaian lembut dirambut dan punggungku.


"Sabar ya Sayang! Mm... Mama ngerti perasaan kamu, mungkin ini sangat berat buat kamu sayang! Di usia muda kamu sudah dihadapkan sama pertengkaran rumah tangga, tapi asal kamu tau Sal.. .pasti ada hikmah dibalik itu semua!" imbuh mama dalam pelukanku.


"Didalam rumah tangga memang selalu ada pertikaian sayang! Mama sama ayah kamu juga sering begitu, tapi kamu lihat kan sekarang keluarga kita tetap harmonis, jadi tetap berusaha memperbaikinya, ada kala seorang wanita juga harus mengalah demi kebaikan! Tidak perlu merasa takut, Kevin mungkin cuman emosi sesaat dia pasti bisa berubah Sal..." sambungnya.


Aku terperangah mendengar hal itu sebab semua kata-kata mama hampir sama dengan ucapan mamanya Kevin, tak pernah kuduga ternyata pemikiran orangtua hampir sama persis.


Aku melepaskan pelukan mama, "Tapi mah... Ini bukan pertama kalinya Kevin bentak-bentak Salsa... Jadi Salsa putuskan mau pisah aja dari dia!"


"Apa!!!" pekik mama.


"Salsa sayang! Jangan terlalu cepat mengambil keputusan sepihak karena mama takutnya kamu akan menyesal, kamu tau kan penyesalan itu letaknya di belakang!" lanjutnya.


"Hah! Mama bilang menyesal? Ya nggak mungkin lah mama, Salsa hanya menderita tinggal sama dia! Lagian Salsa nggak punya perasaan sedikitpun sama dia!" jawabku.


"Kamu yakin nggak punya perasaan biar secuil gitu?"


"Tapi kenapa cincin pernikahan kalian masih kamu pake?" tanya mama menyadari hal yang sama seperti Willy tadi melihat cincin ini.


"I-ini nggak membuktikan perasaan Salsa mah! Kalau gitu Salsa bakalan lepasin cincin ini!" jawabku.


Aku mencoba mengeluarkan cincin sialan ini dari jemariku, namun sialnya cincin ini sama sekali tidak mau keluar, seakan ada yang menyangga, padahal dulu ketika Kevin memasangnya ini sangatlah pas, tapi kenapa sekarang! Kenapa sekarang tidak mau keluar sama sekali, fikirku mengeluh.


"Mah... Cincinnya nggak mau keluar! " keluhku


"Nah...itu artinya cuncin ini tidak mau kalian berpisah!"


"Hah!! Ini cuman cincin doang mama!, ya udah mama bantuin aku keluarin deh!" pintaku.


Berapa kali pun kami berusaha menariknya cincin ini tak bisa keluar malahan jemariku rasanya hampir putus karena ulah kami.


"Ya ampun Sal... Kamu gendutan yah! Kok nggak bisa keluar sih! Emangnya Kevin kasi makan kamu apaan?" tanya mama heran.


"Kasi makan penderitaan mah! Salsa kurus begini kok dibilang gendutan sih heh!" serkahku.


"Lah... Ini buktinya!" mama menunjuk ke arah jemariku


"Mungkin cincinnya aja yang menyusut!!!"


"Mana ada cincin yang menyusut, kecuali orangnya sendiri yang gendutan!" seka mama.


"Udah ahh! Cincinnya biarin aja, nanti juga terlepas sendiri, Salsa mau ke kamar dulu ya mah!" ucapku yang langsung di anggukkan mama, sedangkan aku berjalan seraya meringis kesakitan memegang tanganku yang memerah dan agak perih.


"Ohh iya Sal... Kevin tadi bilang dia mau datang besok jemput kamu pulang! Tapi kamu bisa fikir-fikir dulu sayang! Mau ikut apa enggak!" lirih mama berteriak di sela langkahku.

__ADS_1


Aku berbalik badan, "Mah... Salsa nggak mau ikut pulang kesana sama dia! Jadi kalau dia datang besok mama bilang aja Salsa butuh waktu buat sendiri!" jawabku lalu kemudian berbalik lagi dan berjalan cepat masuk kamar.


Didalam kamar aku masih termenung memikirkan Kevin, apakah dia memang bersungguh-sungguh atau tidak aku sama sekali tidak bisa menebaknya, apalagi dia hanya bisa bermuka datar setiap ada sesuatu hal yang ku sampaikan padanya, seolah ekspresinya tak menggambarkan sedikit rasa bahagia, dan hanya rasa marah yang ia tampakkan dengan tatapan matanya yang sering kali mencurut.


Aku mengeluarkan ponselku yang ada disaku celana yang ku pake, membuka Via WhatsAppku ternyata ada banyak chat yang masuk dari, Lena, Dita, David, Willy, dan Reno, ini mungkin terasa aneh, ketika mereka mengambil nomor WhatsAppku terkadang Willy menatap sinis kearah Reno seakan dia ingin melarang mengambil nomorku.


Aku sempat berfikir apa dia benar-benar cemburu?, akan tetapi aku takut terbawa perasaan jadi ku abaikan begitu saja.


