
Pagi yang cerah menyelimuti langit Jakarta, tepat pukul tujuh pagi sepasang suami istri itu sudah merapikan barang-barang bawaan mereka ke dalam koper dan tas ransel ukuran amat sangat besar. Seperti biasa, Chandra mengenakan pakaian andalannya berupa kaos hitam polos, tetapi ada yang berbeda hari ini, jenderal itu membungkus kaki panjangnya menggunakan celana denim pudar yang tampak keren dan ada sedikit robekan di bagian lutut.
Beberapa kali, Chandra mematut dirinya di depan cermin, merasa tidak pantas dengan tampilan barunya. Nadia yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah suaminya.
"Sudah bagus, kok. Ayo pergi!" ajak Nadia sambil menggelayutkan tangannya di lengan Chandra.
Chandra tersenyum kaku. “Betul? Kok, saya merasa aneh ya, memakai celana robek begini." "Kalau mode itu memang aneh, hehe. Oh, iya. Kamu juga harus pakai ini!" Nadia menyodorkan sebuah wadah kecil berwarna putih, seperti alat penunjang kecantikan.
Chandra mengerutkan dahinya. "Ini apa?" tanyanya bingung pada benda yang di pegang Nadia.
Nadia terkekeh kecil. "Ini moisturizer, dipakai di wajah. Sini, kamunya nunduk," pinta Nadia sambil menarik pundak suaminya.
Chandra menuruti kemauan Nadia, tetapi wajahnya masih menunjukkan raut keheranan dan sedikit penolakan. "Memangnya laki-laki boleh berdandan?" tanyanya polos, yang membuat Nadia tak berhenti tersenyum.
"Ih. Ini bukan dandan, tapi untuk kesehatan. Nanti kulit wajah kamu jadi halus dan ringan gitu. Ini juga mengandung SPF 30, jadi nanti kamu terlindungi dari sinar ultraviolet yang nggak bagus buat kulit," jelas Nadia dengan rinci, gadis itu mencuil cukup banyak cream ke ujung jarinya dan mengoleskannya ke wajah Chandra dengan rata.
"Merem," pinta Nadia saat ia merasa Chandra terus memperhatikan wajahnya yang serius. Chandra tersenyum kecil dan menuruti permintaan Nadia untuk memejamkan matanya, sementara pipi Nadia bersemburat merah karena merasa malu.
***
"Yah, harus pulang lagi ke Flores deh," keluh Nadia sambil menghela napasnya, Chandra mengemudikan mobil dengan santai dan mengikuti jalur untuk menuju ke Bandung.
Sebelum ke Flores, mereka akan singgah dulu ke rumah orang tua.
"Kamu masih betah di sini?"
Nadia tersenyum kecut, ucapannya pasti membuat Chandra kepikiran.
"Hm ...." Nadia mengangguk dengan polos, tidak ada salahnya kalau ia sedikit manja dan egois. Jadi ingin tahu reaksi Chandra bagaimana.
"Saya tuh, mau jalan-jalan dulu sama kamu. Quality time kayak ke taman bermain gitu, atau nonton film di bioskop, atau minimal belanja di mal kayak pengantin baru, pilih makanan buat isi kulkas. Tidak belanja di pasar, terus lihat ikan dijagal kan seram," ungkap Nadia yang mengundang senyum manis suaminya.
"Hm ... kalau gitu, kita bisa mampir dulu ke Dufan," ujar Chandra datar, tetapi berhasil membuat Nadia terkejut setengah mati karena suaminya itu memutar arah mobil ke arah sebaliknya.
"Loh, Flores gimana?" tanya Nadia kaget campur senang.
__ADS_1
Chandra tersenyum. "Kalau di Flores kita bisa setiap hari, tapi kalau di Jakarta hanya bisa hari ini. Karena saya mau pacaran sama kamu, jadi saya harus ajak kamu kencan di tempat yang kamu mau, 'kan?"
"Ih, apaan sih, hehe. Ayo kebut, Pak!" seru Nadia dengan nada ceria.
Chandra menancap gas dengan semangat saat seruan semangat Nadia bergema di dalam mobil. Pria itu tidak pernah merasa sebebas ini dalam hidupnya. Oh, Dufan ... kapan ya, Chandra pergi ke tempat itu. Apa waktu SMP? Ah, terserahlah. Toh, sekarang ada Nadia yang akan menarik tangannya ke sana kemari.
Suasana taman hiburan di akhir pekan memang sudah bisa diprediksi akan sangat ramai. Usia balita sampai lansia ada di tempat itu semuanya. Nadia dan Chandra mengantre untuk masuk ke dalam taman hiburan dan berdesak-desakan dengan pengunjung yang lain. Chandra dengan sigap merentangkan tangannya agar istrinya itu tidak terkena senggol dari belakang atau dari kiri dan kanan. Nadia tertawa melihat tingkah suaminya itu.
Beberapa orang yang ada di sana mengambil foto antara Nadia dan Chandra, mungkin di antaranya adalah penggemar yang mengenali sosok Nadia yang cantik dan suaminya yang tampan. Apalagi semalam, wajah sepasang suami istri itu sudah tampil di TV dan menjadi bahan perbincangan hangat seluruh masyarakat atas kemunculan perdana mereka di hadapan publik.
Nadia menatap takjub pada suasana ramai yang ada di hadapannya kali ini. Banyak orang berlalu lalang dan juga setiap wahana sudah mulai didapati oleh orang-orang yang mengantre untuk menunggu giliran. Sementara Chandra terus mengawasi keadaan dengan sigap.
