Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Sesampainya di rumah Sakit, mereka menuju ke resepsionis, bertanya tentang kamar yang sedang kutempati.


Setelah mendapatkannya, mereka semua berlari mencari-cari nomor yang resepsionis itu berikan.


Ceklekk


Pintu terbuka lebar, mata mereka terbelalak memandangi selang pernafasan kini terpasang dihidungku, mataku masih tak kunjung terbuka, aku masih berada tenang di alam mimpi, Dita dan Lena berjalan cepat kearahku, mereka langsung menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat tubuhku.


"Salsa.. Apa yang terjadi sama Lo, lo jangan tidur terus dong Sal..! Buka mata lo salll, buka....." teriak Dita yang tak bisa membendung air matanya lagi, dia hanya bisa mengoyang-goyangkan tubuhku, namun tak mendapat respon.


"Salsa... Bangun dong.. Lo jangan tinggalin gue, nanti kalau lo mati gue udah nggak punya teman yang cantik lagi huhu" lirih Lena yang terisak sambil mengusap ingusnya.


Willy dan David meneteskan air mata yang sedari tadi hinggap dipelupuk matanya, air mata yang sedari tadi mereka tahan kini mengalir begitu saja memandangi diriku yang tak berdaya.


Willy seketika mendekatkan wajahnya tepat didekat punggung tanganku.

__ADS_1


"Maafin gue Sal... Maafin gue, gue menyesal banget sekarang, ini salah gue, jika saja gue nggak nembak lo didepan umum!, mungkin ini semua nggak akan pernah terjadi sama lo, Maafin gue ya Sal... Gue mohon lo bangun sekarang " ucapnya yang mengelus tanganku dengan wajah yang kian kurindukan, dia seketika menggenggam erat jemari tangan kiriku menempelkannya pada wajah penuh air mata yang terus mengalir itu.


"Jadi ini semua karena kamu?" teriak mama dengan lantang yang secara tiba-tiba datang dan mendengar semua ucapan yang Willy lontarkan.


Mama melangkah cepat kearah Willy, ia dengan penuh emosi langsung menarik rambut Willy.


"Sini kamu! " Sergah mama yang menyeret willy keluar dari ruangan tanpa melepaskan tangannya.


"Maafkan Willy tante... Willy nggak tau itu semua bakal terjadi! " pinta Willy dengan wajah memelasnya.


"Saya sudah pernah bilang sama kamu, jangan pernah dekat sama anak saya lagi! Tapi apa, kamu mengabaikannya, dan lihat sekarang apa yang terjadi sama anak saya! " tutur mama membuat Willy terdiam dia hanya bisa menunduk mendengar semua perkataan mama.


"Dasar bocah busukk, ini semua gara-gara kamu! " cibir mama yang kembali ingin menerkam Willy namun seketika Lena datang dan memeluk erat tubuh mama berusaha untuk menahannya.


"Hentikan tante... Kami tau tante khawatir, tapi kami juga sama seperti tante! Andai saja kami tau itu bakal terjadi, mungkin kami akan mencegahnya namun takdir sudah menyiapkan scenario yang manusia tidak tau tan!" potong Lena yang membuat mama terdiam.

__ADS_1


"Jadi kamu juga membela dia? Oke lebih baik kalian semua pergi dari sini, saya tidak mau melihat muka kalian ada disini lagi!, Kalian sudah menyebabkan anak saya masuk rumah Sakit! " ketus mama yang melepaskan diri dari Lena dan kemudian melotot kearah mereka.


"Tante udah dong! Seharusnya tuhh kita do'ain Salsa biar cepat Sadar, bukannya malah marah-marah tan!, nanti penyakit tante kumat lagi gimana? " lanjut Dita yang mendekati mama dan mengelus pundak mama dengan pelan.


"Tapi ini memang Salah dia Dita!!!" mama kembali melotot sembari menunjuk-nunjuk Willy.


"Tan!!, dengerin Dita! Willy juga nggak tau ini semua bakalan terjadi, dia hanya bermaksud ingin membuktikan keseriusan dia sama Salsa, jadi Dita mohon Sama tante maafin Willy ya! " ungkap Dita.


"Saya tidak mau memaafkan dia, sekarang kamu pergi dari sini, pergi!!! ,Dasar bocah busuk" seru mama.


.


.


.

__ADS_1


NEXT???


__ADS_2