Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Si Kecil


__ADS_3

Saat Jenazah Clara sudah di masukkan kedalam mobil ambulance, Juna ikut dengan ayahnya, sedangkan aku tetap bersama Kevin.


Kami berniat untuk mengikuti mobil ambulance tersebut yang menuju ke rumah kak Syam sebelum Jenazah Clara di makamkan.


Namun saat di tengah perjalanan perutku terasa sakit, "Sayang! Ada apa kenapa kamu seperti itu?" tanya Kevin menyadari wajahku yang terlihat menahan sakit.


"Vin! Ahh sepertinya perutku sakit!" lenguhku.


"Apa!!!" Kevin kaget dan langsung meminggirkan mobilnya dipinggir jalan, ia terlihat syok, "Bagian mana yang sakit? Ahh Sal... sepertinya air ketubanmu pecah, lebih kita kerumah sakit sekarang!" kata Kevin melihat Cairan keluar dari tubuh bagian bawahku.


Aku mengangguk, "Ahh Vin! Sakit!!!"


"Aku akan mengebut! Tahan ya sayang!!"


Tanpa basa-basi lagi Kevin benar-benar melaju dengan sangat cepat, aku yang berusaha menahan sakit seperti kram dibagian perut tak bisa mengucapkan apapun selain menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.


***


Tiba didepan rumah sakit, Kevin sendiri yang menggendongku masuk tanpa mau seorang perawat membantunya, ia dengan langkah cepat masuk keruang bersalin.


Terlebih dahulu, dokter kandungan tersebut memeriksa kandunganku, "Sepertinya bayinya sudah mau keluar, air ketubannya juga sudah pecah!" ucap sang dokter.


Perasaanku bercampur aduk mendengarnya, ada rasa gugup dan takut, namun Kevin yang sejak tadi berdiri disampingku tak henti-hentinya menggenggam terus tanganku.


"Jangan takut Sayang! Aku ada disini!" imbuh Kevin menguatkanku.


Perkataan itu malah membuatku seakan sedikit tenang, "Dok! Sakit dok... ahk... " Jeritku lagi.


"Tarik nafas ya bu! Sebentar lagi bayinya akan keluar!" balas sang dokter.


"Sayang! Kalau kamu ingin mencengkram sesuatu kamu bisa menggunakan lenganku!" Ucap Kevin.


"Ahk... Vin.... Sa-kit!!! Ahk.... " Aku tak menghiraukan ucapan Kevin malah mencengkram lebih keras genggamanku pada tangannya.


Hingga sesuatu yang terasa sangat besar keluar dari tubuh bawahku menggobrak lubang sempit milikku meninggalkan rasa sakit yang amat luar biasa perih.


Oek oek oek....


Aku menghela nafas panjang kala mendengar tangisan nyaring seorang bayi, tubuhku terkulai lemas sembari mengatur nafas.


"Wah... Selamat ya bu! Bayinya laki-laki!" ucap sang dokter.


Dengan tatapan sayu aku menatap buah hatiku yang masih berlumuran darah, tanpa sadar air mataku mengalir dengan sendirinya.

__ADS_1


Aku menangis haru, yah... Begitu terharu hingga membuat air mataku terus mengalir, "Vin... Akhirnya...." pandanganku teralihkan ke Kevin yang Ternyata sama sepertiku, sejak tadi dia melihat bayi mungil yang digendong oleh dokter, matanya berkaca-kaca, tanpa mau melepaskan pandangannya itu, "Makasih sayang! Makasih banyak! I love you so much Sal.... " ungkapnya menyeka air mata dari sudut matanya.


Lalu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.


Cup... Cup... Cup....


Dikecupnya jemariku berulang kali, membuat sorot mata dokter yang menggendong bayiku menatap Kevin dengan tertawa pelan.


"Sekali lagi selamat ya, kepada dokter Kevin dengan bu Salsa, kalau begitu saya bersihkan dulu bayinya!" kata dokter tersebut kuanggukkan bersamaan oleh Kevin.


Aku kembali menatap lekat kearah Kevin, "Vin! Akhirnya kita sekarang punya bayi! Aku... Aku tidak tau lagi harus berkata apa!" lirihku menangis tersedu-sedu.


Seketika Kevin menyeka air mataku, "Jangan menangis sayang! Kamu sudah melakukan yang terbaik! Makasih banyak sudah melahirkan bayi kita dengan selamat, Makasih!" ungkapan itu terus ia utarakan.


***


Beberapa saat kemudian, dokter yang tadinya membawa bayiku untuk dibersihkan dari lumuran darah, kini sudah datang.


Langkah dokter tersebut yang begitu pelan membawa bayiku dengan bungkusan selimut bayi berwarna putih, membuatku begitu gugup.


Meskipun rasa sakit masih sangat kurasakan saat ini, apalagi ketika tadi dokter menjahit bagian bawahku sungguh, itu adalah momen dimana seorang ibu benar-benar merasakan sakit yang luar biasa.


