
Pukul 8 waktu Indonesia Timur, makan malam dimulai saat Chandra tiba dari penjelajahan singkatnya selama 1 jam. Nadia tidak bisa bertatapan dengan suaminya karena sejam lalu mereka sempat berciuman di dalam kamar. Kalau saja Ong dan Alif tidak datang mengetuk pintu, pasti Chandra akan berbuat lebih jauh tadi. Saat Chandra menyuapkan makanan, Nadia memperhatikan bibir kemerahan suaminya itu sambil menggelengkan kepalanya. Hal tersebut menjadi pertanyaan bagi Chandra sendiri.
"Nadia, kamu baik-baik saja?" tanya Chandra tiba-tiba di tengah makan malam.
Fokus yang lain pun langsung tertuju pada Nadia, si juru masak hari ini.
Nadia mengalihkan pandangannya pada sosis di piring, padahal Chandra jelas-jelas ada di depannya. "Oke oke, hehe. Eh, gimana enak 'kan masakannya?"
"Hm, banget! Top markotop!" Alif menaruh sendoknya, sengaja untuk mengacungkan kedua jempolnya pada Nadia.
"Maknyus!" Danil ikut memberikan reaksi atas makanan yang dibuat Nadia.
"Lezat," puji Ong sambil menikmati suapan demi sosis dan nugget.
Sementara lain hanya menganggukkan kepalanya sambil melempar senyum puas pada Nadia.
Chandra tersenyum kecil, dia cukup senang hari ini meskipun ada beberapa gangguan yang membuat mood-nya sedikit memburuk.
Setelah yang lain pulang ke tempat tinggal masing-masing, kini rumah sangat sepi, amat sangat sepi karena tempat tinggal militer cukup jauh dari rumah-rumah warga, di tempat itu juga tidak ada aktivitas sama sekali, selain suara angin yang melewati lahan kosong, yang bisa didengar adalah suara kran air yang mengalir dan membasahi piring-piring yang sedang dicuci oleh Chandra, Nadia berada di sampingnya tinggal merapikan gelas dan piring ke atas rak.
"Sini, biar saya aja yang cuci." Nadia menawarkan dirinya untuk mencuci piring.
Chandra tersenyum kecil. "Tidak perlu, kamu sudah masak dan jauh-jauh kemari. Kamu pasti kelelahan. Biar saya saja, saya tidak membantu apa pun untuk menyiapkan makan malam," jelas Chandra dengan lembut.
__ADS_1
Nadia mendesah pelan. "Apaan sih, kok sungkan begitu? Nggak papa kok."
"Cuci piringnya sudah selesai. Hehe," ujar Chandra sambil mengelap tangannya dengan serbet.
"Saya akan mau menyesuaikan diri tinggal di sini. Saya rasa, saya harus banyak belajar dari kalian agar bisa menikmati hidup saya sebagai istri prajurit," balas Nadia tak mau kalah.
Chandra kemudian menggiring gadis itu untuk masuk ke dalam kamar, tidak lupa pria itu juga membawa salep baru untuk mengobati lecet di kaki Nadia.
"Masih ada hari-hari lain untuk kamu belajar. Kalau hari ini, kamu 'kan baru saja tiba. Saya tidak tega membiarkan kamu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kita harus kerja sama, oke?"
Nadia mengangguk sambil tersenyum. "Tapi tadi 'kan cuma cuci piring doang, saya sudah biasa kok cuci piring."
Chandra menggelengkan kepalanya, dan entah mengapa cara pria itu berperilaku sedikit lebih manis dan lebih ekspresif dibandingkan 3 bulan lalu saat mereka tinggal bersama di Bandung. "Tidak, saya tidak mau telapak tangan kamu kasar. Kamu seorang artis, kamu punya penggemar. Saya tidak mau penggemar kamu kecewa kepada saya karena kamu cuci piring dan membuat tangan kamu kasar."
"Ih, so sweet," gumam Nadia memuji suaminya. Chandra terkekeh pelan, pria itu lalu menaikkan kedua kaki Nadia ke atas pangkuannya dan mengoleskan salep ke bagian kaki Nadia yang terluka, setelah diobati dengan cairan antiseptik maka salep adalah hal yang harus diberikan sebelum tidur.
Nadia dan Chandra berbaring saling berdampingan malam itu, dan kini malam semakin larut dan pencahayaan semakin gelap karena adanya pemadaman bergilir. Sejujurnya, Nadia takut gelap dan Chandra sudah terbiasa dengan keadaan gelap gulita seperti sekarang. Beberapa kali Nadia juga menyalakan handphone-nya agar mendatangkan kantuk, tapi sialnya semua usahanya gagal.
Chandra memiringkan tubuhnya hingga menghadap Nadia yang masih berusaha untuk tidur, gadis itu cemberut ke arah Chandra.
"Kenapa? Takut gelap, ya?"
Nadia mengangguk.
__ADS_1
"Sebentar, saya ambil lilin dulu." Chandra hendak bangkit, tapi Nadia menahan lengan pria itu membuat Chandra urung.
"Jangan! Nggak apa-apa kok. Saya masih bisa lihat handphone."
Chandra terkikik. "Lilinnya ada di laci ini, saya tidak akan pergi. Kamu tidak perlu khawatir."
Nadia melepas rengkuhan tangannya dan merasa malu karena sudah berlebihan melarang Chandra, dan Chandra pun mulai menyalakan lilin juga menaruhnya di meja tepat di samping ranjang.
Nadia tersenyum lega saat ruangan kamar yang tidak begitu luas kini diterangi oleh cahaya temaram yang berasal dari lilin.
"Kenapa kamu belum tidur juga? Ada yang kamu pikirkan, ya?" tanya Nadia tiba-tiba. Sebab tidak biasanya Chandra masih belum tidur, padahal waktu sudah hampir jam 11 malam.
Chandra menghela napasnya gusar, kalau dia harus jujur pada Nadia mungkin itu bukanlah sikap yang bijak. Nadia sudah mengorbankan dirinya untuk datang ke Flores, jahat sekali kalau Chandra harus menceritakan tentang Nellie pada istrinya.
"Tidak, kok. Saya hanya merasa tidak enak dengan kamu. Bagaimana karir kamu di Jakarta, kalau kamu tinggal bersama saya di sini?"
Nadia terkekeh kecil. "Oh. Jadi, kamu nggak mau saya temenin?"
"Bukan! Bukan seperti itu," ujar Chandra buru-buru yang membuat kekehan Nadia berubah menjadi tawa yang sebelumnya tidak pernah hadir di dalam kamar itu.
"Saya senang kamu berada di sini. Tapi kamu yakin mau tinggal di sini terus?"
Nadia mengangguk pasti. "Hm, tapi mungkin saya akan pulang pergi ke Jakarta sama Bandung."
__ADS_1
Chandra merasa lega, wajar datarnya sangat sering tersenyum sejak ia menikah dengan Nadia. Tiba-tiba pria itu menempelkan tangannya di atas pipi Nadia, dan membelainya dengan lembut. Diperlakukan seperti itu Nadia ikut membalas menaruh tangannya di atas pipi Chandra. Mereka saling berhadapan dan bertatapan, seperti mencoba menyatukan perasaan yang belum jelas bagaimana hasilnya setelah 3 bulan menikah.
"Nadia, apa kamu keberatan kalau saya jatuh cinta kepada kamu?"