Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Mencoba mengubah sikap


__ADS_3

Pagi harinya aku bangun kesiangan, mungkin karena semalam tidur larut malam, Ketika terbangun aku menyadari bahwa Kevin sudah tidak ada disampingku.


Aku tidak tau sejak kapan ia pergi, kemudian aku keluar dari kamar mencari-cari sosoknya mulai dari ruang dapur, ke lantai dua namun sepertinya dia tidak ada.


Saat semua tempat sudah ku kunjungi, aku pergi ke arah garasi sebagai tempat terakhir mencari dirinya serta mobilnya.


Ternyata memang benar, mobilnya juga sudah tidak ada berarti dia sudah pergi ke rumah sakit, kenapa aku yakin dia pergi ke rumah sakit! Itu karena tempat itulah yang sering ia kunjungi bahkan lebih lama waktunya disana daripada dirumahnya sendiri.


Aku berjalan malas kearah dapur, tidak tau apa yang akan aku lakukan, memandangi seisi rumah yang sangat sunyi membuatku bertambah malas.


Tiba-tiba aku teringat perkataan Kevin semalam, dia mengharapkan aku untuk merubah cara bicaraku padanya, namun itu terasa sangat sulit untuk ku lakukan.


"Apa sebaiknya gue coba dulu? Ahh tapi agak aneh kalau sama dia!" lenguhku.


Awalnya aku bertekad untuk tidak melakukannya akan tetapi mengingat bagaimana perlakuannya padaku semalam jadi mungkin kali ini aku diberi kesempatan untuk mencobanya.


Aku mengetik sesuatu di ponselku yang sejak tadi kupegang, untungnya nomor WhatsApp Kevin ada diantara kontakku.


πŸ’¬" Vin... Hari ini kamu mau makan apa? Aku akan memasak untukmu!" isi Pesanku dengan ucapan yang sedikit sopan padanya.


5 menit kemudian tak ada balasan, aku mulai gelisah hanya mondar-mandir disamping meja makan sambil menggigit ujung kuku, sesekali memandangi layar ponsel yang tetap saja tak ada balasan darinya.


"Kok dia nggak balas sih! Nggak tau apa gue udah capek-capek mikir mau chat dia pake bahasa sopan! Huh apa mungkin dia sibuk kali ya! Jadi nggk sempat balas chat gue! Tapi tetep aja harus balas dong! Jangan kira kita udah baikan dia seenaknya buat gue menunggu! "celotehku bergumam.


10 menit berlalu


"Oh my god, Kevin sialan! Kenapa sampai sekarang chat gue masih belum dibalas!!!" geramku lagi.


1 jam kemudian aku tertidur di kursi meja makan dengan ponsel yang terus saja ku pegang, siapa tau akan ada balasan pesannya jadi aku bisa tau notifikasinya.


Trink... Bunyi ponselku yang menandakan sebuah pesan masuk, aku langsung terbangun dan mengecek isi balasannya.


πŸ’¬" Terserah!" balas Kevin.


Aku tercengang sungguh tak menyangka dengan balasan singkat itu, padahal aku menunggu balasannya lebih dari sejam, apa dia fikir menunggu itu hal menyenangkan.


"Astagfirullah.... Sabar Sal... Sabarrr ini resiko elo karena punya suami yang sifatnya kayak es balok!" ucapku seraya mengelus dada.


πŸ’¬" Kalau begitu aku akan memasakkanmu nasi goreng gimana?" tanyaku lagi menahan kesal.


πŸ’¬"Oke!" Kevin membalasnya dengan sangat cepat namun kalimatnya tak panjang lebar seperti pesanku, tiga huruf itu malah membuatku marah saja.


"Kevin!!! Bisa nggak sih dia balasnya itu yang panjang-panjang dikit! Terus apa dia nggak sadar sama isi chat gue yang sedikit beda gitu! Ahh sial... Dasar nggak peka!" gerutu lagi.


Balasannya itu menjadi akhir obrolan kami, bukannya aku tak mau membalas hanya saja aku malas mengetik panjang lebar tapi dia membalasnya dengan satu kalimat.


Setelah itu, aku kembali beraksi di dapur, membuat nasi goreng kini ku anggap sebagai sesuatu yang sangat mudah bagiku apalagi aku sudah mahir sejak terakhir kali membuatkannya.


