
Pukul sebelas malam, mereka berdua tiba di apartemen. Tidak menyelesaikan acara sampai akhir, karena Nadia yang sudah masuk ke dalam anggota persit memang harus memiliki tata krama tersendiri dalam menyesuaikan kegiatan di luar acara persit dengan kegiatan suaminya. Meskipun tidak ada yang melarang, tetapi Nadia merasa perlu untuk menghormati profesi Chandra dan membatasi dirinya untuk tetap menjaga kehormatan di luar keanggotaannya.
Nadia mengganti pakaiannya dengan gaun tidur, sementara Chandra sedang mencuci wajahnya di kamar mandi bersiap untuk tidur.
Nadia melihat-lihat sebentar akun instagram-nya yang dibanjiri pujian atas penampilan pertamanya setelah menikah. Hanya ada sedikit komentar yang sedikit menyebalkan, sisanya benar-benar luar biasa sehingga membuat Nadia bisa tidur nyenyak.
Ketika Chandra keluar dari kamar mandi, gadis itu langsung menyembunyikan handphonenya di bawah bantal dan tersenyum menyapa suaminya yang tampak luar biasa setelah mencuci wajahnya. Chandra tampak sangat segar dan sebagian rambutnya agak basah, membuat Nadia terkagum-kagum.
"Rumah ini sepi. Kalau kamu sendirian terus, apa sebaiknya kamu sewa asisten?"
Nadia mengedikkan bahunya. "Hm, sempat sih, punya asisten. Tapi tetap saja, kalau malam mereka nggak tinggal di sini. Mereka pulang, susah sekarang cari asisten rumah tangga yang mau menetap."
Chandra manggut-manggut. "Hm. Begitu, ya? Kalau begitu, sebaiknya kamu jangan terlalu sering tinggal di sini."
Nadia terkikik. "Oh, iya. Saya tuh sebenarnya mau punya hewan peliharaan biar ada teman. Cuma sama papa nggak boleh."
"Kenapa tidak boleh? Sepertinya kucing lucu," saran Chandra.
__ADS_1
Nadia cemberut. "Ck, itu dia. Dokter bilang, kalau pelihara kucing bikin susah hamil. Soalnya ada virus toksoplasma gitu. Saya 'kan anak tunggal. Kalau susah hamil bisa berabe," keluh Nadia.
Chandra tersenyum kecil. "Boleh, kok. Kamu mau pelihara kucing? Pelihara saja, urusan membuat kamu hamil itu biar jadi tugas saya."
Pipi Nadia memerah padam mendengar ucapan suaminya malam-malam begini. "Ih, apaan, sih," timpal Nadia sembari memikul lengan Chandra pelan. Chandra hanya tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Saya tuh, nggak nyangka. Kamu bisa ngomong begitu," tambah Nadia dengan tawa kecil. Chandra masih tersenyum, senang bisa melihat Nadia ceria lagi seperti ini. Tidak seperti Nadia beberapa hari lalu ketika masih di Flores.
"Nad, kamu percaya sama saya, 'kan?" tanya Chandra dengan wajah yang amat serius.
"Saya masih merasa bersalah atas ucapan saya tempo hari. Saya sempat meragukan kamu. Maaf, saya membahas ini lagi ketika kamu baik-baik saja seperti sekarang," tambah Chandra sembari menatap lurus ke arah Nadia.
Nadia memaksakan senyumnya. Tangan Nadia beralih untuk memeluk Chandra dengan erat. Nadia pun sudah tidak malu untuk menunjukkan ekspresinya terhadap Chandra, maupun sebaliknya.
"Saya mengatakan itu, semata-mata karena saya sangat cemburu. Saya tidak tahu, dada saya rasanya sakit sekali malam itu. Saya pikir, setelah saya mengatakannya sama kamu, saya akan merasa lega. Tapi tidak ada bedanya, justru terasa lebih sesak dan sakitnya tidak mau hilang. Kamu pergi ke kamar dan esok paginya kamu terlihat sembab."
"Dari hal itu, saya menyadari kalau saya, mencintai kamu. Saya bahkan tidak ikhlas ketika kamu menangis kalau alasannya bukan karena saya. Saya sangat egois kalau sudah cinta.
__ADS_1
Saya pria pencemburu."
"Nad, saat malam itu. Siapa alasan kamu menangis? Saya, atau Vidi?"
Nadia mendongak, gadis itu menarik napas dalam-dalam dan menyentuh pipi Chandra dengan lembut. "Kamu, Pak Jenderal."
Chandra tersenyum, dan meraih tangan Nadia yang menempel di pipinya. Semua beban di pundaknya selama ini terasa sirna saat mendengar jawaban manis dari Nadia. Malam itu benar-benar malam penuh ungkapan bagi Chandra ataupun Nadia sendiri.
"Alasan saya menangis malam itu adalah kamu."
Chandra melirik jam dinding yang sudah hampir menunjukkan tengah malam. Pria itu menggenggam erat jemari Nadia, cincin kawin yang mereka kenakan tampak saling bersentuhan dalam genggaman itu.
"Nad saya mau pacaran sama kamu. Dari pukul 11.50 sampai besok pagi. Kamu mau?"
Nadia tersenyum tipis, dan kepalanya mengangguk sungguh-sungguh akan ajakan klasik suaminya tersebut.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1