
"Sebenarnya apa yang kalian kerjakan? Kenapa penghasilan RoD Magazine bisa menurun terus menerus seperti ini, hah?!" teriak Charles sambil menggebrak meja meeting.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menunduk takut kepada Charles.
"Itu semua karena kita kalah saing dengan D'Magazine yang selalu lebih cepat menerbitkan berita yang memang berkualitas, yang dicari oleh masyarakat Sir," ucap Mr.Gregg Wakil Direktur anak perusahaan RoD Magazine.
"Mereka memiliki banyak paparazzi yang tersebar di belahan dunia," lanjutnya.
"Apa yang mereka fokuskan?" tanya Charles.
"Mereka lebih memfokuskan pada kehidupan selebritis Sir, dan hal itu mendapatkan feedback yang sangat bagus," jawab Mr.Gregg.
Charles memijat pelipisnya sejenak. Perasaannya saat ini sedang hancur, setelah mengingat waktu Flora mengusirnya dari apartemen yang disertai tangis kesakitan gadis itu. Charles menyesal karena telah mengingatkan Flora pada masa lalunya yang telah membuat hidup gadis itu hancur.
"2 bulan dari sekarang Mr.Ericson akan mengadakan pesta pernikahan elite, oleh karena itu kalian harus bersiap diri untuk mempersiapkan semuanya. Buat jadwal pertemuan dengan Mr. Ericson dan bersikap baiklah kepadanya. Seperti yang kalian ketahui Mr. Ericson sangat jarang diwawancarai oleh media manapun, karena dia orang yang terlalu sibuk. Dan kita harus bisa merebut hati Mr.Ericson agar mengizinkan RoD Magazine untuk meliput acara pernikahannya. Bagaimanapun caranya!"
"Yes, Sir."
Setelah menghadiri meeting dengan rekan kerjanya, Charles memutuskan untuk pergi ke kediaman kedua orang tuanya di Brooklyn.
Frans, Marline dan Charles sedang menyantap makanannya dengan lahap. Tidak ada yang mengeluarkan satu kata patah pun. keheningan menyelimuti meja makan tersebut.
Tidak dipungkiri Frans terkejut dengan kedatangan anaknya yang secara tiba-tiba. Karena biasanya Charles akan datang jika dipinta olehnya atau Marline sang istri. Namun, hari ini Charles datang ke mansionnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Frans merasa aneh dan curiga kepada putranya itu. Dan benar, kecurigaan Frans terjawab ketika Charles mengucapkan sesuatu dari mulutnya.
"Aku ke sini hanya akan memberitahu, jika aku akan menyerahkan D'Alamo Company kembali kepadamu." Charles tetap fokus pada makanannya. Sedangkan Frans terkejut oleh perkataan anaknya itu. Apalagi Marline yang tidak kalah terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Frans menatap Charles.
__ADS_1
Charles mengalihkan perhatiannya pada Frans. "Aku katakan, jika aku akan menyerahkan kembali D'Alamo Company padamu. Aku hanya akan fokus pada perusahaanku yang aku rintis sendiri tanpa bantuanmu," jelas Charles.
"Kenapa kau mengatakan itu, Charles?" tanya Marline dengan lembut.
"Aku tidak akan menikahi Renatta, oleh karena itu aku melepas D'Alamo Company. Jadi aku tidak perlu ikut campur dengan Arland Douglash. Daddy ingin perusahaan Mr.Douglash untuk terus bekerja sama dengan perusahaan Daddy, kan? Disisi lain kau ingin menggabungkan perusahaan itu, oleh karenanya kau menjodohkan aku dengan Renatta. Namun saat ini aku tidak peduli, aku tidak akan menikahinya. Jika perusahaan Daddy membutuhkan sesuatu, Muse siap membantu. Bukan kah Daddy tahu jika perusahaanku lebih besar dibanding dengan perusahaan milik Mr.Douglash?" jelas Charles.
"Charles!" teriak Frans dengan wajah yang merah padam.
"Apa pun yang terjadi kau harus dan tetap menikah dengan Renatta," ucap Frans dengan tegas.
Charles tersenyum miring. "Aku akan menikahi gadis yang aku cintai. Dan tentunya itu bukan Renatta."
"Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menikah dengan gadis lain selain Renatta." Frans menatap tajam Charles.
"Aku tidak butuh izinmu, karena aku akan tetap menikah dengannya secepat mungkin." Charles beranjak dari duduknya berniat untuk pergi.
Charles mengepalkan kedua tangannya sehingga terlihat dengan sangat jelas urat tangannya. Pria itu membalikkan tubuh untuk menatap Frans yang sudah berdiri menatapnya.
"Jika kau berani menyentuh gadisku se-ujung kuku pun, aku akan menghancurkan D'Alamo Company beserta isinya." Charles terlihat sedang menahan amarah, wajahnya memerah dengan rahang yang sudah mengeras.
"Aku yakin kau hanya menginginkan tubuhnya saja, kau tidak bisa mencintai seseorang Charles. Yang hanya kau tahu hanyalah bersenang-senang dengan jalangmu. Aku tahu seperti apa dirimu.“
"Sayangnya kau tidak benar-benar tahu tentangku, Dad." Charles menaikkan satu alisnya tersenyum miring.
Frans terkekeh. "Jika kau tidak menikahi Renatta, aku benar-benar akan menyingkirkan gadismu itu. Oh tidak-tidak. Maksudku jalangmu!"
"TUTUP MULUTMU!" teriak Charles hilang kontrol.
__ADS_1
"Jika kau berani menyentuh gadisku sedikit pun, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di mansion ini lagi," sentak Charles lalu meninggalkan ruang makan dan keluar dari mansion tersebut. Mengabaikan teriakan Marline yang terisak melihat perdebatan antara suami dan anaknya.
"Frans, kenapa kau mengatakan itu?" tanya Marline memegang lengan kiri suaminya.
"Lihatlah anakmu Sayang, dia lebih memilih jalangnya dibandingkan aku Daddy-nya," kata Frans menatap istrinya yang sudah dipenuhi air mata.
***
Charles baru saja kembali dari Brooklyn, dia lebih memilih untuk pergi ke tempat gadisnya di bandingkan untuk pulang ke penthouse-nya terlebih dahulu.
Terlihat Flora yang sudah terlelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Charles merindukan gadis itu. Sangat. Pria itu naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Flora dari belakang, Charles melingkarkan tangan kanannya di pinggang Flora. Sedangkan tangan kirinya ia buat menjadi bantal kepala gadis itu.
Ia memberikan kecupan-kecupan kecil pada wajah Flora, sesekali dia menggigit bahu gadis itu sehingga membuat Flora bergerak gelisah. Charles tidak peduli dengan itu, dia terus mengecup wajah gadisnya sehingga membuat Flora membuka matanya.
Gadis itu tersentak kaget ketika ia melihat terdapat seseorang di apartmentnya.
"Charles!" Flora menatap pria yang berada di belakang tubuhnya.
"Aku merindukanmu, Sayang." Charles membalikkan tubuh Flora agar terlentang dan dengan cepat dia mencium bibir ranum yang selalu menjadi candu untuknya.
"Charles, aku ngantuk!" kata Flora ketika mendorong tubuh Charles.
"Aku tidak peduli." Charles melanjutkan aktivitasnya mencium setiap sudut bibir gadis itu yang sangat manis untuknya. Ia tidak henti-hentinya menarik gemas bibir bawah Flora.
"Menikahlah denganku," kata Charles dengan nada yang sangat rendah.
__ADS_1