Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Lorong Rumah Sakit


__ADS_3

Willy dengan terpaksa pergi meninggalkan ruangan, dia berjalan lesu dengan perasaan bersalah kian menghantui fikirannya, sedangkan mereka hanya menatap kepergian Willy, termasuk Lena ia merasa sangat kasian dengannya.


Willy terus berjalan disepanjang lorong rumah sakit.


Bugg


Punggungnya sakit, tatkala ketika ia tak sengaja menabrak seorang dokter yang ternyata itu adalah Kevin.


Willy menghentikan langkahnya, dia berbalik ingin meminta maaf namun Kevin tampaknya tak perduli, Kevin terus berjalan tanpa menoleh kebelakang, Willy menatap punggung Kevin


"Sepertinya gue pernah lihat dia!" gumamnya.


Dia merasa sosok itu tampak tidak asing di matanya, Dan benar saja Kevin berjalan menuju ruang inapku.


Mata Willy tak bisa berhenti untuk terus menatapnya, ia merasa sangat penasaran dengan siapa sosok Kevin sebenarnya, ia bermaksud ingin mengejar namun nyalinya menciut ketika mengingat ocehan mama.


Willy meremas rambut kepalanya, ia merasa frustasi dengan semua masalah ini.


Sementara itu didalam ruangan, suasana masih mencekam, mama masih tak hentinya ingin marah, muka mama memerah menahan gejolak yang menguasai dirinya.

__ADS_1


"Tante, lebih baik kami pergi juga ya! Kami nggak enak sama Willy tan! Kan kami datang bareng, jadi pulangnya harus bareng juga kan? Heheh" tutur Dita dengan cengingisan disuasana canggung itu.


"Oke, kalau itu mau kalian! " ketus mama.


Akhirnya mereka pamit, Lena mempercepat langkahnya agar bisa menyusul Willy, sedangkan David dan Dita, berjalan santai dengan sesekali saling melirik satu-sama lain.


Wajah Dita masih tampak gelisah hingga membuat David merangkulnya.


"Udahlah, Dit... Salsa akan baik-baik aja kok! Kita do'ain yang terbaik aja buat dia!" ujar David.


"Gue nggak nyangka ini bakal terjadi sama Salsa! Vid! "


Sempitnya lorong rumah sakit dan orang yang berlalu lalang membuat mereka merasa sesak, kevin yang sedang fokus berjalan menatap lurus kedepan tanpa sengaja berpapasan dengan David dan Dita, kini mereka bertiga berhenti untuk melangkah.


Dita menatap Kevin, namun Kevin malah memutar bola matanya, ia bermaksud ingin melangkah kekanan.


Namun David dan Dita juga melangkah yang sama dengannya, Kevin mendengus lalu melangkah Kekiri.


Tetapi tak disangka David dan Dita kembali melangkah kekiri juga, kevin mulai emosi, ia mengepalkan tangannya lalu mendorong keras David, David terhempas hingga kepalanya membentur ke tembok.

__ADS_1


"David! Lo nggakpapa?" tanya Dita kaget menghampiri David yang tengah meringis menahan sakit diarea kepalanya, dan membantunya untuk berdiri.


Kevin mengabaikan keduanya, dia seolah tak perduli dan hanya terus melangkah,


"Woy bro..., mata lo ditaruh dimana? Nggak punya mata atau lo sembunyiin ditelapak kaki lo! " ketus David dengan mengepalkan tangan kanannya.


Seketika Kevin menoleh ia menatap dingin kearah mereka, Dita merasa aneh dengan tatapan itu, namun lain halnya dengan David yang juga melotot membalas tatapan dingin Kevin.


"Ngapain lo melotot? Nggak usah pamer mata sipit lo, mata David juga sipit, atau pengen gue congkel mata lo?, lo dokter tapi kelakuan lo kayak manusia bren*sek!!" Ketus Dita lagi.


Ucapan Dita sontak membuat banyak pasang mata kini tertuju kearah mereka, David yang menyadari akan hal itu, langsung menutup mulutnya.


"Diam Dita! Mulut lo nggak ada saringannya ya? "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2