
Nadia melamun, memikirkan kata-kata Nellie yang memberitahunya tentang perasaan Chandra yang sebenarnya. Nellie bahkan tidak kenal dengan suami Nadia, tapi setidaknya boleh lah Nadia menjadikan ucapan Nellie sebagai referensinya dengan Chandra.
Kalau Chandra sudah jatuh cinta, itu akan sangat berat untuk Nadia. Tidak jatuh cinta saja Chandra sudah bersikap sangat manis, apalagi kalau jatuh cinta? Mungkin, Chandra akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk Nadia.
Nadia menggigit kuku jarinya, di pangkuannya buku catatan dan pulpennya tak kunjung ia gunakan sebagai mana mestinya. Gadis itu pun menarik napas dalam-dalam saat menyadari waktu luang menjelang sore. Nadia sangat bingung, bagaimana menghadapi Chandra saat insiden semalam. Apa mungkin akan terulang kembali? Atau Chandra sudah terlalu malas mengulang lagi kemesraan mereka yang akan nihil pada akhirnya.
Ah, menulis lirik untuk lagunya pun Nadia sama sekali tidak mendapatkan inspirasi sama sekali saat hatinya benar-benar kacau, gadis itu memutuskan untuk pergi dari bukit belakang rumah dan kembali untuk segera menyiapkan makan malam.
Chandra kembali dari patrolinya bersama Ong, baru kali ini lagi dia bekerja dengan Ong selama seharian. Biasanya Chandra bersama dengan Dio atau Danil, tapi kini giliran Ong yang jadi sasaran Chandra untuk lebih disiplin.
"Gara-gara Jenderal saya nggak bisa pergi ke sekolah dengan Nadia," gerutu Ong sambil berjalan malas di belakang Chandra.
Chandra menyembunyikan senyumannya dari Ong, dan menarik napasnya sehingga membuat Ong langsung menegakkan tubuhnya dalam posisi siap.
"Tugas kamu itu menjaga teritorial negara Indonesia. Bukan untuk menemani istri saya ke mana-mana."
"Ck, tapi 'kan ... Saya mau sekali-sekali jalan dengan artis. Kalau sama Jenderal terus, saya bosan," keluh Ong kesal.
"Dan. Kalian, bertengkar, ya?" tanya Ong polos, dan Chandra seketika langsung menoleh ke arahnya.
Ong menutup mulutnya saat Chandra menatapnya datar tanpa bicara.
__ADS_1
"Memang terlihatnya bagaimana, sampai kamu menyimpulkan kalau kami bertengkar?" Ong tersenyum gugup, salah ngomong 'kan, batin Ong yang hanya bisa bicara begitu.
"Jenderal itu sudah saya anggap sebagai Ayah saya sendiri. Tentu, saya mengenali keluh kesah Jenderal tanpa harus bertanya lebih lanjut. Apakah gerangan, Jenderal ini sedang ada masalah dengan istrinya?"
"Tidak, kok. Kami baik-baik saja. Sebaiknya, kamu jangan menganggap saya sebagai ayah kamu. Usia kita juga hanya beda 3 tahun."
"Tapi ... saya lihat Nadia tidak banyak bicara seperti awal dia datang ke Flores. Jenderal, saya begitu ... kasihan Nadia, dia pasti kesel tinggal di tempat terpencil tanpa hiburan sama sekali. Harusnya, Jenderal hibur dong."
***
Chandra sedang mengganti pakaiannya saat Nadia memasuki kamar tidur mereka. Nadia tersenyum hangat menyapa suaminya itu, ditangannya juga terdapat minuman yang terlihat masih mengepulkan asap.
Nadia menghilangkan rasa canggungnya dan mencoba untuk bersikap netral. Ia langsung duduk di atas tempat tidur mendahului Chandra yang masih bolak-balik di dalam kamar seperti mencari sesuatu.
Chandra yang sedang menggeledah laci meja menoleh ke arah istrinya itu.
Nadia tersenyum. "Ceritakan kek, asal-usul bekas luka di lengan kamu itu kenapa? Pas ngapain, 'kan saya mau tahu." tunjuk Nadia pada lengan suaminya yang memiliki bekas luka memanjang dan terlihat timbul.
Chandra membalas senyuman Nadia dengan senyuman tak kalah lebarnya, Nadia bergeser saat Chandra duduk di sampingnya.
"Hm, waktu itu, lengan saya tersangkut besi ketika melewati terowongan yang roboh. Karena hanya muat untuk satu orang, saya merangkak melewati terowongan sepanjang 500 meter untuk menghindari serangan udara. Daripada saya tertembak, lebih baik saya merelakan lengan saya untuk terluka."
__ADS_1
Nadia menutup mulutnya, membayangkannya saja ia tidak sanggup.
Tiba-tiba saja Chandra melepas pakaiannya, dan menunjukkan punggungnya. "Kamu mau dengar juga, cerita tentang luka di punggung dan pinggang saya?" ucap Chandra sambil memperlihatkan luka tersebut pada Nadia.
Tapi Nadia buru-buru bergidik dan menggeleng, membuat tawa Chandra pecah juga. "Enggak, enggak. Stop! Saya nggak tega dengar ceritanya." Chandra terkekeh, Nadia cemberut.
"Untuk kemarin malam, maafkan saya, ya," ucap Chandra sembari meraih tangan Nadia dan menggenggamnya.
"Kenapa minta maaf?" tanya Nadia tersendat. "Seharusnya, saya yang minta maaf. Karena menolak kamu."
"Tidak. Tetap saya yang salah, seharusnya sebelum saya mencium kamu, saya meminta izin terlebih dahulu. Kamu pasti terkejut dengan sikap saya yang sangat tiba-tiba, saya juga membuat leher kamu memerah. Kamu pasti tidak nyaman."
Nadia mengusap lehernya dengan lembut dan tersenyum ke arah Chandra.
"Apaan sih, enggak kok. Kita berdua mungkin sama-sama salah. Hehe, sudahlah ... nggak perlu kayak gitu," elak Nadia yang berusaha untuk tidak canggung.
Gadis itu menyandarkan kepala ke bahu Chandra dan mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa gugup.
"Di sini, saya punya dua hal yang nggak bisa digantikan. Kamu tahu apa, itu?" tanya Chandra ketika Nadia bersikap normal kembali.
"Hm ... apa?" tanya Nadia dengan sedikit menolehkan wajahnya, sehingga ia bisa melihat wajah suaminya dari samping dan mendapatkan pemandangan berupa rahang tegas dan hidung mancung pria itu dari sisi kanan, tampak sempurna.
__ADS_1
"Zona aman, dan zona nyaman. Zona nyaman, sejak kamu berada di sini, dan zona aman ketika kamu bertahan di sini." "Nadia, saya ... cinta kamu."