Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 70


__ADS_3

Kini tibalah Chandra ditemani oleh Johnny yang seorang pakar biologi di sebuah minimarket satu-satunya yang ada di Flores. Pelayan toko menyapa dengan senyuman, tetapi tampak wajah Chandra amat kikuk beserta Johnny yang langsung menuju rak tempat pembalut disimpan.


Chandra menatap takjub pada jejeran merk pembalut yang banyak sekali mengisi rak yang ada di sana. "Biasanya mereka pakai semuanya, John?" tanya Chandra polos sambil memilah barang yang dimaksud yang berjejer dari kiri ke kanan.


Johnny tertawa geli mendengar pertanyaan komandannya, biasanya mereka membahas tentang senjata untuk latihan di hutan, tetapi sekarang mereka malah sibuk memilih merk pembalut.


"Saya kurang tahu tuh, bagaimana kalau kita tanya ke pelayan perempuan saja?"


Chandra mengangguk setuju, dan sialnya Johnny malah minggat ketika pelayan menghampiri Chandra yang benar-benar kebingungan dengan wajah tegang, tetapi datar bak robot kurang listrik.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


"I-ini, Bu. Saya ingin membeli pembalut terbaik di toko ini."


Pelayan minimarket itu mengulum senyum. "Oh begitu, Pak. Untuk merk terbaik sih, saya tidak begitu yakin, tapi untuk merk terlaris, pembalut ini sepertinya banyak digunakan di kalangan umum."


Pelayan itu menyerahkan satu pak pembalut berukuran besar ke tangan Chandra.


Chandra menerimanya dan langsung memasukkan ke dalam keranjang.


"Untuk istrinya, Pak?"


Chandra mengangguk tanpa banyak bicara. Si pelayan lagi-lagi memasang tampang senyum ramah ke arah Chandra.


"Ada dua pilihan, Pak. Ada wings dan non wings, atau Bapak mau membeli duaduanya?" "Iya, saya ambil dua-duanya saja," kata Chandra tegas.


Si pelayan mengambilkan benda yang dimaksud dan memasukkannya ke dalam keranjang milik Chandra.


"Hm ... ada lagi pilihan lain, Pak. Ada untuk pemakaian waktu malam."


Chandra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, reaksi bingung yang sangat terlihat jelas. "Iya, saya ambil juga yang itu."

__ADS_1


"Baiklah. Mari, Pak. Dibayar saja di kasir kalau tidak ada tambahan lain."


Chandra keluar dari minimarket tersebut sambil menghela napas lega, Johnny menunggu di parkiran tepat di samping motor. Tampak Johnny menertawakan reaksi Chandra yang gelagapan saat berbincang di dalam minimarket.


"Fiuhh ... akhirnya, saya dapat juga pesanan Nadia," ujar Chandra lega.


Johnny masih mengulum senyum. "Hebat, wajah Komandan kelihatan lebih tegang saat membeli pembalut dibandingkan saat menjinakkan ranjau."


Mendengar ucapan Johnny, Chandra pun tidak bisa menahan senyumnya. "Begitu, ya? Hahaha ... oh iya, perihal ini kamu jangan ceritakan pada siapa pun ya, apalagi pada Ong. Dia bisa-bisa mengejek saya."


"Siap, Komandan!"


Setelah perjalanan singkat dan penjelasan singkat mengenai pembalut, Chandra sudah kembali ke rumah dalam kurung waktu tiga puluh menit. Pria itu segera menerobos pintu utama dan menghampiri Nadia yang masih diam di dapur. Chandra menyerahkan seluruh kantong belanjaan pada Nadia.


Nadia tidak menyambut suaminya berlama-lama, gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi. Chandra menunggunya di luar sambil menghadap pintu kamar mandi yang tertutup.


"Kamu kenapa beli banyak banget?!" teriak Nadia di dalam kamar mandi.


"Eh? Itu ... terlalu banyak, ya?"


Chandra terkikik. "Saya tidak mengerti, perbedaan antara bersayap dan tidak bersayap. Ada juga untuk pemakaian malam. Terus ada yang ekstrak daun sirih, ada yang dingin dan efek hangat. Tipis dan tebal. Pada akhirnya, saya membeli semua," jelas Chandra pada Nadia yang tampaknya masih sibuk di dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Nadia justru tertawa kecil membayangkan bagaimana panik dan malunya Chandra ketika membeli pembalut. Tidak dapat dibayangkan juga, bagaimana seorang jenderal yang gagah perkasa justru membeli pembalut untuk istrinya?


Klik.


Nadia keluar dari dalam kamar mandi, dan wajahnya kini dihiasi senyum kaku, pipinya tampak bersemburat merah.


"Sudah selesai?" tanya Chandra.


Nadia mengangguk dengan pertanyaan kecil tanda perhatian tersebut.

__ADS_1


"Oh iya, saya juga membelikan kamu obat pereda nyeri. Kata bu bidan ini bagus untuk perempuan yang mengalami dismenorea."


Nadia mengerutkan dahinya, Chandra memberikannya cangkir yang berisi air yang tampak masih mengepulkan asap, pertanda bahwa airnya masih panas.


"Obat?"


"Hum, rebusan jahe dengan gula aren."


Nadia tersenyum kecil, ia menerima cangkir tersebut guna menghangatkan telapak tangannya yang masih dingin.


Chandra masih memandangnya dengan saksama, membuat Nadia semakin malu karena sudah meminta suaminya untuk membelikan pembalut seperti barusan.


"Maaf ya, kamu pasti malu. Karena udah beli pembalut ke minimarket," ucap Nadia sembari menggeser kursinya lebih dekat ke arah Chandra.


"Tidak apa-apa, kok. Saya tidak malu karena itu pun keperluan kamu. Pelayan tokonya juga sudah bisa menebak untuk siapa saya membelinya."


"Makasih," kata Nadia dengan manja. Gadis itu bersandar pada bahu Chandra dan mengistirahatkan rasa nyerinya untuk sementara dengan menempel pada suaminya seperti ini.


"Diminum airnya, mumpung masih hangat."


"Hemm, kamu mau?"


"Kamu saja yang minum. Oh iya, tadi saya mendapat telepon dari nenek."


Nadia menoleh ke arah Chandra dengan wajah terkejut. "Nenek? Nenek siapa?"


"Nenek kamu, katanya nenek sama papa akan berkunjung ke sini besok. Papa juga mencoba menghubungi saya beberapa kali, tapi tidak berhasil karena jaringan di sini tidak memadai."


"Ya ampun, nenek mau ngapain ke sini?" gumam Nadia tak enak. Namun, Chandra malah terlihat tenang-tenang saja dengan hal itu.


"Saya tidak bisa menolak kedatangan orang tua kamu, Nad. Barangkali kamu juga rindu dengan nenek dan papa, besok pagi saya akan menjemput mereka ke bandara. Kamu mau ikut?"

__ADS_1


Nadia sangat senang dengan ajakan itu, sebenarnya Nadia selalu ingin ikut ke mana pun suaminya pergi. Bahkan ke hutan sekalipun. Nadia tidak takut lagi dengan babi hutan, selagi Chandra berada di sisinya.


Kemudian di saat suasana semakin senyap di antara keduanya, Nadia menempatkan tangan Chandra untuk berada di pinggangnya, pria itu tersenyum kecil dan melingkarkan lengan panjangnya di seputar pinggang ramping istrinya. Nadia memejamkan matanya, mencoba menikmati romantisme di dalam dapur sebelum penerangan mati malam itu. "Ayo, ke kamar."


__ADS_2