
Nadia membuka matanya pagi itu setelah tidur nyenyak yang terasa damai di samping Chandra, pandangannya sedikit agak kabur saat sorot mentari dari arah jendela begitu terang-benderang menerpa ruang tidurnya.
Wanita itu menggeliat kecil di atas ranjang dan terkejut saat menoleh ke samping kanan di mana Chandra tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Selamat pagi," sapa Chandra lembut dengan ekspresi ceria pagi itu.
Nadia menutup bibirnya dan terkekeh karena mendapati wajah bersinar suaminya begitu dekat saat ini.
"Pagi," balas Nadia sambil perlahan mengangkat tubuhnya untuk duduk, Chandra membantunya dengan siaga. Usia kandungan Nadia yang masih begitu muda membuat Chandra waswas dengan penggerakan tubuh Nadia yang secara tiba-tiba. Seperti kata dokter, kalau Nadia tidak diperbolehkan dulu untuk melakukan aktivitas berat sebelum usia kandungannya menginjak trimester kedua.
"Maaf, saya bangunnya siang ...," keluh Nadia dengan sedikit cemberut, saat menyadari waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Subuh tadi Nadia sudah bangun, tetapi ia hanya melaksanakan ibadah saja dan kembali meringkuk di tempat tidur, sementara Chandra tetap terjaga dan melakukan pekerjaan rumah sendiri.
"Tidak apa-apa ... pagi ini masih pusing?" tanya Chandra lembut seraya membelai halus puncak kepala istrinya yang dibingkai rambutnya yang lembut nan tebal.
Nadia menggeleng pelan. "Kalau pusing enggak, tapi agak mual."
Chandra cemberut. "Pasti repot, ya. Mengidam?"
"Hehe, enggak kok. Udah risikonya kalau perempuan ngidam. Nenek juga bilang, kalau kehamilan pertama biasanya agak rewel dan pasti kena morning sickness," elak Nadia dengan senyumnya yang dipaksakan, ketika rasa mual kembali menguasai dirinya di setiap pagi.
"Minum dulu ...." Chandra menyerahkan segelas susu ibu hamil yang tampak masih mengeluarkan kepulan asap.
Nadia menerimanya dan sedikit demi sedikit meminum susu buatan suaminya itu, rasanya sangat tawar dan memiliki bau yang tak enak bagi Nadia. Nadia menangis dan buru-buru mengusap mulutnya dengan punggung tangan.
"Hueek!"
Nadia hendak muntah, tetapi gadis itu tak mengeluarkan apa pun selain nyeri di ulu hatinya saja. Chandra segera membawa tubuh Nadia menuju kamar mandi dan mendudukkan tubuh mungil istrinya di atas dudukan toilet.
Nadia menunduk dalam-dalam, napasnya berantakan berusaha menyesuaikan diri untuk bisa melawan rasa mualnya. Chandra dengan sigap menggenggam erat tangan Nadia sebagai bukti kasih sayangnya pada Nadia, melihat Nadia dalam sebulan ini selalu mual dan muntah setiap bangun pagi membuat Chandra kadang tak tega meninggalkan istrinya untuk sekedar bekerja.
Nadia tersenyum dipaksakan, ia membasuh wajahnya dengan air kran dan mendongak ke arah Chandra yang menatapnya sendu.
"Maaf ya, karena saya menghamili kamu. Kamu jadi kerepotan," ungkap Chandra dengan raut penuh penyesalan.
Nadia tertawa kecil manakala Chandra meminta maaf padanya seperti ini, bukan hanya pagi ini saja ia meminta maaf, melainkan setiap hari Chandra melakukan ini sampai Nadia sudah terbiasa.
"Ini ke lima ratus juta kalinya kamu meminta maaf," balas Nadia jenaka.
Chandra membulatkan kedua matanya. "Sebanyak itu?"
"Karena terlalu sering, saya pikir ini udah nggak bisa terhitung."