"Ini bayinya pak! Wah... Sangat tampan ya! Sepertinya ketampanan ayahnya menurun ke anaknya heheh!" tutur dokter tersebut menyerahkan bayiku dalam gendongan Kevin.


Dokter itu tersenyum cerah "Hahah Wah... Sepertinya kali ini saya sangat beruntung yah! Karena ini pertama kalinya dokter Kevin berterimakasih kepada saya!" Ujar dokter tersebut


"Ahh Iya... Lain kali saya akan banyak berterimakasih kepada semua dokter yang ada di rumah sakit ini!" canda Kevin membalas ucapan sang dokter.


"Hahah Dokter Kevin ini bisa aja! Ohh iya sebelum saya keluar saya ingin beritahu kepada bu Salsa untuk memberikan ASI pertama untuk bayinya karena ASI pertama sangat penting bu!" Ungkap Dokternya lagi.


"Ahh kalau begitu mohon bantuannya dok!" pintaku.


Aku seperti ini karena pertama kalinya bagiku, bahkan rasanya pay*daraku terasa sangat berat.


Kevin menyerahkan bayiku dalam gendonganku, dokter membantu agar pay*daraku mengeluarkan ASI, hingga cairan putih menetes meskipun tak begitu deras.


Aku mengerahkan mulut bayiku menuju sumber air susuku, awalnya aku memejamkan mata sekilas ketika p*tingku sudah berada dalam mulut mungilnya.


Tiba-tiba saat si kecil mulai menyedotnya aku terkekeh geli, ada perasaan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.


"Ada apa Sayang!" tanya Kevin.


Aku tersenyum masam kearahnya, "Ugh... Geli banget!" lenguhku dengan nada manja.

__ADS_1


"Hahah aku kirain ada apa!" balasnya tertawa.


"Ahk kalau begitu saya keluar dulu yah!" pamit dokter tersebut langsung ku iyakan.


Kini hanya ada aku, Kevin dan si kecil, "Hidungnya mirip denganmu Sayang!" Kataku.


"Hm... Aku rasanya matanya mirip sama punya Sal!" Balas Kevin.


"Ahk... Sepertinya wajahnya seperdua dari wajah kita! Hahah!" aku tertawa keras saking bahagianya ada si kecil diantara kami berdua.


"Tapi nanti aku bakalan sedih!" serkahnya.


"Lah... Kenapa?" heranku.


"Si kecil sekarang mengambil posisiku!" rengeknya seperti anak kecil.


Aku bertambah heran, "Maksud kamu apaan?" Tiba-tiba Kevin menjatuhkan pandangannya kearah pay*daraku, dan aku sangat mengerti maksud mesumnya itu, "Kamu nih apa-apaan sih! Jangan aneh-aneh deh!"


"Hahah maaf! Aku hanya bercanda untuk mengiburmu! Agar kamu tidak kesakitan lagi! Karena sejak tadi aku melihatmu terus meringis!"


"Ini memang sangat sakit! Tapi aku akan berusaha menahannya, kamu tenang saja sayang!" imbuhku.


Kevin mengusap lembut rambutku, "Aku memang sangat beruntung memilihmu sayang! Kamu begitu luar biasa! Aku bangga" Kevin terus menerus memberiku senyuman hangat dan itulah sebabnya aku sangat nyaman berada terus mendampinginya sebagai seorang istri.


***


Esok harinya lebih tepatnya sore hari, aku sudah bisa pulang kerumah lantaran kesehatanku sudah agak pulih terkecuali rasa nyeri dibagian jahitan ditubuh bawahku.


Saat dirumah aku sendiri yang terus menggendong si kecil hingga kekamar, Begitu pula Kevin yang menyusulku.



Pandangan kami berdua terus menatap wajahnya yang begitu menggemaskan, bahkan jemari kecilnya selalu membuatku tersenyum.


"Sayang! Eh... Kamu sudah menyiapkan nama buat si kecil kan?" tanyaku menatap Kevin.


"Hm... Sebenarnya sih ada, tapi siapa tau kamu tidak setuju dengan nama itu!" Sekanya.


"Memangnya siapa?"


"Bagaimana kalau namanya baby 'Kaisar'! Maaf aku tidak bisa mendapatkan nama bayi yang begitu cocok! Tapi hanya nama itu yang sempat terfikirkan olehku! 'Kaisar' itu artinya 'raja, pemimpin' tapi kalau kamu tidak setuju atau punya nama yang lebih baik yah... Aku akan mengikut! ''tukas Kevin dengan wajah kecewa.


"Baby 'Kaisar'? Nama yang bagus kok! Aku setuju!" kataku akhirnya membuat Kevin mengembalikan senyumannya.

__ADS_1


"Nak! Mulai sekarang namamu adalah 'Kaisar'!" lirihku mencium kening si buah hati.


__ADS_2