Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Dansa!


__ADS_3

HAPPY READING 🤗


"OMG...ikutin semua? Gimana caranya! bagaimana bisa gue praktekin langsung padahal belum belajar sebelumnya? Dasar!" gerutuku dalam hati.


Perlahan dia melangkahkan kaki kanannya kesamping, lalu aku mengikutinya, setelah itu melangkah lagi kekiri, gerakan itu dilakukannya dengan sangat lambat mungkin karena ingin mengajariku.


"Ya ampun ternyata cuman melangkah kiri, kanan tohh, kalau itu mah dari dulu gue juga bisa! Bilang kek dari tadi!" gumamku dalam hati.


Akan tetapi karena terlalu sok tau, akhirnya aku lupa akan melangkah kemana lagi selanjutnya, Kevin melangkah kekanan sedangkan aku ingin melangkah kekiri, karena hal itu aku menjadi panik namun kemudian dia mengubah gerakannya dengan cepat hingga tak disadari oleh orang-orang yang menyaksikan kami.


Awalnya aku merasa senang karena dia melakukan itu agar aku tak malu, hingga pada akhirnya kami melanjutkan langkah dan tanpa kusadari aku menginjak kakinya dengan high hill yang kupake sekarang.


Aku yang merasakan menginjak sesuatu langsung menoleh kebawah, setelah menyadarinya dengan cepat aku mengangkat kaki, lalu kupandangi wajahnya yang tampak meringis menahan sakit.


Melihatnya merem melek ingin sekali rasanya aku tertawa terbahak-bahak namun niatku itu tak kulakukan dan hanya tersenyum puas, karena tak ingin malu dihadapan orang banyak.


"Ups sorry~, sakit banget ya?! Heheh" bisikku dengan cengingisan.


Sesaat kemudian gerakan kami menjadi lebih teratur, dan dengan percaya diri aku melakukannya sembari terus memancarkan senyum termanisku pada semua orang sambil mengikuti gerakan Kevin.


Seketika gerakannya sangat cepat dan aku juga tak mau kalah, tiba-tiba dia melangkah maju tanpa Memberitahukan padaku terlebih dulu, hingga membuatku kaget dan melangkah mundur akan tetapi aku tak sengaja menginjak gaun yang kupake, akh sialnya...


Aku yang syok hanya bisa menganga karena kufikir akan terjatuh terlentang dilantai dan disaksikan oleh puluhan pasang mata, akan tetapi tiba-tiba Kevin meraih tubuhku, yang sontak membuat kaki kananku terangkat keatas, dan karena hal itu jantungku terasa ingin melompat keluar dari tempatnya.


Tanpa kusadari tanganku melingkar di lehernya, mata kami pun ikut bertemu hingga bertatapan beberapa menit.


Wahh prok prok prok


Tepuk tangan dari tamu undangan pada akhirnya menyadarkan kami dari tatapan yang bisa dianggap sosweet oleh para netizen.


Kevin melepaskan tangannya dari pinggulku, begitu pula denganku yang dengan cepat melepas tangan dari lehernya.


"Wahh, ternyata kalian hebat banget dansanya yah! Saya salut sama kalian, masih muda tapi sudah bisa menguasai gerakan yang sangat susah dilakukan bagi orang pada umumnya! Pokoknya kalian adalah pasangan yang sangat top markotop dehh!" tutur seorang wanita seumuran mama yang mendekati kami seraya terus bertepuk tangan.


"Cih...romantis apaan, kayaknya nih orang butuh kacamata dehh! kagak lihat apa, tadi itu gue hampir jatuh eh dikirain pasangan yang sosweet, romantis lahh, hadehh gue udah nggak paham lagi sama emak-emak zaman sekarang!" umpatku dalam hati.


"Terimakasih pujiannya!" balas Kevin dengan tersenyum lebar kepada wanita tersebut.

__ADS_1


"Ahahaah ibu nih bisa aja, kita dansanya biasa-biasa aja kok lagian kami baru pemula bu!" ucapku


"Wahh ternyata kamu tidak hanya cantik tapi juga rendah hati ya? Saya doakan semoga pernikahan kalian langgeng sampai ajal menjemput ya." puji wanita tersebut dengan menepuk pelan bahuku.


"Ahahaah iya bu, makasih pujiannya!" jawabku dengan tersenyum kikuk.