Chandra tersenyum ketika Nadia membelai pipinya dengan telapak tangannya yang dingin. Nadia pasti merasa begitu mual sampai keringat dingin keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
"Nad ... kalau kamu masih mual dan muntah. Saya bisa urungkan kedatangan saya di upacara kenaikan pangkatnya Alif. Kita tinggal di rumah saja untuk hari ini. Setelah agak siang, kita pergi ke dokter untuk konsultasi kandungan kamu."
"Hei, nggak boleh gitu ... Alif pasti sedih kalau kita absen. Dia udah kayak adik saya sendiri." Nadia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Chandra dan suaminya itu menepuk-nepuk pelan bahu sempit Nadia yang tertutupi pakaian tidur.
"Tapi saya khawatir dengan kondisi kamu."
"Sayang, kita bisa ke dokter setelah datang ke acara Alif. Yaudah, sekarang kita siap-siap dulu ... nanti telat, Alif marah ...." Nadia lebih dulu masuk ke kamar untuk menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh Chandra.
Nadia menyiapkan jas serta kemeja untuk suaminya dan juga lencana Jenderal yang terbuat dari emas murni untuk dipasangkan di kerah pakaian Chandra. Sementara dirinya sendiri mengenakan kebaya yang warnanya senada dengan warna pakaian Chandra. Nadia menyanggul rambutnya dan memasangkan jepitan kecil berbentuk kupu-kupu di bagian belakang sanggulnya, wajahnya dipoles make up tipis dan lipstik berwarna soft pink. Mereka berdua tampak serasi, berada di jejeran paling depan untuk menyaksikan upacara kenaikan pangkat Alif di kantor dinas wilayah Flores. Acara itu juga dihadiri langsung Gubernur dan juga Menteri Pertahanan Republik Indonesia serta pejabat pemerintah penting lainnya.
Nadia mengabadikan momen itu dengan kamera di ponselnya, dan begitu bangga bisa melihat Alif menjadi salah satu anggota terbaik pasukan perbatasan.
Chandra bertepuk tangan dengan kedua matanya yang berbinar bangga menyaksikan Alif dipasangkan lencana kenaikan pangkat di upacara resmi tersebut, Nadia menatap suaminya dengan gemas.
"Kamu pasti sayang banget sama Alif, ya?"
Chandra terkekeh, dia menyeka matanya dengan punggung tangan, sedikit agak berair karena dia terharu melihat anak didiknya bisa sampai di jabatan tinggi.
"Sejak Alif masuk pendidikan militer, saya menjadi mentor sekaligus gurunya. Enam tahun saya bersama Alif. Dan melihat dia sekarang menjadi TNI AD dengan lencana istimewa saya merasa sangat bangga."
Nadia meraih lengan suaminya untuk masuk ke dalam rangkulannya, Nadia tersenyum pada Chandra ketika bidikan kamera reporter justru fokus kepada kehadirannya di acara resmi negara tersebut.
"Kamu guru dan mentor yang baik. Pasti kamu juga jadi Ayah yang baik untuk calon bayi kita ...." Nadia mengelus perutnya yang masih belum membuncit.
"Ini harinya Alif. Kenapa kamu masih bisa ngegombal sih?" kekeh Nadia lucu ketika gombalan Chandra selalu saja muncul setiap saat mereka berdua mengobrol.
Chandra menjawil lembut dagu lancip milik Nadia. "Bagi saya setiap hari adalah milik kamu." Senyum Chandra berhasil membuat Nadia berseri-seri tanpa henti.
"Tuhkan, mulai lagi!" omel Nadia pura-pura jengkel padahal ia sama sekali tidak keberatan dengan ucapan itu. Chandra hanya tertawa kecil, tawa yang sopan untuk didengar jejeran tamu kehormatan yang ikut hadir di sana.