Jujur! Perasaan kesal tadi berangsur-angsur menghilang, mungkin karena kali ini aku memasak dengan penuh keikhlasan.


Selang beberapa menit akhirnya masakanku siap untuk di hidangkan, keringat yang mengalir di wajahku menjadi saksi bisu bagaimana perjuanganku membuat nasi goreng.


Dua kali teriris pisau sampai ujung kukuku hilang sepotong, tangan terciprat minyak panas hingga meninggalkan bekas memerah ini terjadi karena aku terlalu bersemangatnya mengerjakannya.


Tapi tak apa, semua ini aku lakukan dengan niat memperbaiki semuanya, aku sadar mungkin hari-hari yang lalu aku bersikap tidak dewasa padanya, jadi untuk sekarang aku akan mencoba memperbaikinya perlahan.


Berharap kedepannya tak ada lagi pertengkaran, aku tau dia selalu mengalah dengan sikap keras kepalaku ini, dan kuharap dia mau mengerti serta mengubah sikapku.


Pada saat semuanya beres Kevin belum juga datang, padahal hari sudah berganti malam, sembari menunggu aku membersihkan diri terlebih dahulu, kemudian menonton Tv, lelah dengan semua ini aku kembali kedalam kamar untuk istirahat apalagi ini sudah hampir tengah malam.


Aku sangat-sangat mengantuk, menunggu dirinya seakan membuat tubuhku terasa sangat lelah padahal aku hanya terus mondar-mandir keluar ke teras hanya untuk menanti kedatangannya.


Kali ini aku menyerah, dan mungkin nasi goreng yang tadi pagi kumasak sudah basi karena hanya ku letakkan di atas meja.


Melenguh dan mendengus beberapa kali sambil merebahkan diri atas ranjang, tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur.


Karena penasaran aku berlari kearah pintu lalu membukanya sedikit agar aku bisa mengintip, ternyata itu Kevin yang memakan nasi goreng buatanku.


"Ahh sepertinya nasi gorengnya sudah basi! " ungkap Kevin disela-sela ia mengunyah nasinya.


Ucapannya itu masih bisa ku dengar jelas, "Ya iyalah udah basi, kan gue bikinnya dari pagi!" balasku berisik .


Kufikir Kevin akan membuang nasi goreng itu, namun ternyata dugaanku salah, Kevin amalh dengan lahapnya memakan nasi goreng basi tersebut hingga ke butir-butir terakhir.

__ADS_1


Aku tau itu, karena suara Sendok bertabrakan dengan piring semakin keras layaknya orang yang sangat lapar hingga tak mau menyisakan nasinya.


Tapi bukankah nasi goreng itu sudah basi? Lalu kenapa Kevin dengan bodohnya masih memakan bukannya membuang?


Aku terus bertanya-tanya soal itu, padahal aku tau kevin pulang telat karena sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter apalagi ia memiki peran yang sangat penting.


Bahkan menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, jikalau saja itu aku mungkin sudah gila memikirkannya.


Ketika melihat Kevin berdiri mengangkat piring kosong ke Westafel, perlahan aku menutup kembali pintu kamarku, mengendap-endap menuju kasur agar kevin tak menyadari bahwa aku belum tidur dan mengintipnya.


Aku menutupi diri dengan selimut, hingga tak menampakkan seluruh tubuhku, berada di bawah selimut membuat oksigen disekitarku terasa sangat pengap.


Ceklek


Seketika pintu kamarku terbuka lebar dengan cepat aku pura-pura tertidur, suara langkah kakinya terdengar mendekatiku.


"Jangan memakai selimut seperti itu, bisa-bisa kami mati karena tidak bisa bernafas!" tutur Kevin menarik selimutku hingga ke leher.


"Apa yang mau dia lakuin, kenapa dia masuk ke kamar gue?" batinku panik.


"masakanmu sangat enak Sal... Terimakasih telah membuatnya!" pujinya sembari mengelus wajahku.


"Hah! Nasi gorengnya kan udah basi! Masa di bilang enak! Apa jangan-jangan lidahnya bermasalah"


Curigaku tak menyangka.


Cup


"Good night Istriku.... " ucapnya setelah mendaratkan sebuah ciuman di keningku.


