
"Suster, ini kelengkapan administrasi milik Nellie yang baru saya terima dari kantor pusat. Tolong berikan pelayanan sesuai prosedur yang tertera di sana." Chandra menyerahkan sebuah map yang berisi dokumen administrasi yang baru dia terima lewat Fax.
Ini adalah alasan mengapa Chandra tidak ikut pulang bersama Nadia dan Ong karena pria itu penanggung jawab sekaligus wali sri pasien Nellie. Nellie juga bertugas di bawah wilayah yang dikomando oleh Chandra, tentu saja tanggung jawab Chandra sangat besar untuk menjaga keselamatan serta kesembuhan Nellie saat ini.
Nellie memanfaatkan kelemahan itu untuk memuaskan ambisinya, yaitu bersama Chandra di tengah segala keterbatasan ini.
Suster yang menerima berkas dari Chandra pun tersenyum miris saat membaca kelengkapan data. "Kasihan Dokter Nellie, ayahnya baru wafat sekitar satu setengah tahun lalu. Oh, Dokter Nellie juga tidak memiliki sanak saudara, ya? Ibunya juga sudah meninggal." Chandra menoleh ke arah suster dengan terkejut.
"Apa ... Anda bisa menghubungi sana keluarga lain, Pak? Atau kerabat dekat mungkin," tambah suster pada Chandra.
"Ah, begitu, ya? Mungkin nanti saya akan tanyakan kembali kelengkapan data milik Dokter Nellie ke pusat," ujar Chandra kaku, terlihat sekali bahwa pria itu baru mengetahuinya dari suster mengenai Nellie. Chandra bahkan tidak membaca kelengkapan data yang diberikan kantor pusat kepadanya.
"Iya ...."
Chandra melamun di luar bangsal tempat Nellie dirawat, pria itu jadi ingat ucapanucapan Nellie selagi mereka berpacaran dulu. Nellie mengatakan bahwa ia sering kesepian dan ingin mempunyai adik atau teman mengobrol setiap pulang dari dinas yang jauh. Namun, Nellie hanya memiliki ayahnya saja di rumah, dan kini ... ayah Nellie pun sudah lama tiada,
Nellie benar-benar seorang diri tanpa bisa melepaskan penat dan rindunya akan suasana rumah.
Dengan ragu, Chandra memasuki ruangan Nellie untuk setidaknya melihat gadis itu sebelum pulang.
Namun, Nellie sepertinya sudah menunggu momen kedatangan Chandra untuk menemuinya. Gadis itu tersenyum, wajahnya sembab dan kedua mata bulatnya bengkak sekali. "Saya tahu kamu pasti ke sini," ucap Nellie dengan air mata kembali membasahi pipinya.
Chandra menelan ludahnya susah payah, rasa simpati pada Nellie kian membesar ketika melihat gadis itu terisak-isak menangisinya.
"Mengapa kamu tidak mengatakan pada saya mengenai ayah kamu?"
__ADS_1
Nellie menutup wajahnya, tangisan yang semula mereda kembali memecah sunyi ruangan yang hanya diisi mereka berdua. Chandra mendekat ke arahnya dan duduk di sebuah kursi yang sejak tadi berada di sisi ranjang.
Nellie tidak dapat berkata apa pun, hatinya diliputi segunung penyesalan, sesuatu sangat besar mengganjal kerongkongannya sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Chandra, itu ... itu ... karena, saya tidak mau ... membuat kamu harus terus menerus memahami saya." Akhirnya dengan terbata-bata Nellie berhasil menjawab perkataan Chandra padanya.
Nellie memegangi lengan Chandra susah payah dengan tangannya yang gemetar.
Namun, Chandra sama sekali tidak mengidahkan sikapnya di hadapan Nellie.
"Saya tahu ... saya egois!" tambah Nellie masih dengan terisak-isak.
"Maafkan saya."
"Sekarang ... apa kamu mempunyai seseorang untuk dihubungi? Pihak rumah sakit sepertinya memerlukannya untuk data wali pasien."
Namun, Nellie memberikan jawaban dengan galengan lemah. Chandra menatapnya dengan rasa iba luar biasa saat ini. Kasihan karena Nellie hanya seorang wanita sebatang kara.
"Chandra! Saya mau mengeluh sekali lagi! Tolong, kali ini saya benar-benar membutuhkan kamu!"
"Hidup saya seperti mimpi buruk selama ini. Saya sangat menyesal."
Nellie berkata dengan nada memohon, ia jatuhkan cucuran air matanya di hadapan Chandra. Namun, pria itu sama sekali tidak bereaksi apa pun selain merasakan simpati pada sesama rekannya.
"Dokter mengatakan pada saya kalau kamu harus istirahat total selama seminggu ke depan. Saya pamit. Semoga lekas pulih."
__ADS_1
Chandra tutup pertemuan itu dengan sikap terlampau dingin, meski dalam hatinya dia tidak bisa berbohong bahwa sikapnya itu cukup kejam dan tubuhnya pun dapat merasakan penyesalan yang sama seperti Nellie. Chandra ... sempat ingin meredakan tangisan gadis itu.
•••
"Ini pesanannya, kebetulan sekali kunjungan saya ke Bali membuahkan hasil." Seorang bapak menyerahkan sebuah keranjang yang ditutup kain merah muda pada pangkuan Chandra.
Chandra tersenyum ceria saat menerima keranjang berupa bingkisan tersebut. "Terima kasih banyak, Pak, sudah mau direpotkan," ujar Chandra ramah.
"Ah, saya yang harusnya berterima kasih pada Pak Jenderal. Setahun lalu kalau bukan karena pertolongan Bapak di pesawat, mungkin saya sudah meninggal," balas bapak tersebut dengan tak kalah ramah pada Chandra.
"Pak Jenderal, kenapa meminta saya carikan kucing? Anda mau memeliharanya?"
Chandra mengangguk. "Hm ... bukan untuk saya, kucing ini sebenarnya permintaan istri saya. Dia sering kesepian di rumah karena saya sering melakukan latihan atau patroli di luar ... ia menyukai kucing."
"Oh iya, boleh saya lihat kucingnya, Pak?" tambah Chandra sembari menyingkap kain yang menutupi keranjang besi tersebut.
"Tentu, sekarang kan sudah tidak di kapal. Beritahu bapak itu sembari membantu Chandra untuk membuka kain.
"Miauw ...."
Chandra tersenyum amat lebar, saat seekor kucing menawan pandangannya, kucing itu tampak mengeluarkan tangan kecilnya ke sela-sela keranjang yang kuat seperti mencoba menggapai pemilik barunya. Kucing peranakan anggora dan lokal, dengan bulu lebat di bagian leher, dan mata besar serta hidung mungil yang menggemaskan. Bulu kucing itu juga campuran antara warna putih dan abu-abu.
Bersambung ....
Hari ini sibuk banget, jadi ya, aku lupa double up.
__ADS_1