Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 67


__ADS_3

Vidi melihat dari kejauhan beningnya air laut yang tertimpa cahaya mentari pagi itu. Di saat cuaca menunjukkan kesejukan, hati Vidi justru amat panas ketika mengingat kejadian menyakitkan antara dirinya dan Nadia.


"Ya Tuhan! Kenapa susah banget lupain Nadia!" teriak Vidi dari tempatnya berdiri. Semakin dia berusaha menghilangkan Nadia dari pikirannya, maka semakin banyak kenangkenangan yang kembali bermunculan begitu saja tanpa permisi.


Akhirnya dengan langkah gontai, pria itu kembali menuju mobilnya yang semalaman suntuk dia gunakan pula sebagai tempat tidur. Dengan tekad akhir yang sudah sangat bulat Vidi pun mengemudikan mobilnya lagi menuju rumah dinas di mana Nadia berada.


Chandra bersama rekan-rekannya yang lain sudah pergi menuju kantor pusat untuk menyerahkan laporan akhir kepada pusat mengenai audit persenjataan serta alat-alat keamanan di wilayah perbatasan. Sementara kepergiannya, Nadia tentu saja menunggu di rumah karena Chandra berjanji bahwa dia tidak akan pulang larut malam seperti kemarin-kemarin.


Nadia tengah asik bermain dengan kucing kecilnya yang kini sudah ia beri nama NadJen yang artinya manis, atau kepanjangan dari Nadia ㅡ Jenderal. Nadjen ternyata adalah seekor kucing betina, setiap Nadia memanggilnya, Nadjen akan menyahut dengan suara miauw yang mungil dan terbirit ke arahnya.


"Nadjen!" seru Nadia sembari menaruh makanan kucing di telapak tangan, kucing mungil tersebut segera lari ke pangkuannya dan melahap makanan di atas telapak tangan Nadia dengan rakus.


Nadia terkikik saat merasakan tangannya geli sebab dijilati si kucing.


"Pintar banget sih, Nadjen ini ... tunggu papa pulang ya." Bak anak kecil yang sedang bermain rumah-rumahan, Nadia menasihati kucingnya dengan sangat lembut.


Namun ketenangan itu tidak bertahan lama, Nadia berubah tegang saat ia melihat Vidi kembali ke rumahnya. Wajah Vidi terlihat sangat pucat dibandingkan seminggu yang lalu saat terakhir kali mereka bertemu di sini.


Vidi tersenyum pada Nadia dan melambaikan tangannya dengan begitu lemas.


"Nad," sapa Vidi dengan lunglai.


"Ck, Vidi ngapain ke sini lagi," balas Nadia dengan raut wajah muram, kucing dalam pangkuannya mengeong lembut ketika merasakan pergerakan Nadia yang begitu tiba-tiba.


Lalu belum sampai Vidi menghampiri Nadia, Vidi lebih dulu ambruk tepat di pekarangan rumah sederhana tersebut, sehingga Nadia amat terkejut dengan keadaan Vidi yang kini tidak sadarkan diri di hadapannya.


"Vidi!" teriak Nadia panik. Nadia segera menghampiri Vidi dan berusaha membuat lelaki itu tersadar, tetapi tidak berhasil karena tubuh Vidi tampak menggigil dan pucat di wajahnya berubah semakin kentara, bibir Vidi tampak berwarna agak keunguan persis seperti orang yang kedinginan dan nyaris beku.


Nadia meraih tangan Vidi dan meraba denyut nadinya. "Ya ampun, Vidi ...," gumam Nadia khawatir saat merasakan nadi lelaki itu amat lemah, sementara tubuh Vidi semakin menggigil dan gemetar.


"Vid, jangan main-main lu!" bentak Nadia seraya menepuk-nepuk kedua pipi Vidi yang terasa dingin. Vidi masih tidak merespons sama sekali, bahkan napas pria itu terasa lemah dan kedua matanya benar-benar terpejam rapat.


Berkat bantuan seorang bapak yang hendak mengunjungi kebun, Nadia akhirnya bisa membawa Vidi ke puskesmas, dengan kemampuan menyetir yang sangat baik tidak butuh waktu lama bagi Nadia untuk mengantarkan Vidi ke tempat pertolongan awal tersebut.