Selang beberapa menit kemudian, aku sudah sibuk chatingan dengan Dita dan Lena, bergantian membalas chatnya hingga aku lupa waktu, mungkin benar kata orang sahabat adalah tempat yang bisa membuat kita melupakan masalah.


Namun, pesan Willy justru membuatku sangat terkejut, pasalnya dia Spam aku dengan kata maaf saja, sekalipun aku tak membalasnya sekedar membukanya saja aku tidak mau.


Akan tetapi dia tetap melakukannya hingga aku merasa risih dengan suara pesannya yang masuk, dengan kesal aku membisukan notifikasi chatnya.


Mungkin ada yang berfikir, apa tidak sebaiknya di blokir saja? Tapi aku tidak mau melakukannya, sekesal-kesalnya aku dengan sikapnya aku tidak ingin melukai perasaannya lagi hanya karena masalah ini.


Lagi pula, jika di blokir saja aku masih bisa ketemu diluaran sana jadi kufikir ini tindakan yang percuma.


Berbeda dengan David, setelah aku membalas chatnya dia kembali tak membalas chatku, mungkin sedang main game atau apa aku tidak tau.


Lain halnya Reno yang selalu aktif dan sangat gesit membalas chatku, tak butuh beberapa detik ketika chatku terkirim, balasannya langsung muncul lagi, terkadang aku menghela nafas karena chatnya hanya berisi gombalan murahan namun aku sama sekali tak tergoda.


💬"Sal... Lo tau nggak perbedaan kamu sama pohon jati? Kalau pohon jati itukan menggugurkan daunnya di musim panas! Tapi kalau kamu tidak akan gugur di hati aku walau badai menerpa, sekalipun bumi terguncang kamu masih melekat erat didalam hatiku" isi salah satu chatnya membuatku ingin segera muntah ketika membacanya.


Dia bertanya lagi, 💬"Gimana gombalan gue Sal... Elo pasti klepek-klepek kan sama rayuan maut gue hahah, elo beruntung loh ini gombalan yang baru aja gue dapat dan elo orang pertama yang gue kasi!"


Aku tak terlalu menanggapinya selain ingin muntah tetapi aku hanya mengirim stiker jempol sebagai balasan.


Namun ternyata dia masih membalasnya, 💬"Wahh jempol? Berarti elo suka dong?"


Aku mulai emosi, 💬" Reno! Udah deh, Gue nggak suka elo gombalin gue, nanti suami gue marah, dia bisa santet online lohh... " ancamku padanya.


💬"Wkwk gue nggak percaya sebelum elo nunjukin surat nikah atau foto pernikahan elo!" balasnya.


"Hah! Nih orang kayaknya emang udah nggak waras deh! Ngejar-ngejar orang kok sampai segitunya, lagipun cuman Kevin yang megang surat nikah kami, foto nikah aja nggak ada tuhh di ponsel gue! Gue mana mau foto bareng dia! Di rumah juga kesannya bukan rumah pengantin baru karena nggak ada pajangan foto pernikahan kami, tapi mah! Gue bodoamat!" gumamku dalam hati.


💬"Emangnya elo siapa minta-minta surat nikah gue?" kesalku.


💬"Nah... Lo ketahuan juga kan! Hadeh Salsa... Gue nggak mudah di bohongin loh!"


💬"Oh... Terserah! Gue mau tidur!" aku berbohong agar dia tak banyak merayu lagi.


Akan tetapi aku salah besar, ternyata dia masih membalas chatku dengan rayuan kunonya.


💬" Ya udah dehh... Selamat malam ya Sal... Sampai jumpa di dalam mimpi! Sambut gue dengan pelukan hangat di dalam mimpi lo yah! Karena bentar gue mau singgah heheh"


Aku kembali merasa mual membacanya, mengerutkan hidung, sambil memutar bola mata.


Seketika aku langsung mematikan ponselku dan langsung menggulung diri didalam selimut.


***


Pagi harinya, ada yang mengetuk pintu kamarku, aku sontak terbangun tapi belum membuka pintu karena rasa ngantuk masih menjalar di sekujur tubuhku.


Aku menungging di atas kasur, entahlah mungkin karena malas bangun aku memang terkadang melakukannya sebelum sadar.


Dengan membuka mata sebelah, rambut acak-acakan, berjalan lesu menuju pintu.


Ceklek.


Aku langsung tersadar, mataku melebar mendapati Kevin yang kini berdiri dihadapanku, saat ini aku merasa diriku sangat bodoh karena tidak bertanya siapa yang mengetuk pintu, tapi aku memang lupa selain karena masih mengantuk aku juga sempat berfikir bahwa yang mengetuk itu adalah mama.


"Kevin!!!" lirihku kaget.

__ADS_1


Tanpa fikir panjang lagi, aku hendak menutup pintu tapi sayang sekali dia menggunakan kakinya menyanggal pintu.


Akh... Aku terkinjat kaget sambil menutup mulutku yang dalam keadaan sedikit terbuka, "Ke-kevin! kenapa bisa elo ada disini?


__ADS_2