Setelah acara resmi digelar, semua tamu dihidangkan sajian makan siang istimewa. Alif yang kini mendapatkan kenaikan pangkat tentu menjadi bintang utama di meja makan bundar yang diisi oleh Nadia dan Chandra, Danil dan Ong yang ikut serta. Sisanya yang lain tidak bisa datang karena memiliki tugas masing-masing.
"Makasih kalian semua sudah hadir. Alif senang banget, terutama kehadiran Komandan sama Kak Nadia," ujar Alif malu-malu.
"Alif, kamu tuh harus percaya diri sekarang 'kan sudah jadi Letnan, nggak usah malu-malu kucing begitu!" peringat Ong pada sosok yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
Alif hanya dapat terkekeh sembari menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal.
"Hehe ... iya."
"Eh, sebentar lagi kak Dio juga peresmian jadi Jenderal bintang satu, ya?" tanya Danil pada Chandra.
"Ya, setelah dia menyelesaikan pendidikan doktornya di militer."
__ADS_1
"Wow, Dio ambil pendidikan S3?" tanya Nadia takjub.
"Iya, Kak Nadia, hebat, 'kan? Jurusan kuliahnya juga pertahanan dan strategi perang."
Nadia manggut-manggut. "Dio sempurna banget, ya. Pintar masak, disiplin, nggak banyak gaya ... terus pendidikannya juga S3."
"Ekhm ... saya juga S3 dibidang yang sama dengan Dio. Saya malah sudah lulus tiga tahun yang lalu," kata Chandra dengan wajah datarnya yang membuat semua orang di meja tersenyum geli mendengar ucapan sang Jenderal yang sangat percaya diri.
Nadia tersenyum mendengarnya. "Tapi ... Dio hebat, dia juga rendah hati karena masih terima tugas di pulau terpencil," tambah Nadia lagi.
"Saya juga. Saya bahkan tugas di pedalaman Aceh saat terjadi kasus gerakan Aceh merdeka. Itu ketika saya masih menjadi seorang tamtama."
"Iya, Komandan nggak ada yang ngalahin. Komandan definisi sempurna dan tersempurna, 'kan. Sebab Komandan sudah menikah! Beda sama kak Dio yang masih jomblo." Ong akhirnya mengakuinya dengan meskipun raut geli. Diikuti Danil yang hanya dapat mengacungkan jempolnya ke tengah-tengah meja tanpa banyak komentar.
Chandra tersenyum bangga, Nadia tertawa sambil menutup mulutnya melihat wajah over percaya diri suaminya.
"Oh iya, awalnya saya tidak akan memberitahu kalian perihal ini. Tapi ... kami punya pengumuman penting." Chandra meraih tangan Nadia ke atas meja dan menggenggamnya erat.
Pria tampan dengan senyum menawan itu menatap sang istri yang nampaknya memiliki maksud yang sama.
"Terhitung delapan bulan yang akan datang, atau tepatnya 230 hari lagi. Saya dan
Nadia akan menjadi orang tua dari anak pertama kami."
"Maksudnya ... Kak Nadia hamil?" tanya Alif dengan kedua bola mata yang membesar.
Nadia mengangguk kecil. "Hm ... Alif, kamu akan menjadi Om."
"Wah ... selamat Nadia!" Ong menyelamati Nadia sembari merebut tangan Nadia yang tengah digenggam oleh Chandra, disusul oleh Danil yang melakukan hal sama dengan Ong yaitu rebutan tangan Nadia.
Nadia tertawa kecil sementara Chandra melotot tak enak ketika kedua tangan istrinya menjadi rebutan dua letnanya.
"Nanti Jenderal mainannya bukan senapan laras panjang, tapi dot bayi ... Wkwkwk."
"Hush, bukan dot, tapi rangkai ayunan atau dorong-dorong troli."
"Pasti gemes banget ya, ada bayi di basecamp TNI."
"Hihi, makasih semuanya."
BERSAMBUNG ...
Hari Senin, hari yang paling kutunggu nih setelah hari Sabtu dan Ahad, yuk silakan kasih aku vote.
__ADS_1