Dan sesampainya di puskesmas yang masih dalam tahap renovasi, Nadia dibuat terkejut dicampur senang saat ia dipertemukan lagi dengan Nellie di sana.


Nellie dengan pakaian dokternya segera menangani Vidi dan merawat pria itu dengan pertolongan pertama yang sangat sigap. Tentunya dengan profesional, tetapi tetap santai. Nellie memeriksa keadaan Vidi dan langsung menangani Vidi. Karena napasnya yang sesak, Nellie dan perawat yang ada di sana memasangkan alat bantu pernapasan untuk Vidi yang kini tidak sadarkan diri.


Nadia melihat itu semua dengan mata kepalanya sendiri, ternyata Vidi benar-benar sakit dan tidak berpura-pura. Nadia jadi merasa bersalah setelah menuduh Vidi yang tidak-tidak, dan Nellie sudah menjadi dokter yang amat sangat cepat dalam menangani pasiennya.


Nadia tersenyum ke arah Nellie, tentunya wajah Nadia masih menyiratkan rasa panik saat ini. "Makasih, Nell."


Nellie tidak menjawab ucapan terima kasih dari Nadia, malah terlihat sekali kalau sejak pertemuan mereka selama setengah jam ini Nellie tampak sangat dingin dan tidak ramah sama sekali pada Nadia.


"Oh iya, ngomong-ngomong ... kamu sudah sehat, ya? Kamu sudah mulai bekerja lagi hari ini. Kemarin, saya belum melihat kamu di puskesmas."


Nellie menoleh malas ke arah Nadia, dan memaksakan senyumnya. Nellie sangat marah, kecewa dan tentu saja cemburu pada kedatangan Nadia ke tempat ini setelah mengetahui siapa Nadia dan apa status gadis itu.


"Ya, seperti kelihatannya," jawab Nellie singkat.

__ADS_1


Nadia sangat terpaku dengan respon teramat singkat itu, tidak biasanya Nellie seperti ini. Apa salah Nadia sehingga sikap Nellie amat berubah. Atau mungkin Nellie sedang sensitif saja ya. Di waktu seperti ini, Nadia berusaha untuk berpikir positif, sebab hanya Nellielah satusatunya teman wanita yang Nadia miliki di Flores.


"Pasien ini ... mantan pacar kamu kan, Nad?" tanya Nellie tiba-tiba, tersungging senyum yang tak dapat Nadia tebak maksudnya apa.


Nadia tersenyum canggung menanggapi hal itu. "Hm ...."


Belum sempat Nadia menjawab pertanyaan Nellie, gadis itu sudah kembali bicara dengan kalimat tak kalah dingin. "Kelihatannya dia sangat frustrasi. Dia mengalami sakau barusan, dan sebulan lalu dia juga sempat datang kemari diantar oleh Ong dan Dio dalam keadaan serupa. Pasti ... dia begini karena kamu, ya?"


Lagi-lagi Nellie tersenyum, seperti senyum mengejek ke arah Nadia.


Nadia susah payah menormalkan ekspresi wajahnya di hadapan Nellie, berusaha untuk tidak menampakkan raut marah atau menangis di hadapan dokter cantik tersebut.


"Saya tahu dia seorang musisi itu, selama saya opname di rumah sakit. Saya melihat banyak artikel tentang kamu dan pria ini," tambah Nellie dengan sangat angkuh, sembari menunjuk ke arah Vidi yang masih tidak sadarkan diri.


"Kamu sangat serasi dengan dia Nad. Sayangnya, kalian gagal menikah, ya"


"Maksud kamu bicara seperti ini untuk apa ya, Nell?!" jawab Nadia setelah sekian lama terdiam. Nadia mengepalkan tangannya, berusaha untuk tidak marah atau menangis, atau mungkin menunjukkan sisi terlemahnya di hadapan Nellie yang berubah drastis.


Nellie tertawa kecil, terlihat sangat tenang dan santai menanggapi nada suara Nadia yang agak meninggi. "Ah, saya nggak maksud apa-apa kok ... saya hanya, prihatin sama hubungan kalian."


