
Aku dan Willy berjalan cepat menelusuri lorong rumah sakit, menuju ruang bersalin hingga didepan sebuah ruangan yang tak jauh dari pandanganku aku melihat Lena berlari ke arahku.
"Sal...!" panggil Lena membuatku sedikit mempercepat langkah ke arahnya.
"Bagaimana? Apa Dita sudah melahirkan?" tanyaku.
"Belum Sal... Dia masih didalam!" jawab Lena terlihat gelisah.
"Terus David kemana?" Seka Willy celingak-celinguk mencari David.
"Dia ada didalam dampingin Dita!" Aku kaget, seorang David yang biasanya tak punya nyali, hari ini tiba-tiba menjadi seorang pahlawan, tapi aku juga kagum dengannya, sebab perasaannya tak berubah sedikitpun walau Dita mengandung anak orang lain.
Eak...eak... Eak...
Tangisan bayi terdengar melengking dibalik pintu ruang bersalin, aku, Lena dan Willy bisa bernafas lega.
"Wahh... Akhirnya... Anaknya Dita pasti cantik kayak gue! Ehh tapi kalau itu cowok? Ahh pasti lucu.... " kata Lena.
"Udah... Kita lebih baik masuk aja! Nggak usah banyak omong" tegur Willy menarik lengab Lena untuk masuk.
Aku cengingisan sembari mengikuti mereka dari belakang, kulihat David tersenyum cerah ke arah Dita yang berwajah penuh keringat.
Sementara sang bayi, di bawa oleh suster untuk dibersihkan, "Wah... Selamat ya Dita, akhirnya kamu sudah menjadi seorang ibu!" ucapku.
"Hm... Iya Sal... Makasih ya!" balas Dita
"Anak lo perempuan apa laki-laki? Pasti gemesin banget ya Dit? Ugh... Gue nggak sabar mau gendong ya ampun!!!" Racau Lena.
Sama halnya dengan sahabatku yang berisik itu, aku juga tidak sabar melihat wajah mungil bayi Dita, bahkan tanganku sudah gemetar sebab ingin tau rasanya menggendong bayi yang baru lahir.
Begitu bayinya sudah datang bersamaan dengan susternya, Aku semakin gugup, mataku tak hentinya menatap kedatangan suster itu yang menggendong bayi Dita
Hingga ketika suster tersebut meletakkan bayi mungil itu kepangkuan Dita, Aku memberanikan diri untuk meminta Izin menggendongnya, "Dit... Apa boleh aku menggendongnya?"
Dita mengangguk dengan berkata, "Tentu saja boleh Sal... Nggak usah canggung kali!" tukas Dita bercanda.
__ADS_1
Perlahan Aku mulai menggendong tubuh kecil bayi itu, meski sangat takut tapi aku juga taj lupa untuk berhati-hati, tangan kecil nan mungil membuatku merasa sangat gemas apalagu dengab warna kulitnya yang masih kemerahan.
"Wah... Anak lo cantik banget Dit!" Lena yang berdiri disampingku tak henti-hentinya memuji bayi Dita.
"Dia cowok Len... Bukan cewek!" Serkah Dita.
"Yah... Gue kirain cewek loh! Tapi nggakpapa cewek-cowok tetep gemesin kok!" ujar Lena mengelus-elus pipi bayi Dita yang ada dalam gendonganku.
Tanpa sadar ketika aku menatap bayi itu, makin lama aku ingin menangis, mataku sampai berkaca-kaca namun aku tak ingin temanku menyadarinya.
Aku mendoggakkan wajah, agar air mata yang ada dipelupuk mataku gagal untuk mengalir, "Sal... Elo kenapa?" tanya Willy.
Aku menggeleng pelan, tak ingin mengeluarkan suara, "Gue tau elo nangis Sal... Mungkin elo keinget sama janin lo kan? Yang sabar yah!" Imbuh Dita.
Aku masih terdiam, kuangkat lebih dekat bayi Dita ke wajahku, kucium lembut pipinya, membuat tangisku seketika pecah begitu saja.