"Kamu jangan begitu. Bisa santai nggak, sih?" tegur Nadia sambil meraih tangan Chandra untuk lebih santai.
Chandra pun menurunkan kewaspadaannya membuat Nadia jadi tertawa.
"Sudah kebiasaan saya. Agak sulit kalau harus santai." Beritahu Chandra dengan polos.
"Hihi, ya sudah nggak papa. Santai aja sedikit. Oh, iya, kamu mau naik apa?" tanya Nadia sembari melirik ke sana kemari. Kaki mereka masih berjalan tidak menentu karena bingung.
Nadia agak berpikir, ke sana kemari kelihatannya penuh, harus mengantre minimal 15 menit dan maksimal tidak terbatas. Sampai pandangan Nadia mengarah pada wahana corsel yang lumayan sepi. Wajah gadis itu pun berbinar bahagia. "Ya udah, kita naik komedi putar?"
Chandra seketika mematung dengan bibir terasa kaku, pria itu memaksakan senyumnya.
Nadia menarik lengannya dengan semangat. "Diam berarti setuju, ya?!"
Jago sekali kalau wanita sudah memaksa dan kelemahan Chandra memanglah ajakan wanita dengan senyum seperti Nadia.
Tanpa mengganggu waktu lama, mereka berhasil mendapatkan satu kuda poni dalam komedi putar. Nadia dibantu oleh Chandra mendapatkan kudanya, dan Chandra memilih kuda tepat di samping Nadia.
"Ya ampun, kamu lucu banget naik ini. Gemesin, hihi." Kikik Nadia sambil memotret Chandra dengan handphone suaminya.
Chandra tersenyum kaku, ketika melihat komedi putar diisi oleh anak-anak kecil dan remaja. Rasanya hanya dirinya dan Nadialah orang dewasa yang ada di sana. Untuk menghilangkan rasa malu, Chandra terus menatap ke arah Nadia dan sedikit khawatir kalau istrinya itu terjatuh dari atas kuda.
Kuda itu tersenyum, naik turun dan terus berputar mengelilingi sumbu. Nadia tertawa lepas di atas sana, sesekali menertawakan wajah Chandra yang memerah karena malu.
__ADS_1
Setelah menikmati wahana komedi putar, pasangan itu juga melanjutkan perjalanan mereka ke wahana lain yang lebih santai dan tentunya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengantre.
Nadia dan Chandra kini menikmati makan siang mereka, berupa makanan fastfood bento yang cukup ramai dengan pengunjung. Pandangan mereka menatap pada banyaknya pengunjung yang ada di sana, ada satu keluarga dengan dua anak laki-laki dan perempuan, mungkin selisih usia mereka hanya satu atau dua tahun. Keluarga kecil yang sangat harmonis, berlibur bersama di akhir pekan.
Chandra memperhatikan ekspresi manis Nadia saat mengamati keluarga itu, dan menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Sepertinya, kamu sama Joy dulu begitu, ya?" tanya Nadia.
Chandra terkekeh. "Tidak, saya sama Joy memiliki perbedaan usia hampir lima tahun."
"Pasti senang punya adik," gumam Nadia, iri pada Chandra yang punya adik.
"Kamu juga sekarang memiliki Joy, kamu boleh menganggap dia sebagai adik kandung kamu sendiri."
Nadia tersenyum. "Hm. Chandra, kamu tahu, nggak? Kalau saya, baru pertama kalinya ke tempat ini seumur hidup saya."
Kedua mata Chandra membulat, terkejut dengan ucapan Nadia barusan.
"Waktu kecil, saya selalu menolak tamasya sekolah. Setelah dewasa, saya nggak punya kesempatan untuk liburan. Selalu saja bekerja, kalau pun liburan saya tidak pernah sebebas ini. Saya iri sama orang lain, andai mama masih ada ... mungkin, saya nggak akan berpikiran picik seperti itu.
"Akan tetapi, saya tidak keberatan dengan pikiran picik kamu itu."
Nadia memanyunkan bibirnya. "Gombal!" timpal Nadia, disambut senyum kecut Chandra. "Iya, sedikit." Chandra terkekeh.
"Setelah saya menjadi suami kamu, saya akan mengabulkan semua keinginan kamu. Kalau kamu ingin mengulang piknik keluarga yang selalu kamu tolak, kita bisa lakukan nanti. Kalau kamu ingin liburan, kita juga bisa pergi ke mana pun kamu mau, tapi untuk tamasya sekolah, saya tidak bisa mewujudkannya. Karena kita sudah lama lulus."
Tatapan teduh Chandra menenangkan Nadia, meskipun ucapan pria itu belum sepenuhnya terealisasi tapi cukup untuk mengobati kesedihan Nadia yang selama ini terpendam dalam-dalam. Benar kata orang, kalau dengan suami hal apa pun yang tidak bisa diceritakan pada orang lain, maka akan jadi serasa ringan untuk diungkapkan. Padahal sebelumnya, Nadia tidak pernah mengeluhkan hal-hal ini pada papa dan neneknya, selama ini ia selalu pendam sendirian, tetapi pada Chandra, gadis itu dengan enteng mencurahkan keluh kesahnya sedikit demi sedikit.
"Kalau gitu, saat kita punya anak nanti, kamu harus ajak kita semua jalan-jalan setiap akhir pekan. Janji?"
"Hm, janji!"
BERSAMBUNG ....
MAAF, AKU BARU UP ....
__ADS_1