"Saya permisi Nell." Nadia pamit pada Nellie. Dengan setengah berlari gadis itu keluar dari tempat terkutuk tersebut. Ingin segera sampai di rumah untuk kembali menangis, kedua tangan Nadia juga gemetar dan napasnya terasa begitu sesak karena serangan panik yang muncul begitu tiba-tiba.


***


"Hah? Vidi masih ada di Flores?"


Liza tersenyum senang meskipun ia harus berpura-pura kaget saat sambungan telepon tersambung antara dirinya dan Nadia.


"Apa sih, Nad. Nggak lah, masa gue nyuruh Vidi enggak-enggak. Vidi emang pantang nyerah, Nad. Kenapa sih? Kalau lu nggak terima ya cuekin aja, nggak usah ambil pusing," balas Liza lagi dengan santai.


Nadia jengkel sekali, kedua matanya sudah berurai air mata dan terlihat amat sembab. Semua orang terdekatnya yang ia percayai justru bersikap sangat menyebalkan, bahkan mereka sama sekali tidak mendukung keputusan Nadia yang sudah menikahi seorang pria abdinegara seperti Chandra.


"Suruh dia balik ke Jakarta Liz. Kumohon, Vidi butuh dokter."


"Vidi itu dari dulu cuma dengar omongan lu. Lu aja yang bujuk."


Nadjen, si kucing kecil tampak setia berada di samping Nadia yang merebahkan dirinya yang tidak berdaya di atas tempat tidur, kucing itu sudah dua jam lamanya menemani Nadia yang mengalami serangan panik. Seperti memahami isi hati pemiliknya, Nadjen menatap Nadia dengan kedua mata bulat yang bergulir ke sana kemari.


Nadia mengelus bulu halus kucingnya dan tersenyum dipaksakan, dua bintik air mata kembali turun dengan deras membasahi pipinya. Melihat kucing itu memejamkan mata karena nyaman, membuat Nadia kembali merasa terpukul dan sedih.


"Hewan aja ngerti gimana perasaan manusia. Kenapa manusia justru nggak ngerti perasaan sesamanya," gumam Nadia dengan suara tercekat, ia peluk Nadjen erat-erat, seolah kucing itu adalah sebuah boneka yang bisa diperlakukan dengan bebas tanpa akan merasakan gugup.


Chandra tiba di rumah pukul lima sore, saat dia sampai, dia menemukan Nadia tengah terlelap bersama kucing kesayangan mereka. Chandra tersenyum melihat keakraban itu, dengan sangat hati-hati Chandra menaruh tasnya di atas meja dan mendekat ke arah Nadia untuk memberikan kecupan kecil di dahi istrinya.


"Ckck, kembar," komentar Chandra sambil tersenyum geli, saat melihat ekspresi wajah menggemaskan Nadia dan Nadjen yang sama-sama tertidur.


Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Chandra kemudian beralih ke dapur, pria itu langsung mencuci beras dan menanak nasi menggunakan rice cooker. Chandra juga mencuci sayur-sayuran untuk dia masak nanti dan mempersiapkan makan malam.


"Ngiauw."

__ADS_1


Nadjen menyapa pemiliknya itu dengan auman kecil, kucing itu berjalan mengelilingi kaki Chandra sambil sesekali mengusap-usapkan kepalanya ke tulang kering Chandra membuat pria itu kegelian. Jika kucing bertingkah seperti ini, artinya dia sedang lapar dan meminta makanan pada pemiliknya.


"Hei, belum makan ya?" tanya Chandra sembari berjongkok. Kemudian mengambil makanan Nadjen dari rak dapur serta menuangkannya dari piring kecil tempat si kucing makan.


Kucing mungil dengan bulu lebat itu makan dengan lahap, setelah tidur ternyata nafsu makannya sangat baik. Chandra tertawa kecil sambil terus memperhatikan pola makan kucingnya yang amat diluar dugaan.


Suara langkah kaki yang lembut membuat perhatian Chandra teralihkan ke ambang pintu, Nadia berdiri dengan rambut agak berantakan, dan wajahnya yang kemerahan terlihat kusut saat bangun tidur.


"Loh, sudah bangun? Saya berisik, ya?" tanya Chandra sembari bangkit dari tempatnya.