Kemudian Kevin melangkah keluar tak lupa mematikan lampu kamarku juga.


Setelah itu dengan cepat aku membuka mata, menyalakan lampu yang ada didekat ranjang, "Ke-levin tadi nyium gue? Lagi? Ahh kenapa dia selalu buat gue gugup, kenapa dia ngambil kesempatan dalam kesempitan, kenapa! Kenapa!" jeritku bergumam menepuk jidatku.


"Ya ampun tadi dia juga manggil gue istri? ini nyata kan? gue nggak lagi mimpi kan? ahh... "


Aku berguling-guling diatas ranjang, meremas bantal, menggigit pinggir bantal bahkan menutupi wajahku dengan bantal,


Tubuhku seakan memanas memikirkannya.


***


Pagi harinya, aku terbangun dengan penuh kesegaran, baru kali ini aku tertidur sangat nyaman padahal tadi malam lagi-lagi aku bergadang setiap kali mengingat adegan ciuman Kevin di keningku.


Aku menyambut pagi dengan senyuman serta suasana hati yang damai, membuka jendela sambil menghirup udara segar yang menerpa wajahku.


Kemudian aku keluar dari kamar, namun sebelum menutup pintu, mataku tertuju pada tangga, disana ada Kevin yang terduduk di pertengahan anak tangga.


Dia tampak lemas memegang perutnya, aku khawatir apa dia sakit perut karen nasi goreng basi yang semalam ia makan.


"Kevin! Kamu kenapa?" tanyaku menghampirinya.


"Ssh Bantu aku kembali ke kamar!" pintanya meringis.


Tangannya ku letakkan di pundakku, memopong dirinya masuk ke dalam kamar,


Kryuk... Pret...


Disela langkah kami, perut Kevin berbunyi di sertai suara kentut, Kevin menatapku dengan wajah pucat pasi, "Maaf! Kamu boleh menertawaiku jika kamu mau!" imbuhnya.


"Kenapa aku harus tertawa, lagian tidak ada yang lucu kan?" balasku.


Ini bukan saatnya untuk tertawa, karena semua yang terjadi padanya karena ulahku, sudah tau Kevin biasanya pulang larut malam, tapi tetap saja aku masak dan menunggunya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu!" kevin melepaskan rangkulannya, melangkah masuk ke kamar mandi sambil memegang perutnya, langkah yang begitu tak bertenaga mungkin karena sudah tidak tahan dengan sakit perutnya itu.


Kurang lebih sepuluh kali Kevin mondar-mandir ke kamar mandi, sedangkan aku mulai takut terjadi apa-apa padanya, hanya bisa duduk dengan panik di pinggir ranjang menunggunya.


Ketika Kevin keluar lagi, tampak wajahnya semakin pucat, keringat dingin bercucuran diwajahnya, "Vin... Kamu tidak apa-apa? Apa kamu mau aku membelikanmu obat? Atau kamu mau aku memasakanmu sesuatu?" tanyaku.


"Tidak usah, aku tidak memerlukannya!"


"Maaf... ini semua karena aku, Kamu sakit perut pasti karena nasi goreng buatanku yang sudah basi semalam kan? Lagian kenapa kamu masih memakannya padahal sudah tau kalau nasi goreng itu sudah basi hah?" ujarku berceloteh.

__ADS_1


"Shh... Aku memakannya karena tidak mau membuat kamu kecewa!"


"Aku tidak mungkin kecewa Vin! Karena ini memang salahku, jika kamu membuangnya aku pasti bisa mengerti!" tegasku.


"Sudahlah... Tidak perlu marah, nasi gorengnya sekarang sudah berada diperutku"


Aku berdiri menghampirnya, mataku berkaca-kaca melihat keadaannya yang tampak lemah


"Dasar bodoh! Kamu memang bodoh! Biasanya kamu yang mengejekku dengan kata bodoh! Tapi kamu lihat keadaanmu sekarang! Bukankah kau lebih bodoh dariku?" ucapku memukul pelan lengannya.


"Sudah Sal... Aku sudah tidak apa-apa! Tidak perlu menangis, jangan sia-siakan air matamu karena aku masih hidup!" guraunya.


"Humph oke! Sekarang kamu butuh apa! Aku akan mengambilnya" lirihku menawarkan diri.