Huhuh....
Lena langsung memelukku dari samping, "Jangan nangis dong Sal!" Ia terdengar ikut terisak.
"Sudah-sudah! Lo nggak usah nangis Sal!" Ucap David yang sejak tadi berdiri didekat Dita
Berkat semuanya aku mencoba menahan diri dan bersikap tenang, "Hufh... Baiklah ini adalah momen bahagia jadi tidak sepatutnya aku menangis! Intinya selamat ya Dit, akhirnya kamu berhasil melewati masa tersulitmu dan Lihatlah orang yang benar-benar menyayangi Dita... Lain kali jangan mengabaikannya lagi!" tuturku memberi kode tentang David padanya.
"Iya... Gue ngerti kok heheh!" Cengirnya dibalas decakan oleh David.
Aku menyerahkn bayi itu kepada Dita, Meski rasanya masih ingin menggendongnya tapi ada sesuatu yang harus kutuntaskan dalam diriku untuk saat ini.
"Ehh teman-teman sepertinya aku harus pamit dulu! Ada sesuatu yang harus ku urus!"
"Urusan apa sih Sal? Jangan-jangan mau cari pak dokter ya? Mau buru-buru buat dede bayi ya?" goda Lena.
"Ahh Bukan! Tapi ini sesuatu yang penting banget jadi aku harus pergi!" sampai jumpa lagi" pamitku sambil balik badan.
"Hati-hati Sal!" sahut Willy kuiyakan tanpa berbalik.
__ADS_1
***
Aku berlari ke arah lorong yang sepi, ditengah langkahku, air mata yang sempat tertahan kini dengan leluasa ku biarkan mengalir begitu saja.
Yah... Sesuatu yang ku maksud tadi adalah air mata yang jika kutahan hanya bisa membuat dadaku sesak, dan jika ku keluarkan didepan para sahabatku takutnya mereka menganggapku kasihan.
"Sal....! Salsa!!!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Kevin yang berdiri tak jauh dari hadapanku.
Seketika aku berhenti melangkah, berbalik badan untuk menyeka air mataku agar dia tak mengetahui jikalau aku sedang menangis
Tap... Tap... tap...
Suara langkah kaki itu terdengar menghampiriku, semakin dekat suara itu aku juga semakin mempercepat mengelap air mataku hingga benar-benar terasa kering.
"Salsa! Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Kevin.
Aku tertunduk diam, "Sal! Ada apa? Kemana kamu tidak menjawabku?" Kesal Kevin bertanya lagi.
"Ehh Dita melahirkan jadi aku datang kesini menjenguknya!" jawabku cepat bahkan tanpa memberi spasi disetiap pengucapanku
"Tatap aku!" perintahnya kembali tak ku patuhi.
"Aku bilang tatap mataku! Apa begini caramu menghormatiku sebagai suami mu? Sal! Tatap aku dan jawab, ada apa?" Tegasnya memberi titah.
Begitu Kevin menyelesaikan ucapannya, aku langsung memeluk erat tubuh Kevin tanpa berani menatapnya terlebih dahulu.
"Huhuh... Maaf! Bukan seperti itu maksudku Vin! Maaf... Jangan marah!" pintaku.
"Ada apa Sal? Kenapa kamu menangis?"
Aku melepaskan pelukanku dan masih tetap menunduk, seraya menjelaskan detail alasan sebenarnya aku seperti ini.
"Ohh jadi hanya karena kamu melihat bayinya Dita jadi menangis? Terus kamu teringat dengan keguguranmu" Respon Kevin.
"Yah... Dan aku takut! Kan sampai sekarang aku masih belum hamil juga! Jangan-jangan ada masalah dengan rahimku! Apa tidak sebaiknya aku melakukan pemeriksaan?" Gelisahku.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu! Mungkin saja kita memang belum terlalu berusaha! Tidak perlu terburu-buru sayang! Dan aku yakin kandunganmu pasti baik-baik saja!" Terang Kevin.