Nadia masih terpekur, seperti tengah mengumpulkan nyawanya sambil berdiri di ambang pintu dapur. Chandra menghampiri istrinya itu sembari tersenyum lembut. Saat berhadapan, Nadia menunjukkan kedua tangannya yang gemetar.


"Kenapa?" tanya Chandra khawatir.


Nadia menggelengkan kepalanya dengan putus asa, lalu gadis itu kembali menangis di hadapan suaminya. Nadia sangat cengeng dan rapuh, tapi apa yang menyebabkannya sampai gemetar seperti ini? Chandra langsung membawa Nadia ke ruang tengah dan mengajak istrinya itu untuk duduk di sofa.


Chandra menggenggam erat-erat kedua tangan Nadia yang gemetar, tangannya terasa dingin. Nadia masih saja terisak-isak di hadapannya tanpa bisa menjelaskan keadaannya saat ini pada Chandra.


"Nadia ... Sayang," panggil Chandra dengan nada amat pelan dan hati-hati, Chandra mengusap air mata Nadia dengan ibu jarinya perlahan. Nadia agak mendongak dan memberanikan dan memberanikan diri untuk menatap sepasang mata milik suaminya. Seperti ada hamparan samudera yang menenangkan di sana.


Perasaannya mungkin bisa terkendali, tetapi air matanya tetap saja jatuh tidak tertahankan.


"It's fine ... everything is fine," bisik Chandra dengan nada lembut, pria itu menarik tubuh Nadia untuk masuk ke dalam dekapannya. Nadia juga tak mengerti dengan dirinya sendiri yang begitu lemah seperti ini.


"Saya, sangat ... takut," tutur Nadia susah payah berebut dengan isakannya. Chandra mengangguk dan menjatuhkan kecupan di puncak kepala istrinya tanpa banyak berkomentar.


***


"Nadia ... jangan pergi, Nad. Aku mohon." Vidi mengigau dalam ketidaksadarannya, di sebuah ruangan yang sepi tanpa adanya satu orang pun yang peduli dengan keadaannya. Pria itu sudah hampir satu bulan menghilang bagai di telan bumi, semua orang tahu jika Vidi tengah melakukan rehabilitasi di sebuah tempat terpencil, tetapi nyatanya Vidi justru masih berusaha keras untuk mendapatkan kembali mantan kekasihnya.


Nellie meringis saat mendapati pasiennya itu pada akhirnya mulai mengeluarkan suara setelah beberapa jam lamanya dalam keadaan tidak sadar. Ya, meskipun Vidi terus-terusan menyebut nama Nadia dalam tidurnya, faktanya di hanya berhalusinasi akibat efek obat penenang dosis tinggi yang diberikan oleh Nellie.


Vidi tersentak saat kesadaran mulai menyapa dirinya kembali. Vidi langsung membuka kedua matanya lebar-lebar, dan mendapati Nellie tengah memperhatikannya.


"Di mana Nadia?" tanya Vidi saat dirinya bangun.


Nellie terkekeh kecil. "Ya ampun, sempat-sempatnya kamu mengkhawatirkan orang lain begitu?"


"Nadia sudah pulang, ia yang mengantar kamu ke sini. Ia sangat panik dan nyaris pingsan sewaktu kamu gemetar akibat sakaw," jelas Nellie datar.


Vidi menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Gila! Harusnya gue nggak bikin Nadia panik


...."


"Terus, Nadia baik-baik saja, 'kan?" Meskipun Vidi memaksakan kehendaknya, tetapi tetap saja Vidi mengkhawatirkan keadaan Nadia yang memang tidak stabil, mantan kekasihnya itu memiliki gangguan kecemasan sejak dirinya menjadi seorang selebriti. Dan Vidi tahu betul hal tersebut.


"Saya nggak yakin sih." Nellie menghela napasnya. "Tapi setelah melihat gimana paniknya ia dengan keadaan kamu, saya jadi curiga kalau Nadia... masih belum melupakan kamu."


Di tengah rasa khawatirnya itu, Vidi menyunggingkan senyum penuh rasa haru. Ya, Vidi sangat yakin dengan apa yang dikatakan dokter itu mengenai Nadia adalah 'kebenaran.'

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2