***


Beberapa jam kemudian akhirnya acaranya selesai, badanku sudah mati rasa karena terlalu banyak bergerak kesana kemari, wajahku juga terasa kaku karena harus memasang senyum terus menerus.


Meskipun demikian aku tetap saja tak bisa mengeluh karena mama terus mengawasiku,


Ingin sekali rasanya merebahkan diri diatas kasur namun apalah dayaku yang menjadi ratu sehari ini.


"Sal... Mama sama ayah kamu, pulang duluan ya!" ujar mama.


"Lohh jengk, udah mau pulang? Kalau gitu aku juga pulang dehh soalnya aku ada sedikit urusan!" sambung tante Mira.


"Kalau kalian pulang duluan, terus Salsa gimana?" tanyaku dengan bingung.


"Lah kamu lupa, apa gimana? Kan sekarang ada suami kamu si Kevin!" jawab mama.


"Mah... Salsa nggak mau pulang sama dia!" keluhku dengan menoleh sekilas kearah Kevin.


"Aduh Salsa... Pokoknya kalian pulang bersama! Kan kamu harus ganti baju dulu jadi biar Kevin yang temanin kamu, lagian mama capek banget, kalau mamamu ini mati karena kecapekan, kamu mau?" lirih mama.


"Tapi mah, masa harus Kevin sih!"


"Udah mah, biar Kevin bareng Salsa pulangnya, jadi kalian bisa pulang duluan!" ucap Kevin memotong pembicaraan kami.


"Ya udah, urusan Salsa aku serahin ke kamu ya nak Vin!" jawab Mama.


Pada akhirnya mereka semua pulang dan kini tersisa tinggal aku dan Kevin, suasana seketika sangat canggung diantara kami, hingga aku memilih untuk turun dari panggung pelaminan, dan berjalan menuju kamar hotel yang kutempati tadi.


Ceklek


Aku membuka pintu lalu merebahkan diri diatas kasur, sungguh sangat nyaman dan hangat, rasanya seperti semua tulang, otot, sendi-sendi serta aliran darahku kembali berfungsi normal.

__ADS_1


Aku merenggangkan kaki dan merentangkan tangan lalu mengelus-elus kasurnya terus-menerus.


Setelah itu aku menarik nafas panjang sembari menatap kearah langit-langit hotel.


"Gue sekarang udah nikah? Terus kehidupan gue nantinya kayak gimana?" tanyaku pada diri sendiri namun tak ada yang bisa menjawabnya.


Perlahan aku memejamkan mata, menikmati sensasi lembut dari kasur hotel ini, berharap semua rasa lelah akan hilang ketika aku membuka mata.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu, membuatku membuka mata dan langsung beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintunya.


"Siapa sih, yang ganggu ketenangan gue?"ucapku kesal disela langkahku seraya mengerutkan dahi.


Aku membuka pintunya dan ternyata yang datang adalah salah satu pegawai hotel yang membawakan baju ganti untukku.


Aku mengambil baju itu, lalu berterimakasih dan pada akhirnya pegawai tersebut langsung pergi.


Kini aku kembali menutup pintu seraya berjalan malas menuju pinggir ranjang dan melemparkan baju tersebut diatas kasur.


Aku mulai membuka resleting gaunku, secara perlahan tapi pasti dan pada akhirnya terlepas dari tubuhku, aku merenggangkan badan hingga terdengar bunyi yang dihasilkan oleh gesekan tulang, mungkin karena terlalu banyak berdiri sehingga rasa capek menguasai tubuhku.


Setelah gaun itu terlepas, aku menatapnya datar lalu melemparnya kesembarang tempat


"Dasar gaun sial*an nyusahin orang aja! Beratnya juga minta ampun, dan gara-gara lo hari ini gue sial banget!" gerutuku dengan menunjuk-nunjuk kearah gaun.


Ceklek


Tiba-tiba ada yang membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu, aku yang panik sontak menutup tubuh setengah telanjangku yang hanya berbalut celana dalam dan BH dengan tanganku.


Akh... Aku berteriak sebelum menoleh ke arah orang yang membuka pintu, dan dengan cepat aku terduduk agar dia tak melihat tubuh polosku ini.


Perlahan aku menoleh dan ternyata itu Kevin lagi, "Lo nihh apa-apaan main nyosor aja nggak tau ngetuk pintu dulu!!!" teriakku kesal.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2