"Aku hanya membutuhkamu! Kalau kamu ada disampingku rasa sakitnya mulai berkurang!" balas Kevin merayu.


"Vin... Aku serius! Jadi jangan merayuku, aku tidak akan terpengaruh!"


"Tidak Sal... Aku memang tidak membutuhkan sesuatu, kamu di sini menemaniku itu sudah cukup!" serkahnya.


"Tapi...."


"Tidak ada tapi! Sekarang kamu hanya harus merawatku 24 jam kedepan!" perintahnya.


"Siap!" sahutku memberi hormat layaknya seorang siswa yang hormat pada saat upacara penaikan bendera.


"Kalau begitu bantu aku berbaring di tempat tidur!" pintanya yang langsung ku iyakan.


Pada saat Kevin berbaring, aku malah salah tingkah tak tau harus apa hanya celingak-celinguk memandangi dirinya, kadang-kadang juga memandangi interior kamarnya yang tak pernah bosan untuk dipandang.


"Sini Sal...." panggil Kevin menepuk kasur di sampingnya mengisyaratkan agar aku berbaring di dekat lengannya


"Ehh..." aku melongo sambil menunjuk ke arah diriku kemudian menunjuk lagi ke arah kasur.


"Iya... Sini...." ajaknya lagi.


Dengan ragu dan gugup, aku mulai berbaring di atas kasurnya, "Vin... Kasurnya sudah di ganti? Ini kok rasanya beda dari yang waktu itu ya?" ucapku menyadari ada ke anehan yang ada dikasur ini.


"Hmm... Aku sudah menggantinya karena kamu yang bilang!"


"Aku? Kapan?"


"Waktu itu, tapi sudahlah tidak perlu membahasnya lagi!"


Seketika suasana hening tak ada lagi di antara kami yang buka suara, hanya sama-sama memandangi langit-langit kamar, "Sal...." Kevin memanggilku.


"Hmm..."


"Sepertinya ada yang berubah dari kamu!" selidiknya.


"Apa?" tanyaku Pura-pura


"Kenapa masih bertanya, bukannya perubahan itu ada sama kamu? tapi yang pasti aku sangat berterimakasih karena kamu sudah bersedia menuruti nasehatku!" tuturnya.


Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, " Seharusnya aku yang berterimakasih sama kamu, karena kamu telah banyak mengalah, menjadi korban dari sikap ketidak dewasaanku, pokoknya makasih! dan aku berubah karena aku anggap perkataanmu ada benarnya, meskipun aku sebenarnya sangat susah melakukan ini tapi ya perlahan-lahan aja pasti bisa kan" ungkapku berkata jujur dari lubuk hati yang paling dalam.


"Sepertinya ucapanmu itu benar semua! Hahah" Kevin tertawa setelah sakit yang kian ia derita tadi.


Aku merasa sedikit tenang, dia sudah lebih sekarang baik, namun masih saja perasaan takut masih kurasakan.


"Sal... Kemarin kamu chat aku kan? maaf ya aku telat membalasnya karena sibuk!"


"Tidak apa-apa aku mengerti kok! tapi kenapa balasan terakhir kamu cuman 'oke' doang?"


"Ohh itu sekretarisku yang membalasnya! karena ada pasien yang konsultasi jadi dia yang aku suruh membalas pesanmu!"


"Sekretaris? ternyata kamu sangat akrab yang dengan sekretarismu itu! sampai-sampai pesanku saja menyuruhnya membalas, apa kamu tidak berfikir dia akan membaca chatku, kan aku malu!" keluhku.


"Hahah dia tidak seperti itu! dia sangat baik, aku sudah bersama dengannya semenjak kuliah di luar negeri! jadi dia bisa menjaga privasi kita" jelas Kevin.


"Sudah bersama sejak lama? jangan-jangan!"


"Jangan berfikiran kotor! dia laki-laki lagian aku tidak sembarang memilih teman," Kevin memotong ucapanku, bahkan berhasil mengetahui isi fikiranku.

__ADS_1


*Yuhhu para Readers tercinta jangan lupa tinggalkan jejak ya, dan jika kalian punya banyak poin marilah berbagi untuk cerita recehku ini (seikhlasnya saja) πŸ˜ŠπŸ™biar author tambah semngt buat UP. πŸ˜‰


__ADS_2